The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Laki - laki Berkalung Tasbih



"Kakak, sekarang kita harus bermalam dimana??? Uang kita yang tersisa bahkan tidak cukup untuk beli sebiji bakpao.." Gerutu Chui Dal Po.


"Alah.. Sudahlah, kita ini laki - laki, sesekali tidur beratapkan langit tidak apa - apa." Jawab Chau Li tanpa merasa bersalah sedikitpun.


Sangat wajar jika Chui Dal Po menggerutu, misi yang di jadwalkan hanya berlangsung selama satu - dua minggu molor menjadi lebih dari dua bulan. Tentu saja mereka kehabisan uang saku, padahal sekte pedang langit selama ini selalu melebihkan jumlah uang saku setiap kali para murid mengemban suatu misi.


Keduanya berjalan tak tentu arah, hingga akhirnya tanpa disadari mereka telah sampai di sebuah bangunan tua. Nampaknya bangunan tersebut sudah cukup lama tidak ditempati hingga terbengkalai.


Bau lumut dan juga kotoran tikus seketika menyeruak ketika Chau Li membuka pintu yang sudah reyot, Chui Dal Po bahkan sampai menutup mulutnya rapat - rapat dengan tangan karena bau yang menyengat.


"Kakak, ayo pergi.. Tempat ini sungguh bau..!!" Seru Chui Dal Po sambil menarik lengan baju Chau Li.


"Pergi?? Mau pergi kemana?? Apakah kau tidak lihat diluar gerimis dan hujan bisa turun sewaktu - waktu..? Lebih baik sekarang bantu aku mengumpulkan jerami kering untuk alas tidur kita.."


Chui Dal Po sudah tidak bisa berkata apa - apa lagi, bahkan ia telah berjanji bahwa ini adalah terakhir kalinya dirinya mau mengambil misi dengan Chau Li.


Waktu berlalu, udara menjadi cukup panas malam itu dikarenakan hujan yang tak kunjung turun, Chau Li dengan tanpa rasa bersalah membuka pakaiannya dan memperlihatkan tubuhnya yang lumayan berotot di hadapan Chui Dal Po.


"Kakak, aku tahu tubuhmu bagus.. Tapi bisakah kau menjaga perasaanku??" Ucap Chui Dal Po, membuat Chau Li makin menjadi dan beraksi layaknya binaragawan.


Chui Dal Po yang kesal akhirnya memilih untuk memunggungi nya dan memejamkan mata hingga samar - samar terdengar suara seorang wanita.


"Apa yang mau kalian lakukan bajingan..?? Aku pasti akan membunuh kalian saat efek racun ini menghilang dasar pengecut..!!!"


"Apa, membunuhku??? Hahahahha... Aku pastikan kalian akan menjadi salah satu bidadari di Rumah Angsa setelah kami selesai bersenang senang.. Hahahhaa.." Ucap salah satu laki - laki yang berada di hadapan kedua gadis tersebut.


Chau Li dan Chui Dal Po mengintip dari sudut yang gelap, terlihat ada dua gadis yang sedang terpojok dan terduduk di dinding sambil memegangi dada mereka, dari wajah mereka yang pucat kemungkinan besar mereka berdua diracun, kedua gadis tersebut ternyata adalah dua orang murid dari sekte teratai ungu yang Chau Li tolong kemarin siang.


Dihadapan kedua gadis yang tidak berdaya tersebut, berdiri lima orang laki - laki yang besar kemungkinan adalah murid dari sekte gagak hitam. Chau Li maupun Chui Dal Po kesulitan mengidentifikasi karena saat itu situasinya memang cukup gelap.


"Sebaiknya segera selesaikan urusan kalian, aku akan menunggu diluar.." Seru salah satu dari kelima orang laki - laki disana.


"Ba.. Baik kak.." Keempat orang lainnya mengangguk sebelum kemudian berbalik dan menatap kedua gadis layaknya serigala sedang menatap kelinci yang menjadi mangsanya.


"Kakak, ayo kita bantu mereka.. Apa yang kau tunggu??" Bisik Chui Dal Po.


"Sebentar, apa kau tidak merasakan aura jahat yang orang itu lepaskan..??" Balas Chau Li dengan menggertakkan giginya dan mengepalkan jari - jarinya.


