
Keduanya terlibat pembicaraan yang sangat dalam selama beberapa waktu, banyak masukan yang Xun JeHa berikan kepada Wu Yi Feng. Pemuda itu merasa malu, karena menyadari bahwa dirinya ternyata masih banyak kekurangan, khususnya di bidang pengaturan Qi.
Wu Yi Feng juga akhirnya mengetahui kemana para pilar pergi selama ini, dan juga guru dari shen Liang yang tidak lain adalah sang Pilar Bumi.
Sebelum pamit, Xun JeHa memberikan secarik kertas yang berisi jurus pamungkas dari teknik naga langit. Jurus ini memang sengaja ia hilangkan dari kitab yang ia berikan kepada para pilar, kitab yang pada akhirnya sampai ke tangan Wu Yi Feng.
"Jurus Dewa Petir??" Wu Yi Feng mulai membaca kertas yang diberikan oleh Xun JeHa.
Bahkan membacanya saja membuat Wu Yi Feng merinding, jurus itu terlalu berbahaya apabila jatuh ke tangan yang salah. Dengan kecerdasannya ia bisa menghafal semua tekniknya dalam beberapa kali membaca saja, Wu Yi Feng pun segera membakar kertas yang berisi catatan dewa petir hingga menjadi abu, supaya jurus tersebut tetap aman.
"Lebih baik aku mempelajari jurus tersebut secara perlahan karena efek dari jurus tersebut sangat mengerikan apabila gagal." Batin Wu Yi Feng sembari tidur di kamarnya.
Tiga bulan berlalu setelah turnamen, Wu Yi Feng dan teman - temannya yang kini telah menjadi murid tingkat empat pun diharuskan mengambil sebuah misi tiap beberapa waktu sekali, dan misi pertama Wu Yi Feng adalah membasmi bandit jalanan di wilayah perbatasan kekaisaran Song.
Wu Yi Feng akan menjalankan misi tersebut berdua bersama Bai Lang, sedangkan Wan Ming, Chau Li dan juga Wang Fei Lin sudah terlebih dahulu menjalankan misi mereka bersama dengan para murid tingkat empat lainnya.
Daerah yang akan mereka datangi merupakan sebuah dataran tinggi yang hampir selalu tertutup oleh salju, Ketua pelaksana misi memberikan tiga hari bagi Wu Yi Feng dan juga Bai Lang untuk bersiap siap sekaligus mencari informasi tentang kondisi dan keseluruhan misi yang akan mereka kerjakan.
Wu Yi Feng menyiapkan beberapa set baju ganti dan mantel tebal lalu memasukkannya kedalam cincin ruang. Pemuda itu juga membawa beberapa kitab sebagai bahan bacaan selama di perjalanan.
tak terasa tiga hari berlalu, Wu Yi Feng dan juga Bai Lang menemui bagian admistrasi sekte untuk mengambil kuda, surat perintah misi dan juga perbekalan untuk menjalankan misi termasuk dua kantong yang berisi puluhan koin uang emas dan dua kantong kecil berisi pil penawar racun, penyembuh luka dan pengembali stamina.
Wu Yi Feng dan juga Bai Lang segera memacu kuda mereka menuju ke arah tenggara, lokasi misi yang akan mereka datangi kali ini cukup jauh dan memakan waktu lebih dari tiga minggu jika menggunakan kuda.
Bagi Wu Yi Feng dan juga Bai Lang, ini adalah pertama kalinya mereka keluar dari area sekte setelah hampir setahun lamanya berada di dalam dan belajar seni bela diri.
"Saudara Feng, akhirnya kita bisa keluar juga.. Aku sudah rindu ingin melihat lihat dunia luar.." Seru Bai Lang.
"Kau benar saudara Bai, sudah lama kita tidak berpetualang seperti ini.." Timpal Wu Yi Feng.
Keduanya terlibat obrolan di sepanjang perjalanan, mereka memacu kuda mereka hingga senja perlahan datang dan memaksa mereka untuk berhenti.
"Aku akan mencari kayu untuk membuat api unggun, tolong kau siapkan tendanya saudara Bai.." Ujar Wu Yi Feng.
"Baiklah saudara Feng.." Bai Lang segera menarik sebuah tenda kecil dari cincin ruang dan menatanya, sedangkan Wu Yi Feng masuk kedalam hutan.
Tak lama kemudian, Wu Yi Feng kembali dengan membawa beberapa tumpuk kayu dan juga dua ekor kelinci, Bai Lang segera meneteskan air liurnya begitu melihat kedua kelinci gemuk yang dibawa oleh Wu Yi Feng.
"Wah ini namanya rejeki dari dewa, sini biar aku yang menguliti dan memasak kedua kelinci tersebut saudara Feng.." Seru Bai Lang yang sudah tak sabar.
Wu Yi Feng hanya tersenyum dan memberikan kedua kelinci tersebut kepada Bai Lang, sedangkan ia sendiri mulai membuat api unggun.
Selang berapa lama kelinci bakar mereka akhinya matang juga, Bai Lang segera mengambil bagian yang paling besar dan memakannya dengan lahap.
Wu Yi Feng beristirahat terlebih dahulu, sedangkan Bai Lang menjaga sambil menghabiskan sisa kelinci milik Wu Yi Feng. Suasana malam yang tenang dan langit yang berawan membuat keduanya terlelap hingga fajar menyingsing.
Pagi harinya setelah membersihkan semua sisa semalam, keduanya segera memacu kuda mereka dengan cepat demi bisa mencapai kota atau desa terdekat sebelum malam menjelang.
Sementara itu di kekaisaran Han, peralihan kekuasaan dari kaisar Lee Hei Bei ke putra mahkota Hei Long membuat suasana di dalam istana menjadi panas dan tidak kondusif, apalagi banyak yang merasa bahwa pangeran Hei Wan dianggap jauh lebih pantas menjadi putra mahkota, terlepas dari hasil pertandingan yang dimenangkan oleh oangeran Hei Long.
Kondisi tersebut diperparah oleh pemberontakan yang makin sering terjadi di berbagai daerah karena banyak pihak yang merasa terabaikan akhirnya mencoba mencari keadilan dengan jalannya sendiri.
"Huang Litao, aku menagih janjimu..!! Kau berkata bahwa sekte tombak ganda akan mengatasi pemberontakan yang terjadi.." Teriak kaisar Hei Long.
"Ampun Kaisar, pihak kami sedang berusaha untuk menumpas gerakan pemberontak secepat mungkin, tapi para pemberontak tumbuh bahkan lebih cepat dibandingkan jamur di musim penghujan.." Jawab Huang Litao yang geram karena merasa dipojokkan oleh sang Kaisar.
"Jangan banyak alasan, kerajaan sudah memberikan banyak sekali dana untuk sekte tombak ganda dan sekutunya, aku tidak mau tahu, para pemberontak harus segera ditumpas dalam waktu dekat..!!!" Ucap kaisar sambil meninggalkan ruang, yang disusul kemudian oleh para menteri dan pejabat yang lain.
Tubuh Huang Litao bergetar, amarah memenuhi otaknya. ingin rasanya ia menyerang sang kaisar dihadapan para menteri, namun akal sehatnya masih bisa ia gunakan. Pria paruh baya itu akhirnya pergi meninggalkan istana dengan wajah masam.