
Wu Yi Feng membuka mata tepat ketika mentari baru saja menampakkan dirinya, setelah melakukan sedikit peregangan pemuda tampan tersebut membersihkan diri dan memakan buah - buahan segar yang memang tersedia di kamar sebelum beranjak keluar dan berjalan santai menuju ke Aula Pedang Raja.
"Eh.. Itu dia, itu dia orangnya.."
"Iya benar, lihat betapa kekar dan tampan dia.."
"Oh dewa, andai saja aku bisa menghabiskan satu malam dengannya.. Aku pasti jadi gadis paling berbahagia di dunia.."
Tak sedikit murid - murid wanita yang bergerumbul dan membicarakannya sejak aksinya di pertandingan seleksi kemarin, meskipun bukan hanya Wu Yi Feng saja yang lolos ke babak final, tapi para gadis rupanya paham bahwa pertarungan Wu Yi Feng lah yang paling seru.
Diperlihatikan dan dibicarakan orang - orang di sepanjang perjalanan membuat pemuda tampan itu sedikit risih, namun karena pada dasarnya Wu Yi Feng orangnya cuek maka omongan mereka hanya masuk telinga kanan keluar telinga kiri.
"Hufff..." Wu Yi Feng merebahkan tubuhnya pada sebuah bangku di ruang peserta, tidak seperti biasanya kali ini dirinya bisa dibilang rajin karena saat ia datang ruangan tersebut masih kosong dan hanya ada satu orang murid yang datang lebih awal, ia adalah sosok gadis dengan penampilan anggun bak puteri raja, Liu Ruxu.
Gadis tersebut menoleh sejenak begitu mendengar bangku berdecit, ketika menyadari yang datang adalah Wu Yi Feng, wajahnya menjadi sedikit memerah dan detak jantungnya menjadi tak karuan.
"H - Hai, Se... Selamat pagi.." Sapa Liu Ruxu.
"Hmmm.. Selamat pagi."
"Bu.. Buku apa yang sedang kau baca?"
"Ini? Hanya buku tentang pengobatan.." Jawab Wu Yi Feng seperlunya.
"Ohhh..."
"Bo.. Bolehkah.." Kata - kata Liu Ruxu tidak selesai karena tiba - tiba saja pintu terbuka dan peserta - peserta yang lain mulai berdatangan seperti Chau Li, Shen Liang dan juga Chui Dal Po.
"Saudara Feng, bagaimana kabarmu? Sapa Shen Liang yang masuk di belakang bangku Wu Yi Feng.
"Baik seperti biasanya saudara Liang.. Bagaimana denganmu??"
"Sangat baik saudara Feng.." Shen Liang duduk tepat di belakang Wu Yi Feng sedangkan Chau Li dan Chui Dal Po berjejer di samping kanan dan kiri Wu Yi Feng.
"Hanya tinggal Wang Fei Lin yang belum tiba ya??" Chau Li menoleh ke kanan dan kiri untuk memastikan.
Beberapa menit berlalu, hampir seluruh murid dan guru mulai berdatangan ke Aula Pedang Raja. Hari ini seleksi internal Sekte Pedang Langit akan memainkan babak final dimana keenam peserta yang terpilih akan bertanding satu lawan satu dan yang memenangkan pertandingan secara otomatis menjadi salah satu murid yang mewakili sekte pedang langit di Turnamen Naga Muda.
Pembawa acara meminta seluruh penonton dan guru yang ada disana untuk diam karena kini saatnya untuk melakukan pengundian. Enam nama telah di masukkan kedalam sebuah wadah, lalu dengan dua tarikan lembut, akhirnya terpilih dua peserta yang akan bertarung di pertandingan pertama babak final.
"Silahkan yang saya sebutkan namanya untuk memasuki arena, peserta pertama adalah..."
JREEEENGGGGG...
JREEEEENNGGGG...
"Liu Ruxu...!!!"
