
Setelah menempuh perjalanan yang melelahkan selama tiga hari tiga malam, keenam utusan dari sekte pedang langit akhirnya sampai juga di Kota Dang An.
Wu Yi Feng, Shen Liang dan juga Bai Lang berhasil menyusul ketiga rekannya yang lain di hari kedua. Selama perjalanan selain dari siluman, hampir tidak ada lagi gangguan yang berarti.
Para penjaga gerbang kota Dang An langsung memberikan mereka hormat dan mempersilahkan mereka masuk dengan memotong antrian begitu mengenali jubah kebesaran dari sekte pedang langit.
"Silahkan datang para pendekar, silahkan langsung menuju ke Penginapan Samudera.." Tutur salah satu prajurit penjaga gerbang.
"Terima kasih tuan.." Balas Wan Ming seraya mengarahkan rekan - rekannya, mereka dipandu oleh salah seorang penjaga menuju ke tempat berkumpul para utusan yang lain.
Sebuah bangunan menjulang tinggi lima lantai berdiri dengan megah tepat disisi pelabuhan ( di cerita LPEE masih tiga lantai ), Wu Yi Feng dan lainnya bisa melihat jika area parkir untuk kuda dan kereta kuda telah penuh, disekitar penginapan juga telah dipenuhi dengan panji - panji berbagai macam sekte yang bertebaran mengelilingi gedung.
Begitu Wu Yi Feng dan yang lainnya turun, seorang pelayan bergegas menghampiri mereka dan memberikan ucapan selamat datang.
"Silahkan ikuti saya tuan.."
"Baiklah.."
"Ahhh.. Perwakilan dari sekte pedang langit ya?? Coba saya lihat daftarnya terlebih dahulu.." Ungkap resepsionis penginapan samudera yang ternyata berasal dari suku Elf.
"Kamar kalian semua ada di lantai tiga, pelayan akan memandu kalian.. Silahkan ikuti dia.." Seru resepsionis tersebut sambil menyerahkan keenam kunci kamar kepada pelayan.
"Mari tuan semua..."
Saat dalam perjalanan ke kamar, mereka berpapasan dengan beberapa pendekar yang usianya jauh lebih tua daripada mereka. Dari pakaian yang mereka kenakan, nampaknya mereka adalah utusan dari sekte pedang pinus.
Mereka berjumlah lima orang, tiga laki - laki dan dua perempuan, dimana salah satu dari mereka mempunyai tenaga dalam yang cukup besar. Wu Yi Feng yang tidak ingin mencari perkara, memutuskan untuk berlalu begitu saja daripada menyapa mereka.
"Saudara Feng kenapa kita tidak menyapa mereka?" Tanya Chau Li ketika mereka berada di dalam lift yang digerakkan oleh tenaga manusia.
"Lebih baik menjaga jarak.." Jawab Wu Yi Feng singkat.
Wu Yi Feng menatap laut yang memang menampilkan panorama begitu indah sore ini, siluet matahari yang hendak tenggelam menyemburkan cahaya jingga ke segala penjuru.
Jika sesuai dengan rencana, maka malam ini semua utusan sekte akan dikumpulkan di sebuah tempat di dekat pelabuhan, dan penyerangan ke kawanan bajak laut akan dimulai keesokan harinya.
Memikirkan bahwa dirinya masih sangat lemah dan bahkan hampir saja mati jika saja tidak ada bantuan dari sang legenda pendekar elang emas membuat Wu Yi Feng geram dengan dirinya sendiri.
"Saudara Feng, apakah kau ada di dalam??"
"Aku ada di dalam saudara Bai, silahkan masuk saja.." Jawab Wu Yi Feng ketika Bai Lang mengetuk pintu kamarnya.
"Maaf jika aku mengganggu, pihak penginapan baru saja mengabari jika makan malam telah siap di lantai bawah..."
"Benarkah, baiklah kalau begitu.. Mari kita kebawah.." Keduanya segera menaiki lift dan menuju kebawah.
Di bawah rupanya sudah ada meja yang cukup panjang, dimana di kanan dan kirinya telah banyak terisi para murid - murid pilihan dari sekte di seluruh kekaisaran Song, selain itu di meja panjang itu juga ada para petinggi prajurit.
Wu Yi Feng dan Bai Lang mengambil duduk di pinggir, disebelah teman - temannya. Sedangkan di samping mereka telah duduk dengan rapi semua utusan dari masing - masing sekte.
"Ehmm.. Kepada semua pendekar yang ada disini, sebelumnya saya ucapkan banyak terima kasih karena sudah menyempatkan diri untuk menempuh perjalanan yang cukup panjang hingga kemari. Saya yakin semuanya sudah mengetahui maksud dan tujuan kita berkumpul disini."
"Besok pagi - pagi sekali, kami dari pasukan kekaisaran akan menunggu kalian di pos sebelah barat pelabuhan. Dari sana kita akan bersama sama berangkat menuju lautan dan menghancurkan para bajak laut..!!!" Seru jenderal Bao Zheng yang mencoba membakar semangat para pendekar.
Gemuruh teriakan dan yel yel pun membahana memenuhi ruang makan, hampir semua berteriak bunuhhhh... Jayalah kaisar... dan lain lain, namun hanya Wu Yi Feng dan Shen Liang yang tetap diam dan asyik menikmati teh.
Setelah menyantap hidangan yang disajikan, beberapa pendekar langsung kembali ke kamar untuk beristirahat, ada pula yang keluar penginapan untuk jalan - jalan dan sebagian lainnya masih bertahan di ruang makan untuk menikmati arak dan sake.
Wu Yi Feng sendiri memilih untuk mencari udara segar di luar penginapan, ia ingin sendirian malam ini, rekan - rekannya yang lain ada yang sudah kembali ke kamar seperti Shen Liang dan Chui Dal Po, sedangkan lainnya minum minum di ruang makan.
Wu Yi Feng duduk di tepi pelabuhan, sedikit menjauh dari hiruk pikuk para pekerja yang sedang menaikkan dan menurunkan barang dari dan ke kapal. Suasana malam itu sedikit berisik karena pasukan kerajaan secara bertahap mulai berdatangan.
Tak lama kemudian Wu Yi Feng pun berjalan kembali, pemuda itu menyusuri kota Dang An yang dimalam hari terlihat begitu indah dengan lampion beraneka warna. Dikarenakan kota Dang An adalah kota yang dekat dengan pelabuhan, banyak sekali para wanita yang mencoba menjajakan tubuh mereka, bahkan Wu Yi Feng mereka goda tatkala ia sedang berjalan di keramaian kota.
"Pemuda tampan, kenapa buru - buru sekali?? Kau pasti capek kesinilah sebentar, biarkan aku memijit tubuhmu yang kekar.." Seloroh salah satu wanita disana.
Wu Yi Feng hanya memandang sekilas sebelum kembali berjalan, dan setelah puas mengelilingi kota kecil tersebut Wu Yi Feng kembali ke penginapan samudera dan langsung masuk ke kamar.
Keesokan harinya Bai Lang, Wan Ming dan Chau Li harus dibangunkan secara paksa karena mabuk semalaman. Ketiganya diseret dan dipapah oleh ketiga rekannya yang lain.
"Kalian akan mendapatkan hukuman yang berat jika sampai guru mendengar hal ini.." Seru Wu Yi Feng yang dongkol kepada ketiga sahabatnya.
"Ahh, kenapa kau jadi seserius ini saudaraku.." Ucap Bai Lang yang bicaranya masih melantur.