
Selang beberapa waktu, pemuda bernama Ten Xin Han mulai terlihat bergerak, meskipun seluruh tubuhnya bergetar hebat, namun ia tetap memaksakan untuk bangkit.
Di lain sisi, kakek tua bernama Ro Xhi juga perlahan tapi pasti bangkit, saat keduanya baru saja berdiri, kakek Ro Xhi dengan cepatnya melesat kearah Ten Xin Han dan melepaskan sebuah pukulan mematikan.
BUGGGGHHHHHHHH...
"Uhuuuuggghhh.." Pukulan dari kakek Ro Xhi tepat mengenai dantian Ten Xin Han secara telak, membuat pemuda itu tak sadarkan diri seketika.
"Beristirahatlah.. Aku tahu kamu lelah..." Bisiknya lirih.
Dengan robohnya Ten Xin Han, membuat pak tua Ro Xhi memenangkan pertandingan final. Tepuk tangan dan sorak sorai para penonton membahana, mereka sangat senang karena disuguhi pertarungan yang mendebarkan.
Pak tua Ro Xhi diijinkan untuk beristirahat terlebih dahulu sebelum penganugerahan gelar yang akan diberikan langsung oleh sang kaisar.
Sedangkan acara di lanjutkan ke tari - tarian, hiburan ini juga digemari oleh masyarakat. Banyak dari mereka, khusunya kaum adam yang ikut menari, berlenggak lenggok mengikuti irama. Semua itu membuat Kaisar tertawa, hatinya begitu senang melihat rakyatnya bisa bahagia dan bersenang senang.
Ternyata bukan hanya kaisar yang berbahagia, Wu Yi Feng juga tersenyum tipis dibalik topengnya. Jika Kaisar bersuka cita, beda halnya dengan kedua pangeran, raut wajah mereka berdua tegang karena sebentar lagi pertandingan tiga babak yang menentukan nasib mereka akan segera dilaksanakan.
Ketiga jagoan telah mereka siapkan, mereka rata - rata adalah pendekar yang telah mencapai tahapan atau tingkatan pendekar suci. Meskipun harga yang harus dibayar tidak murah untuk mendapatkan jasa mereka, namun demi untuk memperoleh titel sebagai putra mahkota, maka semahal apapun tetap kedua pangeran usahakan.
Keenam pendekar bersiap di sebuah tempat yang telah disiapkan, tak ada suara sedikitpun yang terdengar. Mereka semua lebih memilih untuk menutup mulut dan bermeditasi.
Setelah beberapa waktu, akhirnya saat - saat itu tiba juga, pertandingan yang akan menentukan arah dan masa depan dari kekaisaran Han.
Peserta pertama bersiap memasuki arena, kedua pendekar sama - sama bertubuh kekar dengan pandangan mata yang menakutkan. Mereka saling menekan dengan pancaran aura membunuh yang pekat.
Bahkan aura membunuh yang mereka pancarkan membuat penonton di barisan terdepan kesulitan bernapas, hingga banyak diantara mereka yang jatuh pingsan tak sadarkan diri.
Dibayar sangat mahal oleh para pangeran membuat tak ada kata kalah bagi mereka, lebih baik meregang nyawa daripada harus mengaku kalah, mungkin adalah slogan yang pantas buat mereka saat ini.
Kedua pendekar sama - sama bersenjatakan golok, namun mereka berbeda elemen, jika yang satu menguasai api, maka yang satu lagi menguasai jurus elemen angin.
"Mulai..!!!"
DASSSSSSSHHHHHHH...
Mereka melesat maju secara bersamaan, suara pertemuan dua logam terdengar begitu keras. Bagi masyarakat awam dan juga para pendekar rendahan, saat ini bisa dipastikan tak akan bisa mengikuti gerakan kedua peserta yang sangat cepat. Bahkan Wu Yi Feng saja hanya melihat bayangan dan percikan api.
