
Di kepung oleh ribuan senjata, sambil terus menghindar, Wu Yi Feng masih terus berpikir bagaimana menghentikan senjata - senjata tersebut, hingga tanpa sadar dirinya melihat satu buah senjata yang masih tertancap. Senjata tersebut berwujud pedang hitam dengan guratan guratan bercahaya merah kekuningan layaknya lava yang memenuhi sekujur bilahnya.
Pemuda itu tersenyum tipis, lalu dalam satu tarikan napas Wu Yi Feng melesat mendekati pedang tersebut. Namun senjata senjata yang lain segera bereaksi untuk menghadang jalannya, seolah - olah mereka memiliki nyawa dan pikiran sendiri.
Wu Yi Feng menghantam kumpulan senjata - senjata yang menghalangi jalannya hingga senjata - senjata tersebut hancur berkeping keping. Pemuda itu melesat kembali, menghindari puluhan pedang yang bersiap mencincangnya tanpa ampun dan ketika jarak antara dirinya dengan pedang yang menancap di dinding hanya tinggal sejengkal, sebuah tombak tiba - tiba saja melesat cepat di hadapannya.
JLEEEEEBBBBBBB...
Wu Yi Feng tidak sempat menghindar, mata tombak yang tajam itu bersarang hingga menembus dada sebelah kanannya. Darah segar mengalir dengan deras namun Wu Yi Feng tidak berhenti. Digenggamnya pedang hitam tersebut lalu ketika ia sedang berusaha menarik pedang hitam itu, puluhan pedang menghujani punggungnya.
SLEEEEEEBBBBBB...
SLEEEEEEBBBBBBB...
SLEEEEEEBBBBBB...
"arrrgggggghhhhhhhh..." Wu Yi Feng terpekik dan berteriak sekencang mungkin karena rasa sakit yang ia rasakan begitu hebatnya sampai - sampai darahnya menggenangi lantai ruangan tersebut, tapi semua itu tidak membuatnya melepas genggamannya pada pedang hitam yang masih tertancap di dinding.
Sebuah gada yang dipenuhi oleh duri duri tajam dan juga busur panah berwarna emas saat ini melayang diatas kepala Wu Yi Feng, keduanya sudah melesat dengan cepat dan sudah siap untuk menghancurkan kepala pemuda tersebut hingga ketika senjata - senjata tersebut hanya berjarak sekepalan tangan, kedua senjata dan senjata senjata yang lainnya terjatuh kelantai secara bersamaan.
Wu Yi Feng berhasil mencabut pedang hitam tersebut di waktu yang tepat, telat sedetik saja kepala pemuda itu bisa dipastikan remuk dan berlubang.
Masih dengan tombak yang menancap di dada sebelah kanannya dan juga puluhan pedang di punggungnya, pemuda itu masih mencoba untuk berdiri dengan memakai pedang hitamnya sebagai penyangga, ia menarik tombak tersebut dari dadanya disertai sebuah teriakan yang cukup kencang.
Terlihat lubang menganga di dada kanan Wu Yi Feng, darah kembali mengucur dengan derasnya tapi pemuda tersebut masih bertahan melawan rasa nyeri di punggungnya.
BLAAAARRRRRRRR...
Wu Yi Feng menghimpun energi Qi miliknya lalu meledakkannya, membuat puluhan pedang yang menancap di punggungnya terlempar hingga meninggalkan bekas lubang tusukan yang cukup dalam. Pakaian Wu Yi Feng yang telah basah karena darah membuatnya kesulitan bergerak, pemuda itu akhirnya terduduk dan mulai mengatur napasnya sementara pandangannya mulai kabur karena kehabisan darah.
Dengan tenaga yang tersisa ia mengeluarkan sebotol air keabadian, namun ketika botol tersebut hendak menyentuh bibirnya, Wu Yi Feng sudah roboh dan kehilangan kesadarannya.
Tubuh laki laki itu terkapar ditengah tengah ruangan yang dipenuhi oleh pusaka dan basah oleh darah yang terus mengucur dengan deras. Namun sekali lagi keajaiban terjadi, air keabadian yang tumpah dan bercampur dengan darah menciptakan sebuah molekul penyembuh, dimana molekul tersebut terhisap oleh pori - pori Wu Yi Feng dan dalam waktu singkat menyembukan serta menutup semua luka yang ada di sekujur tubuhnya.
...****************...
Di salah satu kota kecil yang berada di teritori kekaisaran Song,
Terlihat dua orang pemuda sedang bercengkrama sambil meminum arak di sebuah kedai kecil yang ada di tepian jalan.
