The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Siasat II



Baiklah kalau begitu, mari tuan.." Gadis cantik itu berjalan dengan pelan, sedangkan si lelaki telik sandi mengiringinya di samping, mereka nampak berbicara sepanjang perjalanan, bahkan sesekali terlihat sang gadis menutup mulutnya menahan tawa.


Xiao Wei menuntun si telik sandi menuju ke tengah hutan, lelaki paruh baya itu tidak jua merasakan bahaya, senyumnya merekah membayangkan hal - hal yang akan ia lakukan bersama gadis cantik di sebelahnya.


"Nona, apakah rumah keluargamu masih jauh??"


"Tidak tuan, sebentar lagi juga sampai.." Jawab Xiao Wei sambil memainkan kedua matanya yang lentik dan indah.


Ketika mereka sudah sampai di tengah - tengah hutan, Xiao Wei berhenti berjalan. Kuku - kuku jarinya telah memanjang dan runcing, gigi taringnya pun juga membesar dan ekor putih muncul.dari belakang tubuhnya Gadis cantik yang tadi terlihat kini telah menghilang, berganti dengan wujud mengerikan yang siap membunuh siapapun.


"No.. Nona ada apa dengan wajahmu??"


"Tidak ada apa - apa.."


"Si.. Siluman... Jangan mendekat atau ku.. Kubunuh kau.." Ucap telik sandi dengan gemetar sambil menghunuskan pedangnya.


"Hihihi.. Apakah kau berpikir pedangmu sanggup menghalauku??"


"Jangan mendekat kumohon.. A.. Aku masih ingin hidup.." Ucapnya terbata bata.


Xiao Wei mulai berjalan pelan, ia jelas sekali menikmati setiap momen dimana ia bisa menekan korbannya hingga titik dimana korbannya tak berdaya.


"Si.. Siapa yang menyuruhmu?? Apa maumu..??"


"Tanyakan saja semuanya ke raja neraka..!!!" Xiao Wei bergerak cepat, sangat cepat hingga lelaki tersebut tak menyadari ketika kuku jari jari panjang Xiao Wei menebas lehernya.


Darah mulai mengalir tatkala kepala dan tubuh lelaki tersebut terpisah, Xiao Wei melayang sejenak untuk memastikan bahwa misinya telah selesai sebelum kemudian melesat pergi dari sana. Sangat dingin, tanpa perasaan apapun, tanpa ekspresi sedikitpun Xiao Wei meninggalkan tubuh yang telah tak bernyawa tersebut di tengah hutan.


"Perintahmu sudah aku lakukan tuan.." Ucap Xiao Wei dengan nada bangga.


"Bagus, terima kasih sebelumnya.. Sekarang pergilah dan cari rombongan dari keluarga Bao.. Ikuti mereka secara diam diam dan tolong mereka ketika keadaan mendesak.." Jelas Wu Yi Feng.


"Baik Tuan, aku akan melaksanakannya sesuai rencana kita.." Xiao Wei melesat cepat meninggalkan Wu Yi Feng sendirian.


Matahari pagi bersinar dengan malu - malu, pagi itu udara terasa cukup dingin. Embun dan kabut menyelimuti seisi hutan, membuat jarak pandang menjadi terbatas. Kelompok pembunuh bayaran yang diutus oleh boss Huang jelas tidak memperkirakan hal ini.


"Saudaraku, apa yang harus kita lakukan sekarang??"


"Entahlah, kabut ini benar - benar datang disaat yang tidak tepat..!!"


"Lebih baik kita mengintai dari atas pohon, mungkin dengan begitu jarak pandang kita akan lebih jauh.." Seru Wu Yi Feng, mencoba memberikan solusi kepada kelompoknya.


"Ahh.. Kau benar, kenapa tidak terpikirkan olehku.."


Atas usul dari Wu Yi Feng, mereka akhirnya naik ke beberapa pohon tinggi yang ada disana. Wu Yi Feng mencoba mendaki pohon tertinggi guna melihat sudah seberapa dekat rombongan keluarga Bao sekarang berada.


"Bersiap - siap, rombongan keluarga Bao sudah hampir sampai.." Bisik Wu Yi Feng kepada anggota kelompoknya.


"Oke siap.."


Tap..


Tap..


Tap..


