
"Hiyaaaa..." Kedua perampok yang masih remaja tersebut maju secara bersamaan.
Mungkin jika kejadian ini terjadi tiga bulan lalu, Wu Yi Feng pasti akan ketakutan dan memilih untuk lari. Tapi sekarang ia adalah murid dari sang pilar (meskipun saat ini dia belum mengetahuinya) dan telah mempelajari beberapa jurus dari teknik naga langit.
Kedua perampok yang hanya berada di tingkatan pendekar kelas 3 permulaan tentu saja bukanlah tandingan dari Wu Yi Feng. Bahkan Wu Yi Feng merasa gerakan mereka terlalu lambat dan kaku hingga ia bisa mengalahkan kedua perampok tersebut hanya dalam satu serangan.
Satu perampok yang tersisa merasa tidak percaya jika kedua orang rekannya bisa dihajar hingga babak belur dengan mudahnya oleh bocah ingusan yang ada di hadapannya.
"Kalian berdua membuatku malu.. Hei bocah, aku memegang pisau..!! Cepat serahkan semua uang yang kau miliki kalau tidak..."
"Kalau tidak apa?? Cara memegang pisaumu saja salah, seharusnya begini, dan cara memainkannya begini.." Seru Wu Yi Feng yang dalam waktu sekejap sudah berada di hadapannya lalu merebut pisau dari genggaman sang perampok dan dengan lihainya memainkan pisau tersebut hingga membuat pakaian sang perampok compang camping.
Wussshh.. Wushhh.. Sratt.. Srettt..
Si perampok hanya melongo dan tidak bisa berbuat apa - apa.. sedangkan Wu Yi Feng mengembangkan senyum mengerikan yang mengintimidasi.
"Ampun pendekar muda.. Maafkan kelancangan orang bodoh ini yang tidak bisa melihat kehebatan anda.." Kepala perampok berlutut meminta belas kasihan kepada Wu Yi Feng, tubuhnya bergetar saking takutnya.
"Aku tidak akan membunuh kalian, justru aku ingin memberi kalian uang.." Wu Yi Feng memberikan tiga keping uang emas lalu segera berlalu dari sana, karena bagaimanapun dulu ia juga pernah berada dalam situasi yang sama seperti mereka, hingga ia bisa mengetahui susahnya mencari uang.
"Ingat namaku Wu Yi Feng, mungkin suatu hari nanti aku akan butuh bantuan kalian.." Wu Yi Feng berlari meninggalkan ketiganya dan kembali ke jalanan yang ramai dengan hilir mudik para warga.
"Terima kasih Tuan.." Ketiga perampok bersujud memberikan hormatnya, wajah ketiganya berseri - seri... Mendapatkan tiga keping uang emas adalah rejeki yang tidak tiap hari bisa mereka peroleh.
Wu Yi Feng terus berjalan menyusuri kota, hingga sampailah ia di dekat istana kerajaan. Banyak prajurit yang berjaga disana, sekilas bocah kecil itu bisa melihat arena yang akan digunakan sebagai ajang turnamen beladiri yang dimulai dua hari lagi.
"Apakah guru adalah salah satu pesertanya??" Gumam Wu Yi Feng dalam hati.
Setelah puas berjalan jalan dan menjelajahi isi kota heinan, Wu Yi Feng kembali ke penginapan dan merebahkan dirinya di ranjang empuk miliknya. Tangannya ia pakai sebagai penopang kepala dan kakinya ditekuk satu, bocah itu entah sedang memikirkan apa, tiba - tiba saja ia duduk bersila dan mengeluarkan cincin hitam pemberian pendekar misterius yang kala itu menyelamatkan dirinya dari kejaran para pendekar yang hendak membunuhnya.
Wu Yi Feng memang sempat lupa jika dirinya memiliki cincin tersebut, karena memang dirinya belum mengetahui apa fungsi dan isi dari cincin di hadapannya.
Cincin tersebut terlihat lebih kecil sekarang, karena Wu Yi Feng dulu memakainya ketika berumur sekitar tujuh tahunan, namun ketika ia mencoba memakainya sekarang, cincin itu secara ajaib menyesuaikan ukuran dengan sendirinya.
