The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Tarian Dewa Perang



Wu Yi Feng menyalurkan Qi yang cukup banyak ke pedang penari malam hingga bilah pedang pusaka bumi tersebut bercahaya sangat terang dan bergetar hebat.


Seolah mengerti akan keadaan genting yang akan dihadapinya, Cao Mou pun mengumpulkan tenaga dalamnya ke senjata pusaka miliknya, kini keduanya telah bersiap untuk melakukan serangan pamungkas dalam satu jurus.


DAAASSSSHHHHHHH...


"Jurus Pedang Empat Musim, Tarian Dewa Perang..."


Wu Yi Feng melesat maju terlebih dahulu dan mendekati Cao Mou, sedangkan Cao Mou bereaksi dengan melontarkan pedangnya hingga menjadi sangat panjang dan hendak mengurung Wu Yi Feng sekali lagi, namun kali ini Wu Yi Feng bereaksi dengan menebas pedang panjang milik Cao Mou.


Seolah mengerti jika pedangnya dalam bahaya, Cao Mou menarik kembali pedangnya dengan cepat dan memilih mundur, namun Wu Yi Feng tak memberikan kesempatan pada lawannya untuk pergi menjauh.


Pemuda itu melompat lalu memainkan pedangnya dengan begitu cepat, hingga Cao Mou merasa bahwa ia sedang melawan seorang ahli pedang yang telah hidup ratusan tahun.


Sadar jika dirinya tak bisa terus terusan menghindar, Cao Mou mulai menyerang, pedang panjangnya membelit pedang penari malam dan ujung pedangnya hendak menusuk tangan Wu Yi Feng.


Namun semua itu ternyata sudah sesuai dengan perkiraan Wu Yi Feng, pemuda itu menarik keras - keras pedang penari malamnya yang telah diselimuti oleh Qi hingga pedang milik Cao Mou hancur berkeping keping, tapi Wu Yi Feng belum mau berhenti disitu, jurus tarian dewa perang kini memasuki sebuah gerakan yang sangat mematikan, Wu Yi Feng bergerak memutar lalu memberikan tebasan yang sangat kuat hingga Cao Mou dengan pedangnya yang telah hancur hanya bisa menerima nasib.


Tubuh Cao Mou terbelah menjadi beberapa bagian, bahkan saking kuatnya tenaga kibasan dari jurus tarian dewa perang hingga membuat rumah tuan Huang Fei ikut terbelah menjadi dua, begitu juga dengan pohon serta batu di area sekitar.


Dengan terbunuhnya Cao Mou, kini tinggal Cao Dung yang masih hidup diantara ketiga saudaranya. Teriakan histeris dan juga letupan amarah pun tak terbendung. Saudara kedua tersebut menyerang Bai Lang dengan membabi buta hingga menyebabkan luka yang cukup serius.


"Kalian berdua akan kucincang...!!!" Teriaknya sambil mempersiapkan kuda - kuda terbaiknya, sedangkan Wu Yi Feng hanya diam mematung ditempatnya melihat amarah dari Cao Dung.


Cao Dung berlari dengan cepat kearah Wu Yi Feng sambil menenteng pedang yang sebesar tiang listrik, gerakannya yang gesit dan lincah kini tak lagi terlihat ketika amarah telah menguasai kepalanya.


Wu Yi Feng menghindari tebasan yang dilancarkan oleh Cao Dung berkali kali, sekaligus mencari celah untuk melemparkan pil penyembuh kepada Bai Lang yang sedang terluka parah, tak lupa juga ia melihat tuan Huang Fei yang raut wajahnya telah berubah pucat karena ketakutan.


BLAAAAMMMMM...


Pedang besar Cao Dung menghantam tanah, menyebabkan sebuah lubang besar, namun pria itu makin marah karena targetnya terus bergerak menghindar kesana kemari.


"Hahh.. Hahhh.. Hahhh.." Napas Cao Dung mulai memburu, sedangkan Wu Yi Feng masih belum terlihat tanda - tanda kelelahan sama sekali, hanya pakaiannya yang telah robek.


"Jika kau memang hebat, coba terima seranganku.. Jangan cuma bisa menghindar kesana kemari seperti monyet..!!!" Teriak Cao Dung yang mulai frustasi.


"Kemampuan menghindari serangan juga salah satu hal yang sangat penting bagi seorang pendekar.." Jawab Wu Yi Feng sembari mempersiapkan kuda - kudanya.


"Saudara Bai, tolong kau cari tempat para penduduk di tahan.. Yang disini biar aku urus.." Ucap Wu Yi Feng melalui telepati.


Bai Lang yang sedang bermeditasi untuk menyembuhkan luka - lukanya mendengar suara Wu Yi Feng dan menganggukan kepala, tanda bahwa ia menerima pesannya. Bai Lang segera bangkit dan pergi dari tempat itu, sementara Wu Yi Feng mengulur waktu.


