
Sudah beberapa hari berlalu sejak Wu Yi Feng kembali mengunjungi Paman Xi, siang itu matahari bersinar cukup terik sehingga kedai Paman Xi menjadi ramai karena banyak orang yang beristirahat sambil meminum segelas air segar ataupun menyantap hidangan makan siang.
Wu Yi Feng tidak membantu di dapur siang itu karena ia sibuk di belakang kedai, pemuda tampan tersebut berpeluh keringat karena saat ini sedang memotong motong bambu dan juga batang pohon. Rencananya Wu Yi Feng akan mengganti beberapa kayu penyangga kedai yang sudah usang dan lapuk karena dimakan waktu.
BRUAAAAAKKKKKK...
Wu Yi Feng terkejut ketika mendengar bunyi cukup keras yang berasal dari dalam kedai, karena perasaannya tidak enak ia akhirnya memutuskan untuk menyudahi kegiatannya dan melihat situasi.
Rupanya datang segerombolan pendekar yang mengaku sebagai penagih hutang, segerombolan pendekar kelas tiga tersebut menendang dan menghancurkan kursi serta bangku hingga membuat banyak pengunjung yang lari ketakutan.
"Hei Xi Han Wen, keluar kau atau akan kuhancurkan kedai kecilmu ini..!!!" Teriak salah satu dari mereka.
"Paman, siapa mereka?" Tanya Wu Yi Feng ketika melihat Paman Xi hendak keluar menemui gerombolan penagih hutang.
"Mereka adalah para pendekar bayaran yang ditugaskan oleh Tuan Huang untuk menagih hutang." Jelas Paman Xi.
"Memangnya berapa hutang paman sehingga mereka berani membuat keributan disini?"
"Tiga keping emas, hanya saja..." Paman Xi tidak menyelesaikan perkataannya.
"Hanya saja apa paman??"
"Hanya saja, bunga yang dibebankan begitu besar.." Ucap Paman Xi lirih.
Wu Yi Feng menemani Paman Xi menemui para gerombolan pendekar penagih hutang tersebut sambari menyiapkan beberapa koin emas dalam kantung.
"Hmmm, apakah dia putramu yang selalu engkau bangga - banggakan?" Tanya salah satu gerombolan penagih hutang.
"Jaga ucapan kalian, ini ambillah.. Didalamnya ada dua koin emas dan juga beberapa koin perak.." Paman Xi baru saja hendak melemparkan uang emas miliknya ketika ditahan oleh lengan Wu Yi Feng.
"Paman simpan saja uang itu.."
"Kalian, ambillah ini... Didalamnya ada sekitar lima belas koin emas.. Aku pikir itu sudah lebih dari cukup untuk melunasi hutang paman Xi.." Wu Yi Feng melemparkan kantung miliknya yang berisi koin emas kepada para gerombolan penagih hutang.
Kantung uang milik Wu Yi Feng ditangkap oleh salah satu dari gerombolan tersebut lalu ia buru - buru membukanya, senyum mereka mengembang dengan sangat lebar begitu mengetahui didalamnya ada banyak sekali koin emas.
"Hehehehe.. Baiklah aku terima koin emas ini, anggap saja masalah kita hari ini beres.. Tapi jangan lupa kami akan kembali satu purnama lagi.."
"Hutang paman sudah lunas, jadi lebih baik jika aku tidak melihat kalian lagi atau.." Wu Yi Feng mengepalkan tangannya namun ditahan oleh Paman Xi.
"Kumohon jangan Feng'er..."
"Atau apa hah???" Salah satu anggota gerombolan penagih hutang maju dan memukul perlahan pipi Wu Yi Feng.
"Ayo kita pergi..." Seru kawanan yang lainnya, disusul oleh semua anggota meninggalkan kedai paman Xi, dan ketika rombongan mereka telah menjauh, Paman Xi baru melepaskan genggaman tangannya yang sedari tadi menahan lengan kiri Wu Yi Feng.
"Maafkan aku Feng',er.. Aku hanya tidak mau terjadi apa - apa denganmu.. Masalah ini biar aku sendiri yang selesaikan.. Maaf jika engkau harus melihat semua ini.." Paman Xi tertunduk lesu, sedangkan Wu Yi Feng menatap pamannya dengan ekspresi marah.
