
Tekanan udara mendadak menjadi sangat berat, hingga banyak penonton yang sebagian besar adalah rakyak biasa, mendadak kehilangan kesadaran dan kesulitan bernapas.
Itu semua dikarenakan dua orang pendekar yang sedang bertanding di arena sama - sama mengeluarkan aura membunuh mereka.
Si biksu sesat melompat mundur, kali ini Huang Litao yang mengambil inisiatif dan menyerang terlebih dahulu, membuat sang lawan bertahan dengan susah payah.
Serangan jurus kipas besi milik Huang Litao sangat kuat dan lincah, membuat biksu sesat kewalahan hingga akhirnya tersudut di ujung arena.
"Kurang ajar..!!!" Biksu sesat berteriak hingga menimbulkan ledakan energi di sekitarnya yang membuat Huang Litao mundur.
"Pukulan Seribu Jiwa..."
Biksu sesat mengeluarkan jurus terhebatnya, yang langsung tertuju kepada Huang Litao.
"Kipas Besi Bumi..."
Huang Litao membuat pelindung di sekitarnya menggunakan kipas besi miliknya.
Saling adu jurus kembali terjadi hingga selang beberapa saat stamina biksu sesat sudah hampir mencapai batasannya. Sedangkan Huang Litao masih terlihat bugar.
Rupanya ini adalah strategi dari Huang Litao yang memang merasa bahwa ia tak akan bisa menang melawan biksu sesat jika terus berkonfrontasi dari awal, jadi ia membuat sebuah pertarungan panjang yang menguras stamina.
Setelah lawannya terlihat kelelahan, barulah Huang Litao menyerang dengan full power. Terlihat sekali biksu sesat terdesak dan kerepotan menahan serangan dari Huang Litao, hingga menyebabkan luka disekujur tubuhnya.
"Aku akan mengakhiri pertarungan ini pak tua..!!" Teriak Huang Litao seraya mengumpulkan tenaga dalamnya di kipas besi miliknya.
"Cihhh.. Pengecut.." Teriak biksu sesat sambil mempersiapkan kuda - kuda untuk bertahan.
WUSSSSSHHHHHHH...
Huang Litao bergerak dengan cepat dan menghantamkan kipas besinya, sayatan melintang membelah dada dan juga memutuskan tangan biksu sesat yang menjadi lawannya.
"Arrrrggghhhh.." Teriakan kesakitan terdengar pilu, seolah tak terpengaruh, Huang Litao terus menyerang lawannya dan memberikan luka serius.
Di atas, Wu Yi Feng menggeremetakkan gigijya dibalik topeng, bocah itu makin marah melihat Huang Litao yang seolah tak kenal ampun.
"Jangan marah dengan sikapnya, pelajari dan petik hikmahnya.." Seolah mengetahui isi hati muridnya, Luo Yun Xi memberikan nasihat untuk Wu Yi Feng.
"Baik guru.." Wu Yi Feng menutup mata dan mulai meredakan napasnya yang memburu.
Dengan kemenangan Huang Litao yang membela pangeran Hei Long membuat skor menjadi 2-0 untuk kemenangan telak dari saudaranya pangeran Hei Wan.
Penghianatan Huang Litao membuat pangeran Hei Wan geram, hingga ia menggebrak meja di depannya. "Huang Litao, aku akan mengingat dengan jelas hari ini..!!" Seru sang pangeran Hei Wan.
"Hahahaha.. Saudaraku, kenapa engkau begitu marah?? Sudahlah ayo kita rayakan bersama sama.." Ucap pangeran Hei Long dengan muka berseri seri karena bahagia.
Dengan ini berakhirlah sudah drama penobatan sang putra mahkota, sesuai aturan pangeran Hei Wan harus merelakan tahta kepada saudara kembarnya pangeran Hei Long.
Sang Kaisar pun memberikan titahnya, sekaligus memastikan penunjukan kaisar Hei Long sebagai sang putra mahkota dihadapan khalayak ramai, sedangkan pangeran Hei Wan memilih pergi dan tidak mendengarkan pengumunan kaisar.
