
"Birokrasi di negara kita memang begitu berbelit belit, sudah seharusnya ada sebuah perubahan mendasar.." Seru Wu Yi Feng.
"Mental pejabat yang korup dan godaan harta duniawi membuat mereka lupa akan tugas utama mereka, ujung - ujungnya rakyatlah yang menderita dan merasakan akibatnya.." Timpal Zhou Mei Lan.
"Gantilah bajumu terlebih dahulu, seteleh itu aku akan mengantarmu pulang.." Wu Yi Feng mengeluarkan satu set pakaian, kemudian beranjak pergi untuk memberikan kesempatan pada Zhou Mei Lan berganti baju.
Pakaian putih yang dipakai Zhou Mei Lan memang sudah dipenuhi oleh noda darah dan juga sobek di beberapa tempat, gadis itu menerima pakaian dari Wu Yi Feng lalu segera berganti pakaian ketika mengetahui Wu Yi Feng telah pergi dari goa.
Tak lama kemudian Zhou Mei Lan yang telah berganti pakaian keluar dari goa, dipandanginya Wu Yi Feng yang sedang berdiri memunggunginya, tanpa terasa wajahnya yang putih, memerah seperti tomat matang.
Meskipun baru bertemu dan sempat salah sangka, namun sikap penuh perhatian yang ditunjukkan oleh Wu Yi Feng telah menimbulkan sebuah perasaan kagum, Zhou Mei Lan menggigit bibir bawahnya dan memainkan rambut begitu berada di dekat Wu Yi Feng.
"Sudah selesai?"
"Hmm.." Zhou Mei Lan mengangguk.
"Baiklah ayo kita pulang.." Wu Yi Feng berjalan pelan diikuti oleh Zhou Mei Lan dibelakang, keduanya berjalan dalam diam sampai mereka menemukan jalan besar dan ada sebuah kedai makan kecil di pinggir jalan.
KRUUYYUUUKKKK...
"Aku lupa, kita belum makan apapun dari kemarin.. Ayo kita mampir ke kedai yang disana.." Wu Yi Feng menunjuk kedai kecil yang menyebarkan aroma wangi masakan.
Zhou Mei Lan menutup matanya, perutnya yang kosong secara otomatis berteriak minta diisi ketika mencium aroma makanan, gadis itu merasa malu dan hanya bisa mengangguk lemah tanpa bisa menyangkal.
Wu Yi Feng tersenyum lalu menggandeng tangan Zhou Mei Lan yang berdiri mematung. Keduanya memilih duduk di pojok supaya tidak menarik perhatian pengunjung lain karena ternyata di dalam kedai ada beberapa prajurit yang juga sedang makan.
"Pelayan, tolong ambilkan dua ekor ayam panggang dan juga beberapa buah bakpao serta seguci teh hangat." Ucap Wu Yi Feng kepada pelayan seraya memberikan dua keping uang perak.
"Baik tuan muda, saya akan segera siapkan.. Mohon ditunggu sejenak.." Pelayan tersebut segera berlari menuju dapur, sedangkan para prajurit yang disana mulai memandangi Wu Yi Feng dan juga Zhou Mei Lan dengan tatapan curiga.
Udara yang dingin membuat teh hangat mereka menjadi dingin dalam sekejap, begitu juga dengan ayam panggang serta bakpao. Wu Yi Feng yang tidak terbiasa memakan makanan dingin hanya bisa mengunyah tanpa bicara sepatah katapun.
"Kalian berdua tunggu.. Entah kenapa aku merasa wajah kalian tidak asing.." Seru salah seorang prajurit.
Wu Yi Feng dan Zhou Mei Lan berhenti, ketika Zhou Mei Lan hendak berbalik Wu Yi Feng menahan tangannya sambil memberikan kode "Jangan" dengan gelengan kepala pelan.
Zhou Mei Lan yang membaca kode dari Wu Yi Feng segera mematung tak bergerak, sedangkan Wu Yi Feng berbalik secara perlahan.
"Ada apa tuan? Kami hanyalah sepasang kekasih yang hendak meneruskan perjalanan.." Ucap Wu Yi Feng.