"Tuan tolong jangan lakukan ini, kumohon.." Salah satu gadis murid sekte teratai ungu mulai mengiba, nampak air mata mulai mengalir membasahi pipinya yang putih mulus.


"Adik, jangan melemahkan suaramu di hadapan para bajingan seperti mereka..!!!" Sahut gadis yang satunya, tapi rupanya tidak mendengar dan mulai menangis.


"Tenanglah, kami tidak akan bermain kasar.. Malam ini kalian pasti akan merasakan kenikmatan yang belum pernah kalian rasakan sebelumnya, dannnn.. Aku yakin kalian pasti akan ketagihan.." Bisik salah satu laki - laki sambil berjongkok dan menghapus air mata di pipi mulus gadis tersebut.


"Apa kamu tahu, bahkan aroma tubuhmu yang wangi sudah membuatku tidak tahan untuk menikmati setiap jengkal dari tubuh indahmu.."


"Baik kak.." Ketiganya segera bergegas pergi meskipun napas mereka sudah tersengal sengal menahan birahi.


"Sekarang hanya tinggal kita bertiga, kau tunggu dulu disana sementara aku menikmati tubuh adikmu.."


"Aku akan membunuhmu..!! Aku bersumpah..!!!" Teriak gadis tersebut meskipun suara yang keluar tidak lebih dari gumaman.


"Chui Dal Po, aku akan menghadapi mereka semua.. Sedangkan kau segera bawa kedua gadis itu menjauh dari sini.." Bisik Chau Li, namun ia terkejut karena Chui Dal Po sudah tidak ada di tempatnya semula.


"Celaka...!!!" Chau Li membelalakan matanya ketika melihat Chui Dal Po sudah melompat ke arah kedua gadis tersebut.


"Hehehe.. Diam dan nikmatilah.." Salah satu murid dari sekte gagak hitam mulai merobek paksa baju salah satu gadis dari sekte teratai ungu. Dengan beringas pemuda tersebut mencium leher serta dada yang sudah sedikit terbuka.


BLAAAAARRRRRRR....


"Kurang ajar.. Manusia rendahan..!!!" Chui Dal Po meninju pemuda tersebut dengan sekuat tenaga hingga membuat tembok bangunan yang sudah lapuk tersebut hancur.


"Rupanya ini racun pelemah tulang.." Chui Dal Po sempat memeriksa nadi salah satu gadis sebelum menyadari sebuah pisau sedang mengarah tepat kearahnya.


SWOOOSSSSHHH..


TRAAAAANNNNGGGGG...


Chau Li tiba tepat waktu dan menangkis pisau yang mengarah ke rekannya dengan pedang miliknya, "Perhatikan sekitarmu kawan.."


"Terima kasih kak.." Chui Dal Po mengambil beberapa butir obat lalu meminumkannya ke dua gadis yang sudah tidak berdaya tersebut, tak lupa juga ia menutupi tubuh salah satu gadis yang sudah setengah terbuka.


"Cihh.. Kalian lagi.. Bukankah sudah kukatakan bahwa jangan pernah campuri apa yang bukan urusanmu..!!!"


"Maaf, tapi melindungi gadis - gadis cantik adalah motto hidupku.." Seru Chau Li dengan lantang, membuat Chui Dal Po hanya bisa menepuk jidat.


"Hahahaha.. Baiklah kalau begitu, malam ini adalah malam terakhir kau bisa ikut campur urusan kami.. Hiyaaaa..." Ketiga murid sekte gagak hitam menerjang Chau Li sendirian, sedangkan Chui Dal Po menerima serangan dari murid yang baru saja ia pukul.


Dua lawan empat, terlihat tidak adil tapi kenyataannya Chau Li dan Chui Dal Po bahkan diatas angin. Dalam waktu singkat saja keduanya sudah bisa memberikan luka yang cukup serius pada lawan - lawannya.


"Mundurlah kalian berempat, kemampuan kalian yang payah sungguh mencoreng nama baik sekte gagak hitam..!!" Ujar seorang lelaki yang sedari tadi hanya diam dan menonton mereka bertarung.


"Maafkan kami kak.."


"Maaf kak.."


Keempatnya mundur serentak, laki - laki yang berkalungkan tasbih maju secara perlahan sambil melepaskan hawa membunuh yang sangat kuat kearah Chau Li dan juga Chui Dal Po.