The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Pertempuran di Tengah Samudera III



"Tidak ada seseorang, aku bisa pastikan itu.. Tapi apa atau siapa yang membuat para prajurit dan pendekar meregang nyawa??" Batin Wu Yi Feng.


Wu Yi Feng mendekati dan memeriksa tubuh beberapa prajurit yang tewas akibat kabut tebal barusan, satu sayatan tepat di leher, mengakibatkan pendarahan dan kematian yang cepat.


"Luka seperti ini jelas dilakukan oleh serangan jarak dekat dan dengan senjata yang begitu tajam.. Tapi aku sama sekali tidak merasakan kehadiran seseorang..." Batin Wu Yi Feng.


Pemuda itu merasa geram, Wu Yi Feng lalu naik ke tiang paling tinggi di kapal. Kabut pekat yang menyelimuti kapal membuat jarak pandang menjadi sangat pendek. Tak ada tanda - tanda pergerakan, namun teriakan - teriakan kesakitan masih terus terdengar.


Merasa tak mendapatkan hasil, Wu Yi Feng turun kembali dan tanpa sengaja ujung matanya menangkap kilatan logam yang bergerak dengan cepat. Tanpa menunggu lagi Wu Yi Feng segera mengejar dan akhirnya berhasil mengambil logam tersebut yang ternyata adalah sebuah pedang melingkar ( mirip clurit ) dengan bekas darah di sekujur bilahnya yang tajam.


Senjata tersebut bahkan sempat berontak dan bergerak gerak ketika dalam genggaman Wu Yi Feng, tak menunggu lama pemuda itu segera menghancurkan senjata tersebut.


"Saudara Feng, senjata yang bisa bergerak dengan sendirinya hanya bisa dilakukan oleh penyihir." Seru Choi Dal Po.


"Aku setuju, kalian tolong beritahukan info ini kepada yang lain, sementara aku mencari dalang dibalik semua ini.." Wu Yi Feng kemudian melesat cepat dan menghilang diantara pekatnya kabut yang menyelimuti malam.


Wu Yi Feng menyalurkan Qi cukup banyak ke kedua matanya, sontak kedua mata pemuda tersebut bercahaya merah dan mampu menerobos pekatnya kabut. Wu Yi Feng berlari dan melompat kesana kemari, sampai pada akhirnya ia memanjat ke tiang tertinggi kapal.


Dipendarkan pandangannya jauh kedepan, hingga terlihatlah seorang kakek tua yang sedang bersila dan mulutnya komat kamit, jarak antara dirinya dengan kakek itu cukup jauh, melompat tidak akan bisa menggapai tempat dimana kakek tua itu berada.


Wu Yi Feng menoleh ke kanan dan kekiri sebelum melompat dan melesat terbang kearah lawan, ada sensasi aneh ketika ia melesat, karena ini adalah pertama kalinya ia terbang kembali setelah sekian lamanya.


Wu Yi Feng mempersiapkan pedangnya dan segera menghujam tepat kearah sang penyihir hingga sang kakek penyihir tewas dalam satu kali serangan dengan tubuh hancur, suara keras yang ditimbulkan serangan Wu Yi Feng membuat banyak anggota bajak laut mulai mendekat dan mengerumuni tempat tersebut.


"Kalian menggunakan jasa seorang penyihir untuk membunuh rekan - rekan kami, malam ini akan aku pastikan tidak ada satupun diantara kalian yang selamat.." Seru Wu Yi Feng seraya mengangkat pedang penari malam dan menyalurkan Qi kedalamnya hingga pedang tersebut menyala kemerahan.


BLAAARRRRR...


BLAAAAARRRRRR...


Dengan pedang yang telah terisi Qi, Wu Yi Feng membantai semua anggota bajak laut yang ada disana. Kebanyakan dari mereka kehilangan kepala dan tubuh terbelah dua dalam sekali tebas, darah dan bau amis segera memenuhi tempat tesebut. Bahkan baju yang dikenakan Wu Yi Feng telah berubah menjadi merah kehitaman karena terkena hujan darah.


