The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Bimbang



Selama beberapa hari setelah percakapan keduanya Wu Yi Feng terlihat murung, tidak ada lagi gairah yang menyelimutinya. Begitu mengetahui kenyataan bahwa hanya ada kematian yang menantinya ketika ia meningkatkan kemampuannya, maka semua cita - citanya seakan hanya harapan semu.


Hilang sudah semangat hidup yang selama ini membara, menjadi kuat adalah impiannya, dan kenyataan yang diungkapkan oleh Miya seolah merenggut semuanya. Sebenarnya dengan kemampuannya saat ini saja, ia sudah bisa dianggap sebagai salah satu pendekar hebat dan jenius di generasinya, tapi bukan itu yang ingin ia raih, bukan sebuah pengakuan melainkan sebuah pembalasan dendam.


"Putri, tidak adakah cara untuk membantunya??" Ucap Tao Tie merajuk kepada Miya disaat keduanya sedang memperhatikan Wu Yi Feng dari jarak yang lumayan jauh.


"Siapa bilang tidak ada, hanya saja.." Putri Miya tidak menyelesaikan kalimatnya.


"Benarkah ada?? Putri tolong bantu dia.. Tolong.." Tao Tie bersujud kepada Miya, meskipun dirinya baru saja bertemu dengan Wu Yi Feng dan bahkan ia nyaris saja terbunuh oleh pemuda itu, tapi entah kenapa ia menyukai pemuda tersebut.


"Hentikan perbuatanmu atau aku akan menghajarmu.." Seru Miya seraya mengangkat tangannya.


"Aku tidak akan berhenti sebelum Putri berjanji akan membantunya.."


"Aku akan memikirkannya.." Miya melayang pergi, sedangkan Tao Tie menatap Wu Yi Feng yang sedang diam dan merenung.


Tao Tie melangkah mendekati Wu Yi Feng dan duduk di samping pemuda tersebut, sedangkan Wu Yi Feng yang merasa bahwa ada sesuatu mendekat, sempat menoleh sejenak sebelum mengetahui jika ternyata yang mendekatinya adalah Tao Tie.


"Ada apa kau kemari?" Ucap Wu Yi Feng acuh.


"Ucapan putri Miya jangan terlalu dimasukkan ke dalam hati, putri Miya memang seperti itu orangnya, tapi sebenarnya dia adalah sosok yang begitu baik dan pengertian.." Jawab Tao Tie, sedangkan Wu Yi Feng yang mendengar pembelaan Tao Tie terhadap Miya hanya bisa tersenyum tipis.


"Asal kamu tahu, aku tidak menyalahkan Miya.. Justru aku harusnya berterima kasih karena dia membuatku memahami tentang tubuhku sendiri.." Wu Yi Feng tertunduk lesu, sudah terperangkap di dunia yang bahkan ia tidak tahu ini dimana, dia juga harus menerima kenyataan bahwa kemampuannya tidak akan bisa ditingkatkan lagi, atau tubuhnya akan meledak.


Wu Yi Feng merebahkan tubuhnya diatas rumput, sambil memandangi langit malam pemuda itu tersenyum, sebuah senyum getir, seolah sedang menertawakan dirinya sendiri.


Tao Tie yang merasa tidak bisa membantu apa - apa segera pergi sambil menggeleng gelengkan kepala, sedangkan itu ditempat lain putri Miya nampak begitu gelisah, seperti sedang memikirkan hal yang cukup serius.


Keesokan paginya, Wu Yi Feng terbangun oleh sebuah teriakan dari seorang gadis. "Sampai kapan kamu mau tidur - tiduran..?? Ucap putri Miya.


"Selain tidur, memangnya apa yang bisa aku lakukan?? Dimensi ini terkunci dari luar seperti katamu, dan aku juga tidak bisa menaikkan kemampuanku untuk menerobos tingkatan pendekar suci.." Balas Wu Yi Feng dengan tidak kalah sengitnya.


"Siapa bilang tidak bisa??" Putri Miya seolah menggantung kata - katanya.


"Benarkah?? Apa benar ada suatu cara untuk keluar atau meningkatkan kemampuanku??" Wu Yi Feng memegang kedua bahu putri Miya hingga mengguncangnya, pada saat itulah ia baru sadar ada yang aneh pada putri Miya.


"Tubuhmu? Kau tidak lagi tembus pandang.." Seru Wu Yi Feng.


"Baru sadar???"


