
Keesokan paginya, Wu Yi Feng mencari sungai terdekat dan berendam sejenak untuk membersihkan badan dan berganti pakaian sebelum melanjutkan kembali perjalanannya.
Setelah pertarungannya semalam, tak ada lagi siluman atau pun hewan buas yang berani menyerangnya atau hanya untuk sekedar mendekat. Aura membunuh yang didapat setelah mengalahkan siluman beruang tanduk hitam, sudah cukup untuk membuat semua siluman di sekitar gunung kabut petir menyingkir.
Wu Yi Feng akhirnya sampai di kaki gunung ketika hari beranjak siang, bocah berusia 13 tahun itu melihat sebuah kedai kecil yang lumayan ramai. Karena perutnya belum terisi semenjak kemarin, ia putuskan untuk membeli makanan terlebih dahulu sebelum melanjutkan kembali perjalanan.
"Tuan muda silahkan masuk, mau pesan apa? Kami punya tumis daging cincang istimewa dan juga ayam bakar yang sangat enak." Seru seorang pelayan ketika melihat Wu Yi Feng mendekat.
"Beri aku satu porsi ayam bakar dan juga sepoci teh terbaik.." Wu Yi Feng memberikan empat keping uang perak kepada pelayan tersebut.
"Segera kami hidangkan tuan, silahkan duduk terlebih dahulu.." Pelayan tersebut membersihkan meja dan kursi yang hendak diduduki oleh Wu Yi Feng sebelum akhirnya beranjak menuju dapur.
Beberapa orang memperhatikan sosok Wu Yi Feng, karena pakaian yang dipakainya saat ini memang termasuk pakaian yang cukup mahal dan bagus. Di kedai tersebut saat ini ada beberapa orang pendekar laki - laki dan dua orang wanita.
Salah seorang pendekar laki - laki mendekati Wu Yi Feng dan membuka obrolan, "Maaf Tuan muda, apakah anda seorang saudagar??"
"Saudagar?? Bukan, aku hanya seorang pengembara biasa." Jawab Wu Yi Feng.
"Benarkah?? Karena pakaian anda sangat bagus, maafkan saya sudah salah sangka, namun jika tuan muda membutuhkan prajurit pelindung, kami siap mengantar dan menjaga tuan muda." Jelasnya panjang lebar.
"Terima kasih, tapi tujuanku sudah dekat." Wu Yi Feng terpaksa berbohong karena ingin menyudahi obrolan tersebut.
"Baiklah kalau begitu, maaf sudah mengganggu tuan.." Pendekar laki - laki yang masih ditingkatan pendekar lv.2 puncak itu segera kembali ke mejanya.
Sementara itu kedua wanita yang sedari tadi duduk di pojok memperhatikan Wu Yi Fenh, keduanya terpesona oleh ketampanan serta badan kekar dari Wu Yi Feng.
Sedangkan Wu Yi Feng sama sekali tidak melirik mereka, ia fokus dengan hidangan yang kini telah datang di hadapannya.
Setelah selesai menyantap hidangannya, Wu Yi Feng memanggil pelayan dan membisikkan resep supaya ayam bakarnya makin terasa enak. Sang pelayan yang merasa tercerahkan mengucapkan banyak terima kasih dan memberikan beberapa bakpao sebagai bekal kepada Wu Yi Feng.
Wu Yi Feng menerimanya dan menyimpannya di cincin ruang miliknya. Ia kembali melanjutkan perjalanan dengan perut terisi penuh. Belum lama ia berjalan ketika tiga orang pendekar yang ia lihat di kedai berteriak memanggilnya.
"Tuann... Tuannn... Tungguuuu..."
Wu Yi Feng menghentikan langkahnya dan menunggu mereka bertiga, karena postur tubuhnya yang tinggi besar, membuatnya sama sekali tidak terlihat seperti bocah berusia 13 tahun.
"Tuan, bagaimana jika kita berangkat bersama - sama?? Tuan mau kearah mana??" Tanya salah satu pendekar.
"Aku mau ke kekaisaran Han.." Jawab Wu Yi Feng.