Batu permata hijau yang ada di cincin tersebut menyala, menandakan bahwa cincin tersebut telah menerima dan menyatu bersama dengannya. Wu Yi Feng segera berkonsentrasi untuk melihat apa saja isi di dalamnya.
WUUUUSSSSSHHHHHHH...
Wu Yi Feng seperti tertarik kedalam sebuah dimensi lain, dan ketika ia membuka matanya, ia melihat tumpukan keping emas dan juga surat berharga, ada juga permata, berlian serta batu langka pembuat pusaka yang harganya sangat mahal.
Wu Yi Feng yang seumur umur belum pernah melihat harta sebanyak itu, sempat mematung sejenak. Bocah itu berjalan mendekat ke gundukkan uang koin emas dan memegangnya, sekedar untuk meyakinkan jika semua ini bukanlah mimpi.
Wu Yi Feng menyunggingkan senyumnya, beberapa tahun lalu, hanya untuk sekedar makan saja dirinya harus mengorek isi sampah, namun sekarang dia memiliki segunung harta.
Wu Yi Feng menjelajah ruangan yang seolah olah tak ada ujungnya tersebut, matanya sempat melihat sebuah kotak emas yang ada di ujung. Kotak emas tersebut melayang di udara tanpa ada yang menyangga nya.
Wu Yi Feng mendekati kotak tersebut dan memperhatikannya sejenak sebelum membukanya, kotak tersebut berukirkan naga, burung Phoenix, singa putih yang bersayap, angsa biru, dan juga seekor burung yang menyerupai elang. Dimana di setiap kening hewan - hewan tersebut ada sebuah kristal kecil berwarna warni.
Di dalam kotak emas tersebut Wu Yi Feng menemukan sebuah kitab yang tidak lain adalah Kitab Naga Langit.
Wu Yi Feng mengambil kitab tersebut dan mulai membacanya, ia bisa mengetahui jika ternyata jurus pernapasan naga miliknya merupakan salah satu bagian dari teknik naga langit.
Teknik naga langit sendiri berisi banyak sekali jurus - jurus hebat, selama ini ia hanya tahu 1 - 2 teknik saja karena gurunya memberikan lembaran demi lembaran. Semakin Wu Yi Feng membalik halamannya, semakin bergetar tubuhnya karena semakin dashyat jurus atau teknik yang tertulis disana.
Tubuh Wu Yi Feng tak bisa berhenti bergetar karena rasa gembira yang membuncah, kitab ditangannya jelas jauh lebih berharga daripada seluruh harta yang ada di ruangan ini. Wu Yi Feng memeluk erat kitab tersebut dan meletakkannya kembali secara perlahan dalam kotak emas. Hari ini sudah cukup ia melihat lihat isinya, dirinya ingin beristirahat sejenak sebelum besok ia mulai mempelajari kitab tersebut.
Dalam sekejap jiwa bocah itu telah kembali ke dunia, Wu Yi Feng tersenyum, ia sempat berpikir apakah pendekar misterius yang menyelamatkannya adalah saudara seperguruan dengan gurunya?? Mengingat mereka menggunakan teknik atau jurus yang sama.
Daripada memikirkan hal yang tidak penting, bocah berusia 12 tahun itu lebih memilih untuk beristirahat karena matanya juga sudah berat dan minta untuk dipejamkan.
Keesokan harinya, setelah menghabiskan sarapannya di lantai bawah, Wu Yi Feng meminta ijin kepada gurunya untuk mengurung diri di kamar. Dengan alasan bermeditasi, padahal sebenarnya ia memasuki dimensi cincin ruang dan berlatih jurus - jurus dari kitab naga langit. Satu yang baru diketahui oleh Wu Yi Feng adalah, adanya perbedaan waktu antara dunianya dengan dimensi cincin ruang, dimana satu jam di dunianya sama dengan sehari di dimensi cincin ruang.
Luo Yun Xi sempat mengecek kebenaran omongan muridnya, dan memang ia mendapati jika Wu Yi Feng sedang bermeditasi di atas ranjang. Tentu saja itu hanya tubuh fisiknya saja, karena jiwanya sedang berada di dimensi lain.