Tepuk tangan langsung bergema ketika nama kontestan babak final pertama disebut, gadis manis yang hari ini memakai setelan berwarna kuning cerah itu berdiri dari kursinya dan sempat menoleh sejenak kearah Wu Yi Feng sebelum akhirnya berjalan menuju ke arena.
"Wuuuu... Semangat cantikk.."
"Cantikk, mau kah kau menjadi kekasihku..??"
"Hahahahaha..."
Siulan dan yel - yel pengobar semangat sahut menyahut ketika Liu Ruxu berjalan ke arena, gadis manis tersebut naik ke atas arena pertandingan sebelum aula pedang raja kembali sunyi.
"Dan penantangnya adalah..."
JRENGGGGGG...
JRENNNNNGGGGGG...
"Wang Fei Lin..!!!"
Kali ini suara yang berteriak makin ricuh, mereka semua memanggil - manggil nama Wang Fei Lin.
Beberapa menit berlalu, namun Wang Fei Lin tak jua menampakkan batang hidungnya. Hingga panitia sudah hendak mendiskualifikasi nya. Namun sebuah kejadian tak terduga terjadi, tiba - tiba saja serpihan bunga mawar jatuh dari atap, dan ketika mereka semua melihat, disana sudah berdiri Wang Fei Lin yang hendak melompat ke atas arena.
Gadis cantik itu mendarat dengan anggun, dibalut oleh gaun berwarna merah muda, Wang Fei Lin makin terlihat mempesona hingga tidak sedikit pemuda yang terang - terangan berteriak merayu nya.
"Ehmm.. Baiklah dengan ini saya nyatakan pertandingan pertama babak final, DIMULAI..!!!" Panitia pertandingan segera melompat keluar dari arena, sedangkan kedua peserta mengeluarkan senjatanya masing - masing.
Liu Ruxu mengeluarkan sebuah pedang dengan gagang berwarna ungu yang merupakan sebuah pusaka bumi, sedangkan Wang Fei Lin tanpa diduga malah mengeluarkan sebuah pedang kayu.
"Simpan pedang kayumu dan keluarkan pedangmu yang sebenarnya.." Ucap Liu Ruxu.
"Maaf tapi asal kau tahu, pedang kayu ini dibuat dari kayu besi, sehingga memiliki ketahanan yang bagus dan tidak mudah patah.." Terang Wang Fei Lin.
"Terserahlah, yang penting aku sudah memberimu kesempatan.." Liu Ruxu mulai bersiap, gadis manis tersebut mulai membentuk kuda - kuda dan bersiap - siap mengeluarkan jurus pembuka.
Pun demikian juga dengan Wang Fei Lin, gadis berbaju pink tersebut mengatur napasnya dan membentuk sebuah kuda - kuda bertahan.
WHUUUUSSSSSS...
Liu Ruxu melakukan serangan terlebih dahulu, Wang Fei Lin mencoba menangkis dan bertahan. Adu jurus dengan tempo cepat membuat penonton menjadi terdiam dan tidak berkedip.
"Hahhh.. Hahh.. Hahhh.."
Setelah saling bertukar ratusan jurus, keduanya mundur sejenak untuk mengambil napas dan beristirahat. pergelangan tangan Wang Fei Lin mulai terasa kebas, sedangkan pedang kayu nya sudah banyak goresan dan retakan. Kekuatan Liu Ruxu benar - benar diluar perkiraannya.
Rupanya bukan hanya Wang Fei Lin yang sudah hampir sampai pada batasannya, Liu Ruxu pun sudah merasakan hal yang sama, dengan badan yang penuh memar membuat gadis tersebut merasakan sakit di sekujur tubunya.
Meskipun hanya lewat sebuah tatapan, namun kedua nya sadar jika serangan berikutnya adalah sebuah serangan penghabisan. Wang Fei Lin mulai menutup matanya, menyarungkan kembali pedang kayu nya dan mengatur napasnya, gadis itu teringat akan sebuah peringatan yang diberikan oleh Wu Yi Feng.
