
Salju yang terus menerus turun selama beberapa hari, nampak seolah hendak memendam desa tersebut. Sebuah desa yang bahkan oleh pemerintah telah dihilangkan dari peta. Sungguh kenyataan yang begitu tragis, apalagi mereka baru mengetahui kenyataan tersebut ketika kelompok perampok yang menamakan dirinya topeng kematian sedang mendatangi desa dengan membawa ratusan pasukan.
Ketebalan salju yang setinggi lutut orang dewasa sama sekali tidak menyurutkan langkah ratusan pendekar yang berbaris rapi menuju ke desa.
Hari yang begitu dihindari oleh para penduduk desa itu akhirnya datang juga, hari dimana mereka semua akan dibantai secara keji. Seluruh pemuda dan laki - laki separuh baya yang masih kuat memanggul senjata keluar dari rumah dengan membawa senjata seadanya, mereka ingin melawan meskipun sebenarnya mereka tahu jika itu adalah hal yang sia - sia, setidaknya dengan melakukan perlawanan maka ada kemungkinan mereka akan mati dengan cepat dan tanpa merasakan sakit akibat disiksa terlebih dahulu.
*** Kembali ke malam ketika Wu Yi Feng dan Ling Han tidak sengaja bertarung di tengah hutan.
"Guru apakah anda tidak apa - apa..??" Wu Yi Feng yang merasa bersalah membantu Ling Han untuk berdiri.
"Hehehehe.. Aku tidak apa - apa, kau tidak usah khawatir.."
"Kalau boleh tahu, apa yang sedang guru lakukan disini??"
"Seharusnya kita memiliki jawaban yang sama atas pertanyaan itu.." Ucap Ling Han sambil tersenyum.
Wu Yi Feng membalas senyum Ling Han sembari bersandar ke sebuah batang pohon yang sangat besar.
"Ternyata benar apa yang ketua sekte ucapkan, kau memiliki kekuatan yang mengerikan. Andai saja aku tidak merasakannya secara langsung, maka mungkin aku tidak akan mempercayainya."
Setelah Ling Han berkata demikian, ada jeda beberapa menit dalam kesunyian. Hanya suara angin malam berhembus yang terdengar hingga Ling Han memecah kebisuan.
"Sebaiknya kita segera kembali ke penginapan, lagipula saat ini sudah larut malam, ditambah udara diluar begitu dingin.. Saat ini aku bahkan sudah tidak bisa lagi merasakan jari - jariku.." Seru Ling Han sembari berdiri dan membersihkan bajunya dari salju yang menempel.
"Guru, ada satu hal yang ingin saya tanyakan kepada anda.."
"Katakanlah.."
"Apakah anda mempercayai saya??"
"Hufff.. Tentu saja, bagaimana mungkin aku tidak mempercayaimu sedangkan ketua sekte saja percaya seutuhnya kepadamu.."
"Jika begitu maka mohon ijinkan saya menyelesaikan masalah ini sendirian..!!!" Wu Yi Feng membungkuk untuk menunjukkan keseriusannya.
Butuh waktu lama bagi Ling Han untuk menjawabnya, "Feng'er aku tahu kau hebat, hanya saja ada sebuah tanggung jawab yang harus aku pikul. Aku tidak bisa begitu saja melimpahkan tanggung jawab ini kepadamu seutuhnya."
"Guru, maaf sebelumnya.. Jujur saya merasa kehadiran kalian hanya akan membuat ruang gerak saya menjadi semakin sempit dan tidak leluasa.." Wu Yi Feng terpaksa berkata jujur untuk melihat reaksi dari Ling Han.
Pria tua dengan banyak luka di sekitar wajahnya tersebut menatap Wu Yi Feng dengan tajam, ada rasa sakit dihatinya ketika seorang murid berkata seperti itu. Tapi jika dilihat kenyataannya maka semua yang dikatakannya tidaklah berlebihan.
"Hehehe.. Baiklah jika itu keputusanmu, hanya saja kau sudah tahu aturannya bukan?? Serta satu lagi, jangan gunakan atribut sekte pedang langit ketika engkau melancarkan aksimu.."
"Baik guru, nasihat guru akan saya ingat selalu.."
"Kalau begitu sekarang ayo kita kembali ke penginapan, udara di luar semakin dingin dan hutan in juga terasa menyeramkan.." Ling Han mulai melompat dan bergerak dengan cepat dari satu pohon ke pohon yang lain.
