The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Tes Penerimaan VII ( Kabut Kematian )



"Malam semakin larut, lebih baik kita beristirahat dulu disini untuk mengembalikan stamina dan tenaga dalam." Seru Bai Lang seraya mengajak teman - temannya.


"Usul yang masuk akal.."


"Baiklah ayo kita istirahat disana.." Wan Ming menunjuk sebuah tempat yang cukup rimbun.


"Kalian beristirahatlah terlebih dahulu, biar aku yang berjaga..!!" Wu Yi Feng kemudian duduk di salah satu pohon dan mulai mengedarkan indra spiritualnya untuk mendeteksi pergerakan dalam radius ratusan meter.


Waktu pun berlalu, Wu Yi Feng terbangun di sebuah taman bunga yang sangat indah, dengan langit biru serta matahari yang menyinari dan angin yang berhembus semilir.


"Tempat apa ini?? Apakah aku bermimpi???" Bocah berusia 13 tahun itu bangkit dan mulai berjalan menyusuri taman yang ditumbuhi beraneka bunga.


Tak jauh dari taman bunga, terdapat sebuah telaga atau danau dengan airnya yang berwarna biru jernih, nampak ikan - ikan sedang berenang dengan anggun di dalamnya.


"Yi Feng anakku??"


Terdengar suara wanita yang cukup akrab ditelinga Wu Yi Feng, suara yang sudah lama tidak ia dengar, suara yang sangat ia rindukan. Pemuda berumur 13 tahun itu dengan cepatnya menoleh dan mendapati ayah serta ibunya berdiri tak jauh di belakangnya. Keduanya tersenyum sambil menatap Wu Yi Feng dengan penuh rasa sayang.


"Ayah.. Ibu..?? Apakah ini surga??" Wu Yi Feng mendekat, ingin melihat kedua orang tuanya dengan lebih jelas.


Tak terasa air mata mulai jatuh dari pipinya, ia membuang pedang yang sedari tadi ia genggam dan menghambur memeluk ayah serta ibunya.


"Aku rindu kalian.." Itulah yang ia ucapkan berulang kali.


Wu Yi Feng seolah tak peduli meskipun ini adalah perangkap musuh atau apapun, bisa bersama kedua orang tuanya, jauh lebih baik daripada menjalani hidup sendirian.


Mereka bertiga mulai berjalan, senyum tak pernah pudar dari wajah Wu Yi Feng. Sepanjang perjalanan ketiganya banyak bercerita, hingga tak terasa mereka telah sampai di sebuah rumah yang cukup sederhana namun terlihat asri dan nyaman.


"Bagaimana menurutmu dengan tempat ini..???" Tanya Wu Lao.


"Sempurna..." Jawab Wu Yi Feng singkat.


"Baguslah kalau kamu suka.." Wu Lao dan istrinya tersenyum gembira.


"Kau mau makan apa?? Ikan?? Bagaimana kalau kita memancing di danau??" Ajak wu Lao.


"Terserah, aku tidak lapar.. Aku hanya ingin bersama dengan kalian selama mungkin.." Wu Yi Feng menangis, karena jauh didalam hatinya ia sadar bahwa semua yang ada di hadapannya kini tidaklah nyata.


Sementara itu di dunia nyata terlihat sebuah pemandangan mengerikan, dimana gunung tempat diadakannya ujian terakhir penerimaan murid baru sekte pedang langit sedang diselimuti oleh kabut, bukan kabut biasa melainkan Kabut Kematian.


Konon katanya, kabut kematian adalah sebuah kabut yang bisa mengabulkan impian atau keinginan terdalam dari hati seorang manusia, tapi itu semua tidaklah gratis, melainkan ditukar dengan nyawa.


Seseorang yang terperangkap dalam kabut kematian akhirnya akan memilih untuk tinggal dalam dunia mimpi, dunia khayalan. Sedangkan tubuh mereka akan tergerogoti oleh sebuah bakteri mematikan yang memakan daging serta tenaga dalam mereka dalam waktu singkat.


