The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Magnet Para Pendekar



Baru saja Wu Yi Feng duduk menunggu ketika tiba - tiba di belakangnya terdengar suara seorang gadis memanggilnya dengan nada yang lumayan kencang.


"Feng Gege....??"


"Yi'er?? Apakah kalian juga menginap disini?? Dimana ayahmu tuan Li serta adikmu?" Jawab Wu Yi Feng yang sedikit terkejut dengan kehadiran Li Xiao Yi di penginapan tersebut.


"Mereka semua sedang beristirahat di kamar, aku tadinya tidak bisa tidur jadi kuputuskan saja untuk berkeliling kota sekalian mencari udara segar.." Jelas Li Xiao Yi dengan senyum yang terus terkembang.


"Cuaca memang sedang panas - panasnya beberapa hari ini, mungkin sebentar lagi hujan lebat akan turun.." Jawab Wu Yi Feng.


"Ngomong - ngomong sedang apa kamu disini?? Jangan bilang jika kamu adalah salah satu peserta turnamen naga muda??"


"Hmm.. Kali ini tebakanmu benar.." Wu Yi Feng tersenyum tipis.


"Feng gege...!!! Siapa gadis ini??" Wang Fei Lin secara misterius sudah berada di tengah - tengah keduanya, bahkan Wu Yi Feng sama sekali tidak dapat merasakan kehadirannya.


"Fei Lin, dimana guru Ling?? Oia perkenalkan dia Li Xiao Yi.."


"Guru Lin sudah tidur di kamarnya, namaku Wang Fei Lin.." Jawab Wang Fei Lin dengan nada suara ketus.


Mendadak Wu Yi Feng merasakan aura mematikan diantara kedua orang gadis yang saat ini tengah saling menatap, seolah olah mata mereka memancarkan tegangan listrik bertegangan tinggi.


"Feng gege, apakah besok kamu senggang?? Jika ia maka bisakah kamu menemani aku untuk berkeliling kota Xiang Yang???"


"Maaf nona, kami tidak sepertimu yang punya banyak waktu luang.. Feng gege dan juga aku pastinya, besok pagi - pagi sekali harus mulai mendaftar untuk turnamen naga muda.." Potong Wang Fei Lin dengan nada yang terasa sekali dibuat tegas.


"Oh ya? Aku rasa jika hanya mengurusi dokumen - dokumen penunjang, satu orang sudah lebih dari cukup. Lagipula nona Fei, aku sedang berbicara dengan Feng gege dan bukan denganmu..!!" Balas Li Xiao Yi dengan tidak kalah sengit.


"Hahaha.. Orang awam sepertimu mana tahu urusan kami para seniman bela diri??? Lebih baik kau bersolek dan mendukung kami dari pinggir arena.." Ledek Wang Fei Lin.


"Oia?? Aku rasa disini kau sudah salah sangka.. Aku juga adalah praktisi ilmu beladiri..!!! Dan maaf, memangnya siapa kamu?? Apa tidak capek terus terusan menguntit Wu Yi Feng semenjak hari pertama bertemu??"


"Kau.. Darimana kau tahu?? Feng gege, apakah kau yang memberitahunya???" Wang Fei Lin membelalakan matanya kearah Wu Yi Feng.


Wu Yi Feng hanya menggeleng lemah, ia benar - benar tidak berpengalaman dalam menghadapi situasi seperti ini. Bahkan jika bisa memilih maka Wu Yi Feng pasti lebih memilih untuk menghadapi seratus hewan buas berusia ratusan tahun daripada mendengarkan ocehan dua gadis yang tidak jelas ujungnya seperti ini.


"Cukup, ini sudah larut malam.. Aku capek dan ingin beristirahat.." Wu Yi Feng berdiri lalu meninggalkan dua gadis yang saat ini masih terlibat adu mulut.


Wu Yi Feng merebahkan tubuhnya di ranjang empuk penginapan, kepalanya terasa sakit bila mengingat perdebatan dua gadis muda yang mungkin sampai saat ini belum juga berhenti.


*****


"Hmmm.. Sudah kuduga, perhelatan sebesar ini memang rawan untuk disusupi oleh pihak - pihak yang tidak bertanggung jawab.." Ling Han menggeleng pelan.


"Bagaimana dengan urusan gerombolan topeng kematian??" Ucap Ling Han seraya kembali duduk kembali di kursinya.