"Jurus Pedang Empat Musim, Tarian Angsa di Musim Dingin.."


Wu Yi Feng melesat cepat, Cao Dung yang sudah mulai kehabisan stamina hanya bisa bertahan semampunya. Wu Yi Feng mulai bergerak dengan lincah dan dinamis, hingga hanya dalam waktu sebentar saja di tubuh Cao Dung telah muncul banyak luka sayatan.


"Hanya itukah kemampuanmu?? Atau tenagamu sudah habis?? Hahahaha.." Ledek Cao Dung yang mulai mengangkat pedang besarnya dan hendak menebas Wu Yi Feng.


WUUUUSSSSSHHHHHH...


Pedang besar itu terayun dengan cepat kearah Wu Yi Feng, hingga ketika jarak pedang tersebut sudah sangat dekat, Wu Yi Feng belum juga bergerak.


"Matilahhhh....!!!" Teriak Cao Dung dengan seringai lebar yang menghiasi wajahnya.


Wu Yi Feng memukul bilah pedang besar tersebut dengan kepalan tangannya yang telah dilapisi oleh Qi hingga hancur berkeping keping, dan membuat Cao Dung gemetar karena amarah yang makin meluap.


"Biadab..!! Kau apakan pedangku?? Kucincang kau..." Cao Dung yang sudah gelap mata, melompat ke arah Wu Yi Feng sambil mengumpulkan tenaga dalamnya.


BLAAAAMMMMMM...


Kedua energi bertemu, Cao Dung terpental ke belakang sangat jauh, lengan kanannya hancur dan menyemburkan darah yang cukup banyak. Wu Yi Feng yang masih berbaik hati segera membantunya meringankan beban hidupnya dengan cara membunuh Cao Dung yang sudah kesakitan.


Tuan Huang Fei hanya bisa mematung sambil gemetar, ketika melihat kepala Cao Dung menggelinding lepas dari tubuhnya. Tiga orang pendekar yang selama bertahun tahun selalu ada di sisinya dan bisa diandalkan, hari ini terbunuh semua ditangan seorang bocah berusia belasan tahun.


Baru saja Tuan Huang hendak kabur ketika ia merasakan tatapan menyeramkan yang keluar dari Wu Yi Feng, tatapan tersebut bukan saja membuatnya tak bisa bergerak, bahkan untuk berdiri saja ia kini tak mampu.


Wu Yi Feng berjalan pelan kearah Tuan Huang yang mencoba kabur dengan merangkak, Wu Yi Feng mengeluarkan pisau dari dalam cincin ruangnya dan melemparkan pisau tersebut tepat di betis kanan Tuan Huang.


"Arrrrrgggggghhhhhh..." Teriak kesakitan Huang Fei ketika sebilah pisau menembus betis kanannya, pria paruh baya tersebut berguling guling karena merasakan sakit.


"Bangunlah, pisau itu tidak dilumuri oleh racun sehingga luka yang kau terima tidaklah separah itu.." Ucap Wu Yi Feng dengan tegas ketika sudah berada di dekat Huang Fei.


"Tuan muda, tolong ampuni hamba.. Apa pun yang kau mau katakan saja, aku punya harta yang sangat banyak.." Rayu Huang Fei.


"Memangnya sebanyak apa hartamu??"


"Ini.. Ini coba lihat sendiri.." Huang Fei menyerahkan dua buah cincin ruangnya yang terbuat dari emas dan berlian.


Wu Yi Feng berkonsentrasi untuk melihat isi didalamnya, dan benar saja didalam kedua cincin ruang tersebut ada begitu banyak koin emas, emas batangan, batuan berharga dan juga uang dalam bentuk kertas atau yang sering disebut cek.


"Lumayan juga, baiklah aku terima ini tapi aku ada satu syarat lagi.."


"Apa tuan, katakan saja.."


"Dimana kau menyekap semua penduduk kota??"


"Mereka semua aku kumpulkan di sebuah goa yang ada di lereng bukit.."


"Kau tidak berbohong??"


"Tidak Tuan, hamba tidak berani berbohong.." Seru Huang Fei sambil menahan sakit karena pisau milik Wu Yi Feng masih menancap erat di betisnya.


"Terima kasih, sekarang kau sudah tidak berguna.." Wu Yi Feng menunjukkan seringai yang sangat menakutkan sebelum mengakhiri hidup Huang Fei.


"Ta.. Tapi Tuan, kau sudah berjanji akan mengampuniku.."


"Aku tidak pernah berjanji hal seperti itu.."


"Tidakkkkkkk..."


CRROOOOOOTTTTTTT....


Kepala Huang Fei hancur oleh tekanan Qi Wu Yi Feng, pemuda tersebut segera menggeledah tubuh serta rumah Huang Fei yang telah ditinggalkan oleh penghuninya dan segera menemukan beberapa cincin ruang dimana didalamnya berisi harta yang sangat banyak.