The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Pedang Penari Malam



"Menyingkirlah selama aku masih sabar..!!" Tegas Wu Yi Feng.


"Hahaha... apa kau tidak pernah mendengar tentang kehebatan sekte tombak suci???"


"Aku tidak peduli, aku hanya ingin lewat..!!" Wu Yi Feng mengeluarkan aura raja naga langit miliknya yang membuat pemuda di depannya menjadi kaku, tubuhnya mendadak terasa sangat berat dan sulit untuk bernapas.


"Ap... Apa yang kau lakukan..??"


Wu Yi Feng tak menjawab dan segera beranjak pergi dari sana, namun kedua murid dari sekte tombak suci lainnya bergegas menyusul dan menghadangnya kembali.


"Kau apakan saudara kami???" Hardik mereka secara bersamaan.


"Melakukan apa?? Aku bahkan tidak menyentuhnya sama sekali.." Ucap wu Yi Feng dengan nada sinis.


"Kurang ajar, sudah bosan hidup kau rupanya.. Terima ini..!!" Kedua murid sekte tombak suci menarik senjata mereka dari cincin ruang yang berupa tombak dan langsung menyerang Wu Yi Feng.


Formasi keduanya dalam menyerang begitu hebat, membuat Wu Yi Feng harus mundur dan lebih berkonsentrasi.


Sebenarnya mudah saja bagi Wu Yi Fenh mengalahkan keduanya, namun itu berarti ia harus mengeluarkan kemampuan yang sebenarnya.


Pertarungan mereka membuat orang - orang disekitar berkumpul dan mendekat untuk melihat ketiganya beraksi.


Disaat Wu Yi Feng hampir terdesak, muncullah ketiga rekan seperjalanannya untuk membantu dan menengahi.


"Hentikan...!! Tahan senjata kalian.." Seru salah seorang teman seperjalanan.


Semua pendekar yang ada disana segera berhenti, kedua murid sekte tombak suci segera memasukkan kembali tombaknya kedalam cincin ruang.


"Saudara Feng, sebenarnya ada apa? Kenapa kau sampai terlibat perkelahian dengan mereka??" Tanya salah seorang dari mereka.


Wu Yi Feng pun mulai menjelaskan kronologinya mulai dari ia yang tidak sengaja menabrak kawanan murid sekte tombak suci, memberinya ganti rugi, hingga mereka yang memaksa dirinya untuk menyerahkan cincin ruangnya.


"Saudaraku, apakah benar yang kau katakan??"


"Buat apa aku berbohong??"


"Jika benar begitu adanya, maka harusnya saudara Feng sudah meminta maaf dengan semestinya. Kita sama - sama seorang pendekar, apalagi kalian adalah murid dari sekte putih.."


Tatapan para penduduk yang seolah menghakimi, membuat ketiga murid dari sekte tombak suci marah. Tapi sebelum mereka sempat melampiaskan amarah mereka, datang seseorang dengan perawakan tinggi besar, dan berbadan kekar.


"Kalian bertiga jangan membuat malu perguruan, cepat minta maaf dan kembalikan uang mereka..!!!"


"Ba.. Baik kak Huo.." Ketiganya gemetar, salah satu dari mereka mengembalikan uang milik Wu Yi Feng lalu mereka bertiga meminta maaf sebelum akhirnya pergi dari sana, mengikuti sang senior yang bernama Huo Lim.


Para penduduk membubarkan diri begitu keempat anggota sekte tombak suci pergi, tiga orang rekan seperjalanan Wu Yi Feng pun sudah hendak pergi ketika mereka menyadari wajah Wu Yi Feng pucat dan sekujur tubuhnya gemetar.


"Tid.. Tidak apa - apa.." Wu Yi Feng mencoba bertahan, tanpa disadari oleh semuanya, senior Huo Lim menyerang Wu Yi Feng dengan aura membunuh yang sangat kuat.


Hampir saja Wu Yi Feng tidak bisa bertahan, bocah berusia 13 tahun itu sampai harus mengerahkan semua kemampuannya hanya untuk membendung aura membunuh yang dimiliki oleh Huo Lim.


Sesampainya di penginapan, Wu Yi Feng segera meminun ginseng hangat dan berbaring di kasur. Wu Yi Feng menghela napas panjang, kejadian ini menyadarkannya bahwa dunia persilatan amat keras dan diatas langit masih ada langit.


