The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Memori



Wu Yi Feng menghabiskan beberapa hari setelahnya dengan bermeditasi dan menyerap essensi kristal kehidupan yang berhasil ia kumpulkan di pusat neraka. Essensi dari kristal kehidupan membuat tubuhnya makin kuat dan tingkat kemurnian Qi miliknya juga makin tinggi.


Setelah lima hari berada di dalam kamar, Wu Yi Feng akhirnya mengakhiri latihannya dan keluar kamar guna mencari Xiao Wei sekaligus mohon pamit kepada sang ratu ular.


Dengan mengenakan baju baru dan ditambah badan yang tegap, Wu Yi Feng tampil laksana anak seorang bangsawan. Setelah berhasil menembus tingkatan pendekar bumi dan bahkan saat ini telah sampai di tingkatan puncak pendekar bumi, ketampanan Wu Yi Feng makin terpancar.


"Ratu, terima kasih karena selama tiga tahun ini engkau sudah menjaga Xiao Wei dengan baik, namun karena banyak yang harus aku selesaikan maka hari ini aku undur diri.." Wu Yi Feng membungkuk untuk memberikan hormatnya kepada sang ratu, sedangkan Xiao Wei yang ada di sampingnya salah tingkah, apalagi ketika Wu Yi Feng memegang tangannya dan mengajaknya pergi.


"Ada apa? Kenapa kau terlihat gelisah Wei Wei??"


"Eh.. Itu.. Seperti yang Tuan ketahui bahwa aku sudah mengikat sumpah saudara dengan sang ratu.. Jadi apakah boleh jika aku tetap berada disini??" Jawab Xiao Wei ragu - ragu sambil memainkan jari - jarinya.


Wu Yi Feng hanya bisa tersenyum dan membelai rambut Xiao Wei, "Tentu saja, kau boleh tinggal disini jika kau mau.." Ucapnya.


"Ta.. Tapi di satu sisi aku juga masih ingin bersama tuan.."


"Hahahaha.." Wu Yi Feng tertawa mendengar ocehan Xiao Wei.


"Aku akan sering - sering mengunjungimu kemari.."


"Janji..???" Xiao Wei memberikan kelingkingnya.


"Janji..!!!" Wu Yi Feng menautkan kelingkingnya.


Keduanya saling berpelukan sebelum akhirnya sebuah lingkaran portal terbentuk, Wu Yi Feng memasuki portal tersebut yang ternyata membawanya ke sebuah lembah. Awan putih dan semilir angin pegunungan seolah menyambut kembalinya Wu Yi Feng,


Wu Yi Feng berjalan santai, tiga tahun telah berlalu tapi alam seolah tidak berubah sedikitpun. Sebelum kembali ke sekte pedang langit terlebih dahulu ia ingin mengunjungi seseorang yang telah lama ia rindukan. Sosok yang menolongnya ketika tidak ada satupun orang yang mau menoleh kepadanya.


Karena ia tidak mengenali daerah tempat ia berada saat ini maka Wu Yi Feng memutuskan mengambil jalan pintas. Wu Yi Feng membuka sebuah portal, sebelum memasuki portal tersebut ia menghela napas panjang.


WHUSSSSSSS....


Wu Yi Feng keluar di sebuah jalan setapak kecil, tidak jauh dari tempatnya berdiri sekarang ia melihat sebuah kedai kecil. Pemuda itu menggeleng sambil tersenyum lalu mulai melangkah. Sudah hampir 10 tahun dirinya meninggalkan tempat ini, namun sama sekali tidak ada yang berubah disini, waktu seolah berhenti.


Wu Yi Feng bahkan bisa melihat coretan yang ia buat ketika dirinya masih kecil dulu, dan kini kembali ke tempat ini benar - benar telah mengembalikan ingatan yang membahagiakan tersebut. Pemuda gagah tersebut menengadahkan kepalanya dan melihat lantai kedua kedai dimana dulu disana ada kamar yang selalu ia tempati, tak terasa air mata mulai jatuh menetes.


"Selamat datang.. Tuan muda mau pesan apa?"


