The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Perjalanan Dimulai



Mengingat semakin dekatnya hari pelaksanaan turnamen naga muda, maka pertandingan ketiga yang mempertemukan Chau Li melawan Chui Dal Po akhirnya diadakan secara tertutup. Chau Li menjadi pemenang dan melengkapi kuota perwakilan dari sekte pedang langit, sedangkan untuk Wu Yi Feng dan Shen Liang, ketua sekte sedang mengupayakan untuk membawa keduanya sekaligus.


"Aku sudah mengirimkan surat permohonan kepada yang mulia kaisar, waktu kita sudah semakin habis terbuang... Ling Han aku pasrahkan mereka berempat kepadamu.. Segeralah mengurus keberangkatan kalian pada bagian administrasi, jika bisa aku ingin kalian berangkat besok pagi, sebelum itu terimalah ini.. Sebagai tambahan bekal di jalan." Ketua sekte memberikan sebuah cincin penyimpanan yang didalamnya berisi banyak keping uang emas.


"Baik ketua, terima kasih.. Saya undur diri terlebih dahulu.." Ling Han pergi dari kediaman ketua sekte lalu bergegas kembali ke rumahnya guna mempersiapkan segala sesuatu untuk perjalanan ke ibukota kali ini.


Ling Han adalah sosok laki - laki berusia diatas 50 tahun yang telah malang melintang di dunia persilatan, pengalamannya tidak perlu di ragukan lagi, paling tidak luka di sekujur tubuh serta mata sebelah kirinya menjadi bukti bahwa dirinya telah makan asam garam kehidupan sebagai seorang pendekar, dan sebagai salah satu guru senior di sekte pedang langit, dirinya juga telah berkali kali menjalankan misi penting yang dibebankan kepadanya.


Dengan kemampuan di ranah pendekar suci yang telah berhasil membuka dua gerbang sucinya, Ling Han menjadi salah satu pilar utama kekuatan yang menyangga sekte pedang langit selain ketua sekte dan juga wakil ketua sekte.


Keesokan harinya Wu Yi Feng, Wang Fei Lin, Chau Li dan juga Ling Han sudah bersiap di gerbang sekte. Mereka sedang menunggu Shen Liang yang tengah bersiap.


"Chau Li, coba kau lihat keadaan Shen Liang.. Hari sudah menjelang siang, kita harus segera berangkat karena waktu yang mepet.." Perintah Ling Han.


"Baik guru Ling.." Chau Li setengah berlari menuju ke kamar para murid laki - laki.


Tak lama kemudian Chau Li kembali dengan membawa sebuah surat yang nampaknya ditulis oleh Shen Liang. "Hmmm.. Baiklah ayo kita berangkat terlebih dahulu, Shen Liang akan menyusul kita di.." Ucap Ling Han.


Mereka berempat akan menuju ke ibukota kekaisaran Song dengan berjalan kaki, karena selain untuk memperkuat pondasi, juga untuk melatih teknik meringankan tubuh. Setidaknya itulah yang ada di dalam pikiran Ling Han.


Perjalanan kali ini tidak akan membutuhkan waktu lama karena jarak antara kota Ludong dengan kota Xiang Yang yang menjadi ibukota kekaisaran Song sendiri tidak terlalu jauh, dan jika ditempuh dengan berjalan kaki akan memakan waktu kurang lebih tujuh sampai sepuluh hari, namun jika di tempuh dengan berkuda maka akan menghemat waktu sampai tiga harian.


Wang Fei Lin terlihat yang paling bersemangat karena akhirnya dirinya bisa kembali menjalani misi bersama dengan Wu Yi Feng, gadis cantik itu juga makin giat berlatih sendirian secara diam - diam karena tidak ingin menjadi beban dalam perjalanan kali ini.


"Fei Lin, apa kau tidak apa - apa?? Daritadi aku perhatikan kau selalu tersenyum." Cletuk Chau Li.


"Diamlah, dan perhatikan jalanmu.." Jawab Wang Fei Lin sambil memberikan tatapan mematikan.


"Mungkin beberapa hari ini kita harus menginap di tepian jalan karena setahuku di sekitar sini tidak ada perkampungan.." Ucap Ling Han yang mendapatkan anggukan Wu Yi Feng.


