
"Jadi benar kau tidak tahu mengapa Wan Ming tiba - tiba saja menyerangmu??" Tanya Wang Fei Lin.
"Hmm.. Mungkin saja dia sedang tertekan karena kasus pembunuhan yang terjadi pada keluarga besar Huang.."
"Keluarga besar Huang? Bukankah mereka adalah salah satu keluarga bangsawan yang menyokong kekaisaran Han?? Darimana kau tahu berita itu??"
"Aku mengetahuinya dari pada saudagar dan pedagang ketika dalam perjalanan kembali ke sekte.." Jelas Chau Li.
"Kenapa bisa jadi begini? Dahulu kita begitu kompak, tapi semua seolah berubah ketika Feng gege pergi, disusul kemudian Shen Liang dan terakhir Wan Ming, bahkan aku dengar - dengar Bai Lang juga akan segera pergi bersama Zhou Mei Lan.. Hiks.. Hiks.." Gadis muda itu terisak, dadanya sesak melihat situasi teman - temannya saat ini.
"Sudahlah, jangan terlalu dipikirkan.. Ngomong - ngomong soal saudara Feng, aku sempat bertemu dengannya beberapa waktu yang lalu walau hanya sebent.. Upppss.. Anggap saja aku tidak berkata apa - apa.." Chau Li menutup mulutnya dengan kedua tangan begitu menyadari kesalahannya.
"Feng gege, kau bertemu dengannya?? Katakan padaku, kau bertemu dengannya dimana Chau Li..!!!" Wang Fei Lin mengoyang goyangkan badan Chau Li dengan keras, tapi tetap saja Chau Li menggeleng.
"Ehemmm.. Maaf menganggu, Kakak Chau kau dicari oleh guru.. Ini tentang laporan misi kita yang kemarin.." Tiba - tiba saja Chui Dal Po datang dan "Menyelamatkan" Chau Li.
"Ahhh tentu saja, bagaimana mungkin aku melupakannya.. Ayo kita kesana saudaraku Chui Dal Pooo.." Chau Li begitu senang karena kali ini rekannya tersebut datang di saat yang tepat.
"La.. Laporan misi apa?? Chau Li, jangan berpikir kau bisa lari dariku..!!!" Wang Fei Lin berteriak ketika keduanya mulai menjauh.
"Hufff, syukurlah.. Aku berhutang nyawa hari ini kepadamu.." Ucap Chau Li sambil merangkul bahu pemuda kurus itu.
"Sudahlah, sekarang bayar hutang - hutangmu yang kemarin.."
"Ap.. Apa? Bagaimana kau bisa perhitungan setelah menerima uang yang sangat banyak dari saudara Feng??"
"Ini dan itu berbeda, cepat bayar hutangmu.. Itu uang tabunganku..!!!" Seru Chui Dal Po sambil menyodorkan tangannya.
"Iy.. Iya - iya.." Chau Li mengeluarkan tiga koin emas dan memberikannya ke Chui Dal Po dengan rasa dongkol.
"Terima kasih, sekarang jangan ikuti aku.."
"Mengikutimu?? Hei bukankah kau bilang kita dipanggil guru???"
"Kau pasti tahu kan jika itu hanya bualanku saja untuk menghentikanmu berbicara.." Chui Dal Po tersenyum ganjil.
"Eh.. Eh.. Dal Po, tunggu sebentar.. Hehehe.. Malam ini aku boleh ya menginap di kamarmu?? Karena kamu tahu sendirikan, kamarku pintunya hancur di terjang si kunyuk.."
"Maaf, tapi itu bukan urusanku.. Lagipula ranjang di kamarku hanya cukup untuk satu orang saja.. Minggir.." Chui Dal Po bergegas meninggalkan Chau Li, sementara pemuda itu menghela napas panjang.
"Hufff.. Kenapa aku sial sekali hari ini.." Chau Li menggaruk kepalanya yang tidak gatal sampai ia menemukan sebuah ide cemerlang.
"Tunggu dulu, bukannya disini banyak kamar kosong?? Paling tidak ada tiga kamar kosong (kamar Wu Yi Feng, Shen Liang dan Wan Ming) yang aku tahu.. Hehehe.. Kau memang jenius Chau Li.." Pemuda itupun bergegas mendatangi kamar dan mengecek satu persatu.