"Kakak, guru menyuruh kita untuk mengamati sekte Gagak Hitam. Tapi kenapa kita malah mengamati gadis gadis??" Tutur pemuda kurus dan polos yang tak lain adalah Chui Dal Po.
"Ahhhh saudara Choi, masa remaja hanya terjadi satu kali, janganlah kau sia - siakan.." Timpal pemuda satunya yang tentu saja adalah Chau Li si playboy cak kadal.
"Tapi kak, misi kita sudah berjalan beberapa minggu namun kita sama sekali belum mendapatkan hasil sedikitpun, sedangkan uang perbekalan kita kian menipis." Sergah Chui Dal Po yang nampak tak nyaman.
"Tenanglah, aku masih memiliki sedikit uang tabungan.." Pungkas Chau Li sambil memperlihatkan cincin ruangnya, tentu saja hal tersebut membuat Chui Dal Po meringis getir hingga pemuda polos itu menepuk jidatnya sendiri.
"Hei tuan, jalanan begitu luas.. Kenapa kalian memepet kami??" Tiba - tiba saja terdengar suara keras dari arah jalanan dimana dua orang gadis muda berumur sekitar 20 tahunan sedang digoda oleh empat orang pemuda.
" Hahahahaha..." Keempat pemuda tersebut tertawa terbahak bahak setelah mendengar jawaban dari rekan sejawatnya.
"Tunggu, dari seragam yang mereka kenakan.. Kalau tidak salah itu adalah seragam dari sekte gagak hitam.. Kakak sebaiknya jangan gegabah.." Ucap Chui Dal Po begitu ia melihat Chau Li bangkit dan hendak melabrak keempat pemuda yang menggoda para gadis tersebut.
"Aku bahkan tidak peduli jika mereka adalah dewa.." Seru Chau Li yang menepis tangan Chui Dal Po lalu beranjak menuju ke tempat dua gadis tersebut.
"Singkirkan tangan kotor kalian dari wajah mereka.." Teriak Chau Li, membuat Chui Dal Po membelalakan matanya.
"Oh.. Rupanya ada seseorang yang mau berlagak menjadi seorang pahlawan disini.." Keempat pemuda itu menatap Chau Li dengan tatapan risih.
"Aku tidak akan mengulangi kata - kataku.." Ucap Chau Li sambil mengeluarkan pedangnya dari cincin ruang.
"Mau main kasar, rupanya kau tidak tahu kami ini berasal dari mana.."
"Paling tidak, kau harusnya bisa mengukur kemampuanmu sendiri.." Sahut yang lain sambil mengeluarkan kapak bermata ganda dari cincin ruang.
"Ya kau benar saudaraku, mari kita cincang pemuda tidak tahu diri ini.." Pungkas yang lainnya.
Chau Li tersenyum mengejek, dirinya yang saat ini berada di ranah pendekar ahli tingkat puncak tentu bukanlah tandingan keempat pemuda yang saat ini baru berada di ranah pendekar ahli tingkat awal dan juga pendekar kelas satu.
Namun ketika Chau Li hendak menarik pedangnya, kedua gadis tersebut sudah bergerak terlebih dahulu dengan memberikan serangan tapak beruntun kepada kepada keempat pemuda di hadapannya.
PLAAAKKKK...
PLAAAAKKKK...
BOOOOMMMMM...
Keempatnya tersungkur, lalu ketika mereka hendak menyerang balik, Chau Li dengan cepatnya melucuti senjata empat pemuda tersebut.
Merasa bahwa situasi sedang tidak menguntungkan buat mereka, maka keempat pemuda murid dari sekte gagak hitam memutuskan untuk kabur.
Setelah keempat pemuda tersebut kabur, Chau Li mencoba untuk berbasa basi kepada kedua gadis di depannya.
"Nona Nona, kalau boleh tahu kalian hendak kemana??"
"Kami mau pulang ke Istana Teratai Ungu.."
"Istana Teratai Ungu?? Jadi kalian berdua adalah murid dari sekte teratai ungu??" Timpal Chui Dal Po yang secara mendadak ikutan hadir diantara mereka bertiga.
"Siapa kau??" Timpal salah satu gadis yang melihat Chui Dal Po dengan pandangan curiga, mengingat fisik Chui Dal Po yang memang sedikit tidak normal.
"Ah maafkan aku karena lupa memperkenalkan saudara seperguruanku.. Kenalkan dia adalah Chui Dal Po dan aku adalah Chau Li.."
"Terima kasih tuan Chau, kami undur diri terlebih dahulu.." Kedua gadis murid dari sekte istana teratai biru mengatupkan kedua telapak tangannya lalu memberikan hormat kepada Chau Li, mereka mengabaikan tangan Chau Li yang telah terarah kedepan meminta untuk berkenalan.