The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Pandemi Belum Berakhir



Ya, pandemi memang belum berakhir.. Setidaknya bagi sebagian orang, termasuk saya. Dua tahun sudah negeri tercinta kita, dan juga belahan dunia lain dilanda oleh sebuah penyakit mengerikan yang bernama Covid.


Covid tidak hanya merenggut nyawa, namun juga kebahagiaan dan juga mimpi kita semua. Pandemi meluluh lantakkan sendi - sendi perekonomian keluarga kami, rencana yang sudah kami susun jauh - jauh hari harus lenyap tak bersisa hanya dalam hitungan bulan.


Pandemi telah membuat saya sebagai kepala keluarga harus merasakan pahitnya di PHK, saya lelaki berusia diatas 30 tahun dengan tanggungan istri dan dua orang anak, serta mertua dan satu ponakan yang tinggal seatap.


Bisa kalian bayangkan, saya yang biasanya mendapatkan salary tiap bulannya, meskipun tidak banyak tapi cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup setiap harinya, dengan sedikit sisa untuk ditabung.


Hingga putusan itupun datang, memang jika semesta telah berkehendak kita mau berkata apa? Enam bulan lamanya saya menjadi seorang Pengangguran.. Mungkin jika status saya masih single, menjadi pengangguran bukanlah sebuah Aib, tapi saya adalah tulang punggung keluarga, banyak nyawa semuanya berharap kepadaku.


Tabungan yang seharusnya menurut rencana kami adalah cikal bakal rumah, habis untuk memenuhi kebutuhan hidup yang kian hari kian mencekik. Mau mengadu kemana kita? Ke Wa**l Ra***t?? Hahahaha... Jangan bercanda, kita semua sudah tahu tanpa harus saya jelaskan.


Hanya kepada Allah kami bermunajad dan berserah diri, terus terang selama hidup, mungkin enam bulan itulah Titik terendah dalam kehidupan saya. Menjadi pengangguran tanpa rencana cadangan membuat saya depresi, tidak menjadi gila adalah berkah terbesar dalam hidup saya kala itu.


Hingga akhirnya ada seorang teman lama yang mengajak saya untuk ikut bekerja di perusahaan dimana dirinya juga bekerja disana, apakah saya terima ajakannya?? Tentu saja, saya bahkan tidak berpikir 2x untuk itu. Bagi saya yang sudah berusia diatas kepala tiga, mendapatkan kembali kesempatan bekerja merupakan sebuah mimpi yang menjadi kenyataan.


Awal mula bekerja, terus terang saya hampir menyerah karena saya akui saya adalah seorang lelaki dengan kondisi fisik yang tidak terlalu kuat. Tapi untungnya Allah memberikan saya kelebihan di bidang olah otak, meskipun tak terlalu menonjol setidaknya jika harus bekerja dengan menguras otak selama berhari hari pun saya masih sanggup.


12 jam tiap hari saya harus bekerja, masuk pukul 8 pagi, dan pulang pukul 8 malam.. Alhamdullilah, dengan mulai bekerja maka berjalanlah lagi roda perekonomian keluarga saya. Tapi memang semua itu tidak ada yang sempurna, roda perekonomian keluarga saya memang sudah mulai bergerak kearah normal kembali, tapi dengan 12 jam kerja yang harus saya lakukan, itu membuat waktu berkumpul dengan keluarga menjadi jauh lebih terbatas.


Setiap hari saya hanya memiliki waktu 1 hingga 2 jam untuk berinteraksi bersama dua orang anak saya, waktu yang sangat sedikit, namun saya selalu percaya bahwa mereka akan mengerti kenapa ayahnya jarang ada di samping mereka, saya yakin anak - anak saya adalah anak - anak yang memiliki hati baja, namun memiliki perasaan yang sehalus sutera.


Mulai dari Nol ya.. Senyum sinisku terkembang tatkala mendengar iklan tersebut, seakan menertawakan kehidupanku yang seakan direset dan harus memulai semuanya dari awal. Benar - benar dari awal? Tidak..!! Dari minus pastinya, karena pandemi membuat saya harus meminjam dana dari kanan kiri atas bawah, dan kini sedikit demi sedikit saya harus memulai untuk mengembalikan apa yang saya pinjam.


Mimpi memiliki rumah sendiri? Hampir padam!!! Tapi ketika melihat kedua anakku tertidur dengan pulasnya diranjang sempit, mimpi itu seolah bangkit kembali dan membakar dada, ini bukan tentang apapun, ini hanya tentang perjuang kami sebagai orang tua yang ingin melihat anak - anaknya bahagia.


Saya selalu percaya, dimana ada kemauan disitu ada jalan.. Saya juga selalu percaya bahwa hasil tak akan menghianati usaha, meskipun harus menabung kembali dari setiap sen yang saya punya, saya selalu percaya bahwa keajaiban akan datang.


"Loe lebay tor.."


"Curhat terus..."


Ini bisa dibilang sebagai curhatan, tapi bisa juga dibilang sebagai pelepas sesak yang selama ini mengganjal di dada. Bersyukurlah saya mempunyai media NT sebagai sarana untuk sekedar berbagi derita.


Disini juga saya sekali lagi meminta para pembaca setia untuk bersabar, percayalah saya adalah orang pertama yang sangat ingin cerita ini UP setiap harinya, tapi sekali lagi, saat ini saya benar - benar dalam kondisi yang sangat kesulitan untuk mengatur waktu.


Saya hanya meminta do'a dari kalian semua, supaya secepatnya saya bisa menata kembali kehidupan saya, menata kembali waktu saya untuk keluarga, dan untuk hobby saya yaitu menulis.


Saat ini kita memang telah memasuki masa - masa Endemi, tapi percayalah banyak orang diluar sana yang merasa bahwa pandemi masih belum berakhir, dan entah kapan akan berakhir.


^^^Soerabaja 14 Juni 2022^^^