"Sebagian besar anggota mereka sudah kubereskan guru, anda tenang saja saya melaksanakan sesuai perintah. Tidak ada saksi mata yang lolos dan tanpa memakai atribut sekte.."


"Bagus...!!! Setidaknya dengan begini maka kekuatan mereka akan berkurang drastis. Kelak di kemudian hari gerombolan perampok seperti mereka akan berpikir ribuan kali untuk mengerahkan pasukan seperti sebelumnya."


"Hanya saja kesepuluh barisan pencabut nyawa serta pemimpin utama mereka tidak ada di tempat guru.. Dan dari informasi yang berhasil aku dapat, mereka semua saat ini sedang berada di kota Xiang Yang.."


"Benarkah?? Kalau begitu kebetulan, akhirnya tiba juga waktuku membalas dendam kepada mereka..!!" Ling Han nampak tersulut emosi hingga tinjunya terkepal dan giginya bergemeretak.


"Aku kesini hanya ingin mengatakan hal itu, jangan khawatirkan aku dan Shen Liang guru.. Kami baik - baik saja dan kita akan segera bertemu lagi ketika pembukaan turnamen diadakan.."


"Baiklah, kalau begitu pergilah Feng'er.." Ling Han memegang pundak kekar Wu Yi Feng disertai sebuah tatapan penuh kepercayaan dan kebanggaan.


Wu Yi Feng kembali menyusuri kota Xiang Yang, meskipun cahaya lampion yang menyinari kota Xiang Yang telah padam dan digantikam oleh cahaya matahari yang terik, namun jalanan utama kota Xiang Yang yang dijuluki Jalur Naga tetap saja ramai oleh hilir mudik para warganya.


Jika dimalam hari kota Xiang Yang dipenuhi oleh para penjaja kenikmatan duniawi maka di pagi hari jalanan kota Xiang Yang dipenuhi oleh pedagang kain, makanan kecil dan juga pedagang mainan serta oleh - oleh.


Wu Yi Feng juga melihat banyak prajurit yang sedang melakukan patroli rutin di sepanjang jalan kota Xiang Yang sebelum akhirnya memutuskan untuk kembali ke pintu langit, Wu Yi Feng mampir terlebih dahulu ke sebuah kedai makanan.


Rupanya kedai makanan yang dimasuki Wu Yi Feng merupakan salah satu rumah makan terkenal di kota Xiang Yang, dengan dua lantai yang kesemuanya difungsikan sebagai tempat pengunjung untuk memesan makanan serta menikmati hidangan.


Ketika Wu Yi Feng memasuki rumah makan tersebut, lantai satu terlihat sudah penuh oleh para pendekar. Meskipun banyak diantara mereka yang menyembunyikan senjatanya, namun pancaran energi serta hawa membunuh yang kuat begitu pekat terasa.


Wu Yi Feng hanya tersenyum tipis, hawa membunuh yang begitu pekat jelas bukan milik seorang pendekar dari sekte lurus atau putih. Tapi membuat keributan di tengah - tengah kota jelas bukanlah sebuah pilihan yang tepat, apalagi di saat banyak pendekar sedang berkumpul bersama seperti saat ini.


Wu Yi Feng mengambil tempat duduk di dekat jendela di lantai dua, tak lama berselang datanglah seorang perempuan tua yang mengambil tempat duduk tepat berada di depan meja Wu Yi Feng.


"Pelayan, ambilkan aku seteko teh madu dan dua buah bakpao isi daging..!!" Ucap perempuan tua tersebut kepada salah seorang pelayan yang kebetulan sedang mengantarkan pesanan salah satu pelanggan.


"Baik nek, mohon ditunggu sebentar.." Jawab pelayan tersebut dengan sopan.


Dilihat dari manapun, jelas perempuan tua ini bukan orang biasa. Tapi dari pakaiannya dan pancaran energi yang coba ia sembunyikan, Wu Yi Feng bisa menarik kesimpulan bahwa perempuan tua ini dan orang - orang yang ada di lantai bawah sama - sama berasal dari sekte hitam.


Wu Yi Feng kembali tersenyum tipis, sungguh turnamen naga muda bagaikan sebuah magnet yang mampu menarik seluruh praktisi ilmu beladiri dari golongan manapun untuk berkumpul di satu tempat.