"Paman, aku akan meneruskan pekerjaanku.." Ucap Wu Yi Feng seraya beranjak kembali ke belakang kedai, setelah sebelumnya membereskan kerusakan yang diperbuat oleh gerombolan penagih hutang.
"Hmmm.. Baiklah, maaf merepotkanmu.." Jawab Paman Xi sambil terus memasukkan semua bahan ke dalam sup buatannya.
"Malam ini akan menjadi malam terakhir kalian..!!!" Batin Wu Yi Feng sambil memecah balok kayu menjadi bagian - bagian kecil.
Senja datang bersamaan dengan selesainya Wu Yi Feng mengganti seluruh kayu yang telah lapuk, pemuda itu mengumpulkan kayu - kayu yang telah lapuk lalu membakarnya.
"Feng'er beristirahatlah.. Kau pasti lelah setelah bekerja keras seharian." Tutur Paman Xi dengan lembut.
"Aku akan beristirahat setelah menyantap hidangan yang telah paman buat.." Jawab Wu Yi Feng seraya menggandeng paman Xi untuk masuk kedalam.
"Paman, besok aku sudah harus kembali ke sekte.. Maaf jika tidak bisa berlama - lama disini.." Ucap Wu Yi Feng setelah keduanya menikmati makan malam.
"Hehehe.. Tidak apa Feng',er.. Engkau sudah menyempatkan waktu luangmu untuk menjenguk lelaki tua ini saja, paman sudah sangat bersyukur.." Seru paman Xi sambil menggenggam erat tangan Wu Yi Feng.
Tak terasa malam semakin larut ketika keduanya terlibat dalam obrolan panjang, paman Xi yang tidak bisa menahan kantuk akhirnya pamit untuk beristirahat terlebih dahulu sementara Wu Yi Feng menutup kedai.
Beberapa saat kemudian, ketika paman Xi telah terlelap dalam tidurnya. Wu Yi Feng memasuki kamar lelaki setengah baya tersebut lalu menggambar sebuah rune kuno ke sekujur tubuh paman Xi. Rune yang berisikan sebuah array pelindung.
Array pelindung yang Wu Yi Feng buat sangat kuat, dan akan aktif begitu ada serangan dari luar. Array tersebut bahkan sanggup menahan serangan seorang pendekar suci sekalipun.
Setelah menyelesaikan pembuatan array pelindung, Wu Yi Feng keluar dari kedai dan melesat dengan cepat kearah kota untuk mencari para gerombolan penagih hutang.
Hanya dalam sekali tarikan napas, pemuda itu telah sampai di gerbang kota kecil bernama Gang Men yang selama ini selalu di singgahi oleh paman Xi ketika membeli bahan - bahan kebutuhan kedai.
Tanpa pikir panjang Wu Yi Feng mengeluarkan token yang menunjukkan bahwa dirinya adalah murid dari sekte pedang langit kepada para penjaga gerbang kota yang hendak memberhentikannya, pemuda yang sudah menahan amarah sejak tadi siang tersebut mencoba mencari lokasi dimana gerombolan itu berada sekarang.
Wu Yi Feng menelusuri kota, memasuki satu demi satu kedai dan rumah hiburan yang ada disana, hingga akhirnya di sebuah kedai di pinggiran kota terlihatlah beberapa orang yang tadi siang mengacau di kedai paman Xi.
Dengan senyum mengerikan Wu Yi Feng menghampiri mereka, dan tanpa berbicara sepatah kata pun, pemuda itu mencengkram dan mendorong kepala salah satu gerombolan penagih hutang hingga menghancurkan meja di depannya.
BRUAAAAAKKKKKK...
Kawananan lainnya yang sempat terkejut segera menghindar, nampaknya mereka sedang berpesta dengan meminum arak dalam jumlah cukup banyak setelah tadi mendapatkan uang yang sangat banyak dari Wu Yi Feng.
"Heii.. Bukankah kau adalah pemuda yang ada di kedai Xi Han Wen???"
"Hahahaha.. Apakah kau kesini untuk memberikan kami uang lagi??"
"Aku kesini untuk mengantar kalian semua ke neraka..!!!" Ucap lirih Wu Yi Feng.
Belum sempat mereka terkejut saat tiba - tiba saja tubuh mereka semua menjadi begitu berat untuk digerakkan, bukan itu saja bahkan untuk bernapas pun mereka seakan susah, oksigen seolah dihisap dari tempat mereka berdiri.