
"Teknik Naga, Pusaran Angin Surgawi..."
BLAAAMMMMMMM...
Wu Yi Feng datang tepat waktu, ketika seekor harimau hendak menerkam Wang Fei Lin. Wu Yi Feng mengerahkan jurus telapak yang merubah Qi nya menjadi elemen angin kencang.
Harimau tersebut terdorong kebelakang cukup jauh akibat dorongan angin yang Wu Yi Feng lepaskan.
Wu Yi Feng dengan cepat menarik pedangnya dan mengarahkannya ke depan untuk menakuti harimau satunya yang sudah hendak maju dan menerkam.
"Pergilah, aku tak ingin membunuh kalian..!!" Ancam Wu Yi Feng sambil mengeluarkan aura naga langit miliknya yang membuat kedua harimau jadi susah bergerak.
"Gggrrrrrrhhh.." Kedua ekor harimau tersebut meraung sejenak dan memandang Wu Yi Feng dengan tatapan janggal sebelum akhirnya pergi menjauh dari sana.
"Coba aku lihat lukamu.." Wu Yi Feng mendatangai Wang Fei Lin yang sedang bersandar di pohon dan memegangi lengan kirinya yang terkoyak.
"A.. Aku tidak apa - apa.." Ucap Wang Fei Lin lirih..
"Makanlah pil ini.." Wu Yi Feng mengeluarkan sebutir pil berwarna biru muda yang dikenal sebagai pil Awan Langit.
Pil awan langit dikenal sebagai pil untuk menghentikan pendarahan dan juga luka luar, khasiatnya yang cukup cepat dan kuat membuatnya banyak dicari oleh para pendekar.
"Ter.. Terima kasih.." Wang Fei Lin segera memakan pil tersebut, sementara Wu Yi Feng membantunya dengan mengalirkan Qi ke bekas lengan yang terkoyak.
Setelah beberapa saat luka tersebut berangsur angsur menutup tanpa meninggalkan bekas sama sekali. Wu Yi Feng memberikan pengikat tangannya kepada Wang Fei Lin untuk menutup lengan bajunya yang robek.
Tanpa disadari oleh Wu Yi Feng, Wang Fei Lin memperhatikannya ketika pemuda itu membersihkan bekas luka dan membalut lengan kirinya.
"Apakah kau bisa melanjutkan tes??"
"Bi.. Bisa.. Ayoo.." Wang Fei Lin bergegas bangkit, namun ia hampir saja terjatuh andai saja tidak ditahan oleh Wu Yi Feng.
"Hati hati.." Wu Yi Feng memapah gadis tersebut, keduanya lalu berjalan santai.
"Kenapa engkau membantuku??" Tiba - tiba saja Wang Fei Lin bertanya kepada Wu Yi Feng tentang alasan pemuda tersebut membantunya, karena sebetulnya saat ini mereka adalah rival dan lagipula mereka juga belum saling kenal.
"Apakah harus ada alasan bagi seseorang untuk membantu orang lain??" Jawab Wu Yi Feng singkat tanpa melihat kearah Wang Fei Lin.
Jawaban dari Wu Yi Feng membuat gadis itu terdiam dan mengigit bibir bawahnya, keduanya berjalan sangat pelan, membuat mereka berdua tertinggal cukup jauh dari para kontestan lainnya.
"Ambillah.." Wang Fei Lin memberikan sebuah bakpao kepada Wu Yi Fenh ketika sedang beristirahat. Keduanya memutuskan untuk berhenti sejenak setelah berjalan selama beberapa jam.
"Terima kasih.." Wu Yi Feng menerima bakpao dari Wang Fei Lin dan segera memakannya dengan lahap, sementara ia mengeluarkan dua botol (terbuat dari potongan bambu) teh.
"Apakah kau sudah bisa berlari?? Karena saat ini kita sudah tertinggal cukup jauh dibelakang." Tanya Wu Yi Feng.
"Bisa... Maafkan aku yang sudah menghambatmu. Saat nanti tiba di ujung hutan, ambillah medaliku untukmu." Seru Wang Fei Lin.
"Jangan bodoh, aku tak akan pernah melakukannya.. Ayo pergi..!!!" Wu Yi Feng mulai berlari disusul kemudian Wang Fei Lin.
