
Wu Yi Feng berjalan dengan santai menuju ke arah kota Gang Men dimana malam sebelumnya ia menghancurkan keluarga Huang, sebelum berangkat paman Xi memberikannya banyak sekali bahan makanan sebagai bekal.
Tidak seperti biasanya, gerbang kota yang biasanya di jaga oleh prajurit lokal kali ini prajurit dari ibukota kekaisaran yang menjaga. Itu terlihat dari pakaian perang lengkap yang mereka kenakan.
Untuk menghindari masalah dan sekaligus mencari tahu situasi Wu Yi Feng menyamar sebagai pemulung dengan begitu dirinya bisa memasuki kota dengan mudah.
"Apa kau tahu jika semalam ada pembunuhan?"
"Benar, semua prajurit, pendekar dan juga anggota keluarga Huang tewas terbunuh, bahkan pelakunya juga membakar habis rumah keluarga Huang.."
"Iya, sungguh keji ya mereka.. Kira - kira kelompok mana yang berani mencari masalah dengan keluarga Huang??"
Setidaknya itulah desas desus yang Wu Yi Feng dengarkan ketika dirinya mampir untuk sekedar membeli minum di sebuah kedai kecil di tengah kota. Wu Yi Feng tersenyum, itu berarti penyerangannya seorang diri kemarin malam belum terungkap.
"Pelayan, bungkuskan beberapa bakpau daging.." Wu Yi Feng memberikan sekeping uang perak dan menyuruh pelayan mengambil kembaliannya setelah itu pemuda bertampang gembel tersebut pergi meninggalkan kota.
Sekitar dua hari setelah pembantaian keluarga Huang,
BRAAAAAKKKKKKK....!!!!
Huang Litao murka sekali begitu mendengar laporan salah seorang prajurit, laki - laki paruh baya tersebut menghantam meja kayu di depannya hingga hancur tak berbekas. Laki - laki yang baru saja berhasil membuka gerbang sucinya yang ke 7 itu tidak percaya bahwa ada seseorang atau sekelompok orang yang berani mencari perkara dengan keluarga besar Huang.
"Siapkan kuda terbaik, saat ini juga aku akan pergi ke sana..!!"
"Baik Tuan.."
Wajah Huang Litao memerah layaknya kepiting rebus, kehilangan kedua adik serta seorang kakak dalam waktu bersamaan jelas memukul perasaannya. Bahkan lelaki paruh baya itu sampai tidak mendengar ketika ada seorang gadis memanggilnya.
"Ayah, ada masalah apa hingga engkau semarah ini??"
"Oh, maaf Huang Rong.. Ayah baru saja menerima kabar jika ada orang yang membunuh paman - pamanmu.."
"Paman, terbunuh?? Tidak mungkin ayah, mereka semua dilindungi oleh puluhan bahkan ratusan pendekar hebat."
"Entahlah, Ayah akan segera berangkat kesana untuk mencari kebenaran tentang berita ini.. Kau jaga diri baik - baik selama Ayah pergi.."
"Tidak..!!! Aku ikut ayah.."
"Tapi... Baiklah, ayah sedang tidak mau berdebat.. Segera persiapkan segala keperluanmu.. secepatnya kita berangkat."
"Baik ayah.." Huang Rong segera berlari menuju kamarnya dan memasukkan segala keperluannya, termasuk pedang pusaka yang ia terima dari sang guru, Pilar Air.
Pasangan Ayah dan anak itu segera memacu kudanya dengan kecepatan tinggi, mereka berdua berangkat tanpa ditemani oleh pasukan. Sedangkan di sisi lain Wu Yi Feng tiba di sebuah desa terpencil. Desa tersebut hanya berisi beberapa penduduk saja, dan hanya ada satu kedai kecil yang buka.
Saat mencari tempat duduk, Wu Yi Feng terkejut karena ternyata disana juga ada saudara seperguruannya. Sosok pemuda kurus dengan tangan dan kaki yang panjangnya tidak normal.
"Apa kabar saudara Chui, lama tidak berjumpa.." Sapa Wu Yi Feng dengan ramah.
"I.. iya lama tak.. Kakak.. Kakak Feng.." Chui Dal Po menghambur dan memeluk Wu Yi Feng dengan kedua tangannya yang panjang, pemuda itu bahkan menangis sesunggukan.
"Aku juga senang bertemu denganmu, tapi tidak perlu sampai menangis seperti ini.. Sebenarnya ada masalah apa, ceritakanlah.."
