
Lubang portal dimensi tersebut rupanya membawa Wu Yi Feng ke puncak gunung kabut petir karena sudah beberapa hari terakhir dirinya begitu merindukan gurunya dan juga suasana di sana.
Wu Yi Feng bahkan sempat memasuki goa petir dan menemui kenyataan bahwa tidak ada siapa - siapa disana, setelah berendam sejenak di kolam petir, pemuda itu pun memutuskan untuk turun gunung dan kembali ke sekte.
Wu Yi Feng lebih memilih jalur darat daripada terbang ataupun menggunakan portal dimensi karena dirinya ingin menapak tilas kenangannya ketika pertama kali turun gunung dan berkelana sendirian.
Ketika matahari tepat berada di atas kepalanya, Wu Yi Feng akhirnya tiba di kaki gunung. Dan sama seperti waktu itu, kali ini dirinya juga beristirahat di sebuah warung atau kedai dimana sekitar delapan tahun yang lalu ia berjumpa dengan ketiga sahabatnya ( Wan Ming, Bai Lang, dan juga Chau Li ) disini.
( Baca chapt. 33 Rekan seperjalanan )
"Pelayan tolong beri aku satu porsi ayam bakar dan juga seguci kecil arak terbaik yang kalian miliki.."
"Baik Tuan, silahkan duduk, kami akan segera menyiapkan pesanan anda.." Tutur pelayan yang seingat Wu Yi Feng masih tetap sopan.
Sambil tersenyum Wu Yi Feng memilih tempat duduk yang sama dengan tempat dimana dirinya duduk waktu kemari delapan tahun silam karena kebetulan saat ini kedai atau warung makan tersebut sedang tidak terlalu ramai dengan pengunjung.
Tak berselang lama, pelayan tersebut pun membawakan pesanan Wu Yi Feng, dan karena merasa lapar tanpa basa basi pemuda itu segera mencabut salah satu paha ayam dan memasukannya ke dalam mulut.
"Hmm.. Rupanya mereka mengikuti saran yang aku berikan.. Ayam bakar ini lezat sekali.." Batin Wu Yi Feng sambil menikmati makanannya.
Aroma arak yang kuat dan harum membuat Wu Yi Feng sampai memesan arak tersebut hingga tiga kali, setelah kenyang Wu Yi Feng menemui meja kasir dan membayar semuanya dengan dua keping tail emas atau dua keping koin emas.
"Tuan muda ini terlalu banyak.." Seru sang pelayan.
"Bungkuskan aku dua porsi ayam bakar dan juga lima guci arak terbaik kalian.."
"Tetap saja ini masih terlalu banyak, bahkan satu koin emas saja sudah lebih dari cukup Tuan.."
"Anggap saja aku membayar untuk kenangan dan kesopanan kalian, ambillah atau aku akan marah.." Jawab Wu Yi Feng sambil tersenyum.
"Ba.. Baiklah, terima kasih Tuan muda.. Pesanan anda akan segera kami siapkan.."
Wu Yi Feng kembali berjalan, mengikuti jalan setapak yang ada disana. Dan jika perhitungannya tepat maka malam ini dirinya akan bermalam di tepian hutan.
Setelah membuat api unggun dan menghangatkan daging bakarnya serta mengeluarkan dua guci kecil arak dari cincin penyimpanannya, Wu Yi Feng yang sudah lama tidak memeriksa apa saja isi dari cincin ruang utama miliknya yang berwarna hitam mengkilat, pemuda itu pun segera berkonsentrasi untuk melihat seluruh isinya.
Rupanya selain tumpukan koin emas yang menjulang tinggi, ia juga memiliki banyak sekali batuan berharga dan juga ratusan cek yang nilainya tidak kalah dari gunungan koin emas yang saat ini ia miliki. Selain itu terdapat juga banyak sekali bahan - bahan langka pembuat pil dan ramuan kuno, menelisik lebih jauh lagi, Wu Yi Feng menemukan senjata - senjata dan pusaka yang dikelompokkan menurut kualitasnya.
