
Setelah menghirup napas panjang Wu Yi Feng keluar dari persembunyiannya lalu berjalan santai ke arah para penjaga.
Keempat penjaga yang melihat Wu Yi Feng hanya bisa tercengang, sebelum mereka sempat berteriak Wu Yi Feng dengan cepat melemparkan pisau kecil yang menancap pada batang tenggorokan mereka masing - masing dan membunuh keempatnya sekaligus.
Wu Yi Feng sempat mencuri lihat ke dalam tenda yang ternyata terdapat tiga bilik atau kamar yang tertutup, beberapa meja kursi, beberapa rak senjata dan juga satu ruangan penjara, dimana didalamnya ada puluhan gadis yang ditawan sedangkan untuk kawanan perampoknya sendiri hanya berjumlah sekitar 50-an orang.
Wu Yi Feng memasuki tenda kemudian dengan cepat melemparkan beberapa pisau ke arah kawanan perampok yang jaraknya paling jauh dari tempatnya berdiri. Setelah merobohkan lima orang perampok menggunakan pisau, dengan sigap Wu Yi Feng menarik kedua pedangnya lalu menebas leher serta menusuk jantung kawanan perampok.
Saking cepatnya gerakan Wu Yi Feng, mereka bahkan tidak sempat untuk sekedar berucap, apalagi sampai berteriak. Hingga bagi mereka yang tidak melihatnya sendiri akan sulit mempercayai jika lima puluh orang bisa terbunuh hanya dalam beberapa tarikan napas saja.
Yang mengherankan adalah gadis - gadis yang menjadi tawanan perampok sama sekali tidak berteriak histeris atau sampai berteriak, mereka bahkan terkesan acuh dan sama sekali tak peduli meskipun di hadapan mereka sedang terjadi sebuah pembantaian.
Tatapan kosong para gadis yang menjadi tawanan itu seolah menceritakan bahwa mereka telah menjalani hari - hari yang kelam selama menjadi tahanan.
Wu Yi Feng sempat terlarut dengan perasaan itu sesaat sebelum kembali tersadar dan melanjutkan rencananya, ketika satu persatu bilik ia buka, sebuah pemandangan tidak senonoh terpampang di hadapannya.
Rupanya bilik - bilik tersebut merupakan sebuah kamar yang memang tersedia bagi para kawanan perampok untuk melampiaskan libido mereka. Para gadis yang menjadi tawanan mereka, satu persatu digilir dan dijadikan obyek pelampiasan sebelum akhirnya dijual sebagai pelac-ur pada germo - germo yang banyak ditemui pada kota - kota besar, tentunya dengan harga yang cukup mahal.
Melihat bagaiman seorang wanita dilecehkan di injak - injak harga dirinya, Wu Yi Feng tak sanggup lagi menguasai diri. Pemuda itu kehilangan kontrol atas dirinya sendiri, dengan buas Wu Yi Feng mencabik cabik laki - laki tersebut hingga tubuhnya tak lagi bisa dikenali.
"Ambil ini, lekas tutupi tubuh kalian.." Ucap Wu Yi Feng sembari memberikan selimut kepada ketiga gadis yang baru saja di gagahi.
Wu Yi Feng menghancurkan rantai serta gembok lalu membebaskan para tawanan, namun gadis - gadis tersebut bukannya senang. Mereka malah berteriak histeris, bahkan beberapa dari mereka memungut pisau serta pedang yang tergeletak disana lalu tanpa ragu menusuk leher dan jantungnya.
Rupanya trauma yang mereka alami begitu dalam hingga gadis - gadis tersebut lebih memilih mati daripada menangung beban seumur hidup.
"Kenapa kau menyelamatkan kami?? Kenapa?? Sekarang kamu harus kemana?? Apakah mungkin ada yang mau menerima setelah mereka mengetahui aib kami??"
"Kalau begitu jangan biarkan siapapun tahu, pergilah sejauh mungkin dari tempat ini, buka lembaran baru dengan nama baru, identitas yang baru.. Percayalah kalian juga berhak untuk merasakan kebahagiaan...!!!"
Gadis - gadis itu mulai menangis, seolah mereka ingin melepaskan semua beban dan kesedihan yang selama ini mereka pendam. Isak tangis mengiringi pembantaian malam itu.
Setelah gadis - gadis tersebut mulai bisa menguasai diri, Wu Yi Feng membagikan beberapa puluh koin emas kepada tiap gadis sebagai bekal dan juga modal jika mereka ingin memulai sebuah usaha.
Setelah seluruh gadis - gadis itu pergi, Wu Yi Feng mulai mengosongkan markas cabang pertama dari topeng kematian yang ia hancurkan.
