
Pedang lava melesat terbang dari kejauhan dan kembali ke genggaman Wu Yi Feng setelah memastikan bahwa tidak ada satupun perampok yang lolos, kemudian tanpa belas kasihan sama sekali Wu Yi Feng menarik rambut satu - satunya perampok yang masih hidup, pimpinan perampok yang sebelumnya sudah dibuat babak belur tersebut hanya bisa menahan sakit ketika rambutnya ditarik hingga ke salah satu rumah warga.
Wu Yi Feng melemparkan tubuh pemimpin perampok, kemudian mendekatinya seraya berbisik. "Beritahu aku semua yang kau tahu..!!!"
"Cihhh.. Asal kau tahu, meskipun kami sekumpulan bandit dan perampok tapi kami bukanlah orang yang takut akan yang namanya kematian..!!! Silahkan bunuh aku, tapi jangan harap aku akan bersuara atau mengatakan sesuatu..!!!"
"Hahahahaha.. Asal kau tahu juga, bagiku kematian bukanlah hukuman, melainkan sebuah pengampunan. Tetaplah diam, karena sebentar lagi kau akan mengemis dan meminta kepadaku supaya membunuhmu.." Bisik Wu Yi Feng sesaat sebelum ia menyiksa laki - laki tersebut dengan berbagai macam siksaan yang sangat tidak manusiawi.
"Tidaaaaaaakkkkkk..."
Beberapa saat kemudian, setelah mendapatkan semua informasi tentang kelompok perampok topeng kematian, Wu Yi Feng keluar dari rumah salah satu penduduk yang memang telah kosong. Betapa terkejutnya Wu Yi Feng karena saat ia keluar, bukanlah sebuah ucapan terima kasih yang ia dapatkan melainkan tatapan sinis dari para penduduk desa.
Wu Yi Feng membuang napas dengan kasar, lalu dengan santainya pemuda berusia 20 tahun itu berjalan menuju ke paviliun naga kembar. Wu Yi Feng mencoba memahami ketakutan para warga, namun tetap saja tidak sepatutnya mereka membuang muka kepada orang yang telah menyelamatkannya dari pembantaian massal.
Wu Yi Feng membenamkan dirinya kedalam kolam air mata naga yang ternyata adalah sebuah sumber mata air panas berbentuk telaga dengan kedalaman sekitar tiga meter. Dan sesuai perkataan wanita paruh baya pemilik penginapan jika sumber mata air panas ini memang bisa mengobati segala macam penyakit.
Ada rasa tenang dan nyaman yang menghampiri tatkala Wu Yi Feng berendam di dalam kolam air mata naga, bukan itu saja bahkan ia bisa merasakan ada kekuatan yang muncul dan meluap luap di dalam dirinya, pori - porinya mengecil, seluruh kotoran di tubuhnya terangkat, kulitnya jadi lebih halus serta wajahnya jadi lebih bersih dan bercahaya. (Sudah mirip iklan produk kecantikan belum..???)
Sambil berendam di sumber mata air panas Wu Yi Feng membuka kembali informasi yang ditulis oleh pimpinan perampok yang berisi tentang markas serta jumlah anggota yang ada di setiap markas mereka.
Wu Yi Feng sedikit terkejut saat menyadari bahwa di sekitar tempat ini saja ada dua markas cabang dengan anggota kurang lebih sekitar 300 - 500 orang perampok di setiap markas cabangnya. Namun ada satu hal yang membuat Wu Yi Feng lebih terkejut, yaitu pengakuan pimpinan perampok bahwa sepuluh tetua yang terkenal dengan sebutan barisan pencabut nyawa serta sang ketua utama saat ini tengah berada di kota Xiang Yang.
"Lebih baik sekarang aku hancurkan dulu dua markas yang ada di sekitar sini sebelum memikirkan cara untuk mengatasi para tetua topeng kematian.." Pikir Wu Yi Feng setelah selesai berendam, pemuda itu membakar pakaian putihnya yang kini telah penuh dengan cipratan darah, dan menyimpan topeng pemberian Ling Han kedalam cincin ruang.
