The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Xiang Yang, Kota Cahaya



Malam sudah begitu larut ketika Wu Yi Feng meninggalkan pintu langit dan menuju kota Xiang Yang, portal penghubung yang dibuat oleh Luo Yun Xi membawa keduanya di tepian hutan yang berjarak hanya sekitar dua kilometer dari gerbang utama untuk memasuki kota Xiang Yang.


"Jika sudah selesai dengan urusanmu, segera kabari aku.." Ucap Luo Yun Xi.


"Baik guru, maaf merepotkanmu.." Wu Yi Feng keluar dari lingkaran portal dan berjalan menuju arah kota, sedangkan portal yang menghubungkan pintu langit segera tertutup.


Meskipun saat ini malam sudah makin larut, namun jalanan utama menuju kota Xiang Yang masih dipenuhi oleh puluhan bahkan ratusan orang - orang yang ingin menyaksikan turnamen naga muda.


Wu Yi Feng segera bergabung dengan kerumunan orang yang tengah antri untuk memasuki kota Xiang Yang, turnamen naga muda terbukti mampu menyedot animo penduduk. Semua golongan dari berbagai daerah berbondong - bondong menuju ke kota Xiang Yang.


Sebagai ibukota dari kekaisaran Song yang agung, kota Xiang Yang telah menjelma menjadi metropolis pada jamannya. Selain dijejali oleh kantor - kantor pemerintahan, kota Xiang Yang juga memanjakan penduduknya dengan aneka macam hiburan.


Singkat kata, apapun yang diinginkan oleh warganya selalu ada di kota Xiang Yang. Dan selayaknya kota besar pada umumnya, kota Xiang Yang juga menjadi kota tersibuk hingga hampir 24 jam selalu dipenuhi aktifitas warganya.


Berbagai jenis lampion yang berkelap kelip dan memenuhi hampir seluruh jalanan kota Xiang Yang membuatnya dijuluki sebagai Kota Cahaya.


Membeludaknya pengunjung di kota Xiang Yang membuat penginapan - penginapan serta kedai dan rumah makan yang berada di sana berani mematok harga hingga tiga kali lipat lebih tinggi dari biasanya, tak ketinggalan juga rumah hiburan yang menyediakan layanan pemuas syahwat bagi kaum adam juga seperti kecipratan rejeki.


Para wanita dengan tubuh aduhai dan dandanan menor serta bau parfum menyengat hidung berlalu lalang di pinggir jalan pusat kota, dengan kata - kata rayuan kelas dewa, tak sedikit para lelaki hidung belang yang rela mengeluarkan keping emas dalam jumlah besar hanya untuk merasakan kenikmatan semalam.


"Hei kau yang disana, mana tanda pengenalmu???" Ujar salah satu prajurit penjaga gerbang kota.


"Oh maaf, ini tanda pengenalku.." Jawab Wu Yi Feng sembari mengeluarkan token yang menunjukkan identitasnya sebagai murid dari sekte pedang langit.


"Hmm.. Apakah kau salah satu peserta turnamen??"


"Benar.."


"Baiklah, silahkan masuk.. Ayo selanjutnya.." Prajurit penjaga gerbang mengembalikan token milik Wu Yi Feng seraya mempersilahkannya untuk memasuki kota.


Keindahan kota Xiang Yang di malam hari bahkan mampu membuat Wu Yi Feng terperangah, sambil menoleh kanan dan kiri pemuda tersebut mulai menyusuri kota.


"Wooooiii minggir.. Minggirrrr..." Teriak seorang penarik becak.


"Maaf.. Maaf.." Wu Yi Feng segera berlari ke pinggir jalan sambil menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Baru pertama kali ke kota ya?? Kalau jalan jangan di tengah - tengah.. Ini tempat lalu lalangnya becak.." Teriak pria penarik becak dengan muka cemberut.


Wu Yi Feng mengambil secarik kertas yang berisi tulisan tangan Ling Han, disana Ling Han menuliskan nama sebuah penginapan yang menjadi titik berkumpulnya mereka.


"Penginapan Bambu Apung??" Gumam Wu Yi Feng.


Karena merasa akan membuang - buang waktu jika harus mencari di setiap sudut jalan, maka Wu Yi Feng memutuskan untuk bertanya kepada salah satu penarik becak yang sedang mangkal tak jauh dari tempatnya berdiri.


"Permisi paman, apakah anda tahu letak dari penginapan bambu apung??"


"Penginapan bambu apung??"


"Benar paman.."