"Sebentar.. buka tudung penutup kepalamu." Prajurit itu membuka gulungan kertas, dimana terdapat wajah para buronan.
"Ahh baiklah silahkan kalian teruskan perjalanan.." Ucapnya ketika ia tak menemukan wajah yang mirip dengan pemuda di hadapannya.
"Terima kasih.." Wu Yi Feng menggandeng tangan Zhou Mai Lan dan berlalu dari tempat itu secepat mungkin.
"Maaf..." Wu Yi Feng melepaskan tangannya dan berjalan sedikit lebih cepat.
****
"Mei mei anakku, syukurlah kau tidak apa - apa.." Paman Zhou segera berlari lalu memeluk putrinya dengan erat begitu melihat Wu Yi Feng dan juga Zhou Mei Lan masuk kedalam penginapan.
"Ini semua karena Feng gege yang menolongku.." Ucap Zhou Mei Lan.
"Feng gege??" Paman Zhou menirukan kata - kata Zhou Mei Lan.
"Eh itu.. Eh.. ihh.. Aku mau istirahat dulu.." Zhou Mei Lan yang kehabisan kata - kata segera beranjak pergi dari tempat itu, sedangkan Bai Lang muncul tak lama kemudian.
"Saudara Feng, syukurlah kau selamat, bagaimana keadaanmu??" Tanya Bai Lang.
"Keadaanku baik - baik saja, sebaiknya kita bercerita didalam.." Jawab Wu Yi Feng.
"Kau benar, mari - mari semuanya masuk.." Paman Zhou mengajak mereka semua ke sebuah ruangan tersembunyi yang biasanya dipakai untuk merencanakan kudeta kepada walikota dan gerombolannya.
"Paman Zhou, sebenarnya kemana para tahanan dikurung oleh para anak buah walikota??" Tanya Bai Lang ketika Wu Yu Feng dan juga Zhou Mei Lan selesai bercerita.
"Mereka semua dibawa ke sebuah pertambangan berlian, tempatnya sangat mengerikan. Jika kalian tertangkap dan dimasukkan kesana, maka kemungkinan besar kalian tidak akan bisa keluar lagi, saking mengerikannya tempat tersebut sampai dijuluki Neraka dasar bumi. " Jelas Paman Zhou.
"Tempat itu dijaga oleh puluhan bahkan mungkin ratusan pembunuh bayaran terlatih, mereka semua (para pembunuh bayaran) dipimpin oleh seorang iblis..!!" Lanjut paman Zhou, kali ini dengan tatapan marah.
"Iblis??" Ucap Bai Lang sambil mengerutkan keningnya.
"Hmm.. Disebut iblis karena kekuatan yang dimiliki oleh orang itu begitu mengerikan, bahkan tidak ada seorang pun yang bisa hidup jika sudah melihat wajahnya.." Jawab paman Zhou sambil menerawang keatas.
Semua orang yang ada disana terdiam, mereka menunduk dan merenungkan setiap kata yang diucapkan oleh paman Zhou hingga ucapan Wu Yi Feng membuat semua orang yang ada disana menoleh.
"Aku akan coba untuk masuk kesana.."
"Jangan terburu - buru saudara Feng, kita sama sekali belum tahu apa yang ada di dalam." Timpal Bai Lang.
"Justru karena kita belum tahu, maka aku harus mencari tahu.. Saudara Bai, aku butuh bantuanmu untuk mencari dukungan ke setiap sekte di sekitar kota. Jelaskan pada mereka kondisi yang sebenarnya terjadi pada kota ini." Wu Yi Feng mencoba untuk membagi tugas.
"Aku akan menemaninya.." Seru Zhou Mei Lan.
"Mei mei.. Jangan melakukan hal yang bodoh lagi..!!!" Potong paman Zhou.
"Paman tenang saja, aku Bai Lang berjanji akan menjaganya.."
"Baiklah, sudah diputuskan.. Kita akan jalankan rencana ini besok pagi..!!!" Wu Yi Feng bangkit dan meninggalkan ruangan, ia ingin beristirahat karena sudah beberapa hari tidak bisa tidur dengan nyenyak.