Wu Yi Feng membungkus tubuhnya dengan pakaian serba hitam ala ninja, dengan pedang ganda yang tersarung di punggung dan beberapa pisau kecil mirip kunai di pinggang Wu Yi Feng mengakhiri persiapannya dengan menutup mulut serta hidungnya menggunakan kain berwarna senada, hingga kini hanya matanya yang terlihat.
Malam masih baru menjelang ketika Wu Yi Feng berlari dengan cepat dan melompat dari satu dahan pohon ke pohon yang lain, sambil terus memperhatikan situasi sekitar dengan menggunakan indra spiritualnya Wu Yi Feng menuju ke markas dari topeng kematian yang berada paling dekat dengan desa.
Setelah berlari beberapa waktu, akhirnya Wu Yi Feng tiba juga di markas cabang dari perampok topeng kematian. Tepat seperti dugaan awal, markas mereka terdiri dari tiga tenda dimana ada dua tenda kecil dan satu tenda yang sangat besar yang semuanya terkamuflase secara alami dengan dedaunan yang menutupi seluruh markas.
"Hei Gou, aku butuh bantuanmu sekali lagi.." Ucap Wu Yi Feng dalam hati.
"Cihhh.. Jika bukan karena segel yang kau tanam, aku tidak akan sudi melakukan perintahmu."
"Terima kasih, tugasmu masih sama.. Bunuh semua orang yang hendak kabur dari tempat ini..!!"
"Hahahaha.. Kau tahu bocah, menurutku kau terlalu ikut campur. Setahuku ini bukanlah urusanmu.. Dan jangan membodohi aku dengan kata - kata naif, kau mengatakan seolah - olah ini semua demi kebaikan orang - orang, padahal kenyataannya semua ini hanya untuk memuasakan hasrat membunuhmu saja..!!!"
"Diam dan lakukan saja tugasmu..!!!" Wu Yi Feng melemparkan pedang lava ke langit malam yang gelap.
Wu Yi Feng kembali mengamati sekitar sebelum akhirnya mulai bertindak, sebagai permulaan ia menyerang tenda kecil yang berada di samping tenda utama.
SLEEEEEBBBB....
SLAAAASSSSSHHHH...
Dua orang perampok yang sedang berjaga di depan tenda sama sekali tidak mengetahui kapan atau bagaimana mereka mati karena Wu Yi Feng melakukannya dengan sangat cepat dan efektif. Setelah membereskan penjaga Wu Yi Feng mengintip kedalam, rupanya di dalam tidak ada satupun penjaga karena tenda kecil ini berfungsi sebagai gudang bahan logistik mereka.
Dengan sigap Wu Yi Feng mengosongkan isi tenda kecil tersebut dan menyimpan semuanya kedalam cincin ruang. Setelah mengurus mayat dua penjaga, Wu Yi Feng mengendap endap menuju ke tenda utama.
Wu Yi Feng sedikit tersenyum karena menyadari bahwa tenda tersebut hanya memiliki satu pintu untuk keluar masuk, meskipun dalam keadaan darurat kita juga bisa merobek tenda dengan pedang untuk melarikan diri. Setidaknya dengan begini, asalkan ia bisa membereskan semuanya dengan cepat maka perampok yang kabur mungkin hanya satu atau dua orang.
Kali ini ada empat orang yang berjaga di pintu masuk tenda, keempat orang itu sedang meminum arak dan berbincang bincang untuk menghangatkan badan karena cuaca memang terasa begitu dingin malam ini.
Setelah menghirup napas panjang Wu Yi Feng keluar dari persembunyiannya lalu berjalan santai ke arah para penjaga.
Keempat penjaga yang melihat Wu Yi Feng hanya bisa tercengang, sebelum mereka sempat berteriak Wu Yi Feng dengan cepat melemparkan pisau kecil yang menancap pada batang tenggorokan mereka berempat.