"Maaf tapi aku sungguh tidak memperhatikan.." Wu Yi Feng menatap putri Miya dari atas sampai bawah, tinggi dan putih tanpa celah, ditunjang dengan wajah yang begitu mulus dan cantik. Sungguh idaman bagi setiap laki - laki, bahkan Wu Yi Feng yang biasanya tidak terlalu peduli dengan wanita pun harus mengakui bahwa kali ini dirinya kagum akan kecantikan dari putri Miya.


"Aku pastikan matamu buta jika kau masih terus melihatku seperti itu.." Seru putri Miya.


"Maaf..." Wu Yi Feng menundukkan pandangannya, sedangkan putri Miya menutup mulutnya dengan telapak tangan karena ia tersenyum melihat tingkah Wu Yi Feng yang kocak.


"Baiklah sekarang dengarkan aku..!!"


"Yang harus kamu tahu, aku tidak bisa bertahan lama dalam wujud seperti ini. Namun aku rasa cukup jika hanya melindungimu selama beberapa jam."


"Maksudnya??" Wu Yi Feng yang memang belum mengerti arah pembicaraan ini hanya bisa melongo.


"Seperti yang aku bilang kemarin, saat kau membuka gerbang suci mu yang pertama, maka gerbang kedua dan seterusnya akan ikut terbuka karena pengaruh dari gerbang ke sembilan (akar Qi)."


"Jadi, aku bermaksud menahan letupan energi yang datang dari dalam dirimu, ingatlah untuk terus menstabilkan tenaga sebelum kembali membuka gerbang selanjutnya."


"Apa resikonya untukmu??" Wu Yi Feng menatap tajam kearah putri Miya, membuat perempuan tersebut sedikit gugup.


"Sejujurnya aku hanya harus mengulang dari awal, mengumpulkan kekuatanku sedikit demi sedikit." Balas putri Miya.


Kali ini Wu Yi Feng yang bimbang, di satu sisi dirinya senang karena ada kesempatan untuk bertambah kuat, tapi di sisi lain dirinya tidak tega jika harus mengorbankan seseorang demi mencapai ambisinya tersebut.


"Kenapa kau diam saja??"


"Aku merasa tidak enak padamu.."


"Hahahaha.. Aku sudah disini selama ratusan tahun, lagipula kalaupun aku keluar, aku juga tidak tahu mau pergi kemana.." Putri Miya membelakangi Wu Yi Feng sambil menatap ke langit.


"Itu berarti kau juga tahu cara untuk keluar dari sini..??"


"Tentu.. Sebelum aku memberitahumu cara untuk keluar dari sini, lebih baik kau perkuat dulu kemampuanmu.."


"Baiklah, sekarang apa yang harus aku lakukan??"


"Tanggalkan seluruh bajumu.."


"Ap.. Apa?? Jadi aku harus telanjang didepanmu??" Wu Yi Feng melotot, tak pernah terbersit sedikitpun di pikirannya harus membuka seluruh bajunya di hadapan wanita secantik Miya.


"Memang kenapa?? Aku juga akan menanggalkan bajuku, setelah itu kita akan masuk ke telaga keabadain.. Disana aku akan menyalurkan Qi milikku untuk menahan letupan energi yang tercipta ketika kau membuka gerbang suci."


"Bahkan kau juga membuka bajumu???" Jangan bercanda, lagipula jika hanya mentransfer Qi tidak perlu harus telanjang.." Sergah Wu Yi Feng.


"Qi milikku berbeda denganmu, kita akan melakukan penyatuan di tengah telaga keabadian, air dari telaga akan membuat tubuhmu selalu terlindungi. Dan satu yang mungkin kamu lupa, bahwa ketika kita sedang berdebat, waktu terus berjalan."


Wu Yi Feng menggigit bibir bawahnya sebelum akhirnya pasrah dan mulai membuka satu persatu pakaiannya, Putri Miya sempat tertegun begitu melihat "Senjata Pusaka" Wu Yi Feng yang bergondal gandul.


Tanpa menunggu lama Wu Yi Feng segera menceburkan diri ke telaga keabadian, tak berselang lama putri Miya juga mulai melucuti satu persatu pakaian yang ia kenakan hingga tidak ada satupun kain yang menempel, Wu Yi Feng segera membalikkan badan begitu putri Miya membuka bajunya, membuat gadis itu tersenyum simpul.


"Apa kamu benar - benar seorang pria?? Padahal laki - laki lain akan bertaruh nyawa supaya bisa melihatku telanjang di hadapan mereka.." Putri Miya menggoda Wu Yi Feng begitu dirinya berada dekat dengan pemuda tersebut.


"Aku bukan laki - laki seperti itu.." Jawab Wu Yi Feng dengan jantung yang berdebar debar.