
Diluar perkiraan keempatnya, badai salju rupanya datang jauh lebih cepat. Bahkan badai salju kali ini membuat mereka semua sampai kewalahan karena saking derasnya.
"Kita tidak bisa meneruskan perjalanan jika cuacanya makin memburuk, ayo semuanya sedikit lagi pasti kita sampai di sebuah perkampungan.." Seru Ling Han mencoba menyemangati ketiga anak didiknya.
Beberapa saat kemudian, setelah perjuangan berat melawan badai salju dan juga tumpukan salju yang mulai meninggi, mereka akhirnya melihat gapura sebuah perkampungan yang letaknya sudah tidak jauh lagi dari posisi mereka saat ini.
Wu Yi Feng menemukan keanehan ketika mulai mendekati perkampungan tersebut, banyak rumah terbengkalai dan keadaan yang terlalu sepi. Biasanya sekalipun di tengah badai, akan ada satu atau dua petugas yang berpatroli. Sedangkan kampung ini lebih mirip dengan kota mati yang ditinggalkan penduduknya.
Andai saja tidak terlihat nyala perapian sebagai penghangat tubuh mungkin mereka berpikir bahwa perkampungan ini telah ditinggalkan. Perkampungan yang berisi tidak lebih dari seratus rumah tersebut rupanya hanya memiliki satu penginapan sederhana.
Ketika keempatnya memasuki penginapan berlantai dua tersebut, suasana yang tersaji lebih mirip memasuki rumah hantu, Bahkan Wang Fei Lin mengaku bulu kuduknya sampai berdiri.
"Kalian duduklah, karena didalam sini masih jauh lebih baik daripada diluar dengan badai salju dan angin sekencang itu.." Ucap Ling Han sambil menggosokkan kedua tangannya yang mulai membeku.
"Permisi, apakah ada orang??" Seru Ling Han.
Beberapa saat kemudian muncul wanita paruh baya dengan membawa lilin, raut wajah wanita paruh baya tersebut sama sekali tidak memperlihatkan kebahagian karena ada pengunjung yang ingin menginap di penginapannya.
"Kami ingin memesan empat kamar dan juga beberapa hidangan hangat.."
Dengan uang bekal tambahan yang didapat dari ketua sekte sebelumnya dan juga seringnya mereka tidur beratapkan langit, Ling Han merasa tidak perlu terlalu berhemat.
Ling Han memesan empat kamar karena melihat banyak kamar yang kosong, Wu Yi Feng juga merasa akan lebih leluasa bermeditasi jika bisa memiliki kamar sendiri.
Badai mungkin akan berlangsung beberapa hari, Wu Yi Feng berencana menggunakan waktu ini untuk sepenuhnya berlatih. Wang Fei Lin dan juga Chau Li bergegas memasuki kamar mereka masing-masing untuk berganti pakaian, wanita pemilik penginapan juga telah menyediakan handuk dan pakaian kering untuk keempatnya.
"Pada malam hari akan tersedia air hangat di
permandian umum... Hidangan mohon disantap di meja yang tersedia di ruang utama." Wanita paruh baya itu menjelaskan.
Wu Yi Feng meninggalkan kamar setelah berganti pakaian, dia menuju ruang utama yang dimaksud untuk menyantap makanan. Perutnya terasa begitu lapar karena memang belum memakan apapun sejak pagi hari.
"Baru ada sup tahu hangat, aku akan memasak yang lain, mohon tunggu sebentar..." Wanita pemilik penginapan baru meletakan sepanci sup di salah satu meja ruang utama saat Wu Yi Feng memasuki ruangan.
Chau Li mengangguk pelan, dia mengambil satu mangkok kosong dan mengisinya dengan sup tahu hangat. Tidak lama setelah mereka mulai menikmati sup hangat tersebut, Ling Han memasuki ruangan. Keempatnya lalu menikmati sup untuk menghangatkan tubuh dari dinginnya udara diluar.
Wanita paruh baya kembali membawa beberapa hidangan, namun semua hidangan yang dibawanya berupa sayur-sayuran tanpa sedikitpun daging atau ikan.
"Nyonya, bisakah kau masakan kami daging? Uang bukan masalah..." Ling Han mengeluarkan beberapa keping koin emas.
"Maaf Tuan, ini bukan masalah uang tetapi tidak ada daging ataupun arak di tempatku." Jawab Wanita itu pelan.
Chau Li menaikan alisnya, sedikit tidak percaya sementara Ling Han mengangguk pelan,"Jika memang demikian, kami akan menikmati yang ada saja."
Wu Yi Feng mengangguk pelan dan keempatnya mulai menyantap hidangan, beberapa saat kemudian Ling Han menyadari wanita pemilik penginapan masih berdiri di dekat mereka dan menatap mereka berempat.
