
BLAAAAMMMMM...
BLAAAAARRRRRR...
Suara meriam dan lambung kapal yang bertemu memecah keheningan malam ini, membuat semua orang di kapal menjadi terkejut. Bahkan Wu Yi Feng yang mengetahui beberapa detik sebelum bola meriam menghajar lambung kapal tidak bisa apa apa, pemuda tampan itu hanya bisa melompat dan menyelamatkan beberapa orang prajurit dari ledakan, sedangkan nasib rekannya Choi Dal Po dan yang lainnya masih belum bisa ia pastikan.
Serangan mendadak dari para bajak laut jelas tidak masuk dalam perhitungan, apalagi di gelapnya malam seperti sekarang ini. Dan meskipun pasukan kekaisaran jauh lebih banyak, namun pertempuran di atas laut jelas berbeda jauh dengan pertempuran di darat.
Para awak kapal kekaisaran segera menutup kebocoran di lambung kapal, di waktu bersamaan mereka juga melepaskan serangan balasan yang sampai saat ini telah berhasil menenggelamkan tiga perahu milik para bajak laut.
SRUUUUTTTTT..
Para kawanan bajak laut yang mendekat mulai menjulurkan tali, lalu dengan cepatnya mereka melintasi tali tersebut. Pasukan kerajaan dibantu para pendekar tidak tinggal diam, mereka memanah dan memotong tali tersebut meskipun masih saja ada kawanan bajak laut yang berhasil sampai ke kapal kerajaan dan membunuh para prajurit.
Api yang berkobar - kobar membuat malam yang tadinya gelap menjadi terang benderang. Suara logam beradu, ledakan meriam, kayu yang terbakar dan teriakan kesakitan menjadi satu.
Suasana sangat kacau malam itu, Wu Yi Feng lebih memilih untuk mempercayai teman - temannya daripada harus berkeliaran guna mencari mereka. Pemuda itu mengambil pedang penari malam dari cincin ruangnya dan segera menebas setiap musuh yang mendekat. Tarian dari jurus pedang empat musim menggeliat indah diantara banyaknya orang yang sedang bertarung.
Tak jauh dari tempat Wu Yi Feng, seorang pemuda masih berusaha mensetabilkan tubuhnya ditengah ombak lautan. Pemuda yang sedari tadi tersiksa karena mabuk laut itu belum bisa membantu serangan karena sampai saat ini masih sibuk menemukan cara untuk bertarung di lautan.
Choi Dal Po melihat Wu Yi Feng sedang dikepung puluhan kawanan bajak laut namun alih - alih menolong, untuk berdiri dengan tegap saja pemuda ini masih kewalahan.
"Ini terakhir kalinya aku ke laut, sungguh aku benci lautan..." Gumamnya sambil mengutuk diri sendiri.
Dengan mengandalkan tubuhnya yang lentur Choi Dal Po melawan kawanan bajak laut, sedikit demi sedikit pemuda itu mampu menemukan keseimbangannya sehingga ia mulai bisa beradaptasi dengan keadaan.
"Api Raja Neraka..."
Choi Dal Po melepaskan energinya, dari mulutnya menyembur api yang sangat besar hingga membakar beberapa kawanan bajak laut.
BYUUUURRRRRR....
BYUUUURRRRRR...
Beberapa anggota bajak laut lebih memilih menceburkan diri ke air laut yang sangat dingin daripada terbakar api dari Choi Dal Po. Mengetahui ada pemuda yang berpotensi merepotkan, akhirnya puluhan anggota bajak laut mulai mengepung Choi, diantara mereka terlihat satu orang yang berbeda, sosok tersebut memiliki tenaga gelap yang cukup pekat dan besar.
Di kapal lain, Shen Liang terlihat sedang membantu para prajurit kerajaan untuk memotong tali yang dikaitkan oleh para kawanan bajak laut. Pemuda yang tidak bisa melihat tersebut mengayunkan pedangnya kesana kemari untuk memotong tali dan menjatuhkan kawanan bajak laut.
Tanpa aba - aba, Shen Liang dan juga Wan Ming melompat ke perahu yang berisi para anggota bajak laut. Keduanya menerjang kelompok bajak laut dengan gagah berani, melihat hal tersebut, perwakilan dari sekte lainnya tidak mau kalah. Mereka segera ikut melompat dan membantu Shen Liang.
