The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Melawan Takdir



Wu Yi Feng dan juga Bai Lang keluar dengan tangan yang telah bersiap menenteng pedang, sementara itu puluhan orang pendekar yang tadinya berteriak teriak kini mundur dan terdiam, aura raja naga langit yang dipadukan dengan hawa membunuh pekat yang dikeluarkan oleh Wu Yi Feng membuat semua pendekar yang ada disana sesak napas.


"Aku tidak punya waktu banyak, ini juga sudah malam.. Majulah kalian semua sekaligus..!!!" Tegas Wu Yi Feng seraya mencabut pedang penari malam dari sarungnya, menyebarkan lebih banyak lagi hawa kematian.


"Jangan takut, mereka cuma berdua.. Ayo kita serang bersama - sama..!!!" Seru salah seorang diantara mereka.


"Ben... Benar.. Ser.. Seraannnggg..!!!"


Kumpulan pendekar tingkat 3 dan 2 itupun maju, mereka mengangkat senjata tinggi - tinggi dan berlari kearah Wu Yi Feng serta Bai Lang. Bagaikan domba yang mendatangi serigala untuk dimangsa.


SLAAAASSSSHHHHHH....


JLEEEEBBBBBBB....


Wu Yi Feng dan juga Bai Lang membantai puluhan orang suruhan Tuan Huang Fei malam itu, dan hanya disisakan satu orang. Keduanya kemudian segera menuju ke penginapan untuk membersihkan diri dari cipratan darah dan beristirahat tanpa menyadari jika perbuatan mereka malam ini akan memberikan dampak yang menakutkan keesokan harinya.


Keduanya terlelap setelah membuat gundukan mayat di depan kedai kakek Wu, mereka juga membuat sungai darah mengalir tanpa ada yang berani untuk menghentikan, bahkan pasukan penjaga kota serta walikota hanya bisa terdiam.


Wu Yi Feng bahkan tak mau repot - repot menekan hawa membunuh yang ia dapatkan dari pembantaian malam kemarin, pemuda itu terlihat sangat mengerikan, setidaknya bagi sebagian besar orang awam.


Bajunya yang bersimbah darah dan berbau amis pun ia taruh begitu saja di jendela kamar, seolah - olah sebagai peringatan kepada siapapun yang ingin menganggu istirahatnya malam ini.


Keesokan paginya, Wu Yi Feng terbangun dengan perasaan yang sudah jauh lebih tenang, pemuda itu membersihkan diri terlebih dahulu sebelum akhirnya keluar kamar dan menemui Bai Lang yang juga baru saja keluar dari kamarnya.


"Saudara Bai, bagaimana tidurmu??" Ucap Wu Yi Feng.


"Tidak terlalu nyenyak, karena ini pertama kalinya aku membunuh begitu banyak manusia..." Jawab Bai Lang.


"Aku mengerti.." Pungkas Wu Yi Feng secara singkat, keduanya lalu menuruni tangga, namun mereka merasakan hal yang janggal, dimana penginapan ini jadi sangat sepi.


"Jangan hiraukan, ayo ambil kuda lalu menuju ke rumah Huang Fei.." Ucap Wu Yi Feng sambil melirik sejenak kearah Bai Lang.


"Baiklah.."


Ternyata bukan hanya penginapan yang jadi begitu sepi, bahkan kota kecil ini mendadak menjadi tak berpenghuni. Wu Yi Feng dan Bai Lang mengambil kuda mereka lalu menaiki dan menuyusi jalanan kota secara perlahan sambil melihat lihat situasi.


Sebenarnya mereka sadar jika saat ini mereka sedang di kepung dari berbagai penjuru oleh puluhan, bahkan mungkin ratusan pendekar. Namun Wu Yi Feng sudah mengatakan sebelumnya kepada Bai Lang untuk tidak gegabah menyerang.


Keduanya menunggangi kuda hingga ke sebuah rumah yang sangat besar dan luas, rumah tersebut dijaga oleh selusin prajurit yang malah membukakan pintu gerbang ketika mereka berdua mendekat.


Wu Yi Feng bisa melihat bagaimana luasnya kediaman Huang Fei, bahkan luas halamannya saja setara dengan luas kota kecil ini. Di dalam halaman yang luas itu, Wu Yi Feng dan Bai Lang telah di tunggu ratusan prajurit dan pendekar yang berbaris rapi, dengan di tengah - tengah mereka duduk sosok pria paruh baya yang sedang menghisap cerutu.


"Anak muda, takdir membawa kalian singgah ke kota ku.."


"Aku akan melupakan tentang kejadian kemarin malam jika kalian mau bergabung dan menjadi tangan kananku.."


"Dimana para penduduk kota??" Seru Wu Yi Feng, seolah tak mendengarkan ucapan Huang Fei.