Wu Yi Feng tersadar dari lamunannya ketika sebuah suara ramah menyapanya dari arah belakang. Wu Yi Feng tahu dengan pasti siapa pemilik suara tersebut. Wu Yi Feng menoleh dan didapatinya seorang lelaki tua dengan rambut yang sudah mulai memutih, dan wajah yang berkerut.


"Hehehe.. Aku kira siapa yang datang?? Rupanya anak lelakiku.." Bisik lelaki tua tersebut dengan terbata bata karena tak kuasa menahan tangis haru.


Lelaki tua itu juga memeluk Wu Yi Feng dengan erat seolah olah enggan untuk melepaskan, momen ini berlangsung hingga beberapa menit.


"Paman Xi, bagaimana kabarmu??"


"Seperti yang kau lihat? Sehat seperti biasanya.. Hehehe.. Kau sendiri bagaimana??"


"Tidak pernah sebaik ini.." Jawab Wu Yi Feng sambil tersenyum.


"Kalau begitu tunggu apalagi?? Ayo masuk.. Kau pasti capek dan lapar.. Duduklah, biar aku mengambilkanmu makanan." Paman Xi menggiring Wu Yi Feng untuk duduk, setelah itu ia masuk ke dapur dan segera memanaskan kompor.


"Melihatmu tumbuh dengan gagah seperti ini, nampaknya engkau telah mengalami berbagai banyak hal.." Tanya Paman Xi seraya menaruh nampan yang berisi beberapa piring dan mangkuk nasi, sayur serta lauk pauk.


"Itu..."


"Ahhh.. Nanti saja ceritanya.. Makanlah terlebih dahulu.." Potong Paman Xi.


"Temani aku makan paman.." Pinta Wu Yi Feng.


"Ahh baiklah, lagipula sudah lama kita tidak makan bersama.. Hahahaha.." Paman Xi mengambil mangkuk lalu mulai melahap ikan yang ada di depannya, sedangkan Wu Yi Feng mengambilkan beberapa potong daging untuk Paman Xi.


Keduanya menikmati hidangan sambil bercerita tentang banyak hal, hari itu menjadi makin sempurna tatkala Wu Yi Feng memutuskan untuk membantu Paman Xi memasak di dapur.


"Rasa masakan buatanmu makin lezat, katakan padaku apakah kau masih sering belajar memasak??" Tanya Paman Xi dengan antusias.


"Hanya sesekali aku memasak paman, tangan ini lebih terlatih untuk memegang pedang daripada memegang gagang panci.." Jawab Wu Yi Feng, membuat Paman Xi tertawa terbahak bahak.


"Jaga kesehatanmu, selepas ini segera beristirahat.. Aku sudah bersihkan kamar lamamu.. Entah apa ranjang itu masih muat untukmu.. Kau tahu, kau sudah bertambah tinggi hampir dua kali lipat." Seru Paman Xi.


"Baiklah, paman juga jangan memaksakan diri, aku naik ke kamar terlebih dahulu.." Sahut Wu Yi Feng sembari berbalik dan pergi meninggalkan Paman Xi yang masih menata piring dan mangkuk.


Sekali lagi, kenangan masa kecil itu kembali tatkala Wu Yi Feng memasuki ruangan yang dahulu selalu ia gunakan untuk tidur ataupun berpikir, sebuah ruangan yang sebenarnya sangat sempit tapi entah kenapa terasa begitu lapang ketika dipergunakan olehnya waktu itu.


Wu Yi Feng duduk di ranjang tua itu, kayu - kayu penopangnya sudah mulai lapuk dimakan usia hingga menimbulkan bunyi berdecit, pemuda itu tersenyum sebelum kemudian turun dari ranjang tua itu lalu tidur di lantai.


Waktu memang bisa merubah banyak hal, namun semua kenangan yang tersimpan dalam memori akan selamanya utuh, tidak termakan oleh waktu ataupun jaman. Tapi manusia tidak bisa terus menerus hidup di dalam kenangan tersebut, manusia harus selalu melangkah untuk menyongsong masa depan.