The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Mendung Kelabu Di Kekaisaran Han



Tak terasa sudah lebih dari satu bulan Wu Yi Feng berada di puncak gunung kabut petir bersama dengan Luo Yun Xi, sang pilar petir.


Saat ini tingkat pemahaman Wu Yi Feng terhadap jurus pertama dari kitab Naga Langit, Seni Pernapasan naga, sudah sampai pada tingkatan ahli. Bocah laki - laki itu bahkan tak butuh waktu lama untuk memfokuskan pikirannya dan mulai menghimpun energi alam.


Hingga akhirnya, rambut Qi pertama miliknya yang telah terisi penuh oleh Qi mulai terbentuk. Wu Yi Feng bisa merasakan hal tersebut, bocah itu tersenyum simpul sejenak sebelum kembali meneruskan meditasinya.


Kali ini Wu Yi Feng bermeditasi selama dua minggu lamanya, sebelum akhirnya mengakhiri masa meditasinya. Hasilnya sudah beberapa helai rambut Qi yang tercipta, lebih tepatnya terisi oleh Qi, karena sebenarnya sejak lahir, dalam tubuhnya sudah ada rambut Qi yang tersebar diseluruh bagian tubuh Wu Yi Feng.


Wu Yi Feng bisa merasakan perbedaan dalam tubuhnya, kini ia merasa tubuhnya dipenuhi tenaga. Bocah itu berlari mencari gurunya yang memang tak terlihat selama beberapa hari.


"Guru... Guru.. dimana kau??"


"Ada apa teriak teriak??" Luo Yun Xi tiba - tiba saja muncul dari balik batu.


"Maaf, murid hanya ingin mengatakan jika sekarang murid telah mendapatkan rambut Qi."


"Mana? Coba ambil sehelai.."


"Ambil? Sehelai?? Bagaimana caranya guru??" Tanya Wu Yi Feng yang memang tidak mengerti.


"Kemarikan tangan kirimu.." Tanpa banyak ba bi bu, Luo Yun Xi segera menekan nadi di pergelangan tangan kiri, mengurut lengan Wu Yi Fan, dan menarik keluar sehelai rambut Qi milik muridnya.


"Hmmm.. Rambut Qi mu tebal dan berwarna kuning terang.. Akan sangat lama untuk mendapatkannya helai demi helai, karena ketebalannya." Ucap Luo Yun Xi, ia kemudian membandingkan rambut Qi miliknya dengan rambut Qi milik Wu Yi Feng.


"Apakah rambut Qi tiap pendekar berbeda beda guru??" Tanya Wu Yi Feng ketika memperhatikan rambut Qi milik gurunya yang berwarna putih keperakan dan jauh lebih tipis dari punya nya.


"Hmm..." Sekarang berlatihlah terus untuk mendapatkan rambut Qi sebanyak banyaknya, aku akan pergi terlebih dahulu karena ada sebuah urusan.


"Baik guru.." Wu Yi Feng segera bermeditasi kembali, sedangkan Luo Yun Xi menghilang dari tempat dalam sekejap.


Sementara itu ditempat lain, tepatnya di istana kekaisaran Han. Situasi sedang amat pelik karena kedua putra Kaisar Han sama - sama berambisi untuk menjadi Raja selanjutnya. Mereka sama - sama didukung oleh sekte - sekte berpengaruh yang ada di seluruh daerah cakupan kekaisaran.


Kedua pangeran yang bernama Hei Wang dan Hei Long sudah berseteru semenjak mereka kecil, mereka berdua adalah anak kembar dari sang permaisuri.


Karena usia mereka sama, sang kaisar Han Lee Hei Bei tidak bisa memberikan gelar putra mahkota ke salah satunya. Hal tersebut lah yang memicu konflik internal di lingkungan istana dan membuat kondisi pemerintahan kacau selama lebih dari 20 tahun belakangan.


