The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Penentuan Pewaris Tahta



"Pertandingan kedua akan dilakukan keesokan hari.." Titah sang kaisar, yang merasa bahwa hari ini sudah cukup melelahkan.


Meskipun ada rasa tidak puas, namun semua penonton yang disana tidak bisa membantahnya. Dengan ditemani pilar petir dan juga Wu Yi Feng, kaisar meninggalkan arena dan kembali kekamarnya.


"Yang mulia, minumlah ini.." Ucap Pilar petir seraya menyodorkan sebutir pil berwarna putih susu.


"Tuan.. Aku ini sudah tua, jika pun aku mati, maka aku sudah siap.. Hanya saja belum ditentukannya siapa yang akan menggantikanku lah yang membuatku gelisah selama ini." Curhat sang kaisar, ketika mereka berdua ngobrol di dalam ruangan, sedangkan Wu Yi Feng menunggu di luar kamar.


"Sedang apa kau disini??" Seru seorang gadis kecil yang berada tak jauh dari tempat Wu Yi Feng duduk.


"Aku?? Menunggu guruku.." Jawab Wu Yi Feng singkat sambil menunjuk dirinya sendiri.


"Gurumu?? Maksudmu sang pilar petir?? Jangan ngaku - ngaku deh.." Timpal gadis kecil yang bernama Hei Fen tersebut.


"Terserah...??" Jawab Wu Yi Feng singkat.


"Minggir, aku mau bertemu dengan kakek..!!"


"Masuk saja, lagipula aku juga sedang tidak berada di tengah jalan.."


"Apa kau tidak penasaran siapa kakekku?? Kakekku adalah kaisar Lee Hei Be..!!"


"Tidak ada urusannya denganku." Wu Yi Fan masih juga cuek dengan gadis di dekatnya.


"Huh sebelll.." Gadis tersebut baru saja hendak membuka pintu ketika pintu itu terbuka dengan sendirinya. Rupanya kaisar telah selesai berdiskusi dengan pilar petir.


"Feng'er ayooo.." Luo Yun Xi mengajak Wu Yi Feng untuk segera pergi dari sana dan kembali ke kamar. Sedangkan Hei Fen hanya termenung karena ternyata apa yang dikatakan bocah laki - laki itu benar adanya.


"Fen'er kenapa kau bengong??" Cletuk sang kaisar kepada cucunya.


"Kek, apakah kelak aku juga bisa menjadi murid seorang pilar??" Tanya gadis kecil tersebut.


"Hahahahaha.. Tentu saja bisa, memangnya kau mau jadi sekuat apa??"


"Sekuat mungkin, supaya aku bisa melindungi kakek, ayah, ibu dan semua orang di kekaisaran Han..!!" Tutur Hei Fen mantab.


"Sungguh cita - cita yang mulia.." Kaisar Lee mengusap puncak kepala cucunya tersebut seraya tersenyum bangga.


Wu Yi Feng bergegas masuk kembali ke dimensi cincin ruang begitu sudah berada di dalam kamar, meskipun baru dua hari tidak latihan, tapi ia merasa itu adalah waktu yang lama.


Bocah laki - laki tersebut membalik balik halaman dan menemukan sebuah jurus yang sama dengan yang dimiliki ayahnya, yaitu Teknik naga - Telapak penghancur tulang.


Wu Yi Feng tidak sempat bertanya bagaimana ayahnya dulu bisa menguasai jurus tersebut, karena ayahnya keburu meninggal dunia.


Wu Yi Feng mulai membaca dan menyerap inti sari dari jurus peremuk tulang, jurus tersebut merupakan jurus medium di dalam kitab naga langit, namun daya hancurnya begitu mengerikan.


Tak terasa pagi menyingsing dengan cepatnya, Wu Yi Feng kembali ke dunia asal dengan napas memburu dan tubuh yang kelelahan karena semalam atau sekitar dua minggu di dimensi cincin berlatih secara terus menerus tentang jurus peremuk tulang tanpa berhenti.


Meskipun Qi nya akan selalu terisi setiap kali terpakai, namun beda lagi dengan stamina. Saat bocah itu hendak memejamkan mata dan beristirahat, guru Luo mengetuk pintunya.


"Feng'er apakah kau masih tidur??"


"Ehh, saya sudah bangun guru..." Wu Yi Feng bergegas bangkit dan memakai topengnya serta menyambar sebuah apel merah yang cukup besar sebelum membuka pintu.


"Saya siap guru..!!"


"Hmm.. Ayo ke arena.." Ajak Luo Yun Xi seraya beranjak menuju arena.


Saat mereka tiba di arena, aura disana berbeda dari hari - hari sebelumnya yang ceria. Kali ini aura disana begitu suram dan gelap, tak ada sorak sorai ataupun yel yel yang biasanya diucapkan penonton.


Wu Yi Fan bahkan merasa bulu kuduknya merinding, dan tertekan karena hawa membunuh yang dikeluarkan oleh seseorang di dalam bilik pendekar.


"Guru, apakah engkau merasakannya?? Hawa membunuh yang sangat pekat ini..??"


"Hmm.. Berkonsentrasilah untuk menghilangkan efeknya.." Ucap Luo Yun Xi.


"Baik guru.." Wu Yi Feng kemudian menutup matanya dan mulai mengatur napasnya. Dalam sekejap, bukannya berkonsentrasi, Sukma Wu Yi Feng malah tersedot ke dalam dimensi cincin.


Merasa sudah terlanjur masuk, Wu Yi Feng putuskan berlatih jurus - jurus naga langit. Wu Yi Feng memulainya dengan pernapasan naga, dan di lanjutkan dengan aura raja naga dan jurus atau teknik - teknik selanjutnya.


Terlahir sebagai titisan dari dewa tertinggi, selain memiliki tubuh yang istimewa, Wu Yi Feng juga dikharuniai otak yang encer, kecerdasan jauh diatas rata - rata dan juga kemampuan penyembuhan luka yang cepat.


Kitab naga langit sejatinya merupakan salah satu kitab beladiri yang sangat sulit untuk dikuasai, bisa menguasai salah satu jurusnya saja sudah cukup baik, apalagi mampu menguasai semuanya dalam tingkatan sempurna.


Semakin hari, kecepatan Wu Yi Feng dalam mengumpulkan rambut - rambut Qi makin mengerikan. Bocah laki - laki berusia 12 tahun itu sudah mengumpulkan Qi yang lumayan, meskipun sampai saat ini belum tahu cara untuk memaksimalkannya.


BOOOOOMMMMMMM...


Wu Yi Feng hampir melompat dari kursinya karena ketika ia baru kembali ke dunia nyata, langsung dikagetkan oleh suara ledakan yang datang dari pusat arena.


Rupanya Huang Litao sedang melawan seorang biksu sesat, biksu itu sangat kekar, berpakaian serba hitam dengan kalung tengkorak menggantung di lehernya.


Dan suara yang keras tadi adalah pertemuan antara hantaman biksu sesat dan kipas besi milik Huang Litao.


"Huang, kau sungguh bermuka dua..!!" Sayup - sayup Wu Yi Feng bisa mendengarkan ucapan salah seorang pangeran.


Mendengar hal tersebut, Wu Yi Feng hanya tersenyum sinis. Kini fokusnya tertuju sepenuhnya kearah arena pertandingan.


"Rupanya kalian baru sadar jika selama ini kalian telah memberi makan musang berbulu domba.." Bisik Wu Yi Feng dalam hati.