"Lebih baik kita percepat langkah kita supaya kita bisa mencapai jalan utama sebelum malam tiba.."


Memang setelah meninggalkan kota Ludong, Ling Han memilih untuk mengambil jalur paling pendek menuju ke Ibukota sehingga keempatnya berlari melewati padang rumput serta hutan bahkan mengitari sebuah gunung. Jalur ini tidak mungkin dilalui jika menggunakan kuda atau orang tersebut tidak memiliki ilmu meringankan tubuh yang cukup tinggi.


Ling Han dibuat terperangah karena menyadari bahwa ilmu meringankan tubuh yang dikuasai ketiga muridnya rupanya begitu hebat, dengan usia mereka saat ini yang masih baru menyentuh dua puluhan tahun, maka tidak menutup kemungkinan di masa depan mereka akan menjadi pendekar - pendekar yang hebat.


Beberapa jam kemudian keempatnya telah menemukan sebuah jalan besar, Ling Han mengatakan dengan terus mengikuti jalan ini maka mereka akan sampai ke Ibukota, namun perjalanan mereka bisa dibilang masih relatif panjang.


"Lebih baik kita bermalam disini daripada memaksakan untuk terus berlari.. Chau Li kau bangun tenda, Wu Yi Feng buat perapian, dan Fei Lin kau persiapkan makan malam." Lin Han memberikan perintah kepada masing - masing muridnya, sementara dirinya mengecek area sekitar.


"Biasanya jalanan disekitar sini selalu ramai karena ini merupakan jalan utama jika ingin menuju ke ibukota, tapi kenapa saat ini begitu sepi?" Gumam Chau Li setelah selesai mendirikan dua buah tenda.


Sementara itu, Wu Yi Feng yang bertugas menyiapkan bahan makanan untuk makan malam baru saja kembali dari berburu. Ditangannya kini ada dua ekor ayam hutan dan satu ekor kelinci.


"Feng gege, aku tidak mau memasak kelinci itu. Dia terlalu lucu.." Seru Wang Fei Lin seraya melepas kembali kelinci yang susah payah diburu oleh Wu Yi Feng.


Malam harinya Wu Yi Feng mengeluarkan dua guci arak dari cincin penyimpanannya, arak yang berasal dari rumah makan merah memang beda. Chau Li, Ling Han dan Wu Yi Feng menikmati malam dengan tenang sedangkan untuk Wang Fei Lin, ia menghangatkan dirinya dengan meminum se teko teh embun hijau.


Makin malam udara terasa makin menusuk tulang karena saat ini memang sudah termasuk ke dalam musim dingin, Chau Li yang mendapat jatah jaga pertama mengambil selimut dari cincin penyimpanannya kemudian menyelimuti dirinya sendiri.


Sesosok laki - laki tua dengan membawa setumpuk rumput melintas di depan rombongan yang saat itu masih beristirahat, dengan sopan laki - laki tua itu memepuk punggung Chau Li yang tertidur di depan api unggun dalam posisi duduk.


"Anak muda, jika tujuanmu adalah kearah utara.. Aku ingatkan, akan lebih baik jika kau memutar. Memang akan memakan waktu lebih lama tapi itu jauh lebih amam." Ucapnya kemudian berlalu. Wu Yi Feng yang sudah terbangun hanya merasa heran dengan peringatan yang diucapkan oleh laki - laki tua tersebut.


Ketika pagi datang cuca belum juga membaik, bahkan matahari seolah malu untuk memperlihatkan sinarnya. Angin kencang dan titik - titik kecil salju membuat pagi itu terasa semakin dingin.


"Lebih baik kita bergegas, setahuku tidak jauh dari sini ada sebuah perkampungan kecil. Jika kita cukup cepat, aku rasa kita akan sanggup mencapai perkampungan kecil tersebut sebelum badai salju menghantam kita." Ling Han memberitahu ketiga muridnya setelah mereka membereskan sisa perkemahan semalam.


Tanpa membuang waktu keempatnya segera berlari cepat dengan melawan angin kencang serta hawa dingin yang menusuk.