"Ahhh.. Buat apa kalian memikirkan mereka??"


Saat Tuan Huang Fei sedang berbicara, perlahan lahan para prajurit dan pendekar mulai bergerak mengepung Wu Yi Feng dan Bai Lang. Dengan tombak yang teracung dan berbagai senjata yang seolah siap menguliti keduanya.


"Takdir kalian akan sangat cerah jika bergabung denganku..!!! Tapi sebaliknya, kalian pasti tahu apa yang akan terjadi jika kalian memilih untuk bermusuhan denganku..??" Kali ini Tuan Huang Fei menunjukkan seringai jahatnya.


Wu Yi Feng dan juga Bai Lang saling menatap, keduanya tersenyum tipis sambil menggenggam erat pedang mereka. "Saudara Feng, jika aku harus terbunuh disini, maka aku tidak akan menyesalinya.. Bisa berjumpa dan menjalankan misi bersamamu merupakan kehormatan bagiku.." Bisik Bai Lang.


"Jika ada yang harus terbunuh disini, maka itu adalah mereka..!!!" Jawab Wu Yi Feng.


"Tuan Huang, maaf tapi niat baikmu harus aku tolak.. Karena dari kecil pun aku sudah melawan takdir, maka hari ini aku juga akan melawan takdir sekali lagi..!!!" Wu Yi Feng menatap tajam pria paruh baya tersebut dan berkata dengan mantab sembari turun dari kudanya lalu menarik keluar pedang penari malam dari sarungnya, yang langsung menyebarkan aura kematian dan ketakutan di sekitar mereka.


Bai Lang tak mau kalah, pemuda itu turun dari kudanya dan pedangnya segera ia tarik sambil menepuk pantat kudanya supaya pergi menjauh.


"Hahahaha... Sayang sekali jika pemuda jenius seperti kalian harus terbunuh hari ini, jangan salahkan aku jika ideologi kolot kalian tentang keadilan akan mengantar kalian ke neraka.. Serang mereka..!!" Huang Fei menyuruh semua anak buahnya untuk maju menyerang dengan sebuah gerakan tangan ringan.


Meskipun tuan Huang sudah memerintahkan semuanya untuk menyerang, namun akibat hawa membunuh yang keluar dari tubuh Wu Yi Feng membuat kebanyakan dari mereka seolah enggan dan berat untuk menggerakkan tubuhnya.


"Cihh.. Lambat.." Tiba - tiba saja sosok yang sedari tadi selalu berada di sisi tuan Huang Fei melesat cepat dan mencoba menyerang Wu Yi Feng.


TRAAAANNNGGGGG...


Benturan dua senjata pusaka, pedang penari malam dan sejenis cakar yang dipasang di punggung tangan menimbulkan angin kencang yang menyapu seluruh halaman.


WWWUUUSSSSSHHHH...


"Hmmm.. Hebat juga kau bocah, dengan kemampuanmu yang hanya pendekar tingkat satu puncak, kau sanggup mengikuti kecepatanku dan juga menahan seranganku." Seru pendekar yang nampaknya menjadi andalan tuan Huang Fei.


Sedikit informasi jika Tuan Huang Fei ini dilindungi oleh tiga orang pendekar yang saat ini telah mencapai tingkatan pendekar raja, mereka adalah Cao bersaudara, dan mereka selalu berada di sisi tuan Huang Fei selama ini.


Cao Pi adalah saudara yang paling muda, kemampuannya adalah pendekar raja tingkat awal, sedangkan Cao Dung adalah saudara kedua, dan saat ini sudah mencapai tingkatan pendekar raja tingkat menengah, sedangkan saudara tertua adalah Cao Mou, yang saat ini sudah mencapai tingkatan pendekar raja pertengahan tapi jauh lebih kuat dari saudara kedua dari segi fisik dan juga tenaga dalam.


Dengan ditekannya Qi serta kemampuan yang lainnya oleh segel tujuh bintang memang membuat Wu Yi Feng terlihat begitu lemah, dan tak lebih dari pendekar tingkat satu puncak atau awal pendekar ahli.


"Jika itu tadi adalah serangan terbaikmu, maka bersiaplah berjumpa dengan malaikat maut.." Wu Yi Feng melepas aura raja naga langit miliknya untuk menekan lawannya sebelum melesat dengan sangat cepat menuju ke arah sang lawan.


****


Selamat melaksanakan ibadah puasa Ramadhan ya bagi semua umat muslim dan muslimah.. Di kesempatan ini juga saya sebagai author meminta maaf jika selama ini ada salah2 kata, baik yang disengaja maupun tidak, semoga ibadah puasa kita tahun ini bisa diterima oleh Allah S.W.T.


Amiinnn...🙏🙏🙏