
"Hah.. Hah.. Hah..." Wu Yi Feng terengah engah, didepannya kini terhampar potongan - potongan tubuh dari patung batu yang telah hancur dan tidak bangkit kembali karena kristal kehidupannya telah diambil.
Wu Yi Feng membuka genggaman tangannya, puluhan kristal kecil aneka warna berkelap kelip. Wu Yi Feng tersenyum sebelum memasukkan semua kristal kehidupan tersebut ke sebuah kantung kecil lalu menyimpannya kedalam cincin ruang.
Kini pintu yang sedari tertutup telah terbuka, sebuah pintu yang akan membawanya ke pusat neraka. Wu Yi Feng paham jika pintu neraka dan juga lorong neraka ini sebenarnya adalah sebuah reruntuhan kuno yang telah lama tidak terjamah oleh manusia, reruntuhan kuno yang secara tidak sengaja dijadikan wadah pengunci alam pengasingan oleh para kelompok elf kegelapan.
Luas, panas, dan pekat akan energi gelap. Itulah yang Wu Yi Feng rasakan ketika pertama kali memasuki inti neraka, tempat sebesar itu tapi tidak ada satupun makhluk yang menghuninya, atau mungkin ada hanya saja Wu Yi Feng belum mengetahuinya.
Wu Yi Feng menjelajahi tempat tersebut, sebuah tempat yang memiliki banyak pintu, tapi tidak satupun yang dibuka oleh pemuda tersebut karena ia tidak tahu akan apa yang menantinya di balik pintu tersebut.
Lautan lava yang ada di dasar tempat tersebut membuat hawa pusat neraka menjadi pengap, Wu Yi Feng mengambil satu botol dimana didalamnya berisi air dari telaga keabadian.
Air keabadian menghilangkan rasa letih serta dahaga dan membuat Wu Yi Feng kembali segar, kini dengan rasa percaya diri pemuda tersebut sudah siap untuk membuka satu persatu pintu neraka dan menghadapai apapun yang ada didalamnya.
Ketika salah satu pintu yang terbuat dari batuan lava didekati oleh Wu Yi Feng, pintu tersebut terbuka seolah olah mempersilahkan pemuda tampan tersebut untuk memasukinya.
Hanya ada kegelapan yang menyambut ketika Wu Yi Feng mulai memasuki ruangan tersebut, tapi itu hanya sekejap karena begitu pintu tertutup, maka apa yang berada di dalam ruangan tersebut terlihat.
Siapa yang akan menyangka bahwa ruangan tersebut berisi harta, bukan hanya satu dua koin emas, tapi gunungan harta. Bukan hanya emas, melainkan juga permata, batu batuan berharga, mutiara dan sejenisnya.
"Gunung harta??" Wu Yi Feng mendekat lalu mengambil beberapa koin emas yang berceceran, diamati koin tersebut lalu ia buang kembali koin koin itu.
Wu Yi Feng melangkah menuju ke pintu masuk, tapi rupanya pintu tersebut tidak bisa dibuka. Dirinya harus menyelesaikan tantangan sebelum keluar dari ruangan tersebut, dan tantangan kali ini adalah formasi pengganda.
Beberapa koin emas yang tadi dibuang oleh Wu Yi Feng kini telah menggandakan diri, dan bukan hanya koin - koin tersebut saja. Melainkan semua yang bersentuhan dengan koin koin itu menggandakan diri menjadi berlipat lipat kali.
Dalam waktu yang hanya sebentar saja, ruangan tersebut kini hampir dipenuhi oleh harta. Wu Yi Feng mencoba untuk menghindar dengan cara menaiki tumpukan koin yang bertambah banyak dengan cepat.
Tanpa pikir panjang Wu Yi Feng segera mengeluarkan beberapa cincin ruang hasil rampasannya lalu menghisap seluruh koin emas yang ada di ruangan tersebut. Tapi kecepatan menggadakan koin - koin tersebut jauh melebihi kemampuan menghisap cincin ruang.
Akibatnya space atau ruang gerak Wu Yi Feng tidak bertambah, malah makin menyusut sedangkan beberapa cincin ruang miliknya telah terisi penuh oleh koin emas. Wu Yi Feng terus menerus mengeluarkan cincin ruang miliknya hingga ketika tinggal satu cincin yang tersisa (Selain cincin hitam yang selalu ia pakai) Wu Yi Feng menghantam gunungan harta di depannya sampai koin - koin tersebut berterbangan dan memperlihatkan Array atau formasi segel yang menyebabkan semua ini.