"Selamat pangeran Hei Long, semoga ditanganmu kelak, kekaisaran Han semakin maju dan rakyat menjadi makmur.." Ucap Pilar petir yang sekaligus berpamitan kepada yang mulia kaisar dan juga putra mahkota terpilih.
"Kita akan ke puncak gunung kabut petir terlebih dahulu.." Luo Yun Xi menggenggam pundak Wu Yi Feng dan mereka berdua memasuki pusaran waktu. Keduanya memang segera pergi dan tidak mengikuti acara yang diselenggarakan oleh pangeran terpilih, karena sang pilar memang dituntut untuk netral dan tidak memihak salah satu pihak.
Dalam waktu singkat, keduanya telah sampai di puncak gunung kabut petir, disana Luo Yun Xi ingin mencoba kehebatan muridnya yang telah berlatih sangat keras selama beberapa hari terakhir.
"Feng'er sekarang coba engkau serang aku dengan seluruh kekuatanmu..!!!" Seru Luo Yun Xi.
"Baiklah guru, bersiaplah.. Aku tidak akan segan - segan..!!!" Ucap Wu Yi Feng mantab, seolah memang menunggu nunggu kesempatan untuk latih tanding bersama gurunya.
DASSSSSHHHHHHH...
Wu Yi Feng melesat dengan cepat kearah gurunya, tangannya membentuk telapak, dengan Qi yang terkumpul disana.
"Teknik Naga, Tapak Penghancur Tulang..."
BLAAAAMMMMMMM...
Serangan jurus telapak dari wu Yi Feng, hanya di hadapai oleh satu jari oleh Luo Yun Xi. Merasa kurang puas, Wu Yi Feng mengambil jarak dan melepaskan jurus kedua.
"Teknik Naga, Pukulan Seribu Naga..."
Kali ini Wu Yi Feng melepaskan pukulan bertubi - tubi dengan kecepatan tinggi, namun sekali lagi, jurusnya tak mampu menggores tubuh gurunya sedikitpun.
Tak mau menyerah Wu Yi Feng pun bersiap melepaskan serangan jurus ketiga.
"Teknik Naga, Auman Raja Naga..."
RAAAOOORRRRGGGGGHHHHH...
Jurus auman dari Wu Yi Feng membuat para binatang dan juga siluman dalam radius satu kilometer lari tunggang langgang, tapi Luo Yun Xi nampak tak terpengaruh sedikitpun.
"Kali ini giliranku, bersiaplah...!!" Ucap Luo Yun Xi.
"Majulah guru..!!" Wu Yi Feng menyiapkan kuda - kuda bertahan, Luo Yun Xi bergerak dengan sangat cepat hingga mata Wu Yi Feng tak mampu melihatnya.
"Di kirimu.." Bisik Luo Yun Xi.
"Hiaaatttttt..." Wu Yi Feng mencoba memukul, namun ia hanya mengenai angin.
"Engkau harus melatih mata batinmu supaya bisa melihat gerakanku.." Seru Luo Yun Xi.
Wu Yi Feng segera menutup matanya dan mulai menyatukan dirinya bersama alam, supaya mata batinnya manajam. Perlahan tapi pasti, gerakan gurunya yang tadi tidak terlihat, kini bisa ia ikuti.
Bahkan serangan Luo Yun Xi tidak ada yang masuk, keduanya terus berlatih selama kurang lebih dua jam hingga stamina Wu Yi Feng mencapai batasnya.
"Hah.. Hah.. Hah.." Guru, berhenti dahulu, aku sudah tidak kuat. Wu Yi Feng merebahkan tubuhnya di rerumputan. Bocah itu menutup matanya dan mencoba menstabilkan napasnya yang memburu.
"Kemampuan dan juga jurus - jurusmu sudah lumayan bagus, hanya saja stamina dan kondisi fisikmu masih dibawa standart.." Ujar Luo Yun Xi memberikan penilaiannya.
Wu Yi Feng mengangguk, ia tak membantah karena memang kenyataannya seperti itu. Selama ini ia terlalu fokus mengumpulkan Qi dan belajar jurus - jurus baru hingga lupa menempa fisik dan staminanya.