Hingga sebuah pusaka berwarna biru kehijauan mengusik ingatannya, rupanya itu adalah pedang hadiah ulang tahun pemberian dari gurunya. Nama pedang tersebut adalah Pedang Aurora, sebuah pusaka langit yang waktu itu tidak bisa ia buka dari sarungnya karena kemampuannya masih rendah. ( Baca chapt. 31 Perpisahan )
Lanjut lagi Wu Yi Feng menemukan tumpukkan buku dan kitab seni beladiri serta pengetahuan yang mungkin sebagian besar bahkan belum ia baca sama sekali. di samping buku - buku itu ia menemukan banyak pakaian - pakaian mewah dan bagus miliknya serta beberapa set pakaian gembel untuk menyamar, selanjutnya ia juga melihat ada banyak cincin ruang hasil rampasan dimana saat ini cincin - cincin tersebut telah terisi penuh oleh harta yang ia peroleh dari ruang jebakan di inti neraka.
Wu Yi Feng kembali ke dunia nyata beserta sebuah pedang pemberian gurunya, kesibukannya membuat dirinya lupa jika selain pedang penari malam yang saat ini telah hancur ia juga memiliki sebuah pusaka lain.
Dengan kemampuannya saat ini Wu Yi Feng dengan mudah membuka pedang tersebut dari sarungnya, pedang yang terbuat dari batuan dan logam langka berwarna biru kehijauan ini menyala dalam gelap begitu dipegang oleh Wu Yi Feng.
Sungguh indah dan kuat, pusaka langit memang berbeda. Apalagi pedang aurora adalah pusaka langit tingkat atas yang kemampuannya tidak jauh berbeda dengan pusaka dewa.
Keesokan paginya, setelah membereskan sisa - sisa api ungggun, Wu Yi Feng kembali melanjutkan perjalannya. Dan karena tidak ingin menarik perhatian dengan pakaian mewahnya, pemuda itu memilih menggunakan pakaian gembel, dengan begini tidak akan ada satupun yang peduli atau hanya sekedar meliriknya.
Hingga suatu malam,
"Ayah, nampaknya sebentar lagi hujan akan turun. Bagaimana jika kita berteduh disana??" Seru Li Xiao Yi sambil menunjuk kearah sebuah kuil yang sepertinya sudah tak terurus.
"Kamu benar, baiklah semuanya malam ini kita beristirahat dulu disana..!!" Perintah Li Hao kepada para pengawalnya.
"Siap Tuan..!!!" Jawab para pengawal seraya mempercepat langkah kaki kuda mereka.
"Tuan, maaf jika mengganggu.. Namun malam ini kami juga ingin beristirahat disini.. Tuan boleh ikut bergabung jika mau.." Ucap Li Xiao Yi ketika mengetahui di dalam kuil ada seseorang yang telah terlebih dahulu tiba.
Sosok tersebut hanya mengangkat kepala sedikit, lalu kembali bermeditasi seolah olah tidak ada siapa - siapa disana.
"Sudah - sudah, eh kalian tolong jaga ketertiban.. Jangan sampai mengganggu beliau.." Seru Li Hao.
"Baik Tuan.."
Para pengawal kemudian segera membagi tugas, beberapa orang menjaga di depan kuil, sedangkan yang lainnya membersihkan lantai dan juga mengumpulkan kayu bakar sebagi sarana untuk memasak bekal.
"Sudah kak lupakan saja, mungkin orang itu memang tidak mendengarmu.." Ucap Li He Rong mencoba menenangkan kakaknya yang cemberut.
"Tidak mungkin dia tidak dengar, aku sudah sedikit mengeraskan suaraku tadi.." Jawab Li Xiao Yi sambil mengerucutkan bibirnya.
"Hahahaha.. Sudahlah, ada kalanya kita memang malas menjawab teguran dari orang lain." Jawab sang ayah yang ternyata ikut mendengarkan sedari tadi.
Para pengawal segera membakar daging dan ayam persediaan, sedangkan Li Xiao Yi duduk di pojok sembari membaca buku, sampai sebuah goncangan hebat membuatnya berteriak.
