
Putri Miya terbangun terlebih dahulu, perempuan berparas cantik itu tersenyum melihat sosok pemuda yang beberapa saat lalu telah memberikannya kenikmatan. Dengan tangannya yang lentik Putri Miya membelai pipi, bibir dan juga alis tebal Wu Yi Feng, bahkan saat tertidur saja pemuda ini terlihat tampan dan gagah, rupanya dirinya memang tidak salah memilih suami, hingga tanpa sadar ia tertawa tertahan.
Mendengar suara tawa membuat Wu Yi Feng tersadar dari tidurnya dan ketika sayup sayup melihat wajah cantik dihadapannya Wu Yi Feng secara reflek tersenyum lalu memeluk erat pemilik wajah cantik tersebut.
Putri Miya membalas perlakuan pemuda tersebut, kepalanya ia sandarkan di dada bidang Wu Yi Feng sedangkan puncak kepalanya diusap usap oleh pemuda tampan yang masih setengah sadar.
Entah berapa lama mereka dalam posisi tersebut hingga Putri Miya sadar akan satu hal, perempuan tersebut seketika berdiri lalu menarik selimut untuk menutupi tubuh polosnya, turun dari ranjang lalu menuju ke sebuah cermin.
Jika perhitungannya benar maka seharusnya saat ini dirinya sudah kembali dalam wujud transparan, tapi ternyata tubuhnya tetap utuh, bukan itu saja Putri Miya juga merasa bahwa tubuhnya seakan tak lagi terikat dan dibatasi, itu hanya berarti satu hal yaitu formasi yang selama ini mensegel tubuhnya telah hancur.
Ratusan tahun dirinya mencoba berbagai cara untuk lepas dari formasi yang telah menyegel tubuhnya, siapa sangka justru melalui penyatuan lah segel tersebut akhirnya hancur. Putri Miya tersenyum tak percaya, lawan - lawannya pasti telah memperhitungkan semua ini, tentu saja mereka tahu akan tingginya harga diri seorang Miya yang tidak akan memberikan tubuhnya ke sembarang orang, karena itulah mereka menjadikan penyatuan sebagai satu - satunya cara untuk membuka segel formasi yang mereka pasang.
Ditengah kebahagiaannya, Putri Miya tersentak tatkala menyadari dua lengan kekar memeluknya pinggangnya dengan lembut.
"Sudah bangun??" Pertanyaan Putri Miya hanya dijawab anggukan oleh Wu Yi Feng, pemuda itu memeluk sambil bergelayut manja di punggung Putri Miya.
Putri Miya menggenggam erat kedua tangan Wu Yi Feng sambil terus menerus tersenyum bahagia, mereka menghabiskan beberapa menit hanya untuk sekedar berpelukan pagi itu sebelum akhirnya Putri Miya membalik badannya dan berkata, "Ikutlah denganku.."
Putri Miya menarik lengan Wu Yi Feng, lalu mengajak pemuda tersebut ke sebuah kolam kecil dimana air mengalir langsung dari air terjun yang berada di belakang pondok / gubuk.
Kolam tersebut berisikan air yang sangat jernih hingga dasarnya yang tidak terlalu dalam, kurang lebih kedalamannya hanya sekitar dua meteran. Sebuah pondok yang memiliki akses ke kolam kecil pribadi sungguh berharga dan nyaman.
Keduanya menceburkan diri ke kolam tersebut dan saling berpandangan sebelum Wu Yi Feng mendekat dan memberikan istrinya sebuah kecupan hangat di bibir.
"Putri Miya bagaimana keadaanmu??"
"Putri Miya?? Apakah kamu akan tetap memanggilku seperti itu setelah yang kamu lakukan??" Miya mengerucutkan bibirnya dan membalik badan memunggungi Wu Yi Feng.
"Maafkan aku istriku, aku masih belum terbiasa.." Wu Yi Feng memeluk istrinya dari belakang lalu mulai memainkan kedua gunung kembar milik istrinya untuk memancing gairahnya.
"Ahhhhh.. Masih mau lagi??"