Tekadnya untuk menjadi kuat makin tertanam dalam sanubarinya, Wu Yi Feng pun berpikir bahwa menjadi murid salah satu sekte mungkin akan membantunya untuk membentuk tubuh dan stamina.


Hari itu akhirnya ia memutuskan untuk ikut mendaftar bersama ketiga teman seperjalanannya yang bernama Chau Li, Wan Ming, dan Bai Lang.


Mereka berempat kembali meneruskan perjalanan keesokan harinya, meskipun sikap pendiam Wu Yi Feng bertolak belakang dengan sikap mereka yang ramai dan kocak, namun mereka masih tetap enjoy karena Wu Yi Feng. bukanlah seorang yang mementingkan diri sendiri.


Tak sekali dua kali Wu Yi Feng membantu mereka, karena bagi Wu Yi Feng sendiri, mereka bertiga adalah teman pertama yang ia miliki sampai saat ini.


Tak ada halangan berarti yang mereka temui setelah peristiwa dengan murid dari sekte tombak suci, hanya beberapa siluman kecil dan juga perampok jalanan. Akhirnya setelah menempuh 12 hari perjalanan, mereka sampai juga di dekat gerbang Kota Lu Dong.


Keempatnya memasuki kota tanpa kesulitan sedikitpun, nampak kota sangat ramai dan penuh dengan para calon murid sekte pedang langit.


Wu Yi Feng memasuki sebuah toko yang menjual aneka jenis senjata, toko tersebut memiliki dua tingkat dimana tingkat kedua adalah tempat senjata kualitas pusaka bumi, sedangkat tingkat pertama merupakan senjata dengan kualitas rendah atau standart.


Wu Yi Feng naik ke lantai atas dan mendapati aneka jenis senjata, di lantai dua lebih sedikit orang karena disini harganya sangat mahal, mereka rata - rata berbelanja di bawah yang harganya relatif terjangkau.


Toko cabang dari Bintang Timur ini termasuk lengkap, Wu Yi Feng sendiri akhirnya menjatuhkan pilihannya kepada sebuah pedang berwarna hitam dengan pinggiran berwarna merah menyala.


"Anda benar - benar jeli Tuan muda, itu merupakan salah satu pusaka terbaik disini. Dibuat dari pecahan bintang malam, dan batuan lava gunung berapi kuno, kami menyebutnya Pedang Penari Malam."


"Pedang penari malam??" Wu Yi Feng mencoba menimbang sejenak sebelum memutuskan untuk membelinya karena harganya yang cukup mahal, yaitu 5000 keping uang emas.


Pedang penari malam terbungkus sarung pedang yang terbuat dari kulit gajah purba, teksturnya sangat kesat dan nyaman dalam genggaman.


Sebagai hadiah karena telah membeli sebuah pusaka, sang penjaga toko memberikannya sebilah pisau yang mempunyai fisik hampir menyerupai pedang penari malam dan juga beberapa butir pil, yang katanya adalah Pil Mustika Embun.


Pil mustika embun sendiri berfungsi sebagai pengembali stamina dan energi yang sudah sangat terkenal di kalangan para pendekar.


"Wah, kau sungguh beruntung saudara Feng. Harga pil mustika embun sendiri cukup mahal untuk saat ini.." Bisik Bai Lang.


Setelah beberapa waktu berada di dalam toko, mereka berempat akhirnya keluar dan mencari sebuah kedai makan untuk mengisi perut.


Tes penerimaan murid baru sekte pedang langit sendiri akan diadakan satu pekan lagi, itu berarti mereka punya kesempatan yang cukup untuk berlatih. Keempatnya sepakat memilih tinggal di sekitar perbatasan kota, dimana disana ada sebuah penginapan dengan halaman yang luas. Cocok untuk berlatih bagi para pendekar muda seperti mereka.


Wu Yi Feng sendiri lebih memilih mengurung dirinya untuk bermeditasi dan berlatih di dimensi cincin ruang selama kurang lebih lima hari. Ia dengan serius mempelajari kitab pedang empat musim yang diberikan oleh pilar air.


Dengan kecerdasannya, Wu Yi Feng berhasil mempelajari jurus - jurus pedang empat musim yang terkenal rumit karena penekanan tenaga dalam yang tinggi dan juga konsentrasi yang lama dan stabil.