The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Final



**Beberapa hari kemudian


Luo Yun Xi mengajak Wu Yi Feng bergegas ke arena karena pertandingan di hari kelima segera dimulai, kedua orang guru dan murid itu mempercepat langkahnya, hingga tak lama kemudian mereka berdua telah sampai di arena pertandingan.


Semua orang, baik penonton maupun pejabat istana langsung memberikan hormatnya ketika sang pilar datang. Mereka benar - benar menjunjung tinggi kedudukan seorang pilar, karena berkat jasa mereka lah para penduduk dan kekaisran Han masih merasakan kedamaian sampai saat ini.


Jumlah penonton pertandingan di hari kelima ini makin banyak, karena hari ini babak final pertandingan akan dilangsungkan dan keesokan harinya, pertandingan pamungkas yang terdiri dari tiga babak untuk mempertaruhkan tahta akan digelar.


Para pendekar yang lolos ke babak selanjutnya telah mengisi tempat khusus yang disediakan oleh panitia, mereka semua nampak sangat kuat dan siap untuk bertanding hari ini.


Wu Yi Feng sengaja tidak berlatih ke dalam dimensi cincin ruang hari ini, karena ingin memperhatikan pertarungan yang pastinya akan berlangsung sangat seru.


"Kepada Yang mulia Kaisar, yang terhormat pilar petir beserta muridnya dan juga para pejabat serta para penonton sekalian. Hari ini kita akan mempertandingkan babak selanjutnya, dimana telah terpilih sekitar 20 orang pendekar yang kemarin berhasil mengalahkan lawan - lawannya."


"Tanpa berbasa basi lagi, mari kita langsung hadirkan dua orang peserta.." Pembawa acara begitu bersemangat, apalagi para penonton tidak henti - hentinya bersorak sorai.


Pertandingan demi pertandingan pun berlangsung dengan keseruan yang cukup menghibur, Wu Yi Feng sendiri sampai saat ini tidak bergerak sedikitpun. Bocah laki - laki itu masih fokus memperhatikan pertandingan dan menganalisa jurus serta kelemahan dari tiap pendekar yang sedang bertarung.


Pertandingan akhirnya memasuki babak final, dimana saat ini telah tersisa dua orang pendekar. Mereka berada di tingkatan awal pendekar raja, diatas kertas mereka memang imbang, tapi secara fisik mereka berbeda jauh karena yang satunya sudah berumur, sedangkan satunya masih remaja.


Sesudah beristirahat sekitar satu jam, akhirnya dua orang pendekar menaiki arena pertandingan untuk melaksanakan babak final.


Salah satu dari mereka berkepala pelontos, masih muda dengan dahi yang tertutup kain. Satu lagi adalah kakek tua berjenggot panjang, memakai baju berwarna hitam. Kakek tersebut sering kali tersenyum, apalagi jika melihat wanita cantik, sedangkan lawannya terlihat sangat dingin.


"Guru, menurut anda mana yang akan menang??" Tanya Wu Yi Feng.


"Menurutmu yang mana??" Luo Yun Xi bertanya balik.


"Entahlah guru, dari sepengetahuanku.. Sampai saat ini mereka berdua belum mengeluarkan kemampuan terbaiknya."


"Kamu benar.. Pertandingan Final ini pasti seru.." Balas Luo Yun Xi.


Kedua pendekar telah bersiap di posisinya masing - masing, dan dengan teriakan dari sang pembawa acara, partai final pun dimulai.


Kedua pendekar belum ada yang bergerak, nampaknya mereka saling mengukur kekuatan terlebih dahulu. Hal ini juga lah yang dilakukan oleh Wu Yi Fan tatkala melawan salah seorang pendekar yang menantangnya kemarin hari.


DASSSSHHHHHH...


Kakek tua mulai maju menyerang, larinya lumayan cepat, kakek tua itu melayangkan serangan telapaknya secara bertubi - tubi kepada anak muda yang menjadi lawannya.


PAKKKKK...


PAKKKKK...


PAKKKKKK...