...****************...
Senja datang dengan begitu cepat, setidaknya bagi seorang gadis cantik yang bernama Li Xiao Yi. Gadis cantik itu masih ingin memeluk tubuh tegap dan harum Wu Yi Feng meskipun hanya dari belakang.
"Di depan adalah kota Ludong, meskipun seharusnya kita tinggal lurus saja untuk sampai ke ibukota, namun karena hari sudah menjelang malam maka lebih baik kita bermalam saja di kota ini.." Seru Li Hao kepada seluruh anggota rombongannya.
"Feng gege, apakah kita akan berpisah malam ini??" Ucap Li Xiao Yi dengan nada sedih.
"Aku akan kembali ke sekte keesokan pagi, karena malam ini aku ingin mentraktir semuanya minum arak sampai puas.."
"Benarkah?? Horeeee... Minum arak.. Minum arak.." Kelakar Li Xiao Yi.
Begitu memasuki kota Ludong, mereka memilih sebuah penginapan yang terletak dekat dari gerbang kota supaya keesokan harinya tidak terlalu jauh jika ingin keluar dari kota Ludong mengingat jarak antara kota Ludong dengan ibu kota kekaisaran Song tidak terlalu jauh dan bisa ditempuh sekitar 5 harian dengan berkuda.
Setelah memesan kamar dan beristirahat sejenak, Wu Yi Feng memutuskan untuk membersihkan diri dan berganti pakaian sebelum turun untuk menikmati makan malam.
Ternyata semua sudah berkumpul di tempat makan begitu Wu Yi Feng turun, "Tuan Feng, silahkan duduk.. Kami semua menunggumu.." Ucap Li Hao sembari berdiri dan mempersilahkan Wu Yi Feng.
"Terima kasih Tuan Li.." Baru saja Wu Yi Feng duduk ketika hidangan yang sudah dipesan oleh Li Hao datang diantar oleh para pelayan.
Wu Yi Feng sendiri duduk di sebelah Li Xiao Yi dan juga Li He Rong, mereka berdua nampak antusias menanti hidangan yang sedang di siapkan.
"Tidak usah berebut He Rong, Xiao Yi.." Li Hao menatap tajam kearah keduanya.
Sebenarnya sangat wajar jika keduanya antusias, karena sudah beberapa hari belakangan ini mereka hanya makan makanan seadanya karena harus bermalam di tepian hutan, apalagi mereka sejatinya adalah keturunan orang berada yang tidak pernah kekurangan sejak mereka dilahirkan.
Wu Yi Feng membantu keduanya dengan mengambilkan dua potong irisan daging ayam yang cukup besar, tentu saja mereka senang bukan kepalang. Li Xiao Yi meskipun usianya hanya terpaut dua tahun lebih muda dari Wu Yi Feng, namun karena terbiasa dimanja membuat sifatnya masih sedikit kekanak kanakan.
"Ayah dan Tuan - tuan yang ada disini, aku pamit kembali ke kamar terlebih dahulu.. Silahkan kalian nikmati perjamuan malam ini.." Ucap gadis muda tersebut ketika selesai menyantap hidangan makan malamnya.
"Baiklah, lekas tidur karena besok pagi - pagi sekali kita akan melanjutkan perjalanan." Jawab Li Hao.
Tak berselang lama setelah Li Xiao Yi masuk ke kamarnya, Wu Yi Feng yang memang sudah merasakan firasat buruk segera menyusul.
"Maaf, nampaknya malam ini aku sedang tidak enak badan.." Pemuda itu memberikan hormatnya kepada Li Hao dan yang lain sebelum akhirnya menghilang di kegelapan.
"Keluarlah, bukankah kalian sudah mengikuti kami semenjak tiga hari yang lalu??" Seru Wu Yi Feng tepat diatas penginapan tempat mereka bermalam.
"Xixixixixi.. Rupanya kau lumayan juga anak muda.." Enam orang memakai pakaian serba hitam muncul dari balik asap dengan senjata yang siap menyerang.