"Apakah kau bisa mengikuti jalannya pertandingan..??" Tanya Luo Yun Xi.
"Sulit guru, mereka bagaikan kabut di mataku.." Jawab Wu Yi Feng dengan jujur.
"Murid akan berlatih jauh lebih keras lagi guru.." Wu Yi Feng kembali berkonsentrasi untuk mengikuti jalannya pertarungan.
Sementara itu di arena, kedua pendekar masih saling jual beli serangan. Tak sekalipun mereka terlihat berhenti untuk mengambil napas.
BLAAAAAMMMMMMMM...
Tiba - tiba saja sebuah energi api berbentuk kuda menerjang dan menimbulkan suara yang cukup keras, serangan kuda api tersebut bisa dipatahkan oleh lawannya dengan cara memutar goloknya dengan cepat hingga menimbulkan pusaran angin kencang.
"Kereeeennnnn... Lanjutttt.... Serangggg terusss...." Para penonton mulai meneriakkan dukungan mereka, semua bersuka cita dan bergembira.
Kedua petarung masih belum bergerak setelah serangan kuda api, "Sudah cukup pemanasannya, sekarang ayo kita serius..!!!" Keduanya menancapkan tombak mereka dan memilih melanjutkan pertarungan dengan tangan kosong.
Petarung berelemen api mencoba maju terlebih dahulu, kedua lengannya berwarna merah membara saking panasnya sampai - sampai semua penonton di dekatnya ikut merasakan panas.
Petarung angin bergerak dengan lincahnya, sebisa mungkin ia harus menghindari serangan Lengan Neraka milik lawannya jika tidak ingin kalah konyol.
"Petarung berlemen api telah masuk jebakan yang disiapkan oleh lawannya.." Ujar Luo Yun Xi pelan kepada Wu Yi Feng.
"Benarkah guru?? Kenapa aku melihatnya justru si angin yang terdesak ya??" Jawab Wu Yi Fan dengan polosnya.
"disitulah perbedaan antara petarung berpengalaman yang telah melakukan ratusan atau bahkan ribuan pertarungan, dibandingkan dirimu yang mungkin belum pernah bertarung." Ucap Luo Yun Xi, membuat Wu Yi Feng manggut manggut.
Benar saja yang pilar petir ucapkan, petarung api terlihat makin melemah seiring waktu, rupanya diam - diam petarung angin membuat sebuah kubah transparan di sepanjang arena, kubah tersebut sedikit demi sedikit menyedot udara yang ada di dalam arena.
Dengan makin menipisnya udara, maka api juga lambat laun akan padam. "Kurang ajar, kau mempermainkanku..!!" Petarung berelemen api marah ketika menyadari siasat dari lawannya, namun semua sudah terlambat.
Udara yang makin menipis membuat gerakan lawannya makin berat, dan api nya juga mulai padam, hal ini tidak disia siakan oleh petarung angin. Dengan cepatnya ia menebas kedua lengan milik lawannya
SLAAAASSSSSSHHHHHHHH...
Kedua lengan itu pun terputus, diikuti oleh jeritan pilu lawannya. "Arrrrgggghhhhh..." Petarung berelemen api meraung kesakitan ketika mengetahui kedua lengannya terpotong.
"Menyerahlah, kau sudah kalah..!!" Pungkas petarung angin.
"Tidakk... Tidakk...!! Masih belum...!!!" Petarung api mengamuk dan melepaskan energi tersisanya yang membentuk siluet kuda api yang menyala nyala, namun dengan mudahnya dikibaskan begitu saja oleh lawannya.
"Dasar bebal.." Petarung angin memberikan tendangan penghabisan kepada lawannya yang bersarang telak di perutnya, membuat sang lawan ambruk tak sadarkan diri.
Petarung angin yang berada di pihak pangeran Hei Long berjalan santai, turun dari arena. Sedangkan di tribun kehormatan, pangeran Hei Long terlihat sumringah, sebaliknya pangeran Hei Wan bermuka merah masam.