
Satu persatu peserta calon murid sekte atau perguruan pedang langit memasuki labirin raksasa yang ada di hadapan mereka.
Tak butuh waktu lama bagi Wu Yi Feng untuk menyadari bahwa tes kedua ini jauh lebih berat dibandingkan tes pertama yang hanya sekedar melihat bakat seseorang.
Tes kedua ini merupakan tes saringan utama, dimana sekte pedang langit ingin mengurangi jumlah peserta sebanyak mungkin dan mendapatkan bibit - bibit unggul.
Sudah setengah jam berlalu, namun belum ada satupun peserta yang berhasil keluar dari labirin tersebut. Hampir semua menyerah dengan cara melepaskan kembang api dan meminta bantuan.
Banyaknya peserta yang gagal sedikit banyak mempengaruhi mental juang peserta yang masih tersisa, kasak kusuk pun mulai terdengar. Bahkan ada yang menyerah dan pergi dari tempat itu bahkan sebelum memasuki labirin.
"Apakah kita akan terus atau menyerah?" Tanya Bai Lang.
"Menyerah itu hanya bagi mereka yang lemah..!!" Seru Wan Ming, yang membuat Wu Yi Feng tersenyum.
Wu Yi Feng menghembuskan napas panjang, dirinya menjadi yang pertama dipanggil dari keempat temannya. Wu Yi Feng mempersiapkan pedangnya dalam genggaman dan berjalan menuju pintu masuk labirin dengan hati berdebar.
"Semangat saudara Feng..!!"
"Kau bisa saudara Feng..!!!"
"Maju.. Maju Wu Yi Feng.."
Terdengar teriakan dari ketiga sahabatnya yang membuat Wu Yi Feng agak sedikit malu karena itu membuatnya menjadi pusat perhatian hampir seluruh peserta di tempat itu.
"Aturannya sederhana, kau hanya perlu menemukan jalan keluar di labirin ini. Di dalam akan ada bermacam jebakan dan rintangan yang menghadangmu, dan juga ini bawalah, gunakan jika kau sudah mau menyerah." Seorang perempuan berusia sekitar 30 tahunan menjelaskan peraturannya sekali lagi dan memberikan sebuah kembang api kepada Wu Yi Feng.
"Terima kasih.." Wu Yi Feng menyimpan kembang api itu di cincin ruangnya dan mulai melangkah memasuki labirin sambil berkonsentrasi penuh.
Beberapa meter setelah pintu masuk, tak ada yang terjadi. Wu Yi Feng tetap berjalan pelan sambil memposisikan tangan di gagang pedang, siap untuk mencabut sewaktu - waktu.
Selang beberapa menit, Wu Yi Feng jadi merasakan sesuatu yang ganjil. Ada perasaan aneh, sebuah perasaan takut yang tiba - tiba saja menderanya, dan menyiutkan nyalinya, padahal belum ada satupun halangan dan rintangan yang muncul.
Wu Yi Fenh menutup mata dan mulai berkonsentrasi, ia juga bertanya tanya pada dirinya sendiri. Apakah tes kedua ini sebenarnya adalah ujian mental??
Betapa terkejutnya Wu Yi Fenh ketika ia membuka matanya, dihadapannya muncul sosok yang selama ini sangat ia benci. Tanpa pikir panjang ia segera mencabut pedangnya dan menyerang sosok yang menyerupai Huang Litao.
"Lemah... Kelemahanmu lah yang membuat ayah dan ibumu terbunuh..!!" Sosok yang menyerupai Huang Litao membisikkan kata - kata yang membuat kemarahan Wu Yi Feng meledak.
"Tidak.. Kau lah pembunuh mereka..!!! Hari ini aku pasti membunuhmu..!!" Wu Yi Feng terus mengayunkan pedangnya, namun sosok Huang Litao di depannya sama sekali tak terluka.
Wu Yi Feng menyarungkan kembali pedangnya dan memilih untuk duduk bermeditasi, kemunculan sosok Huang Litao memang sempat membuat akal sehatnya menghilang karena amarah dan dendam yang membara di dalam dada.