Seperti yang saat ini dialami oleh Wu Yi Feng dan teman - temannya, mereka memasuki sebuah alam dimana impian terdalam mereka menjadi kenyataan.


Jika impian Wu Yi Feng adalah bertemu kembali dengan kedua orang tuanya, maka impian Bai Lang adalah menjadi pendekar terkuat di dunia.


Sedangan Wan Ming mempunyai sebuah impian menjadi Kaisar, dirinya kini seolah - olah sedang duduk di singgasana nya yang megah, dimana di bawahnya berjejer banyak menteri yang sedang memberikan laporannya satu persatu.


Impian Chau Li jauh lebih sederhana, ia hanya ingin mempunyai lima istri yang cantik jelita dan menghabiskan waktu bersama mereka semua di sebuah rumah yang sejuk dan asri di sebuah bukit yang jauh dari keramaian penduduk.


"Istriku, mau kemana kau??" Ucapnya sembari membetulkan pakaiannya yang terbuka.


"Mau mandi suamiku, badanku lengket semua.."


"Mandi?? Ayo mandi sama - sama.. Badanku juga lengket dan bau.."


"Ihh.. Genitt.."


"Hahahaha.. Ayo mandi berdua.."


***


Kembali ke Wu Yi Feng, meskipun semua yang ada di hadapannya hanyalah ilusi semata, namun ia tak bisa menyangkal jika semua itu adalah impiannya.


Entah sudah berapa lama ia tinggal bersama kedua orang tuanya di dunia ilusi, tanpa ia sadari tubuh aslinya makin melemah, karena kabut kematian menyerap intisari kehidupannya.


"Ini gawat, saudara Feng sadarlah.. Sadarlah.." Bai Lang menggoyang goyangkan, bahkan menampar pipi Wu Yi Feng berulang kali, tapi Wu Yi Feng tetap tak bergeming.


Hanya dalan beberapa jam saja (waktu di dunia nyata) tubuh Wu Yi Feng sudah tinggal tulang berbalut kulit, Qi nya pun turut habis tersedot efek dari kabut kematian.


Di dunia ilusi, Wu Yi Feng sedang termenung di tepi danau ketika ibunya menghampiri dan ikut duduk di sampingnya.


"Anakku, apa yang sedang kau pikirkan??"


Wu Yi Feng menoleh, ia menatap dalam - dalam sebelum akhirnya berkata, "Ibu, maafkan aku.. Meskipun aku bahagia bisa bertemu dan tinggal bersama kalian berdua, namun aku sadar duniaku bukanlah disini. Terima kasih atas semuanya.. Aku sayang kepada kalian, tunggu aku, sebentar lagi aku akan membalas dendam kalian berdua. Sampaikan salamku pada ayah.."


Wu Yi Feng bangkit dan memeluk erat ibunya sebelum akhirnya, perlahan lahan tubuhnya menghilang, senyum tulus dari ibunya lah yang terakhir ia lihat.


"Uhuuukkk..." Wu Yi Feng memuntahkan segenggam darah kotor berwarna hitam pekat, dengan perlahan ia mulai membuka matanya dan kembali ke dunia nyata.


"Akhirnya kau sadar juga, syukurlah.." Chau Li sampai terduduk saking leganya, sedangkan dua orang temannya yang lain bersandar di pohon sambil menghela napas panjang.


"Berapa lama aku tidak sadarkan diri??" Ucap Wu Yi Feng lemah.


"Sekitar setengah hari.." Jawab Bai Lang.


"Setengah hari? Dan tubuhku menjadi sekurus ini???" Wu Yi Feng tak bisa membayangkan bagaimana jadinya jika ia berada disana sedikit saja lebih lama.


Dengan tenaga yang tersisa, Wu Yi Feng mengeluarkan beberapa pil dari cincin ruangnya, termasuk pil mustika embun.


Ia langsung meminum semua pil - pil tersebut dan mulai berkonsentrasi untuk menghisap energi alam. Teman - temannya pun gantian berjaga selama ia bermeditasi.