Setelah menimbang - nimbang, Wu Yi Fenh membiarkan mereka bertiga mengikutinya. Mereka berjalan santai berempat. Di tengah perjalanan mereka mulai jujur, jika tujuan mereka ingin bersama dengan Wu Yi Fenh adalah karena di sepanjang jalan banyak perampok, siluman dan juga hewan buas.
Wu Yi Feng hanya menganggukkan kepala saja tanpa memberikan komentar lebih lanjut, tak terasa malam datang dengan cepat, keempatnya memutuskan berhenti dan membuat perapian sederhana untuk bermalam. Mereka sengaja memilih berhenti di pinggiran hutan karena takut diserang oleh hewan buas.
Wu Yi Fenh memberikan bakpao yang ia dapat dari kedai ke mereka bertiga, setelah memakan bakpao Wu Yi Feng bersandar ke sebuah pohon dan mulai mengumpulkan energi alam dengan teknik napas naga.
Sementara ketiga pendekar yang lain bicara sendiri, dari omongan mereka Wu Yi Feng mendapatkan sedikit info, salah satunya tentang dibukanya pendaftaran murid baru untuk Sekte Pedang Langit.
Sekte pedang langit sendiri merupakan sekte yang lumayan besar dan terkenal, sekte tersebut konon dibentuk oleh paman dari pendekar elang emas yang bernama Lin Dan.
Ketiga orang ini ternyata bermaksud untuk mengikuti seleksi masuk sekte pedang langit yang akan diadakan kurang lebih satu purnama lagi.
Wu Yi Feng hanya diam sambil mendengarkan dengan seksama, kejadian pahit di masa lalu telah merubah bocah itu menjadi sosok tertutup dan pendiam, setelah berbincang bincang panjang lebar, diketahui jika usia ketiganya hanya terpaut dua tahun lebih tua dari Wu Yi Feng.
Mereka berempat, termasuk Wu Yi Feng bergantian jaga selama dua jam. Wu Yi Feng sendiri dapat giliran jaga pertama. Ia melihat ketiga rekan seperjalanannya yang baru saja ia temui hari ini tidur dengan nyenyaknya, sedangkan ia sendiri bermain api untuk menghilangkan kejenuhan.
Keesokan paginya setelah mematikan api dan menyegarkan badan, mereka kembali melanjutkan perjalanan karena kota Lu Dong yang menjadi tujuan mereka masih sangat jauh, dan jika ditempuh dengan berjalan kaki memakan waktu kurang lebih dua sampai tiga minggu perjalanan.
Tiga hari kemudian, mereka baru berjumpa dengan sebuah kota kecil kembali. Mereka putuskan untuk bermalam disana sekalian mengisi bekal perjalanan yang sudah menipis.
Wu Yi Feng menghabiskan waktu dengan berjalan - jalan di kota tersebut sambil sesekali memasuki toko yang menjual senjata maupun ramuan.
"Bugghhh.."
Wu Yi Feng menyenggol seseorang yang ternyata murid dari perguruan Tombak Putih, Wu Yi Feng bisa mengenalinya karena nama perguruan atau sekte mereka tertulis besar di punggung dan juga dada sebelah kiri pakaian mereka.
"Maafkan aku.." Wu Yi Feng mengulurkan tangannya hendak menolong, namun ditolak mentah mentah.
"Minta maaf..?? Tidak semudah itu kawan..!!" Seru pemuda yang ia tabrak, kedua temannya kini menatap sinis kearah Wu Yi Feng.
"Beri kami sepuluh keping uang emas, dilihat dari pakaianmu engkau pasti anak dari saudagar kaya raya..." Ucap salah satu murid tombak putih.
"Ambillah..." Wu Yi Feng memberikan mereka sekantung uang tanpa banyak omong, ia bukannya takut kepada mereka, tapi sebisa mungkin dirinya ingin menghindari masalah.
Wu Yi Feng segera berlalu dari sana setelah memberikan sekantung uang, tapi salah satu murid tombak putih mengejar Wu Yi Feng dan menghadangnya.
"Tunggu, 10 koin emas tadi hanya untuk pembayaran uang muka..!!! Berikan cincin ruang milikmu, dan aku akan membiarkanmu lewat..!!" Ucapnya sambil menunjuk ke arah cincin ruang berwarna hitam yang tersemat di jari manis Wu Yi Feng.