
Di sebuah sungai yang tidak terlalu dalam, terlihat seorang bocah laki - laki yang sedang bertahan dari derasnya aliran air di sungai tersebut.
Kedua rahangnya mulai bergemeretak dan badannya gemetar, menggigil kedinginan karena suhu air yang memang cukup dingin di malam itu, ya saat itu hari telah menunjukkan tengah malam.
"Apakah kau masih bisa bertahan..??" Wu Yi Feng mencoba memeriksa keadaan muridnya Xiao Chen.
"Ma.. Masih guru.." Jawabnya dengan terbata - bata.
"Sudah cukup untuk hari ini, naiklah.." Wu Yi Feng tersenyum, ia akui tekad kuat yang dimiliki bocah laki - laki tersebut.
"Cepat ganti pakaianmu lalu segera habiskan makananmu..." Wu Yi Feng kembali memberikan sepotong daging siluman untuk dikonsumsi oleh Xiao Chen, tak ketinggalan sebiji pil pembentuk energi.
"Hmmm.. Daging ini lezat sekali guru.." Xiao Chen makan dengan lahap, hingga dagingnya sudah habis dalam waktu singkat.
"Pelan - pelan saja, tidak ada yang berebut makanan denganmu.." Wu Yi Feng mengeluarkan seguci kecil arak, pemuda itu mensesap araknya secara perlahan sambil menatap Xiao Chen yang sedang bermeditasi.
Saat ini tubuh kecil Xiao Chen sanggup untuk menghancurkan batu besar hanya dengan sekali pukul, meskipun lingkaran tenaga dalamnya belum terbentuk sama sekali, tapi kemampuan fisiknya begitu mengerikan.
Setelah pembentukan tubuh dasar, Wu Yi Feng mulai memperkenalkan Xiao Chen dengan berbagai macam senjata. Dan dari banyak senjata, ia memilih untuk memakai tombak ganda, sebuah tombak panjang yang bisa di pisah menjadi dua bagian dengan rantai sebagai penyambungnya.
Wu Yi Feng membuatkan senjata untuk Xiao Chen dari bermacam material khusus yang ia ambil ketika berada di gua petir, senjata tersebut memiliki kualitas yang tidak bisa dianggap remeh.
"Aku akan memberinya nama Tombak Naga Langit.." Ucap Xiao Chen dengan wajah berseri seri, bocah berusia sembilan tahun itu tak sabar untuk memainkan senjatanya hingga ia berlatih seharian.
Wu Yi Feng sengaja tidak menghentikan, bagaimanapun itu baik untuk perkembangannya. Wu Yi Feng sadar jika ia tidak punya banyak waktu untuk mengajari Xiao Chen karena itu ia selalu membiarkan bocah itu berlatih sesuai dengan kehendaknya.
"Sudah saatnya kau berlatih untuk mengumpulkan lingkaran tenaga dalam.." Ucap Wu Yi Feng di suatu siang, kini sudah tiga bulan lebih mereka berada di hutan bersama.
"Baik guru, aku siap.." Xiao Chen tersenyum bahagia, wajar jika bocah itu berbahagia karena selama tiga bulan ini ia telah menjalani pelatihan yang sangat berat, hal itu bisa dilihat dari belas luka yang ada di sekujur tubuhnya.
"Sekarang bentuk sikap meditasi, atur pernapasanmu hingga akhirnya engkau merasa bahwa kau menyatu bersama alam." Jelas Wu Yi Feng.
"Siap.." Xiao Chen segera membentuk sikap meditasi, bocah itu memejamkan matanya lalu mulai mengatur pernapasan.
"Konsentrasi penuh, rasakan bahwa kau menghilang dari tempat ini.. Dengarkan semua yang bisa kau dengarkan.. Bersatulah dengan alam.."
Xiao Chen hanya mengangguk, perlahan lahan ia mulai menyatu, bahkan ia saat ini bisa mendengar suara semut yang berjalan dan juga suara burung serta suara air terjun dikejauhan. Xiao Chen terus berkonsentrasi hingga pada suatu titik ia tidak lagi menghembuskan napas.
Seluruh pori - pori di tubuhnya terbuka dan energi alam di sekitar tempat ini seperti terhisap masuk kedalam tubuh bocah laki - laki tersebut. Layaknya sebuah air yang menetes, dantian yang kering di tubuh Xiao Chen mulai terisi oleh energi, dan ketika energi itu terkumpul, maka essensi energi alam tersebut membentuk sebuah tetesan dan masuk kedalam dantian.