"Arrrrgghhhh..."
Getaran yang hebat dari gempa membuat seluruh bangunan kuil bergetar, Li Hao segera menarik keluar kedua anaknya dan tak lupa juga meneriaki sosok yang dari tadi berdiam diri di pojok kuil.
"Tuan, ada gempa.. Segera keluar..!!" Teriak Li Hao.
BLAAAAAMMMMMM...
Kuil yang terbengkalai itu pun runtuh tak lama setelah semua yang ada didalamnya berhasil keluar, Li Hau mengecek keadaan kedua anaknya hingga sebuah teriakan kesakitan pilu memecah keheningan malam.
"Arrrrgggghhhhhh..."
Seekor siluman anjing berkepala tiga, bermata merah menyala dan berukuran lebih dari tiga meter mengoyak tubuh salah satu pengawal Li Hao menjadi dua bagian dan langsung menelannya dalam sekali gigit.
Li Xiao Yi sampai menutup mulut saat melihat kejadian tersebut, para pengawal yang lain segera membentuk formasi dan mengeluarkan senjata mereka masing - masing.
"Kalian semua hati - hati.. Jangan memaksakan diri.." Ucap Li Hao sambil membawa kedua anaknya menjauh.
"Ayah, biarkan aku membantu para pengawal.." Seru Li He Rong.
"Tidak perlu, para pengawal pasti bisa mengatasi makhluk tersebut.."
"Tapi ayah? Aku sudah belajar ilmu beladiri..?!!" Bantah Li He Rong.
"Kalau begitu lindungi kakakmu.."
"Melindungi kakak?? Tingkatan ilmunya bahkan diatasku.. Buat apa aku melindunginya??" Li He Rong mendebat ayahnya.
"Cukup, kalian berdua menjauh dari sini..!!" Teriak Li Hao.
Para pengawal dibuat kewalahan karena ukuran siluman anjing yang sangat besar, kulit anjing tersebut juga sangat keras, hingga tebasan para pengawal sama sekali tidak memberikan luka kepada siluman tersebut.
Dengan lahapnya siluman anjing berkepala tiga memakan semua pengawal yang berada di jangkauannya hingga dalam waktu singkat saja jumlah pengawal yang tersisa hanya tinggal separuhnya.
"Ini buruk, mundur semuanya.."
Para pengawal mulai menjaga jarak, dan ketika siluman anjing berkepala tiga hendak menerjang salah satu pengawal, tiba - tiba sebuah bola api menghantam kepalanya dan membuatnya terdorong kebelakang dengan keras.
BOOOOOMMMMMMM...
Ledakan bola api membuat malam yang tadinya gelap menjadi lumayan terang untuk sepersekian detik, semua yang ada disana menoleh ke arah sumber bola api berasal, dimana telah berdiri sosok misterius dengan jubah panjang hitam yang menutupi sekujur tubuhnya.
"Tidak kusangka kau mengejarku hingga kemari, wahai anjing penjaga neraka??" Ucap sosok misterius tersebut lirih, namun suaranya terdengar jelas di telinga semua orang yang ada disana.
*******
Bingung?? Siapa itu Li Hao, Li Xiao Yi dan Li He Rong?? Baca kembali chapt. 45 Old story.
"Kok lompat - lompat cerita tor?"
"Bukan lompat - lompat sebenarnya, hanya saja aku sedang mencoba sebuah alur baru, dimana kalian aku paksa untuk mengulang dan mengingat kembali cerita di chapter - chapter awal. Hal ini akan berdampak pada ingatan menyeluruh tentang dunia dimana Wu Yi Feng berada. Btw alur ini mulai banyak dipakai oleh penulis kenamaan, tujuannya adalah untuk lebih memberikan sensasi membaca dengan cara yang berbeda."
Tapi semua itu juga membutuhkan latihan, bahkan aku juga harus bolak balik membaca ulang chapter awal yang aku tulis.
So, enjoy the story and share your experience.