"Wahhh, jarak penginapan bambu apung dari sini lumayan jauh. Kau harus terus berjalan hingga menemukan sebuah pertigaan, lalu ambil sisi sebelah kanan kemudian terus dan.."


"Maaf, namun apakah aku boleh menggunakan jasamu paman??"


"Ohh tentu boleh, silahkan naik.. Aku akan antar kau sampai di depan penginapan bambu apung.."


"Berapa ya.. Ehhmm..."


"Apakah ini cukup??" Wu Yi Feng menyodorkan tiga keping emas kepada laki - laki penarik becak.


"Ja.. Jangan bercanda tuan muda, ini terlalu banyak.."


"Kalau begitu anggap saja ini adalah hari keberuntunganmu paman.. Ambillah lalu bisakah kita segera berangkat??"


"Baiklah tuan muda, aku tidak akan sungkan lagi.." Laki - laki penarik becak segera menyimpan tiga keping emas dari Wu Yi Feng lalu bergegas menarik becaknya.


"Paman, jika aku boleh bertanya.. Memangnya berapa penghasilan anda sebagai penarik becak dalam sehari??" Ucap Wu Yi Feng ditengah perjalanan.


"Tidak tentu tuan muda, jika sedang ramai seperti ini.. Aku bisa mendapatkan 50 hingga 70 keping perak sehari.." Jawab laki - laki tersebut.


"Benarkah?? Lalu dimana paman tinggal saat ini??"


"Aku tidur di becak tuan, sedangkan istri dan ketiga anakku tinggal di sebuah desa tak jauh dari kota Xiang Yang.."


Wu Yi Feng hanya mengangguk angguk mendengar penjelasan dari paman penarik becak, hingga tak terasa hampir setengah jam mereka melakukan perjalanan.


"Tuan muda, kita sudah sampai.. Di samping kiri jalan ini adalah penginapan bambu apung." Ucap paman penarik becak sembari mengusap keringat dengan kain yang ia lilitkan di leher.


"Terima kasih paman, ini ada sedikit dariku.. Sampaikan salam untuk anak dan istri paman.." Wu Yi Feng memberikan sekantung uang emas, paman penarik becak bahkan sampai gemetar menerimanya.


"Te.. Terima kasih banyak tuan muda..!!"


Wu Yi Feng tersenyum sebelum berlalu menuju ke dalam penginapan bambu apung saat seorang wanita dengan dandanan menor mendekatinya.


"Tuan muda, apakah kau butuh teman malam ini?? Aku bisa memberikan servis yang sangat memuaskan di ranjang.. Kau cukup memberiku 75 keping perak saja.." Rayunya sambil menggenggam lengan Wu Yi Feng.


"Ma.. Maaf nyonya, aku sama sekali tidak tertarik denganmu.." Balas Wu Yi Feng.


"Ahh, masalah tertarik itu beda lagi.. Yang penting kau puas.." Godanya sambil tersenyum penuh arti.


"Sekali lagi maaf, aku harus pergi.." Wu Yi Feng melepaskan genggaman wanita tersebut lalu buru - buru memasuki penginapan bambu apung.


"Hufff..." Wu Yi Feng menghela napas lega, meskipun dia memiliki kemampuan hebat namun Wu Yi Feng sadar dirinya tidak bisa menggunakan kekuatannya untuk melawan wanita penghibur seperti mereka karena sebenarnya mereka juga adalah korban.


"Maaf, apakah disini ada tamu yang bernama Ling Han??" Wu Yi Feng bertanya kepada resepsionis.


"Maaf juga tuan tapi menurut peraturan penginapan, identitas setiap tamu yang menginap disini tidak bisa dibuka kepada sembarangan orang.."


"Ling Han bukan orang lain, beliau adalah guruku, kami berasal dari sekte yang sama.."


"Tetap saja tuan, tanpa bukti apapun kami tidak bisa membocorkan data - data para tam.." Penjaga resepsionis tidak meneruskan kata - katanya karena Wu Yi Feng sudah memperlihatkan token atau lencana yang menunjukkan bahwa dirinya adalah murid dari sekte pedang langit.


"Mohon tuan tunggu disini, saya yang akan memberitahu tuan Ling Han.." Resepsionis tersebut segera pergi dan terlihat menaiki tangga dimana penginapan bambu apung sendiri memiliki lima lantai.


Ketika Wu Yi Feng sedang duduk menunggu, tiba - tiba saja di belakangnya ada suara gadis memanggilnya.


"Feng Gege....??"