Layaknya air yang menetes dan membuat sebuah gelombang di kolam, seperti itulah dantian Xiao Chen terisi. Bocah itu akhirnya berhasil membuat sebuah lingkaran tenaga dalamnya yang pertama, sekaligus menempatkannya ke tingkatan pendekar pemula kelas tiga.
Xiao Chen membuka mata, senyuman tersungging di bibirnya, bocah berusia sembilan tahun itu merasakan kegembiraan yang sulit di utarakan dengan kata - kata.
"Guru, biar aku coba tenaga dalamku.." Xiao Chen bangkit berdiri lalu menuju ke sebuah pohon besar yang berada tak jauh dari tempatnya.
"Salurkan tenaga dalammu melalui nadi, dan rasakan melalui hatimu.."
Xiao Chen menutup matanya, sedang tapaknya ia dekatkan ke batang pohon besar. Tapaknya tidak bersentuhan dengan batang namun dengan satu teriakan batang pohon besar tersebut meledak.
BOOOOOMMMMM...
Meskipun pohon tersebut tidak sampai roboh, tapi terdapat bekas berlubang yang lumayan dalam. Xiao Chen terengah engah satu lingkaran tenaga dalamnya habis seketika sehingga membuat Wu Yi Feng tersenyum tipis.
"Tidak buruk, hanya saja kontrol tenaga masih perlu ditingkatkan lagi.." Ucap Wu Yi Feng yang kemudian mendekati Xiao Chen dan mulai memberikannya pencerahan.
Sepuluh hari berlalu semenjak Xiao Chen mendapatkan lingkaran tenaga dalam pertamanya, kini ia sudah memiliki tiga lingkaran tenaga dalam, Xiao Chen tidak terus menerus menyerap energi alam, sebagian waktunya ia pergunakan juga untuk melatih tombak naga langit miliknya.
Hutan tempat mereka berlatih termasuk hutan yang aman, hampir tidak ditemui siluman sama sekali. Hal ini membuat Wu Yi Feng sedikit frustasi karena ia membutuhkan siluman untuk mencari tahu seberapa cepat perkembangan Xiao Chen.
Sudah berhari - hari Wu Yi Feng menjelajahi hutan, namun tak ada satupun binatang buas yang terlihat, karena merasa sudah terlalu lama berada di hutan, keduanya memutuskan turun gunung dan kembali ke kota.
Karena Xiao Chen masih belum bisa menggunakan cincin ruang jadinya senjata tombak naga langit miliknya hanya bisa dililit kain dan diikat di punggungnya. Bersama - sama mereka mulai berjalan menyusuri pinggiran hutan hingga sampai ke sebuah desa kecil.
Desa tersebut terlihat biasa saja, tapi ketika Wu Yi Feng dan juga Xiao Chen melewatinya, seluruh tatapan mata mereka tertuju pada buntalan kain yang ada di punggung Xiao Chen.
Entah kenapa Wu Yi Feng merasakan ketakutan di mata mereka, seakan akan mereka semua baru saja mengalami sesuatu yang mengerikan.
"Tuan, kami hanyalah orang biasa.. Kami tidak mau sama sekali berurusan dengan dunia beladiri jadi bisakah kalian segera pergi dari sini??" Ucap sosok lelaki tua yang menghampiri mereka ketika keduanya sedang beristirahat dan memesan makanan di kedai.
"Baiklah, kami akan segera pergi setelah ini.." Jawab Wu Yi Feng sambil tersenyum.
"Terima kasih tuan.." Lelaki tua itu memberikan penghormatan sebelum pergi dan membiarkan keduanya menyantap hidangan.
"Guru, sebenarnya ada apa??"
"Entahlah, tapi lebih baik kita segera pergi.. Lekas habiskan makananmu.." Wu Yi Feng menatap kepergian lelaki tua yang baru saja memperingatkan mereka dengan raut wajah keheranan.
"Karena hari ini kita tidak menemukan penginapan, maka terpaksa sekali lagi kita harus tidur beralaskan tanah dan berselimutkan bintang - bintang.." Seru Wu Yi Feng puitis.
"Sama sekali tidak masalah guru.." Jawab Xiao Chen cepat.