
"Sampai kapan kau akan berpura - pura tertidur seperti itu??" Wu Yi Feng bertanya pada sesosok makhluk yang bergelung manja di bawah.
"Cih.. Ketahuan juga.."
"Aku butuh bantuanmu..!!!"
"Bantuan?? Hahahaha.. Apa kau merasa bahwa kita ini rekan??"
"Terserah kau mengangap apa, tapi bagaimana jika aku memberikanmu sebuah penawaran??"
"Aku tidak berbisnis dengan seseorang yang membunuhku lalu memenjarakan jiwaku dan menjadikanku sebagai roh penjaga pusaka..!!!"
"Maaf, aku akan melepaskanmu setelah semua urusanku selesai.. Kau bisa kembali ke nirwana dan bereinkarnasi.."
"Kau pikir aku akan mempercayai ucapan pembunuh sepertimu?? Aku ini salah satu binatang suci, dan kau tahu hukumnya membunuh binatang suci?? Darahmu terkutuk...!!!"
"........"
"Tolong kau habisi semua perampok yang melarikan diri.. Aku tidak ingin satu saja dari mereka hidup.."
"Kau benar - benar monster..!!!"
"Terima kasih atas pujiannya.."
"Itu bukanlah sebuah pujiann..!!!"
"Ngomong - ngomong aku harus memanggilmu apa? Terlalu panjang jika aku harus memanggilmu anjing berkepala tiga penjaga neraka.. Apa kau memiliki nama lain??"
"Kau..."
"Sudahlah, kalau begitu aku akan memanggilmu... Ehmm.. Apa ya...??"
"Namaku Hei Gou..!!!"
"Baiklah, aku minta tolong kepadamu Hei Gou.." Wu Yi Feng mengakhiri sesi tanya jawabnya lalu segera menarik jiwanya kembali ke dunia nyata.
"Aku tidak menjanjikan apa - apa kepadamu, kau tahu aku bahkan bisa membunuhmu.."
"Kau tidak akan melakukannya.." Gumam Wu Yi Feng dalam hati, karena dirinya kini terkoneksi secara pikiran dengan roh penjaga pusaka pedang lava.
Wu Yi Feng menancapkan pedang lava di area bersalju, sebelum kemudian pergi dan menemui iring iringan kelompok perampok dari topeng kematian.
"Cihhh.. Aku akan membuat perhitungan denganmu lain kali..!!!" Hei Gou berteriak memaki.
Iring - iringan kelompok topeng kematian akhirnya tiba juga di depan gerbang desa, ditengah cuaca yang sangat dingin mereka mulai melancarkan aksinya.
"Jadi ini keputusan yang kalian pilih? Mencoba melawan kami?" Ucap laki - laki yang terlihat seperti pimpinan kelompok.
"Kami sudah tidak punya apa - apa lagi, hari ini jika memang harus mati maka kami akan mati sebagai seorang pejuang..!!!" Jawab seorang pemuda kurus yang bersenjatakan pisau dapur.
"Pejuang?? Hahahahaha..." Ratusan orang dari kelompok topeng kematian menertawakan ucapan pemuda tersebut.
"Baiklah, kalau begitu aku akan wujudkan keinginan kalian..!!" Pemimpin rombongan memberikan isyarat dengan tangan, selanjutnya sekitar dua puluh orang keluar dari barisan dan mencabut senjata mereka.
"Argggghhhhhh..."
Rintihan kesakitan dan cipratan darah segar mulai menodai salju yang berwarna putih bersih, ratusan orang yang lainnya mulai bersiaga karena tak lama kemudian puluhan pisau terbang kembali muncul dan mengambil korban yang jauh lebih banyak lagi.
Tanpa sadar iring - iringan kelompok topeng kematian mundur menjauhi gerbang desa, "Siapa yang memerintahkan kalian untuk mundur??? Jangan jadi pengecut..!!! Kau yang disana tampakkan wujudmu..!!!"
Wu Yi Feng berjalan pelan, sosok bertopeng putih itu membelah sekumpulan warga dan mulai menampakkan dirinya. Kali ini hawa membunuh yang sedari tadi ia tekan, secara perlahan lahan mulai ia lepaskan hingga membuat mereka yang berada di barisan terdepan menjadi gemetar.
"Hahahaha.. Rupanya ada yang ingin berlagak menjadi seorang pahlawan. Karena kau sudah datang maka aku tidak akan sungkan lagi, kalian semua habisi dia beserta seluruh penduduk desa ini, jangan beri ampun bahkan jika itu semut sekalipun..!!!"
"Serang...!!"
