
Langit masih hitam pekat, dengan tiadanya bulan membuat malam itu terasa gelap total. Dan di dalam kegelapan itulah siluman beruang tanduk hitam melompat untuk menerkam Wu Yi Feng.
Cakarnya yang panjang seakan sudah siap mengoyak tubuh bocah tak bersalah yang kini sedang asyik terlelap dengan bersandar di sebuah batang pohon besar.
BLAAAAARRRRRRR....
Suara pohon yang hancur setelah menerima serangan cakar dari siluman beruang membuat malam yang tadinya tenang menjadi gaduh oleh suara binatang yang lari menjauh dari sumber suara berasal.
Sementara itu siluman beruang tanduk hitam kebingungan karena tak adanya sama sekali bekas cipratan darah atau daging yang terkoyak oleh cakarnya, hanya ada serpihan batang pohon di cakarnya.
"Mencariku..???" Seru Wu Yi Feng yang ternyata sedang duduk dengan santainya kira - kira 10 meter di sebuah dahan pohon.
"Bagaimana bisa?? Aku jelas - jelas melihatmu sedang tertidur dengan pulasnya..!!" Teriak siluman beruang dengan nada marah.
"Kamu benar, aku memang sedang tertidur disana. Tadinya.." Jawab Wu Yi Feng dengan nada menghina.
"Sejak kapan kau menyadari keberadaanku??" Tanya siluman beruang yang penasaran karena selama ini selalu percaya diri dengan kecepatannya.
Siluman beruang tanduk hitam berusia sekitar 100 tahun tersebut memang sudah bisa berbicara, meskipun ia belum bisa merubah wujudnya menjadi sosok manusia.
"Sejak aku memutuskan untuk berhenti dan bermalam disini. Guru sudah berpesan padaku bahwa kemungkinan besar para siluman yang ada di hutan ini akan menyerangku, karena itulah aku mengedarkan indra spiritualku." Jawab Wu Yi Feng.
"Dan ketika aku menyadari kau mengikuti aku diam - diam, aku memutuskan melawanmu. Jadi berhentinya aku disini tidak lebih karena aku memang ingin membunuhmu." Lanjut Wu Yi Feng sambil mengeluarkan Aura Raja Naga Langit yang membuat tekanan udara di sekitar tempat tersebut berubah, hingga siluman beruang tanduk hitam gemetar dan sekujur tubuhnya menjadi berat seperti tertindih gunung.
"Cihhh.. Jangan sombong kau bocah, aku sudah berusia ratusan tahun. Sedangkan kau baru belasan tahun, pengalamanku jauh lebih banyak daripada kau..!!!"
"Mari kita mulai saja karena aku sudah mulai mengantuk.." Wu Yi Feng bersiap dengan membentuk kuda - kuda dan juga mengumpulkan Qi di kedua telapak tangannya, sementara itu siluman beruang tanduk hitam mempersiapkan cakarnya yang panjang dan tajam.
DASSSSSHHHHHHH...
Wu Yi Feng melesat dengan cepatnya, teknik langkah petir membuatnya bisa membelah udara dalam sekejap mata.
"Teknik Naga, Telapak Penghancur Tulang..."
Wu Yi Feng mendaratkan serangannya tepat di perut siluman beruang, namun alih - alih kesakitan, serangan itu justru membuat Wu Yi Feng yang terpental mundur hampir dua puluh meter jauhnya.
BOOOOOMMMMMMMM...
"Uhuuukkkk..." Wu Yi Feng memuntahkan darah segar yang lumayan banyak karena efek pantulan Qi miliknya,telapak tangannya juga gemetar seperti menabrak sebuah dinding baja yang amat keras.
"Hahahaha... Bagaimana rasa jurus Baju Bintang tingkat 10 punyaku..??" Tawa siluman beruang membuat Wu Yi Feng makin geram. Dirinya tak menyangka bahwa ada siluman yang memiliki tingkat pertahanan absolut sehebat itu.