Hari masih gelap ketika Chau Li, Wang Fei Lin dan juga Ling Han pergi meninggalkan desa. Mereka bergerak dengan cepat tanpa ada satu penduduk pun yang tahu.
Tak berselang lama, iring - iringan perampok yang berjumlah kurang lebih 250 orang mulai nampak mendekati gerbang desa, mengetahui hal tersebut wanita paruh baya pemilik penginapan panik seketika.
Wanita tersebut menggedor pintu kamar Ling Han, namun sayang kamar tersebut kosong. Wanita yang sudah mulai putus asa tersebut menggedor tiga kamar yang lainnya, namun naas karena tiga kamar yang lain juga dalam keadaan kosong dan hanya meninggalkan sekantung uang emas sebagai pembayaran kamar dan makan selama mereka menginap disana.
Wanita paruh baya tersebut berteriak sejadi jadinya, pikirannya kalut karena harapannya yang terakhir kini telah pergi, sementara iring iringan kelompok perampok topeng kematian semakin mendekat. Tanpa berpikir panjang wanita tersebut membawa kedua anak gadisnya bergegas untuk bersembunyi dibawah tumpukan jerami.
Di tempat lain, tepatnya di paviliun naga kembar. Sosok misterius berbaju putih dengan topeng yang berwarna senada sedang mengelap pedang kembarnya yang berlumuran darah.
Sosok misterius tersebut baru saja melakukan pembantaian terhadap dua puluh orang lebih anggota topeng kematian yang sedang bertugas menjaga sumber mata air panas tersebut.
Salju yang awalnya berwarna putih bersih layaknya mutiara, secara perlahan berubah warna menjadi merah akibat darah yang menggenang. Setelah memastikan bahwa tidak ada satu pun musuh yang selamat, sosok misterius tersebut melesat dan menghilang dari paviliun naga kembar.
Wu Yi Feng menghela napas panjang, dengan balutan baju putih ala ninja dan topeng yang berwarna senada, ia menanti kedatangan para perampok dari balik atap penginapan.
Andai saja para kawanan perampok itu tahu jika hari ini mereka akan menjemput maut, maka bisa dipastikan mereka akan berlari dan menjauh dari desa itu, namun ketidak tahuan membawa mereka pada kebinasaan.
Dengan dua pedang yang tersarung di punggung, Wu Yi Feng mulai menekan hawa membunuhnya yang sangat pekat, Wu Yi Feng sengaja tidak merubah hawa membunuhnya menjadi aura raja naga langit supaya memberikan perasaan takut kepada lawan - lawannya ketika tiba waktunya.
*** Beberapa saat yang lalu,
"Tidak mau, kenapa harus Feng gege seorang diri yang menghadapi kawanan perampok?? Aku juga makin bertambah kuat, aku ingin tinggal untuk membantunya..!!" Wang Fei Lin tidak mau menerima keputusan yang telah dibuat oleh Ling Han dan masih bersikeras untuk tetap tinggal.
"Jangan bersikap seperti anak kecil.." Chau Li mencoba untuk memberi pengertian kepada Wang Fei Lin.
"Seperti anak kecil?? Aku hanya ingin membantu..!!!"
"Pergi dari sini bersama dengan guru Ling dan juga saudara Chau adalah bantuan yang aku harapkan darimu.." Pungkas Wu Yi Feng.
"Tapi Feng gege??"
"Tidak ada tapi, sekarang katakan kepadaku, sudah berapa orang yang telah kau bunuh sampai saat ini??" Wu Yi Feng berjalan mendekat sambil memberikam tatapan tajam ke arah Wang Fei Lin.
"Me... Membunuh orang?? Aku.. Aku belum pernah." Wang Fei Lin tertunduk, tangisnya mulai pecah karena kehabisan kata - kata.
Wu Yi Feng menarik Wang Fei Lin kedalam dekapannya, diusapnya punggung gadis cantik itu dengan lembut sambil membisikkan sebuah kalimat penenang.
"Tunggu aku di kota Xiang Yang, kau percaya padaku bukan??"
Wang Fei Lin mengangguk lemah, gadis itu luluh juga akhirnya. Setelah mengemasi barang - barang, ketiganya pun bersiap untuk berangkat.
"Pakailah, identitas merupakan sesuatu yang berharga bagi seorang pendekar." Ling Han melemparkan sebuah topeng berwarna putih kepada Wu Yi Feng sebelum kemudian melesat pergi dari desa tersebut bersama dengan Chau Li dan juga Wang Fei Lin.