Beberapa anggota bajak laut mencoba menghindar, mereka merasakan kengerian yang belum pernah mereka rasakan sebelumnya. Bagaimana mungkin ada seorang pemuda yang bisa membunuh orang lain tanpa berkedip, bahkan sorot matanya menunjukkan kebengisan.


Wu Yi Feng benar - benar kehilangan akal sehatnya, pemuda itu menari nari bersama pedang penari malam dan membantai para anggota bajak laut, bahkan para anggota yang sudah kehilangan nafsu bertarungnya dan berniat melarikan diri pun tak luput dari serangannya.


"Arrrgggghhhhh..."


Puluhan kepala yang terpisah dari tubuhnya dan juga jeritan kesakitan mewarnai kapal perompak, Wu Yi Feng menjadi orang terakhir yang berdiri disana. Dengan baju berlumuran darah pemuda tersebut melesat pergi menuju ke kapal bajak laut yang lainnya.


"Berlindungggg...!!!" Teriak Bai Lang seraya mendorong tubuh Chau Li untuk menghindar karena di waktu bersamaan meriam dari kapal bajak laut telah ditembakkan.


BOOOMMMMMM...


BOOOOMMMMMM...


BOOOOOMMMMM...


Tembakan meriam dari jarak yang cukup dekat membuat lambung kapal kekaisaran yang ditumpangi Bai Lang dan juga Chau Li hancur seketika dan juga membunuh lebih dari setengah prajurit serta pendekar yang ada di atasnya.


"Hahahahaha... Bagusss.. Terus tembak sampai hancur berkeping keping.." Suara gelak tawa dari kepala bajak laut sungguh kontras dengan pemandangan di hadapannya, dimana sebuah kapal terbakar dan karam dalam waktu singkat tanpa bisa melakukan perlawanan.


"Kalian berempat maju dan bunuh semua orang yang masih selamat.." Titahnya kepada keempat wakilnya.


"Akhirnya giliran kita tiba.." Seru salah seorang diantara mereka yang salah satu tangannya hilang dan diganti oleh sebilah pedang bermata dua.


"Xixixixi.. Biar para gadis aku yang urus.." Timpal seorang pria paruh baya yang terkenal gemar menjamah para gadis demi memperkuat ilmunya.


"Pergilah..!!!"


"Baik bosss..."


Keempatnya segera melesat dan berpencar, mereka segera menghampiri para prajurit dan juga pendekar yang selamat dari ledakan meriam, lalu tanpa menunggu lagi mereka langsung menyerang dan membunuh mereka yang tidak siap.


Dalam sekejap telah terjadi pertempuran yang cukup sengit diatas laut, tepatnya di serpihan kayu bekas kapal yang karam. Para prajurit dan juga pendekar yang tidak terbiasa bertarung diatas lautan hanya bisa pasrah dan bertahan sebisa mereka.


Belum juga mereka sempat bertahan lama ketika dengan mata kepala mereka melihat puluhan ikan hiu mulai mengepung dan memangsa siapapun yang tercebur ke laut, sedangkan di salah satu hiu terbesar ada seseorang yang menaiki hiu tersebut seolah olah semua hiu tunduk kepadanya.


JLEEEEBBBBB...


Seorang prajurit meregang nyawa ketika perutnya tertembus kail besar, dan seolah belum puas kali tersebut ia angkat dan lempar ke udara hingga tubuh prajurit tersebut ikut melayang dan terhempas ke laut dengan sangat keras.


"Hei cumi, singkirkan kail sialanmu atau kau akan menjadi santapan hiu - hiu ku.." Seru salah seorang wakil ketua yang mengontrol hiu kepada rekannya.


"Hehehehe... Tenang saja, kailku bisa membedakan mana lawan dan kawan.." Jawabnya sambil terkekeh.


"Hari ini akan menjadi sejarah terkelam dalam catatan kekaisaran Song, dan semoga ini menjadi pelajaran bagi kaisar untuk tidak lagi menganggap remeh kelompok bajak laut tengkorak samudera..!!!" Gumam Han Ji Hong sang ketua bajak laut.