"Sebenarnya saat ini aku sedang malaksanakan sebuah misi dari sekte, misi ini adalah untuk menyelidiki sebuah sekte aliran hitam atau sesat yang bernama sekte gagak hitam."
"Apakah kau melaksanakan misi ini sendirian??"
Chui Dal Po menggeleng, pemuda bertubuh kurus kering itu melanjutkan ceritanya, "Aku melaksanakan misi ini berdua dengan kakak Chau Li. Hanya saja.."
"Kemarin kami menolong dua orang gadis, murid dari sekte teratai ungu yang hendak di nodai oleh kelima murid dari sekte gagak hitam. Kakak Chau Li mengorbankan dirinya demi menyelamatkan kami.." Chui Dal Po mulai menangis ketika bercerita.
"Apa mereka membunuh Chau Li??"
"Entahlah, mereka meninggalkan sebuah tulisan.. Yang intinya mereka menyuruhku membawa kedua gadis dari sekte teratai ungu ke sekte mereka malam ini, jika tidak maka kakak Chau.."
Sudahlah, yang terpenting kita tahu bahwa Chau Li belum mati. Sekarang dimana kedua gadis tersebut??"
"Ehh.. Itu eh.. Aku meninggalkan mereka di tepi hutan kemarin malam karena aku ingin kembali untuk membantu kakak Chau, tapi ketika aku kembali kesana, mereka sudah menghilang."
Wu Yi Feng menghela napas panjang, sesaat terlihat pemuda itu berpikir, lalu sedetik kemudian muncullah lingkaran cahaya dimana dari lingkaran cahaya tersebut keluar sosok gadis cantik.
"Tuan, ada perlu apa kau memanggilku?? Apakah kau merindukanku?? Xixixixixi.."
"Benar aku memang merindukanmu, tapi kita simpan itu untuk nanti.. Sekarang bantu aku untuk menemukan orang."
"Menemukan orang, siapa??"
Keduanya asik berbicara, seolah olah hanya ada mereka berdua saja yang ada disana. "Maafkan aku, perkenalkan dia rekan seperguruanku.."
"Namaku Chui Dal Po.." pemuda kurus itu langsung berdiri dan menggenggam erat tangan Xiao Wei.
"Eh.. Iya salam kenal, aku Xiao Wei.." Gadis cantik itu menarik tangannya karena merasa risih.
"Baiklah sekarang tuntun kami ke tempat dimana semalam kau meninggalkan kedua gadis tersebut saudara Chui.." Wu Yi Feng bangkit lalu keluar dari kedai diikuti oleh Chui Dal Po dan Xiao Wei.
Mereka bertiga segera melesat ke tepian hutan, tempat dimana terakhir kali Chui Dal Po bertemu dengan kedua gadis murid dari sekte teratai ungu.
"Disini, ini tempatnya.. Aku masih ingat dengan jelas.."
"Wei Wei tolong cium aroma tubuh mereka.."
"Baik Tuan.." Xiao Wei segera menggunakan penciuman supernya untuk mendekteksi aroma tubuh dua orang gadis tersebut.
"Aku memang mencium aroma tubuh dua orang gadis disini, hanya saja.." Xiao Wei menggantung kata - katanya.
"Hanya saja apa??" Sontak kedua laki - laki yang ada disana bereaksi.
"Ehh.. Aku juga menemukan aroma pekat laki - laki..."
"Laki - laki?? Hufff.. Sial sekali nasib kedua gadis itu" Wu Yi Feng geleng - geleng kepala sedangkan Chui Dal Po wajahnya segera memucat.
"Kakak Xiao, tolong lacak kemana laki - laki itu membawa kedua gadis itu pergi.. Kita harus segera menemukannya.. Kumohon.." Chui Dal Po bersimpuh di hadapan Xiao Wei sambil memegang erat tangan gadis muda itu.
"Baik - baik aku akan menolongmu, tapi sekarang bangkitlah terlebih dahulu.."
"Terima kasih.."
Xiao Wei kembali berkonsentrasi, beberapa saat kemudian ia sudah mengetahui kemana laki - laki itu pergi. "Kalian berdua ikuti aku.. Kita harus cepat karena laki - laki ini berbahaya..!!!"
"Baiklah ayo.." Wu Yi Feng mencengkram baju belakang Chui Dal Po kemudian melesat terbang di angkasa mengikuti Xiao Wei.
"Kakak Feng pelan - pelan aku takut ketinggian.. Tolonggg..." Chui Dal Po berontak, namun akhirnya pasrah sambil menutup matanya.