"Ada apa Nyonya?" tanya Ling Han.
Wanita itu seolah tersadar dari lamunannya, dia terlihat ragu sebelum akhirnya buka suara, "Tuan - tuan sebaiknya setelah anda selesai makan, segera tinggalkan tempat ini."
Chau Li hampir tersedak sayur yang hendak ditelannya, lagi-lagi mereka diminta untuk meninggalkan tempat ini. Wu Yi Feng ikut kebingungan karena sikap pemilik penginapan.
Jika sudah dua orang yang berbeda mengatakan hal serupa, pasti ada alasan dibaliknya. "Maaf Nyonya, bisakah anda menjelaskan alasan anda berkata demikian?" Wu Yi Feng bertanya sambil tersenyum,
"Mungkin kami bisa membantu jika kota ini memiliki masalah." Timpal Wang Fei Lin.
Wanita paruh baya tersebut terlihat ragu-ragu sebelum kemudian memberanikan diri untuk bertanya, "Tuan apakah kalian adalah seorang pendekar?"
Mereka berempat memang memakai jaket tebal karena badai salju, lagipula saat ini semuanya sedang memakai pakaian santai dan senjata mereka tersimpan di cincin ruang, mungkin itulah yang membuat mereka berempat tidak terlihat seperti pendekar kecuali orang dunia persilatan yang mungkin bisa merasakan tenaga dalam yang terpancar dari tubuh keempatnya.
"Bisa dikatakan demikian... Apa anda membutuhkan bantuan seorang pendekar?" Jawab Ling Han.
Wanita paruh baya tersebut bukannya menjelaskan situasi yang sedang dihadapi kota ini melainkan tiba-tiba berlutut dan mulai menangis, "Tuan Pendekar, Jika memang demikian bisakah anda membawa kedua anak gadisku meninggalkan tempat ini dengan kemampuanmu? Kumohon bantu kedua anak gadisku keluar dari tempat ini.."
Ling Han berusaha menenangkan wanita tersebut sementara Chau Li memilih untuk terus mengisi perutnya. Dari reaksi wanita tersebut saja, Wu Yi Feng sudah bisa memiliki gambaran tentang situasi yang terjadi.
Pada akhirnya Ling Han berhasil membuat wanita itu menceritakan masalah yang dihadapi tempat ini. Beberapa bulan yang lalu desa kecil ini dikunjungi oleh sekelompok perampok bersenjata lengkap, sebagian besar dari perampok ini memiliki kemampuan bela diri dan membuat para penjaga desa tidak mampu berbuat apa - apa.
"Apakah pasukan kekaisaran dan sekte aliran putih di daerah sekitar tidak mengulurkan bantuan??" Lin Han mencoba untuk memahami situasinya, sedangkan Wu Yi Feng sudah bisa menebak jawaban dari pemilik penginapan.
"Kepala desa pernah meminta bantuan kepada beberapa sekte aliran putih yang berada tidak jauh dari desa ini, dan mereka memang mengirim beberapa pendekar kesini, hanya saja para pendekar - pendekar itu bukanlah tandingan para perampok. Mereka makin marah dan membunuh kepala desa lalu menggantung mayatnya di gerbang desa sebagai peringatan bagi yang lainnya untuk tidak berbuat macam - macam."
"Sebenarnya apa yang mereka cari di desa kecil seperti ini?"
"Mereka membawa laki - laki yang masih kuat untuk dipekerjakan sebagai budak, mereka juga mengambil anak - anak gadis untuk memuaskan nafsu mereka sebelum kemudian para gadis itu mereka jual ke rumah bordil. Tapi itu bukanlah tujuan utama mereka.. Tujuan mereka sebenarnya adalah sumber mata air panas alami yang ada di ujung desa ini, tepatnya di kaki bukit."
"Sumber mata air panas alami..??"
Wanita paruh baya pemilik penginapan mengangguk lemah, menurutnya konon sumber mata air panas tersebut mempunyai khasiat yang ajaib bagi para pendekar. Khususnya bagi mereka yang mempunyai luka dalam, dengan berendam di sumber mata air panas tersebut maka luka dalam yang diderita akan sembuh seketika dan kemampuan sang pendekar yang berendam di sumber mata air panas tersebut akan meningkat dengan pesat.
Wu Yi Feng jadi teringat akan telaga keabadian yang berada di dimensi pengasingan, sontak saja otaknya dipenuhi oleh kenangan akan sosok istrinya Miya, hingga tanpa sadar mata pemuda tersebut memerah karena menahan kesedihan.
Sumber mata air panas tersebut mempunyai nama, wanita paruh baya pemilik penginapan sempat mendengar para anggota perampok mengatakan namanya, Kolam Air Mata Naga.