"Ini menyenangkan.." Wu Yi Feng tersenyum penuh makna, sebenarnya ia juga tak mengerti, tapi entah kenapa ia justru tertantang ketika mengetahui lawannya sangat hebat, seolah adrenalinnya terpacu dan detak jantungnya meningkat.
"Kau pasti sudah gila karena ketakutan hingga tersenyum seperti itu.." Ledek siluman beruang tanduk hitam.
"Teknik Naga, Pukulan Seribu Naga..."
BLAAAMMMMM...
BLAAAMMMMMMM...
BLLLAAAARRRRRR...
Sekujur tubuh siluman beruang tak ada yang luput dari serangan beruntun yang Wu Yi Feng lepaskan. Efek dari jurus baju bintang milik siluman beruang tanduk hitam membuat kedua tangan Wu Yi Fan seakan mati rasa dan berdarah tapi bocah itu menolak untuk berhenti dan terus melakukan serangan beruntunnya.
"Apa kau tidak bisa diam saja dan menyerah? Supaya aku bisa menyantap dagingmu dengan tenang???" Seru siluman beruang tanduk hitam.
"Menyerah?? Lupakan..!!! Aku akan terus melawanmu sampai akhir nyawaku..!!!" Balas Wu Yi Feng sambil mengumpulkan kembali Qi miliknya yang kali ini diubah dalam bentuk elemen angin yang sangat tipis.
"Terimalah ajalmu..!!" Siluman beruang tanduk hitam berlari mendekat ke arah Wu Yi Feng sambil mempersiapkan serangan kukunya yang panjang dan tajam.
WUSSSSHHHHHHHH...
Wu Yi Fan mengelak sambil menyabetkan tangannya yang kini berubah menjadi sangat tajam.
SLAAAAASSSSSSHHHHHHH...
Darah segar keluar dari dada siluman beruang, pertahanan jurus baju bintang miliknya telah berada di titik puncak ketika menahan serangan beruntun dari Wu Yi Feng tadi, kini dengan pertahanan yang melemah, Wu Yi Feng berhasil memberikan luka melintang yang cukup serius.
"Arrrgggghhhh..." Siluman beruang tanduk hitam berteriak kesakitan, dengan amarah yang meluap luap ia bergerak dengan sangat cepat dan berhasil mencekik Wu Yi Feng.
"Matilah kau...!!!" Siluman Beruang tanduk hitam berseru kencang.
SRAAAASSSSSHHHHHHH....
Detik berikutnya tangan yang dipakai untuk mencekik Wu Yi Fan telah terpotong hingga ke pangkal lengan.
"Tidaaaakkkkkk..." Siluman itu meraung raung, saat siluman beruang tanduk hitam hendak meminta ampun, Wu Yi Feng segera menebas kepalanya dengan kibasan tangan yang membuat leher serta beberapa pohon di belakang siluman beruang ikutan tumbang.
Berakhirlah sudah riwayat siluman berusia 100 tahun ditangan bocah yang baru genap berusia 13 tahun. Wu Yi Feng menghela napas panjang dan duduk bersandarkan pohon untuk mengatur kembali napasnya.
Qi miliknya seakan tersedot untuk serangan terakhir, Wu Yi Feng memejamkan mata sejenak dan mengumpulkan tenaga sebelum akhirnya membelah dada siluman beruang dan mengambil permata siluman yang sebesar kepalan tangan orang dewasa dan berwarna ungu muda.
Sedangkan luka di punggung tangannya yang berdarah, dengan cepat menutup sendiri karena regenerasi super miliknya, Wu Yi Feng memperhatikannya sejenak sebelum menyadari jika bajunya ternyata penuh dengan noda darah dan berbau amis.
Wu Yi Feng menyimpan tubuh serta permata siluman kedalam cincin ruangnya sebelum akhirnya bersandar ke pohon untuk beristirahat.