The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Bersatu



Wu Yi Feng mencari lalu mengambil sehelai kain untuk sekedar menutupi tubuhnya, setelah itu dirinya duduk di samping putri Miya yang saat ini masih belum siuman.


Disingkapnya rambut putri Miya yang menutupi wajah cantik serta kulit putihnya begitu bersih dan bercahaya. Wu Yi Feng heran siapa yang tega melakukan hal sekeji ini kepada perempuan di depannya.


Wu Yi Feng menghabiskan beberapa jam untuk bermeditasi sekaligus menstabilkan kekuatan barunya, putri Miya belum juga siuman membuat Wu Yi Feng sedikit khawatir.


Denyut jantung putri Miya terasa begitu lemah, lalu sedetik kemudian bibirnya mencoba mengatakan sesuatu. "Di... Dingin.. Ding.. In.."


Wu Yi Feng membelalakkan matanya, dengan cepat ia dudukkan putri Miya lalu segera ia alirkan energi panas melalui punggungnya. Wu Yi Feng kali ini bisa merasa bahwa tubuh perempuan itu semakin dingin, bahkan energi panas yang coba ia alirkan seolah tidak memberikam efek sama sekali.


"Maafkan aku.." Wu Yi Feng kembali merebahkan tubuh putri Miya, lalu ia juga membuka kain yang sedari tadi menutup tubuhnya. Setelah itu dengan cepat ia memeluk tubuh putri Miya dari belakang dan tidur satu selimut berdua dalam keadaan tanpa sehelai kain pun yang memisahkan tubuh polos mereka.


Wu Yi Feng memeluk erat putri Miya sambil terus menerus menyalurkan energi panasnya, pemuda itu terus berdoa supaya perempuan yang saat ini ada dalam pelukannya bisa melewati masa - masa kritis. Walaupun keduanya dalam keadaan polos tanpa busana, tak sedikitpun Wu Yi Feng berpikiran kotor. Pemuda itu terus menerus membagi kehangatan tubuhnya hingga akhirnya setelah beberapa waktu ia pun terlelap.


Entah berapa lama keduanya menutup mata, putri Miya membuka matanya terlebih dahulu dan merasakan bahwa saat ini ia sedang dipeluk dari belakang oleh seseorang, perempuan itu merubah posisi tidurnya hingga kini ia berhadap hadapan langsung dengan Wu Yi Feng.


Dipandanginya wajah polos pemuda yang kini sedang terlelap di hadapannya, putri Miya tahu bahwa apa yang dilakukan oleh Wu Yi Feng bukanlah hal yang cabul, melainkan sebuah metode pengobatan kuno untuk mentransfer hawa panas tubuh, karena itulah ia tidak marah ataupun berteriak meskipun tahu bahwa saat ini mereka berdua sedang dalam kondisi telanjang tanpa busana di bawah satu selimut yang sama.


Diam - diam putri Miya menaruh kekaguman yang mendalam pada Wu Yi Feng, sosok pemuda polos yang tidak teracuni oleh dunia yang makin hari makin kehilangan norma. Disibaknya rambut yang menutupi wajah tampan Wu Yi Feng, hingga tanpa sadar dirinya tersenyum sendiri.


Beberapa saat kemudian, Wu Yi Feng mulai tersadar. Pemuda itu membuka mata dan yang pertama kali ia lihat adalah wajah cantik putri Miya dalam jarak yang snagat dekat. Tanpa sadar Wu Yi Feng tersenyum tipis, tapi senyuman itu hanya sekejap, Wu Yi Feng langsung duduk begitu sadar dan seketika itu ia menatap tubuh polos putru Miya karena selimut yang menutupi tubuhnya trrsikap saat dirinya bangun.


"Maafkan aku, kau boleh membunuhku setelah ini.." Ucap Wu Yi Feng sambil menolehkan wajahnya ke arah yang lain.


"Bagaimana mungkin aku membunuh suamiku sendiri??" Ucap putri Miya.


"Su.. Suami..?? Memangnya kapan kita menikah??" Tercengang, itulah yang dialami oleh Wu Yi Feng, seakan tidak percaya dengan perkataan putri Miya.


"Dalam aturan bangsa Elf, jika ada laki laki dan wanita dewasa yang saling melihat tubuh polos mereka masing - masing, maka mereka berdua sudah dianggap sebagai pasangan suami istri.." Jelas putri Miya yang kini juga duduk sambil menutupi dadanya dengan selimut.


"Jangan bercanda, kita bahkan tidak melakukan apapun.. Lagipula menikah sama sekali tidak ada dalam rencanaku..!!!" Jawab Wu Yi Feng sambil masih menatap ke arah lain.


Putri Miya tersenyum lalu tangannya menggapai dagu pemuda di sebelahnya hingga kini mereka salaing bertatapan dalam jarak yang cukup dekat.


"Jadi apakah kamu menolakku??"


Wu Yi Feng menelan salivanya dengan susah payah, bahkan untuk menggerakkan mulut saja ia tidak mampu, sedangkan kini jarak mereka berdua makin dekat.


Wu Yi Feng mensesap bibir manis putri Miya, digigitnya bibir bawah putri miya sebelum akhirnya lidah mereka saling bertemu dan bertaut.