Hal itu pula yang membuat banyak sekali kelompok - kelompok penjahat bermunculan, dari sekedar penjahat jalanan, hingga para pendekar sesat yang bersatu dan membuat sebuah organisasi besar seperti contohnya Kelompok Hantu Malam, dan Topeng Kematian. Bahkan kelompok Hantu Malam sudah menguasai beberapa desa pinggiran yang tidak terjamah oleh prajurit kekaisaran.


Para prajurit dan sekte putih yang ada bukannya bersatu untuk membasmi mereka, namun malah sibuk ikut campur dalam drama perebutan kekuasaan di istana.


Kondisi ini diperparah oleh kesehatan sang Kaisar yang tiap hari makin lemah, membuat penobatan sang putra mahkota tak bisa lagi di tunda - tunda. Akhirnya, setelah berdiskusi bersama para penasehatnya, diputuskan untuk menggelar sebuah turnamen beladiri, dimana pemenangnya akan dinobatkan sebagai putra mahkota dan berhak sebagai penerus tahta kelaisaran.


Tentu saja hal tersebut membuat para pendekar merasa diatas angin dan merasa sangat dibutuhkan. Mereka jadi banyak yang jual mahal dan pasang tarif setinggi langit.


Sekte tombak ganda contohnya, mereka meminta jabatan menteri utama jika berhasil membawa salah seorang pangeran menjadi putra mahkota.


"Pastikan saja kalian melakukannya dengan baik..!!" Ucap pangeran Hei Wan singkat dan padat sebelum pergi dari sekte tombak ganda.


Turnamen beladiri dengan hadiah titel putra mahkota kerajaan Han benar - benar membuat gempar jagad persilatan, banyak pendekar yang ingin menguji kemampuan mereka, tentu dengan misi terselubung untuk mendapatkan posisi strategis di dalam pemerintahan.


Karena saking banyaknya pendekar yang ingin mengikuti turnamen tersebut, kedua kubu sampai menggelar beberapa turnamen kecil untuk menyaring pendekar - pendekar hebat yang kelak akan mewakili kubu salah satu pangeran, mengingat turnamen akbar tersebut hanya mempertandingkan tiga babak.


Dengan otaknya yang licik, Huang Litao meminta kedua pangeran untuk menjanjikan satu hal. Yaitu pihak manapun yang menang  maka pihak tersebut wajib melindungi dan tidak memerangi pendukung dari pihak yang kalah.


Siasat tersebut bukan karena Huang takut kalah, melainkan karena ia berada di dua belah pihak. Huang Litao beserta ketua sekte tombak ganda, Huo Tu memang berdiri di dua kaki, dengan artian mereka membela dua -dua nya tanpa pangeran berdua sadari.


Meskipun yang nampak di permukaan, sekte tombak ganda membela pangeran Hei Long, namun tanpa sepengatuan, mereka juga membela pangeran Hei Wang. Ini lah dasarnya mengapa Huang mengajukan siasat tersebut.


"Tentu saja, kalian semua adalah penyokong dari kekaisaran. Sedangkan ini hanyalah sebuah turnamen.. Kalian tenang saja.." Ucap pangeran Hei Long yang diamini oleh pangeran Hei Wang dan juga sang kaisar Lee Hei Bei.


"Huang, bagaimana dengan para kelompok penganggu?? Apakah engkau sudah berhasil melenyapkan mereka?" Tanya Kaisar kepada Huang Litao yang saat ini menjabat ketua keamanan kerajaan.


"Ampun yang mulia, saat ini anak buah saya sedang memburu mereka semua. Mohon beri kami sedikit waktu lagi yang mulia.." Pinta Huang sambil berlutut.


"Baiklah, segera tumpas mereka semua.. Dan jangan sisakan satupun..!!!" Seru yang mulia.


"Siap laksanakan yang mulia..!!" Huang Litao menjawab dengan tegas, Huang Litao memberi hormat sekali lagi sebelum undur diri.