Dengan sigap Wu Yi Feng maju lalu mulai mencoba memecahkan segel tersebut sementara ribuan keping koin emas berjatuhan dan mulai menguburnya hidup - hidup.
Angin kencang berhembus tepat ketika ruangan tersebut hampir dipenuhi oleh koin emas dan batu berharga lainnya, sedikit demi sedikit koin emas terhisap kedalam cincin ruang dan tidak bertambah kembali. Wu Yi Feng terlentang ketika koin emas terakhir di ruangan tersebut masuk dan memenuhi cincin ruang miliknya.
"Hahhh.. Hahhh.. Hahhh.." Napas pemuda itu terengah engah karena baru saja dirinya terhimpit oleh ribuan, bahkan jutaan koin emas. Telat sedikit saja bisa membuat ia mati lemas, dan ini baru pintu pertama dari banyak pintu yang bisa jadi salah satunya adalah pintu yang akan membawa dirinya keluar dari tempat ini.
Selang waktu berlalu, beberapa pintu dan jebakan telah Wu Yi Feng lalui, sekarang hanya tinggal tiga pintu yang tersisa. Setelah menghirup napas panjang, Wu Yi Feng mendorong salah satu pintu dari tiga pintu yang tersisa lalu memasuki ruangan gelap tersebut sambil berharap bahwa pintu ini adalah pintu yang akan membawanya keluar dari tempat ini.
Kegelapan di dalam ruangan perlahan mulai menghilang, dihadapannya Wu Yi Feng bisa melihat ratusan senjata dan pusaka. Bermacam macam model senjata ada disana, mulai dari pedang, tombak, golok, kapak, panah, dan sebagainya. Kelasnya pun beraneka ragam, mulai dari senjata dengan kualitas terendah ( Kualitas prajurit ) hingga pusaka langit ada disana. ( Baca lagi macam - macam tingkatan kualitas senjata )
Sekali lihat Wu Yi Feng seakan mengerti bahwa tantangan kali ini jauh lebih berbahaya daripada pintu - pintu sebelumnya, salah langkah sedikit saja bisa dipastikan ratusan senjata - senjata tersebut akan terarah kepadanya.
Mencoba menghancurkan pintu secara paksa jelas bukan suatu pemikiran bijak, memasukkan seluruh senjata kedalam cincin ruang juga tidak mungkin dilakukan karena selain cincin ruang butuh waktu untuk menghilangkan suatu benda, lagipula semua cincin ruang miliknya saat ini juga telah penuh oleh koin emas, kecuali tentu cincin hitam yang saat ini melekat di jari manisnya, cincin ruang pemberian Xun JeHa yang tidak memiliki batas penyimpanan.
Menghindari senjata - senjata tersebut secara bersamaan adalah satu - satunya cara, karena itulah Wu Yi Feng menyalurkan Qi ke bagian kakinya jauh lebih banyak sebelum akhirnya ia memutuskan untuk mulai bergerak.
SWOOOOSSSSHHHH...
WHUUUSSSSSSHHHH..
Sesuai dugaan, baru saja Wu Yi Feng melangkahkan kakinya sejengkal. Puluhan senjata tercabut dari dinding lalu melesat dengan begitu cepat kearah pemuda yang saat ini tengah bersiap dengan kedua tinjunya.
BLAAAAAAMMMM..
BLAAAAAMMMMMM...
Wu Yi Feng menghancurkan beberapa senjata dengan kualitas buruk, tapi menghindari senjata dengan kualitas pusaka. Senjata senjata tersebut kini memenuhi ruangan dan mulai menimbulkan goresan goresan lembut pada kulit Wu Yi Feng.
Di kepung oleh senjata, Wu Yi Feng masih berpikir bagaimana menghentikan senjata - senjata tersebut, hingga tanpa sadar dirinya melihat satu buah senjata yang masih tertancap. Senjata tersebut berwujud pedang hitam dengan guratan guratan bercahaya merah kekuningan layaknya lava yang memenuhi sekujur bilahnya.
...****************...
Di chapter ini, dan mungkin beberapa chapter lagi kalian tidak akan menemukan dialog, karena saat ini posisi MC sedang berada di sebuah reruntuhan kuno SENDIRIAN. Jadi tidak memungkinkan bagi saya untuk membuat adegan dialog. Anggap saja ini adalah chapter koran atau apalah.