The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Kota Angin Selatan



Setelah menempuh perjalan kurang lebih dua pekan, akhirnya mereka berdua sampai juga di gerbang kota Nan Feng atau lebih dikenal dengan Kota Angin Selatan.


Kota Nan Feng merupakan salah satu kota terbesar dan terluas di kekaisaran Han, di kota ini juga berdiri dua perguruan silat atau beladiri besar yaitu Sekte Serikat Pedang dan juga Sekte Angin Selatan, itu belum puluhan perguruan kecil yang tersebar di penjuru kota.


Keluarga Xiao sendiri merupakan salah satu diantara tiga keluarga dagang terbesar yang ada di kota tersebut, meskipun di kota Nan Feng sendiri ada sekian banyak keluarga pedagang, dan walaupun bukan yang terbesar namun keluarga besar Xiao adalah keluarga yang cukup terpandang dan disegani.


"Chen - Chen... Syukurlah kau selamat.." Teriak seorang gadis seumuran Wu Yi Feng dari kejauhan, gadis tersebut berlari dan memeluk Xiao Chen dengan erat, sangat wajar jika gadis itu terisak, karena Xiao Chen menghilang hampir empat bulan tanpa kabar setelah berita tentang penyerangan karavan dagang keluarga mereka tersebar.


"Maafkan aku kak, aku gagal melindungi ayah dan ibu.." Ucap Xiao Chen sambil melipat wajahnya.


"Sudahlah, aku yakin ayah dan ibu juga pasti mengerti.." Pungkas gadis yang ternyata adalah kakak dari Xiao Chen.


"Guru, perkenalkan ini kakakku, Xiao Hu.. Kakak ini guruku.."


"Tuan, terima kasih telah menyelamatkan adikku.."


"Sama - sama.." Jawab Wu Yi Feng singkat.


"Kalau boleh tahu, siapa nama anda tuan??" Tanya Xiao Hu ketika mereka sedang berjalan bersama menuju ke kediaman keluarga besar Xiao.


"Namaku Wu Yi Feng.."


"Selamat datang di kota Nan Feng tuan Wu Yi Feng.." Ucap Xiao Hu sambil tersenyum.


Rumah kediaman keluarga besar Xiao ternyata begitu luas, tidak kalah dengan sekte pedang langit, didalamnya ada banyak sekali kamar, dan tak lupa kolam ikan koi yang mengelilinginya. Di dalamnya juga terdapat banyak pepohonan rimbun yang membuat udara disana terasa sejuk, di tengah tengah ada sebuah tanah lapang yang biasanya dipergunakan sebagai tempat untuk berlatih ataupun juga tempat menautkan kuda para tamu.


Tidak sembarang orang bisa memasuki kediaman keluarga besar Xiao, pintu gerbangnya di jaga oleh pendekar tingkat ahli menengah yang secara bergantian juga berkeliling ke sekeliling rumah.


Ayah dari Xiao Chen sendiri merupakan anak ke dua dari lima bersaudara Xiao, keempat saudara yang lain juga tinggal bersama di sana, bahkan kakek dan nenek Xiao Chen juga masih ada.


"Tuan Wu, silahkan anda beristirahat terlebih dahulu, anda pasti lelah karena sudah melakukan perjalanan yang cukup jauh. Pelayan sudah menyiapkan kamar anda." Xiao Hu mengantar Wu Yi Feng hingga di depan deretan kamar tamu.


"Baiklah kalau begitu.." Wu Yi Feng pun memasuki kamar yang telah ditunjuk oleh pelayan, kamar tersebut begitu luas dan bagus, bahkan kamarnya di sekte pedang langit hanya seukuran kamar mandi yang ada di kamar tamu keluarga Xiao.


Baru saja hendak beristirahat, Wu Yi Feng terbangun ketika ada sebuah suara memanggilnya dari luar pintu kamar, "Guru, kakak menyuruhku kemari.. Sudah waktunya makan malam, ayo ikut denganku.." Rupanya Xiao Chen yang datang karena hendak mengajaknya untuk makan malam.


"Masuklah, tunggu sebentar.. Aku cuci muka terlebih dahulu.."


Tak lama kemudian keduanya berjalan beriringan menuju ke ruang makan, disana terlihat sebuah meja panjang dengan aneka hidangan lezat di tengahnya, sedangkan di sisi - sisinya telah berkumpul keluarga besar Xiao.


"Maaf karena aku membuat makan malam kalian terganggu.." Ucap Wu Yi Feng.


"Sudahlah, pendekar Feng sudah menempuh perjalan jauh, wajar jika capek dan ketiduran.. Ayo silahkan duduk jangan sungkan.." Balas seorang pria tua yang kelihatan masih cukup bertenaga.


