The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Membentuk Dasar Tubuh Pendekar



Meskipun terlihat tegar, namun Wu Yi Feng mengerti bahwa itu hanya topeng yang Xiao Chen gunakan kala berada di depannya. Sering kali ia mencuri lihat bocah laki - laki itu menangis di suatu malam.


Wu Yi Feng sengaja pura - pura tidak tahu karena ia memang ingin memberikan waktu bagi Xiao Chen untuk mengeluarkan segala beban yang ada di hatinya.


"Menangislah, yang keras jika perlu.. Keluarkan segala beban yang ada di dalam dadamu, bahkan jika perlu kau boleh memukulku.." Ucap Wu Yi Feng lirih di suatu malam ketika mendengar Xiao Chen kembali menangis.


"Guru.. Maafkan aku.. Hiksss.. Hikksss..." Xiao Chen membersihkan sisa - sisa air matanya menggunakan lengan baju miliknya.


Wu Yi Feng menepuk dada Xiao Chen untuk meredakan kesedihannya, ia mengajak bocah laki - laki kecil itu untuk duduk bersama di dekat api unggun sebelum mulai bercerita, "Masa kecilku tidak lebih baik darimu.. Beruntungnya dirimu karena masih memiliki saudara.. Sedangkan aku harus menghadapi kerasnya dunia ini seorang diri.." Wu Yi Feng menengadahkan wajahnya ke atas, malam ini langit begitu cerah, awan seolah menghilang dan membuat bintang - bintang terlihat jelas.


"Sebagai seorang lelaki, di dunia yang keras ini kita harus punya sebuah tekad yang kuat. Bahkan jika tekad itu adalah sebuah pembalasan dendam.." Seru Wu Yi Feng, lagi - lagi pemuda itu melihat ke atas, ia mulai ragu apakah ia sedang berbagi pengalaman pribadinya ataukah sedang memberikan wejangan.


Bagaimanapun, pembalasan dendam lah yang selama ini menjadi bahan bakar untuk menyalakan api di dadanya. Balas dendam juga yang seakan memberikan dorongan lebih pada dirinya untuk tetap hidup dan menjadi kuat. Wu Yi Feng tersenyum sendiri karena ia merasa bahwa ia telah memberikan sebuah wejangan yang salah kepada bocah polos di sampingnya.


"Guru, aku siap memulai pelatihan kapan pun..!!!" Ucap Xiao Chen setengah berteriak.


"Baiklah kalau begitu, sekarang beristirahatlah karena besok pagi kau akan merindukan tidurmu malam ini.." Jawab Wu Yi Feng dengan sedikit senyum yang terkembang di bibirnya.


"Baik guru..." Xiao Chen segera bangkit berdiri dan berjalan ke arah alas tempat tidurnya. Malam ini udara tidak terlalu dingin, sangat pas untuk dipakai beristirahat.


Wu Yi Feng memilih untuk menyandarkan tubuhnya ke sebuah pohon dan bermeditasi hingga fajar tiba. Xiao Chen ternyata telah bangun dari tidurnya dan terlihat sedang memgemas alas tidurnya.


"Bagaimana tidurmu??" Wu Yi Feng menyapa Xiao Chen yang terlihat sangat sibuk.


"Lumayan nyenyak guru.." Jawabnya seraya melipat alas tidurnya menjadi bentuk persegi kecil sebelum memberikannya kepada Wu Yi Feng untuk disimpan di dalam cincin ruang.


Berbicara tentang cincin ruang, Wu Yi Feng ingat jika dirinya mengambil empat cincin ruang dari para perampok, dan setelah ia cek rupanya dua diantara adalah milik dari ayah dan ibu Xiao Chen.


Wu Yi Feng sengaja menyimpannya untuk ia kembalikan ke wali Xiao Chen yakni kakaknya ketika mereka kelak tiba di tempat tinggal Xiao Chen. Sedangkan untuk dua cincin tersisa adalah milik para perampok, Wu Yi Feng hanya mengambil yang paling banyak hartanya dan membuang cincin yang tidak berguna.


"Makanlah ini terlebih dahulu.." Demi memperlancar pelatihan, Wu Yi Feng memberikan asupan daging siluman kepada Xiao Chen sejak beberapa hari terakhir. Tentunya dengan porsi yang tidak banyak, karena daging siluman begitu keras terlebih pada tubuh manusia biasa yang belum mempunyai lingkaran tenaga dalam sama sekali.


"Sekarang cobalah menyusuri sungai berkali kali sambil membawa dua buah batu di kedua tanganmu.. Itu akan melatih keseimbanganmu.." Seru Wu Yi Feng seraya menunjuk sungai yang berada tidak jauh dari tempat mereka bermalam.


"Baik guru.." Xiao Chen segera mengambil dua batu dengan ukuran sedang dengan ukuran dan berat yang berimbang.


Wu Yi Feng sadar, dengan usia Xiao Chen saat ini seharusnya sudah terlambat untuk mulai membentuk tubuh pendekar. Karena umumnya mereka sudah mulai berlatih ketika berusia lima tahunan.


Tapi terlambat bukan berarti jelek ataupun tertinggal, dengan metode yang Wu Yi Feng berikan, ia yakin Xiao Chen akan segera membentuk tubuh pendekarnya dan mulai belajar dasar - dasar dari seni beladiri.


"Cukup.. Istirahatkan tubuhmu.. Latihan hari ini selesai sampai disini.." Seru Wu Yi Feng yang melihat Xiao Chen telah bermandikan keringat.


"Tapi guru, aku merasa masih bisa melanjutkan untuk beberapa kali putaran.." Jawab Xiao Chen yang merasa belum puas dengan porsi latihannya.


"Memforsir diri dan melupakan istirahat justru berdampak buruk pada tubuhmu.." Jelas Wu Yi Feng sambil membagi daging siluman yang baru saja ia bakar.


Saat itu matahari sudah hampir terbenam, keduanya menikmati makan malam dengan diam. Xiao Chen merasa jika energinya terisi kembali setelah menyantap hidangan yang gurunya sediakan.


"Guru, jika boleh bertanya sebenarnya ini daging apa? Kenapa aku merasakan tubuhku menjadi segar kembali setelah menyantapnya.."


"Daging siluman berusia ratusan tahun.."


"Apppaaaaaa..?? Weeeekkkk..." Xiao Chen memuntahkan daging yang ada di mulutnya.


"Daging siluman memiliki kandungan energi yang sangat bermanfaat, khususnya bagi mereka - mereka yang ingin membangun pondasi tubuh mereka.. Karena itulah daging siluman begitu mahal harganya, sepotong daging seperti yang kau buang barusan bisa memiliki harga 10 hingga 100 koin emas, tergantung dari usia siluman tersebut.."


Xiao Chen hanya bisa terdiam setelah Wu Yi Feng menjelaskan tentang manfaat dari mengkonsumsi daging siluman, sedetik kemudian tanpa disuruh bocah laki - laki itu mengambil kembali potongan daging miliknya yang tadi telah ia buang, tanpa menghiraukan bersih atau kotor, Xiao Chen segera melahap dagingnya dengan air mata yang mulai menggenang di sudut pelupuk matanya.


"Maafkan aku guru.. Maafkan aku.." Ucapnya lirih.


"Sudahlah, habiskan dagingmu lalu minum ini.." Wu Yi Feng memberikannya sebotol kecil ramuan penguat tubuh dan juga sebutir pil pembentukan energi dasar.