Saling jual beli serangan mewarnai babak final turnamen kerajaan, hampir semua penonton tak ada yang bersuara, bahkan bernapas pun mereka enggan, karena saking serunya tontonan di hadapan mereka.


Kakek tua mundur untuk mengambil napas sekaligus menghimpun tenaga dalam, sedangkan lawannya juga tak mau kalah, pemuda kekar itu juga menghimpun energi di telapak tangannya dalam jumlah besar.


BLAAAAAAMMMMMMM...


Benturan dua energi menimbulkan fluktuasi di udara, menyebabkan angin kencang dan menghancurkan sebagian besar arena.


Kedua peserta final terpental kebelakang, asap pekat menutupi pandangan semua orang, namun berkat medan pelindung yang Luo Yun Xi pasang, para penonton terhindar dari bencana.


Asap terlihat mengepul dari kedua telapak tangan kedua peserta final, baju keduanya telah hancur, memperlihatkan otot - otot kekar yang selama ini tersembunyi.


"Anak muda, sudah cukup pemanasannya hehehe.. Sekarang mari kita serius..!!" Ucap kakek tua dengan mimik wajah serius.


"Terserah kau saja pak tua.." Sahutnya tajam.


Keduanya mulai menghela napas dan mengedarkan energinya, benturan energi tak kasat mata membuat udara di sekitar bergejolak. Angin kencang menyapu arena dan sekitarnya.


"Padahal baru mencapai awal pendekar raja, tapi bisa membuat alam bereaksi seperti ini.. Sungguh hebat.." Batin Luo Yun Xi.


Kakek yang menguasai elemen air melawan pemuda yang ternyata juga berelemen air, keduanya saling tukar serangan  hingga si pemuda menunjukkan kartu As nya.


Pemuda itu membuka kain yang selama ini menutupi dahinya, kain tersebut ternyata menutupi sebuah mata, total pemuda tersebut mempunyai tiga mata. Sontak hal tersebut membuat geger, bahkan penonton yang bersorak sorai, menjadi sunyi dalam sekejap karena syok.


Di ujung arena nampak sosok tua menutup muka, beliau tak lain adalah guru dari pemuda bermata tiga yang belakangan diketahui bernama Ten Xin Han.


"Han'er kau sudah berjanji tidak akan memakai jurus itu..." Batin beliau.


"Guru maafkan aku, aku sudah berjanji akan membuat semua orang mengenal perguruan bangau putih kita..." Ucap Ten Xin Han lirih.


"Pemuda bermata tiga..?? Nampaknya dunia sudah semakin aneh saja.. Hehehe.." Ujar si kakek tua yang menjadi lawannya.


"Guru, bagaimana bisa orang itu memiliki tiga mata??" Tanya Wu Yi Feng yang keheranan.


"Entahlah, ini sungguh diluar dugaan.." Luo Yun Xi tersenyum di balik topengnya.


Babak final turnamen mulai memasuki akhir pertarungan, kedua pesarta bersiap untuk melakukan serangan akhir guna merobohkan lawannya.


"Teknik Bangau, Serangan Seribu Bangau Putih..."


"Teknik Kura - Kura, Serangan Dewa Samudera.."


Kedua peserta melompat dan bertemu di udara, keduanya tak mengurangi sedikitpun tenaga hingga akhirnya ledakan pun tak terelakkan.


BLAAAAAARRRRRR...


Pemuda bernama Ten Xin Han terkapar di tanah, mata ketiganya menutup dan napasnya menjadi berat. Seluruh tenaga dalamnya sudah terkuras untuk serangan terakhir yang ia lancarkan. Kondisi yang sama juga dialami oleh si kakek tua, dimana tubuhnya sempat terpelanting jauh hingga terkapar di tepi arena yang lain.


Belum diputuskan siapa yang akan menjadi juara, karena kedua peserta sama - sama tergeletak di arena dan belum ada satupun yang bangkit. Para penonton menahan napasnya, pandangan mereka tertuju pada dua peserta yang masih terdiam, menutup matanya dan mengatur napas.