The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Lemah



"Anak muda, diantara kita tidak ada dendam.. Untuk apa engkau kemari dan membunuh banyak orang - orangku??" Tutur salah seorang anggota keluarga Huang yang paling senior.


"Tidak ada dendam?? Hahahahaha..."


"Keluarga kalian menjalankan bisnis busuk disana sini, masih berani bilang tidak menabur dendam???"


"Baiklah, begini saja.. Aku ada beberapa koin emas untukmu di dalam cincin ini... Ambillah dan mari lupakan masalah diantara kita, bagaimana??"


Wu Yi Feng menyeringai, "Jadi kau mau membayarku seperti para anjing - anjingmu yang ada disini?? Lupakan.. Aku tidak tertarik dengan uangmu..!!!"


"Anak muda, sebenarnya aku sungguh menyayangkan.. Dengan bakatmu ini aku ingin memasukkanmu ke sekte tombak ganda, dengan begitu kemampuanmu akan lebih terasah lagi, namun sayang kau lebih memilih mati malam ini..!!!"


Ratusan prajurit dan puluhan pendekar bayaran maju serempak mengelilingi Wu Yi Feng begitu dapat isyarat, sementara ketiga keluarga Huang pergi dari halaman.


Halaman milik keluarga Huang yang luas saat ini dipenuhi oleh ratusan orang, Wu Yi Feng menatap mereka semua. Tidak ada rasa gentar sedikitpun didadanya meskipun saat ini ia terkepung.


"segerombolan semut hendak melawan phoenix?? Kalian benar - benar tidak tahu diri.." Gumamnya seraya melepaskan Qi dalam jumlah besar.


"Seni Phoenix, Penjara Bumi..."


Tiba - tiba saja dinding batu padat dengan ketebalan kurang lebih setengah meter dan tinggi lima meter mengelilingi semua orang yang ada di sana, belum sempat hilang rasa terkejut mereka saat dinding tersebut menutup dan membentuk sebuah kubah raksasa.


Mulai timbul rasa was - was, ruangan tersebut sangat pengap dan belum juga mereka sempat bergerak ketika suhu di dalam mulai meningkat dengan pesatnya.


"Seni Phoenix, Phoenix Membakar Neraka..!!"


Tubuh Wu Yi Feng menyala merah, sedetik kemudian lidah api mulai keluar dari berbagai sudut, membuat semua pendekar yang ada di dalam kubah bumi menjerit kesakitan, bahkan tidak sedikit dari mereka yang mengiba supaya Wu Yi Feng menghentikan sikaaan ini, namun pemuda itu tidak bergeming sedikitpun.


"Tidaaakkkkkkk..."


"Panasssssss...."


"Ampunnnnn..."


"Arrrrggggghhhhh..."


BOOOOMMMMMM...


Kubah bumi meledak karena tidak kuat menahan tekanan dari dalam hingga melontarkan tubuh - tubuh tak bernyawa yang telah menjadi arang. Wu Yi Feng menghembuskan napas panjang sebelum kembali melangkah.


Mengetahui bahwa para prajuritnya telah kalah, ketiga laki - laki yang merupakan bagian dari keluarga besar Huang segera mempersiapkan kereta kuda mereka untuk kabur secepat mungkin.


"Kalianlah harapan kami, bunuh dia.. Ulur waktu selama mungkin.." Seru salah satu anggota keluarga Huang kepada dua pendekar kembar yang berjuluk Lidah Ular.


"Baik Tuan, serahkan saja pada kami..!!"


"Bagus, ini untuk kalian.." Ucap salah satu keluarga Huang sembari menyerahkan sebuah cincin ruang yang berisi banyak sekali kepingan emas didalamnya.


"Terima kasih Tuan, hati - hati dijalan.."


"Hiyaaa..." Kereta kuda yang membawa ketiga anggota keluarga besar Huang mulai melaju meninggalkan kompleks perumahan yang begitu luas tersebut, sedangkan Lidah ular bersaudara tengah bersiap menghadapi pemuda yang kini berjalan tenang menuju kearahnya.


"Kakak, jangan lengah hanya karena ia terlihat berada di ranah pendekar ahli tingkat awal.."


"Kau benar adik, pendekar ahli tidak akan bisa mengalahkan ratusan orang prajurit dan juga puluhan pendekar secepat itu.."


Keduanya mengeluarkan senjata berupa pedang pendek berwarna hijau kehitam hitaman, pedang mereka adalah pedang yang dibuat dengan teknik khusus. Dalam pembuatannya pedang tersebut di balur oleh bermacam - macam racun berbahaya sehingga menimbulkan efek yang sangat mematikan bahkan hanya dengan menyentuhnya saja.