Wu Yi Feng melesat cepat menuju ke arah tenggara, dimana menurut keterangan yang ia dapatkan, terdapat satu markas cabang lagi.
Wu Yi Feng merasakan keanehan begitu ia sampai di markas cabang kedua, yaitu tidak adanya tanda - tanda kehidupan. Karena penasaran Wu Yi Feng keluar dari persembunyiannya lalu memasuki tenda. Dan ternyata benar kecurigaannya, markas cabang tersebut rupanya telah dikosongkan.
Wu Yi Feng yang marah membakar markas cabang kedua hingga tak berbekas, "Tidak mungkin ada kebocoran.. Semua kawanan perampok telah kuhabisi dan tidak ada satupun yang berhasil meloloskan diri.." Pikir Wu Yi Feng dalam hati.
"Mereka pasti belum jauh, aku harus segera menemukan mereka.." Wu Yi Feng melesat terbang tinggi ke awan, lalu dengan menggunakan ketajaman matanya ia mulai memeriksa wilayah sekitar.
Sekitar sepuluh kilometer arah tenggara dari markas cabang yang ditinggalkan, terlihat iring - iringan pasukan berkuda. Kawanan perampok yang berjumlah sekitar 200an orang bergerak dengan cepat, nampak mereka membawa dua kotak besar yang berisi para tawanan baik laki - laki maupun perempuan.
"Hei Guo bunuh semuanya kecuali pemimpin pasukan dan para tawanan.." Wu Yi Feng melemparkan pedang lava ke udara, seketika pedang tersebut melesat menuju ke arah rombongan perampok.
Menggunakan kegelapan malam Wu Yi Feng mulai serangannya, puluhan pisau terbang mulai merenggut korban. Kawanan perampok yang terkejut karena mendapat serangan mendadak menjadi kocar kacir, bahkan banyak diantara mereka yang akhirnya meninggalkan barisan untuk melarikan diri meskipun akhirnya terbunuh juga oleh pedang lava.
"Pengecut..!!! Tunjukkan wajahmu.." Teriak pemimpin rombongan dengan golok yang teracung.
"Menghadapai sampah seperti kalian, cara apapun akan aku lakukan..!!"
"Cihhh.. Berkumpul, perhatikan sekitar..!!!"
"Arrrgggghhhhh..."
"Argggghhhhh..."
Makin banyak saja korban dari pedang lava dan juga pisau terbang yang dilepaskan oleh Wu Yi Feng, melawan sesuatu yang bahkan tak terlihat membuat mental mereka hancur dalam sekejap.
"Bedebah..!!! Menggunakan senjata rahasia seperti ini di kegelapan malam.."
"Merindukanku??" Wu Yi Feng akhirnya menampakkan dirinya karena telah kehabisan pisau, tanpa banyak bicara Wu Yi Feng menarik kedua pedangnya lalu menyerang kawanan perampok dalam satu tarikan napas.
"Jangan takut, dia hanya seorang diri..!! Kepung dia, maju secara bersamaan.."
"Mencoba mengurungku??" Wu Yi Feng bergerak makin cepat hingga tak satupun dari kawanan perampok yang sanggup mengikuti.
"Si.. Siapa kau?? Apa maumu??" Pimpinan rombongan mulai merasa putus asa ketika dalam waktu sekejap saja seluruh pasukannya telah habis terbunuh.
"Arrrrrrgggghhhh..." Wu Yi Feng menebas lengan kanan pimpinan rombongan hingga darah mulai mengalir dengan deras, lalu dengan cepat ia mencekik leher pimpinan perampok.
"Berhenti merengek seperti anak ayam dan jawab pertanyaanku, atau kupastikan kau akan merasakan siksaan yang jauh lebih mengerikan dari ini.."
"Ampun.. Ampuni hamba tuan pendekar.. Hamba masih memiliki istri dan anak.."
"Nasibmu tergantung dari jawaban yang kau berikan.."
"Ba.. Baiklah.."
Dari pengakuan pimpinan perampok, Wu Yi Feng jadi mengetahui jika sebenarnya tidak ada yang lolos dari pembantaiannya kemarin, hanya saja karena pasukan yang diutus untuk meratakan desa tidak kunjung kembali, akhirnya mereka mengambil kesimpulan bahwa telah terjadi masalah, karena itulah mereka memutuskan mengosongkan markas untuk bergabung di markas cabang lainnya.
Dari pengakuan pemimpin perampok juga Wu Yi Feng mengetahui jika terdapat sepuluh sampai lima belas markas topeng kematian lain yang tersebar di sekitar ibukota kekaisaran Song, dengan dua ratus hingga tiga ratus anggota di tiap markas cabangnya.