Bocah kecil itu mencoba menstabilkan napasnya sambil berkonsentrasi, sejak awal sebenarnya ia sadar bahwa Huang Litao yang ada di hadapannya hanya bayangan dan halusinasinya semata.
Perlahan lahan napasnya mulai teratur dan emosinya mereda, Wu Yi Feng mulai membuka mata kembali dan menemukan bayangan Huang Litao di hadapannya telah menghilang.
Dengan perlahan Wu Yi Feng melangkah kembali, tapi baru sekitar sepuluh langkah maju, dua buah boneka yang terbuat dari kayu dengan membawa senjata pedang dan tombak menghadangnya.
Boneka kayu tersebut mulai menyerangnya secara bersamaaan, Wu Yi Feng memilih mundur sejenak sebelum kemudian balas menyerang dengan menggunakan jurus pedang empat musim miliknya.
"Jurus Pedang Empat Musim, Tarian Pedang Musim Gugur.."
Wu Yi Fan meliuk liuk menghindari serangan kedua boneka kayu, sekaligus memberikan serangan yang tak kalah tajamnya. Tak terasa sudah puluhan jurus telah mereka adu, hingga akhirnya kedua boneka kayu tersebut masuk kembali kedalam labirin dan membuka jalan bagi Wu Yi Feng.
Hadangan selanjutnya adalah seekor siluman berusia puluhan tahun berjenis kelinci ekor hitam, dimana ditengah dahinya ada sebuah tanduk runcing yang memancarkan listrik.
Siluman tersebut tidak menakutkan, tapi kelincahannya membuat Wu Yi Feng kewalahan, berkali kali Wu Yi Feng harus merasakan sengatannya tanpa bisa membalas.
"Auuwww... Sakittt.."
Wu Yi Fenh menggosok - gosok lengan kirinya yang terkena serangan listrik dari siluman kelinci ekor hitam. Meskipun serangannya tidak mematikan namun lumayan menyakitkan.
Siluman kelinci ekor hitam memaksa Wu Yi Feng memakai teknik naga, Langkah Petir.. Wu Yi Feng menendang siluman kelinci ekor hitam ketika jarak dirinya dengan siluman tersebut mendekat.
PLAKKKKKKK...
Satu sepakan dari Wu Yi Feng sudah cukup membuat siluman kelinci ekor hitam kehilangan kesadaran. Wu Yi Feng bergegas melanjutkan perjalannya kembali.
Setelah hampir lima belas menit, akhirnya Wu Yi Frng berhasil juga keluar dari labirin tersebut dengan keringat yang bercucuran. Di pintu keluar ia sudah disambut oleh seorang guru yang mengecek medali yang untungnya tidak lupa diambil oleh Wu Yi Feng sebelum keluar. Guru tersebut menyuruhnya beristirahat serta menyantap hidangan yang telah disediakan setelah mengecek medali yang dibawa oleh Wu Yi Feng.
"Selamat karena sudah berhasil menyusuri labirin, jaga baik - baik medali ini dan silahkan beristirahat serta menikmati makanan yang telah disediakan." Ucap guru tersebut sambil tersenyum ramah.
Wu Yi Feng sempat melihat bahwa di tempat ia dan teman - temannya duduk semula sudah kosong, itu artinya ketiga temannya juga sudah memasuki labirin.
Wu Yi Feng hanya bisa berdoa supaya ketiga temannya berhasil menyusuri labirin, sedangkan ia sendiri mencari meja kosong di pojok setelah mengambil beberapa potong ayam dan nasi secukupnya.
Di ruangan tersebut selain dirinya hanya ada beberapa orang, itu berarti tes kedua ini sudah mengeliminasi banyak peserta. Di tenda tempatnya makan juga terdapat beberapa orang tenaga medis atau yang umum disebut tabib. Mereka disiagakan disana untuk memberikan perawatan bagi para peserta yang mengalami luka.