"Itu kakek.." Jelas Xiao Chen setelah mereka berdua mengambil tempat duduk.


"Benarkah?? Kakekmu terlihat masih muda.."


"Tentu saja, itu karena setiap hari kakek selalu berlatih pernapasan.."


"Sudah - sudah, jangan bicara lagi Chen - Chen... Tuan Feng silahkan dinikmati hidangannya.." Sergah Xiao Hu, mempersilahkan semuanya untuk menyantap hidangan yang telah disediakan.


"Nona Xiao, terima kasih atas jamuan makan malamnya.. Urusanku disini sudah selesai, besok pagi aku akan segera pergi." Ucap Wu Yi Feng kepada Xiao Hu ketika keduanya bertemu di sebuah taman.


"Kalau begitu aku akan beristirahat terlebih dahulu nona, selamat malam.." Wu Yi Feng meninggalkan Xiao Hu sendirian, pemuda tampan itu kembali ke kamarnya.


Keesokan paginya, Wu Yi Feng telah bersiap, ia menuntun kudanya keluar dari kompleks perumahan keluarga besar Xiao. Matahari baru saja terbit saat itu, tapi Wu Yi Feng sudah melaju kencang menerobos dinginnya embun di pagi hari. Wu Yi Feng sengaja pergi tanpa berpamitan kepada Xiao Chen karena setelah bersama sama selama kurang lebih empat bulan, berat baginya untuk sekedar pamit.


Wu Yi Feng melaju menuju ke sisi lain dari kota angin selatan, di kanan dan kiri terlihat perguruan silat yang cukup besar. Wu Yi Feng memutuskan berhenti di sebuah kedai kecil di pinggir jalan.


"Pelayan, tolong araknya seguci.."


"Hari masih pagi tapi anda sudah mau minum - minum tuan??"


"Hmm.."


"Baiklah, mohon tunggu sebentar.."


Selain Wu Yi Feng, disana terlihat ada juga dua orang pendekar muda yang sedang menyantap hidangan, awalnya mereka seakan tak acuh terhadap kehadiran Wu Yi Feng, tapi semua berubah ketika Wu Yi Feng memesan seguci arak.


"Dilihat dari usiamu, kau seharusnya adalah murid salah satu perguruan silat.. Apakah ditempatmu tidak ada larangan meminum arak sampai usia tertentu..??" Salah satu diantaranya mendekati Wu Yi Feng.


Wu Yi Feng menuang araknya ke dalam sebuah gelas kecil, ia mencoba mengacuhkan keduanya, namun mereka malah menggebrak meja karena merasa tidak dianggap.


BRUAAAKKKKKK...


"Hei, kau tidak tuli kan?? Saudaraku bertanya kepadamu...!!!"


"Siapa?? Aku..???" Wu Yi Feng menghentikan acara minumnya dan mulai menatap keduanya.


"Maaf, tapi aku rasa apapun yang aku minum bukanlah urusan kalian.." Jawab Wu Yi Feng.


"Hahahaha.. Kau benar - benar tidak punya sopan santun..!!! Hari ini biar aku yang mengajarimu apa itu sopan santun..!!!"


"Hiyaaaaaaa..." Salah satu dari mereka menerjang Wu Yi Feng dengan pedangnya, sedangkan Wu Yi Feng hanya menghindarinya dengan gerakan - gerakan ringan.


"Ukur kemampuan kalian terlebih dahulu sebelum menyerang seseorang.." Seru Wu Yi Feng sambil kembali menuang arak kedalam gelas kecilnya.


"Cihhh.. Masih berlagak, kami berdua adalah murid dari sekte Serikat Pedang.. Tidak akan kalah oleh pendekar yang tidak jelas asal usulnya seperti dirimu..."


"Aku bahkan tidak peduli kalian berasal dari perguruan mana.."


"Rasa sombongmu sudah tidak bisa ditolong lagi, adik aku akan membantumu.." Keduanya memainkan pedangnya bersamaan, namun menyentuh sehelai rambut dari Wu Yi Feng pun mereka tak sanggup.


"Cukup..."


BLAAAAMMMMM...


BLAAAAMMMMM...


Wu Yi Feng menyerang keduanya dengan dua tapak beruntun, membuat mereka terdorong kebelakang dengan keras hingga menghancurkan bangku dan meja.


"Aku harap kejadian hari ini bisa kalian jadikan sebagai pelajaran..!!" Wu Yi Feng memberikan tiga keping emas kepada pelayan sebagai kompensasi kerusakan, Wu Yi Feng kemudian keluar dari kedai dan hendak melajukan kudanya ketika seorang pria paruh baya menghentikan langkahnya.