Tangan Wu Yi Feng seolah tak mau kalah, saat tangan kiri memegang leher putri Miya maka tangan kanannya mulai aktif menjamah dan meremas payudara indah milik putri Miya meskipun masih dari luar selimut.


"Ssstttt.. Ahhhh..." Putri Miya tidak bisa menahan gelombang kenikmatan yang ia terima sehingga membuatnya menengadahkan wajahnya, kini Wu Yi Feng mulai menyerang leher jenjang putri Miya yang putih bersih.


Leher putih putri Miya mulai dipenuhi oleh bekas kecupan Wu Yi Feng, pemuda itu bahkan kini mulai menyibakkan selimut yang sedari tadi menutupi tubuh indah putri Miya. Wu Yi Feng merebahkan putri Miya secara perlahan, kini ia bisa menatap tubuh di hadapannya dengan tanpa rasa malu lagi.


Tubuh putri Miya begitu sempurna laksana pahatan seorang seniman, kulitnya yang putih bersih dan mulus dihiasi oleh bulu - bulu lembut yang tumbuh di pergelangan kedua tangannya serta puncak cerry berwarna pink cerah di kedua *********** dan tentu saja dibawah sana ada sebuah garis melintang yang bersih polos berwarna merah muda, saking rapatnya goa kenikmatan itu, sehingga seolah olah tidak ada lubang disana.


Setelah puas bermain main di tubuh bagian atas, kali ini saatnya Wu Yi Feng menjamah tubuh bagian bawah, dilihatnya dua kaki jenjang milik putri Miya yang juga putih bersih tanpa cacat, pahanya yang mulus dan betisnya yang sangat indah membuat Wu Yi Feng yang telah dikuasai oleh nafsu segera memberikan kecupan di sana sini, hingga sampailah ia di pusat inti milik putri Miya.


Dibukanya secara perlahan kedua paha mulus tersebut hingga terlihatlah garis berwarna merah muda cerah yang kini sudah berkilau basah karena cairan pelumas. Wu Yi Feng menatap sejenak kearah putri Miya yang saat ini sudah terengah engah, wajahnya yang putih kini juga bersemu merah menahan birahi yang memuncak.


Anggukan lemah dari putri Miya seolah sebuh ijin bagi Wu Yi Feng untuk mulai melakukan penetrasi, digosok gosokkanlah si Joni diluar goa kenikmatan tersebut, membuat putri Miya terpejam, sedangkan tangannya menggenggam erat tepian selimut.


"Apakah sakit??" Tanya Wu Yi Feng ketika kepala joninya yang besar, panjang dan berurat mulai menyeruak masuk.


"Teruskan.." Putri Miya menggigit bibir bawahnya menahan gejolak yang saat ini menyerang tubuhnya.


JLEEEEEBBBBBB...


"Aaaaahhhhh..." Putri Miya membuka matanya ketika joni perkasa milik Wu Yi Feng masuk sepenuhnya. Akhirnya selaput keperawanan itu terkoyak sudah, darah keluar dari sela - sela kewanitaan Putri Miya. Wu Yi Feng sengaja mendiamkan miliknya, tangannya membelai mesra rambut dan puncak kepala Putri Miya, seolah tak mau kalah kedua tangan perempuan itu memegang pipi Wu Yi Feng lalu menyatukan bibirnya. Lidah Putri Miya menari nari dan mensesap habis Wu Yi Feng.


Setelah merasa kedutan di dalam liang kenikmatan Putri Miya sedikit mereda Wu Yi Feng mulai memaju mundurkan joninya secara perlahan, tangan pemuda itu tidak mau tinggal diam, diraihlah kedua bulatan sempurna didada Putri Miya lalu mulai dimainkan kembali membuat perempuan tersebut mendesah tidak karuan.


Gerakan yang tadinya pelan, sekarang mulai sedikit dipercepat. Hingga akhirnya pelepasan itu datang, Putri Miya mencengkram erat punggung Wu Yi Feng hingga kuku - kukunya yang tajam menancap.


Napas Putri Miya mulai terengah engah, tapi Wu Yi Feng tidak mau berhenti ataupun memberikan jeda kepadanya. Pemuda iku kian lama kian cepat dalam memompa, membuat Putri Miya makin terbuai oleh kenikmatan.


"Aaaahhhhh.." Akhirnya setelah melakukan penyatuan selama beberapa waktu Wu Yi Feng mendapatkan juga puncaknya. Pemuda tersebut menyemburkan cairannya ke dalam rahim Putri Miya.


Wu Yi Feng terkulai lemas dan tidur - tiduran diatas dada Putri Miya, sedangkan si Joni masih nyaman bersarang di goa. Saat ini pemuda tersebut sedang menikmati sensasi kedutan yang terjadi di liang kenikmatan milik Putri Miya.


Wu Yi Feng mengangkat kepalanya, menatap Putri Miya lalu tersenyum bahagia, begitu juga dengan putri Miya yang membalas senyuma tersebut dengan senyum cantiknya. Aksi mereka pun diakhiri dengan sebuah kecupan hangat sebelum keduanya terlelap dalam mimpi indah.