Wu Yi Feng menutup matanya sejenak, kemudian saat ia membuka mata, seluruh aura raja naga langit dan juga hawa membunuh yang selama ini ia kumpulkan, ia lepaskan seluruhnya.
Tiba - tiba saja kawanan perampok merasakan ketakutan yang luar biasa, bahkan untuk sekedar bernapas pun susah apalagi bergerak. Tubuh mereka mendadak kaku tanpa sebab, tak menunggu lama Wu Yi Feng segera mencabut kedua pedang kembar di punggungnya lalu memulai pembantaian di pagi hari yang dingin.
Tubuh pemuda itu meliuk liuk laksana seekor phoenix yang terbang menghindari batuan karang, setiap tebasan pedangnya selalu membawa korban. Hingga dalam waktu relatif singkat Wu Yi Feng telah membunuh puluhan perampok.
Kawanan perampok lainnya merasakan kengerian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya, meskipun mereka adalah seorang pembunuh dan pastinya terbiasa dengan darah, namun tetap saja ketika mereka mengambil nyawa manusia, ada sedikit rasa penyesalan di dalam dada, akan tetapi hal itu tidak mereka lihat pada seorang pemuda yang kini dengan dinginnya membantai kawan - kawan mereka, bahkan pemuda tersebut tidak terlihat berkedip sedikitpun.
"Lari, lari semuanya.. Selamatkan nyawa kalian.. Dia bukan manusia..!!!" Teriak salah seorang kawanan perampok yang merasa ketakutan.
Dalam sekejap saja Wu Yi Feng berhasil menghancurkan formasi barisan mereka, kini para perampok banyak yang mundur bahkan tidak sedikit yang lari meninggalkan tempat.
Sayangnya mereka yang mencoba kabur sama sekali tidak mengetahui jika maut mengintai mereka dari balik pepohonan. Sebuah pedang terbang yang melesat dengan sendirinya, memangsa mereka yang mencoba untuk melarikan diri.
"Argggghhhhh..."
Teriakan putus asa mulai terdengar, sekumpulan orang yang merasa bahwa mereka adalah pemburu, kali ini malah diburu. Ratusan orang dengan kemampuan setara pendekar kelas dua dan tiga jelas bukan lawan yang sepadan bagi seorang pendekar bumi yang telah mencapai puncak kekuatannya.
Kengerian itu tergambar jelas di mata para perampok yang masih tersisa, dimana ratusan tubuh tergeletak tak bernyawa, darah tergenang hingga mengubah tumpukkan salju yang tadinya berwarna putih bersih menjadi merah kehitaman.
Mereka yang masih hidup seolah hanya menunggu giliran untuk mati, sungguh diluar nalar bagaimana bisa satu orang melakukan pembantaian kepada sekitar 250 orang.
Wu Yi Feng melemparkan pedangnya begitu mengetahui ada yang mencoba untuk kabur, pedang tersebut menancap tepat di jantung hingga menembus ke dada. Lalu dengan begitu cepatnya ia mencabut kembali pedang tersebut dan mulai mengincar yang lain.
"Kumohon ampuni aku tuan pendekar.. Aku berjanji setelah ini akan kembali ke jalan yang lurus.." Salah satu perampok bersimpuh di hadapan Wu Yi Feng, dari tubuhnya yang gemetar hebat bisa terlihat jika orang tersebut begitu ketakutan.
"Apakah kau juga melepaskan para penduduk ketika mereka memohon hal yang sama kepadamu??" Ucap Wu Yi Feng dengan dingin.
"Ja... Jangan.. Kumoho.. Arrrggghhhh..." Wu Yi Feng menancapkan pedangnya ke puncak kepala perampok tersebut hingga menembus sampai ke batang lehernya, kemudian ia menarik pedang tersebut lalu menendang tubuh perampok yang kini keadaanya sudah berlumuran darah.
Saat ini hanya tersisa sekitar sepuluh orang dari 250 orang yang datang, kesepuluh orang tersebut termasuk pemimpin mereka yang berada di tingkatan pendekar ahli.
"Jangan takut, dia pasti sudah kelelahan setelah membunuh segitu banyaknya.. Kalian semua maju serempak dan serang dia dari berbagai penjuru..!!!"
"Ta.. Tapi.. Apakah monster seperti dia memiliki rasa lelah??"
Ketika mereka masih berunding, Wu Yi Feng bergerak dengan cepat kemudian menebas batang leher dua orang dari mereka hanya dalam satu tarikan napas, sedangkan sisanya hanya bisa berteriak dan memohon supaya dilepaskan.