"Ingat, kami dari sekte Bangau putih juga ikut menyerang.." Seru seorang gadis cantik yang berada tepat di samping Shen Liang.
"Akan aku ingat.." Timpal Shen Liang sambil menangkis serangan lawannya.
"Hei jangan lupakan aku.. Ini semua adalah ideku.. Saudara Liang beritahu pada mereka..." Teriak Wan Ming yang cemburu melihat para murid wanita dari sekte bangau putih mengerumuni dan bertarung di sekitar Shen Liang.
"Saudara Chau, aku khawatir dengan nasib saudara Feng.. Kapalnya adalah kapal terdepan dan yang pertama kali menerima serangan.." Ucap Bai Lang yang saat ini tengah mondar mandir di atas gladak kapal.
"Sama, aku juga mencemaskan keadaannya, namun kita tidak bisa meninggalkan pos untuk mengeceknya.." Tukas Chau Li sambil menggigit ibu jarinya.
"AWAASSSSSS...."
BLAAARRRRRR....
Wu Yi Feng berhasil menyelamatkan Choi Dal Po dari hantaman bola berduri milik salah satu kawanan bajak laut di detik detik terakhir, akibat dari hantaman bola berduri tersebut sungguh fatal. Tiang layar kapal yang terbuat dari kayu padat bahkan hancur dalam sekali serangan.
"Terima kasih saudara Feng, jika saja aku yang kena mungkin sekarang kepalaku sudah hancur.." Seru Choi Dal Po sambil meraba raba kepalanya.
"Berhati hatilah.. Aku akan coba melawannya, jika ada kesempatan hajar dia dengan jurus terhebatmu.." Bisik Wu Yi Feng.
"Tapi menyerang dari belakang bukanlah ciri - ciri seorang ksatria.." Ucap Choi Dal Po dengan polosnya.
"Lupakan prinsip - prinsip tersebut.. Kita sekarang sedang berada di tengah - tengah pertempuran antara hidup dan mati.." Jelas Wu Yi Feng.
"Baiklah, aku setuju denganmu.." Choi Dal Po mengangguk anggukan kepalanya, dan sejurus kemudian pemuda itu merentangkan kedua tangannya lalu menghilang ditelan gelapnya malam.
"Hehehe.. Bocah ingusan ingin melawanku?? Masih terlalu cepat 100 tahun.." Ledek sosok tersebut yang ternyata merupakan salah satu petinggi dari kelompok bajak laut tengkorak samudera.
"Kau lah yang seharusnya malu, dengan usia setua itu harusnya kemampuanmu sudah jauh diatas ini.." Balas Wu Yi Feng sambil tersenyum sinis.
"Hahahahaha.. Kau berhasil membuatku marah bocah... Matilah kau..!!!"
WUSSSSHHHHHH...
BLAAAARRRRRRR...
Sosok tersebut melemparkan senjatanya kearah Wu Yi Feng yang untungnya masih bisa dihindari dengan cepat oleh Wu Yi Feng, pemuda itu segera maju ketika lawannya sibuk menarik senjatanya kembali.
"Jurus Pedang Empat Musim, Tarian Bangau di Musim Dingin..."
Lawannya menghindar dengan lincah, sehingga serangan Wu Yi Feng hanya menimbulkan goresan - goresan halus, dan ketika Wu Yi Feng sibuk menyerang, dari belakang meluncur dengan sangat cepat bola berduri yang menjadi senjata lawannya.
BLAAAAARRRRRR..
Wu Yi Feng beruntung, ia sadar akan bahaya di detik - detik terakhir dan menggunakan jurus langkah petir untuk segera menghindar, jika tidak pasti punggung dan juga tulang belakangnya sudah hancur saat ini. Rupanya siasat dari lawannya dengan memancing dirinya untuk menyerang begitu mengerikan.
Wu Yi Feng memasukkan kembali pedang penari malam ke cincin ruangnya, pemuda itu mulai mengambil kuda - kuda jurus pembuka dari Kitab Phoenix Nirwana.