Wu Yi Feng mengangguk, Miya kembali berbalik dan langsung mencium Wu Yi Feng dengan ganas. Keduanya kembali melakukan penyatuan hingga beberapa kali.
Beberapa hari kemudian terlihat Wu Yi Feng yang sedang berlatih dengan ditemani oleh Miya sang istri, mereka berdua nampak memainkan beberapa jurus pedang. Dengan arahan dari Miya, gerakan - gerakan yang selama ini selalu menjadi titik lemah di dalam jurus pedang empat musim mulai dibenahi dan diperbaiki.
"Istriku, tidak aku sangka rupanya selain memanah kau juga terampil dalam memainkan pedang.." Sanjung Wu Yi Feng, membuat Miya tersipu malu.
"Bagi kami para Elf, memanah adalah senjata utama yang kami pelajari dan wajib kuasai. Tapi kami juga bebas memilih senjata lain setelah menguasai ketrampilan memanah.
WHUSSSSSSS....
Miya mengambil sebuah pedang dari kehampaan, sebuah pedang yang seluruhnya terbuat kari batuan kristal kuno, membuat tampilan pedang tersebut bening dan transparan. Pedang pusaka yang oleh Miya diberi nama Pedang Cahaya tersebut termasuk dalam tingkatan pusaka dewa legendaris, bahkan material pembentuk pedang tersebut telah lama punah dan hanya menyisakan pedang milik Miya saja.
"Suamiku, tangkap dan coba mainkan.." Miya melemparkan pedang cahaya kepada Wu Yi Feng, yang langsung ditangkap oleh pemuda tersebut.
Sarung pedang cahaya terbuat dari kulit naga berwarna coklat kehitaman, sedangkan gagangnya terbuat dari campuran bulu domba khusus yang hanya di ternakkan oleh bangsa Elf dan dipadukan dengan serat nadi naga, membuat genggamannya menjadi makin mantap dan tidak licin sama sekali.
Wu Yi Feng memperhatikan sejenak pedang pusaka tersebut sebelum mulai mengayunkannya, baru satu dua kali gerakan saja Wu Yi Feng sudah bisa merasakan perbedaannya, pedang cahaya begitu ringan namun kekuatannya tidak usah diragukan, bahkan ketika Wu Yi Feng mencoba membelah batu tanpa mengalirkan sedikitpun Qi ke bilah pedang cahaya, pedang tersebut mampu membelah batu dengan mudah layaknya membelah tahu.
"Ini luar biasa..." Seru Wu Yi Feng yang kegirangan.
"Kalau kamu menyukainya, maka pedang itu untukmu.." Ucap Miya sambil tersenyum dan berjalan mendekat ke arah suaminya.
"Tidak... Tidak.. Pedang ini terlalu berharga.." Wu Yi Feng menyarungkan kembali pedang cahaya kemudian menyerahkannya kepada Miya.
"Apakah benar kamu sudah menganggapku sebagai istrimu..???"
"Tentu saja.."
"Jika memang begitu, maka anggap saja itu hadiah untukmu.." Miya mendorong kembali tangan Wu Yi Feng yang memegang pedang cahaya.
"Tap.." Wu Yi Feng tidak bisa menyelesaikan perkataannya karena Miya meletakkan jari telunjuknya di bibir pemuda tersebut, dengan tersenyum perempuan cantik itu menggeleng, seolah mengatakan, "Tidak ada tapi.."
Wu Yi Feng memeluk istrinya dengan erat sambil bergumam, "Terima kasih.." Keduanya sempat hening sebelum Miya menggigit salah satu jari Wu Yi Feng lalu meneteskan darahnya ke bilah pedang cahaya.
Pedang yang menerima darah Wu Yi Feng memancarkan cahaya yang begitu menyilaukan untuk sesaat sebelum kemudian kembali normal, hanya saja Wu Yi Feng sudah tahu perbedaannya, ada getaran hangat yang terasa, pertanda bahwa pedang tersebut telah menerima dirinya sebagai tuannya yang baru.
...----------------...