Suara derap langkah kaki kuda mulai mendekat, semakin lama semakin dekat, hingga ketika jarak diantara mereka tinggal beberapa meter saja, keempat rekan Wu Yi Feng segera melompat dan menerjang rombongan keluarga Bao.


"Hiyaaaa...."


Mereka menyergap rombongan yang terdiri dari kurang lebih dua puluhan orang tersebut, pertarungan sengit langsung terjadi, meskipun terlihat tidak imbang dalam segi jumlah, namun kemampuan para pembunuh bayaran yang lumayan tinggi membuat perbedaan jumlah bukanlah lagi sebuah masalah hingga dalam waktu sekejap saja rombongan keluarga Bao hanya menyisakan lima orang.


Mereka adalah tiga keluarga Bao yang terdiri dari suami istri dan satu orang anak perempuan berusia sekitar 7 tahunan, dan dua orang suku Elf.


Dua orang suku Elf segera mempersiapkan busur mereka, namun melawan kelima orang pembunuh yang telah terlatih jelas bukan perkara mudah. "Jika yang kalian inginkan adalah harta, maka ambillah.. Di dalam ketiga cincin ruang ini berisi seluruh harta dan juga barang dagangan kami, tapi setelah itu tolong lepaskan kami.." Ujar salah seorang diantara mereka yang terlihat sebagai pemimpin.


Lima orang bertopeng saling pandang, tujuan utama mereka jelas menghabisi nyawa keluarga Bao, tapi bos Huang tidak menyebutkan jika kami tidak boleh mengambil harta mereka sebagai jarahan. Mengingat semua itu membuat keempat orang rekan Wu Yi Feng tersenyum dari balik topeng.


"Hahahaha, baiklah lemparkan ketiga cincin tersebut.." Seru salah satu rekannya.


Kepala keluarga Bao yang merasa tidak memiliki jalan lain, mulai melemparkan ketiga cincinnya kepada para pembunuh bayaran tersebut.


Namun ketika cincin - cincin tersebut hendak ditangkap oleh salah satu pembunuh bayaran, sekelebat bayangan menangkap terlebih dahulu cincin itu dan melesat kembali kearah keluarga Bao.


"Siapa kau?? Dan apa urusanmu mengganggu kami???" Teriak salah satu rekan pembunuh Wu Yi Feng.


"Tak peduli siapa aku, tapi perbuatan kalian yang telah membuat kekacauan di hutan ini harus dihentikan..!!" Ucap gadis berpakaian hijau muda dikombinasikan putih tersebut dengan tenang sambil menyerahkan kembali ketiha cincin ruang yang berisi harta kepada kepala keluarga Bao.


"Cihh.. Baiklah jika itu pilihanmu, ayo kita bunuh semuanya.." Perintah rekan Wu Yi Feng sambil menghunuskan pedangnya dan berlari, diikuti oleh keempat yang lainnya.


Gadis berwajah cantik tersebut maju untuk menghadang kawanan pembunuh tersebut, dengan kemampuannya yang hebat, ia bisa menandingi kelimanya sekaligus, bahkan tak lama setelah itu bisa menumbangkan dua orang diantaranya.


Wu Yi Feng melompat maju, pedangnya terarah ke gadis cantik tersebut, namun ketika ujung pedangnya tinggal beberapa centi saja dari tubuh gadis tersebut, dengan cepat gadis tersebut mengibaskan pedangnya lalu memberikan sebuah serangan telapak yang cukup keras ke dadanya hingga menyebabkan pakainnya hancur dan menyebabkan luka dalam ditubuhnya, bahkan telapak tangan gadis tersebut membekas didadanya.


Wu Yi Feng terlempar kebelakang dengan keras, rekannya yang lain hanya bisa melihat sebelum akhirnya kembali menyerang gadis misterius dihadapannya.


Wu Yi Feng mencoba bangkit, namun ia segera memuntahkan darah kotor berwarna kehitaman, pemuda itu memegangi dadanya yang saat ini terasa seperti terbakar, sedangkan dua orang rekannya menjemput ajal di tangan gadis misterius tersebut.


Dua orang rekannya yang lain juga terluka meskipun tidak terlalu parah, mereka akhirnya memutuskan untuk mundur setelah sebelumnya membantu Wu Yi Feng untuk bangkit dan berlari menjauh dari sana.