
Tiga bulan sudah Wu Yi Feng berguru dengan Luo Yun Xi sang pilar petir di puncak gunung kabut petir, sudah lebih dari sepuluh helai rambut Qi yang ia kumpulkan dengan menggunakan seni pernapasan naga.
"Ambillah, lalu bersiaplah..temani aku ke ibu kota kerajaan Han.." Ucap Luo Yun Xi di suatu pagi sambil memberikan sebuah topeng berwarna putih kepada Wu Yi Feng.
"Ke ibu kota kerajaan Han..?? Baiklah, tunggu sebentar guru.." Wu Yi Feng segera berlari dan berganti pakaian.
"Saya siap guru.." Ucap Wu Yi Feng setelah beberapa waktu bersiap.
"Kemarilah.." Luo Yun Xi segera membuka portal dimensi begitu Wu Yi Feng mendekat dan memegang pundak bocah laki - laki itu dengan erat.
Dalam sekejap tubuh keduanya seperti terhisap dan menghilang dari puncak gunung kabut petir menuju ke luar perbatasan kota Heinan, sebuah kota yang sangat luas, dan dikelilingi oleh sebuah tembok atau benteng yang tinggi menjulang, benteng kokoh yang bernama Benteng Pualam Api tersebut mengelilingi kota Heinan dan menjaganya dari serangan musuh. Diatas benteng, ratusan prajurit berjaga secara bergiliran selama 24 jam sehari penuh.
Sungguh pantas jika kota tersebut menjadi ibu kota kekaisaran Han, kerajaan Han sendiri terdapat di tengah - tengah kota, dimana para prajurit berjaga dalam radius 500 meter jauhnya dari pintu gerbang utama kerajaan.
Luo Yun Xi dan juga Wu Yi Feng berjalan mendekati pos penjagaan setelah memakai topeng, akses keluar masuk kota Heinan memang menggunakan satu pintu gerbang saja demi menjaga keamanan.
Terlihat antrian para penduduk dan juga pedagang yang sedang membawa barang dagangannya serta juga para pendekar yang menunggangi kuda - kuda mereka.
Luo Yun Xi mengajak Wu Yi Feng untuk menerobos antrian dan langsung menuju pos penjagaan dimana disana ada puluhan prajurit penjaga gerbang.
"Hei siapa kamu, kembali ke barisanmu..!!!" Teriak salah seorang penjaga, yang sayangnya tidak dihiraukan oleh Luo Yun Xi.
Luo Yun Xi merogoh bajunya dan mengeluarkan sebuah plakat emas bercorak naga, para prajurit yang mengetahui arti dari plakat tersebut segera berlutut meminta maaf.
"Tuan, maafkan hamba yang tidak mengenali anda, silahkan lewat tuan.."
Luo Yun Xi sama sekali tak berkata sepatah kata pun, lelaki tersebut melewati gerbang kota dalam diam, diikuti oleh Wu Yi Feng yang nampak keheranan.
"Guru, mengapa para penjaga memberikan hormat dan nampak sangat ketakutan??" Tanya Wu Yi Feng dengan polosnya.
"Entahlah.." Sahut Luo Yun Xi asal.
Keduanya pun mulai memasuki kota dan menyusuri jalanan yang saat ini sangat ramai karena berita akan diadakannya turnamen akbar telah tersebar ke seantero negeri.
Mereka berdua menuju ke salah satu penginapan terbesar yang ada disana, bangunan berlantai empat dengan nama Penginapan Bangau tersebut sudah terkenal sebagai penginapan untuk para bangsawan.
Tarif menginap paling murah disana adalah dua koin emas per malam untuk kamar standart, itu belum termasuk makan. Meskipun sangat mahal, namun penginapan tersebut tak pernah sepi pengunjung, itu semua karena fasilitas yang diberikan memang sangatlah lengkap, mulai dari pemandian air panas, pijat urat, dan tentu saja gadis - gadis penghibur yang mempunyai wajah cantik serta body yang aduhai yang selalu siap untuk menghibur dan menemani para tamu.
"Berikan kami dua kamar terbaik dan juga dua porsi makanan terbaik kalian.." Seru Luo Yun Xi sembari melemparkan sekantung uang yang didalamnya berisi puluhan koin emas.
"Ba... baik Tuan.. Silahkan ikuti saya..." Ucap sang pelayan begitu membuka kantung uang yang dilemparkan Luo Yun Xi kepadanya.
Pelayan tersebut mengambil dua kunci kamar terbaik dan mengantar mereka dengan menggunakan lift yang digerakkan secara manual dengan menggunakan tali.
lift tersebut mengarahkan ketiganya ke lantai empat, dimana di lantai tersebut hanya ada enam kamar terbaik. Pelayan membukakan pintu untuk Luo Yun Xi sebelum akhirnya membukakan kamar juga untuk Wu Yi Feng.
"Guru, bolehkah aku berjalan - jalan di kota??"
"Makanlah terlebih dahulu sebelum pergi.." Hanya itu yang Luo Yun Xi katakan sebelum dirinya masuk dan menutup pintu kamar.
"Baik guru..Terima kasih guru.." Wu Yi Feng kembali ke kamarnya, ia sungguh terpukau melihat kamarnya yang sangat luas dan begitu bersih, bau nya juga harum dan kasurnya sangat empuk.
"Rasanya nanti malam aku akan bermimpi indah.." Gumamnya dalam hati.
Hari masih belum terlalu siang ketika Wu Yi Feng keluar dari penginapan bangau dengan perut yang kenyang, bocah itu berjalan kesana kemari menyusuri tiap jengkal jalanan ibu kota kakaisaran Han, hingga ia menyadari jika ada tiga orang yang membuntutinya sedari tadi.
Ketika Wu Yi Feng hendak mempercepat langkahnya, kedua orang memegang masing - masing bahunya, sedangkan yang satu lagi menodongkan pisau di punggungnya.
"Jangan macam - macam, ikuti kami jika masih ingin hidup..!!" Ancamnya.
Wu Yi Feng yang tidak mau mengundang perhatian orang - orang, mengikuti kemauan mereka bertiga tanpa membantah sedikitpun.
Ketiga kawanan perampok membawa Wu Yi Feng ke sebuah gang yang cukup sepi, salah satu dari mereka mendorong Wu Yi Feng kebelakang hingga hampir terjatuh.
"Melihat dari pakaianmu, kau pastilah anak dari seorang saudagar yang kaya.."
"Benar kak, aku melihatnya... Anak ini keluar dari penginapan bangau..." Sahut yang lainnya.
"Hahaha.. Nampaknya hari ini kita dapat mangsa besar..!!! Hei bocah, jika ingin selamat serahkan cincin ruangmu..!!!"
"Kalian salah paham, aku sama sekali bukan anak orang kaya.. Dan maaf, aku tidak bisa menyerahkan cincin ruang ini pada kalian..!!" Ucap Wu Yi Feng seraya mempersiapkan kuda -kuda nya.
"Cih, jadi kau ingin melawan ya bocah...??? Kalian berdua, beri pelajaran kepada bocah ingusan ini..!!!" Teriak salah seorang perampok yang terlihat paling senior.