Sayup sayup terdengar suara senjata sedang beradu dikejauhan, Wu Yi Fan mencoba mendengarkan dengan seksama. Kemampuan pendengarannya yang berbeda membuatnya mampu mendengar suara dari jarak yang cukup jauh.
"Jangan bersuara.." Wu Yi Fan memberikan kode kepada Wang Fei Lin untuk diam karena tak jauh dari tempat mereka ada dua orang atau lebih yang sedang bertarung.
TRAAANNNNGGGGGG...
BANNNNGGGGGG....
Sekitar 50 meter di depan mereka, terlihat ada dua orang pemuda yang sedang saling berhadapan. Pertarungan mereka sangat seru hingga tak ada satupun yang mengetahui jika ada dua pasang mata yang sedang memantau.
Setelah lima belas menit, salah satu dari mereka tersungkur dan menyerah. "Ambillah, dan tinggalkan aku.." Ucap pemuda yang menyerah tersebut.
"Hehehe.. Baiklah.. Aku ambil.." Pemuda yang menang tak bisa menyembunyikan rasa bahagianya. Ia menyahut medali milik rivalnya dan segera menyimpan medali tersebut kedalam cincin ruang.
"Ayo kita rebut medali tersebut..!!" Bisik Wang Fei Lin.
"Hentikan..!! Apa kau tak punya malu??" Jawab Wu Yi Feng ketus.
"Pemuda itu baru saja bertarung, baik stamina maupun tenaga dalamnya terkuras. Melawannya saat ini bukanlah sikap seorang ksatria." Jelas Wu Yi Feng, membuat Wang Fei Lin lagi - lagi terdiam dan tak bisa berkata kata.
Tak lama kemudian terdengar suara letusan kembang api, pemuda yang sudah kehilangan medali tersebut menyerah dan dijemput oleh dua orang guru dari sekte pedang langit.
Wu Yi Feng dan Wang Fei Lin segera melanjutkan perjalanannya, keduanya berlari sambil memperhatikan keadaan sekitar. Matahari sudah condong ke barat, keduanya memutuskan bermalam di pinggir sebuah danau kecil. Terlihat tak jauh dari tempat mereka ada juga beberapa peserta yang beristirahat, Wu Yi Feng bisa mengetahuinya karena cahaya api unggun yang mereka buat.
Ketenangan seharian ini mengusik rasa penasaran Wu Yi Feng tes penentuan harusnya lebih susah daripada ini.
"Sebenarnya ditingkatan mana kemampuanmu??" Wang Fei Lin membuka obrolan.
"kemampuan? Baru pendekar Lv.2 awal.." Jawab Wu Yi Feng asal, sambil memainkan medalinya.
"Pendekar Lv.2 awal?? Jangan bercanda..!! Meskipun lingkaran tenaga dalam mu yang bisa aku rasakan hanya 10 lingkaran, tapi kemampuanmu dalam menghadang harimau tadi, setidaknya sudah berada di tingkatan pendekar lv.1 puncak atau bahkan di pendekar ahli?" Wang Fei Lin bicara panjang lebar, sedangkan Wu Yi Feng hanya menyahuti dengan dua kata.
"Bisa jadi.."
"Kau..!!! Dari mana asalmu??" Wang Fei Lin agak sebal, karena ini pertama kalinya ada seseorang yang tak antusias ketika ia ajak bicara.
"Wilayah Kekaisaran Han.." Wu Yi Feng tak ada niat menyembunyikan identitasnya dari siapapun.
"Kekaisaran Han??? Bagaimana kehidupan disana? Dan bagaimana juga ceritanya kau bisa sampai kemari??" Wang Fei Lin sedikit kaget, mengingat jarak antara kota Lu Dong yang berada di wilayah kekaisaran Song masih sangat jauh jaraknya dari perbatasan kekaisaran Han.
"Biasa saja, sama dengan disini.."
"Apakah mulutmu akan sakit jika bicara? Sehingga kau sangat irit bicara seperti ini??"
"Sssttt diam..!!!" Wu Yi Feng menyuruh Wang Fei Lin diam karena saat ini ia merasakan pergerakan sekelompok manusia, namun bukan itu yang menakutkan, Wu Yi Feng tiba - tiba saja menjadi sangat tegang karena ia mencium bau amis darah dan nafsu membunuh yang sangat pekat.