Keduanya membuka perban yang selama ini menutupi sekujur tubuh mereka, bau busuk langsung menyeruak memenuhi udara sekitar.


Dengan lidah menjulur keduanya menatap Wu Yi Feng dengan tatapan benci, "Bocah, sungguh tidak beruntung dirimu karena bertemu dengan kami disini.."


"Hembusan Taman Racun..."


Seluruh pori - pori yang ada di tubuh lidah ular seakan membuka dan menyemburkan gas beracun berwarna hijau pekat. Gas beracun tersebut cukup kuat dan banyak hingga membuat area sekitar menjadi tak terlihat.


Efek dari racun yang dikeluarkan lidah ular bersaudara begitu mematikan, bahkan membuat pepohonan di sekitar menjadi layu dan kemudian mati dalam sekejap saja.


"Jangan pernah berpikir untuk lari atau sembunyi dari kami..!!!" Lidah ular bersaudara mengayun ayunkan dan menebaskan pedang pendek mereka ke segalah arah namun sampai saat ini pedang mereka bahkan tidak mengenai sesuatu apapun.


"Kemana perginya bocah itu..???"


"Cari terus, dia pasti ada di sekitar sini.."


"Dengan racun yang kita lepaskan sebanyak ini, tidak mungkin dia bisa lari.."


Begitu asap beracun mulai sedikit menipis dan mereka bisa melihat sekitar dengan lebih leluasa, mereka terkejut karena rupanya sosok yang mereka caari tidak ada di manapun.


"Tidak mungkin, dia tidak akan bisa lari dari jurus kita..."


"Kau benar saudaraku, apa mungkin dia sudah melepuh dan hilang tidak berbekas??"


"Ya, pasti begitu.. Tidak ada penjelasan yang lebih masuk akal.. Hahahahaha..."


"Hahahahaha..." Kedua saudara Lidah ular tertawa penuh kemenangan sebalum salah satu dari mereka mendongak keatas dan menyadari ada sosok yang melayang di udara, sosok yang selama ini mereka cari.


"Tii... Tidakkk mungkinnnn... Siapa kau sebenarnya???" Teriak salah satu lidah ular sambil menunjuk kearah Wu Yi Feng berada.


Pemuda itu mendarat dengan anggun disertai pusaran angin yang membungkus tubuhnya dan membelah asap beracun. "Apakah hanya ini kemampuan kalian??"


"Hahahaha.. Jika berani hadapi kami dan jangan hanya bisa menghindar."


"Baiklah jika itu kemauan kalian.." Wu Yi Feng mengeluarkan pedang lava, duo kembar lidah ular hanya melongo menatap pedang yang kini ada di genggaman Wu Yi Feng.


"Ped.. Pedangmu sangat bagus sekali bocah, serahkan kepadaku dan akan kuampuni nyawamu.." Seru salah satu dari si kembar lidah ular.


"Kau lucu, setidaknya bagi seseorang yang sebentar lagi akan mati..!!!" Hanya dalam satu tarikan napas Wu Yi Feng sudah berada dalam jarak serang.


"Seni Pedang Nirwana, Pengoyak Langit..."


WHUUUUUSSSSSSS...


Wu Yi Feng mengayunkan pedang lava dengan sangat cepat hingga menciptakan sebuah gelombang sabit melintang yang terbungkus api hingga membelah tubuh dan menghancurkan senjata salah satu dari si kembar lidah ular dengan mudahnya.


"TIDAAAAAKKKKKK..."


Saudara kembar satunya berteriak dan mematung di tempat tatkala menyaksikan tubuh saudaranya terbelah menjadi dua bagian. Tubuh laki - laki tersebut bergetar dengan hebatnya karena amarah yang meluap, lalu tanpa banyak bicara ia segera melompat dan menyerang Wu Yi Feng dengan membabi buta.


"Jangan salahkan aku, saudaramu saja yang LEMAHHH.." Wu Yi Feng sengaja memprovokasi lawannya, karena dengan begitu maka kelemahannya akan makin terlihat dan serangannya menjadi tumpul.


Wu Yi Feng mengelak kemudian menebas salah satu lengan lawannya, lalu ketika lawannya masih berteriak kesakitan, dengan cepat Wu Yi Feng menusuk jantungnya hingga tembus, belum berhenti sampai disitu saja, lava yang berada di sekujur bilah pedang mulai menyala dan menghamburkan hawa panas yang luar biasa hingga akhirnya tubuh lidah ular meledak berkeping keping.