"Hanya gunakan jurus ini dalam keadaan terdesak saja.."
Wang Fei Lin tersenyum, inilah saatnya mencoba jurus tersebut. Sebuah jurus pedang yang diajarkan langsung oleh Wu Yi Feng.
Karena jurus ini membutuhkan tenaga dalam yang snagat besar dan pemahaman akan seni berpedang yang cukup mendalam, maka Wang Fei Lin belum sepenuhnya mengusainya, "Jika hanya untuk merobohkannya, aku rasa cukup..!!!" Pikir gadis itu sambil mulai memusatkan tenaga dalamnya yang tersisa.
"Bersiaplah, aku datang..!!!" Liu Ruxu melesat terlebih dahulu, lalu memberikan sabetan melintang dengan bilah pedang yang sudah dilapisi oleh tenaga dalam.
SWOOOOSSSSSSHHHHH...
Kurang lebih sebanyak tiga sabetan melintang dilepaskan oleh Liu Ruxu, namun serangan tersebut hanya membelah udara dan menghantam penghalang transparan yang dipasang oleh ketua sekte untuk melindungi penonton.
Wang Fei Lin menghilang begitu saja, hingga salah satu penonton berteriak. "Diatas...!!!" Sontak seluruh mata menatap keatas dan menemukan gadis itu sedang bersiap.
Dengan tangan yang telah bersiap mencabut pedang dari sarungnya, Wang Fei Lin memusatkan fokusnya.
"Teknik Pedang Peri, Menembus Tetesan Hujan..."
Wang Fei Lin menukik tajam, lalu dalam sekejap mata gadis itu menarik pedang kayunya dengan sangat cepat.
SWOOOOSSSSHHHH...
BLAAAAAMMMMMMM...
Liu Ruxu terhempas dan langsung tak sadarkan diri dengan bekas luka melintang yang cukup panjang di dadanya, namun bukan hanya Liu Ruxu saja yang terdampak, bahkan arena pertandingan juga hampir terbelah karena tekanan dahsyat dari jurus yang Wang Fei Lin keluarkan, padahal gadis itu hanya mengerahkan sisa - sisa tenaga dalamnya saja.
Wang Fei Lin menatap pedang kayu nya yang hancur menjadi serpihan kecil, andai saja ia menggunakan pedang sungguhan, sudah bisa dipastikan tubuh Liu Ruxu akan terbelah menjadi dua.
"Jurus yang mengerikan.." Gumam Chau Li yang kesulitan menelan ludahnya setelah melihat dampak dari jurus yang dilepaskan oleh Wang Fei Lin.
Gegap gempita dan yel yel mulai terdengar kembali, mereka semua memuji kehebatan Wang Fei Lin, sementara itu panitia mulai naik kembali keatas panggung dan menyuruh para penonton untuk diam.
"Memang seperti inilah seharusnya pertandingan final itu .." Gumam panitia sambil tersenyum.
"Mari kita ambil untuk pertandingan kedua babak final, dan kontestan yang akan bertanding adalah.."
JREEEENNGGGG...
JREENNNNGGGGG...
"Shen Liang..."
"Dan lawannya adalah...???"
"Semoga bukan aku, dewa tolonglah aku.. Jika kali ini tidak bertemu dengan saudara Liang, aku akan menjadi orang baik dan mulai rajin pergi ke kuil untuk menyembahmu.." Gumam Chau Li.
JRENGGGG...
JREEEENNNNGGGGG...
"Wu Yi Feng..!!!"
Tiba - tiba saja udara seakan menghilang dari ruangan utama Aula Pedang Raja begitu nama peserta selanjutnya diumumkan. Semua penonton yang ada di sana sampai kesulitan untuk bernapas karena saking besarnya tekanan energi yang dilepaskan oleh Shen Liang dan juga Wu Yi Feng.