
Tak lama kemudian, satu persatu teman Wu Yi Feng mucul dan segera duduk di sebelahnya. Dimulai oleh Bai Lang, disusul kemudian Wan Ming dan terakhir Chau Li.
Sama seperti Wu Yi Feng, ketiga temannya juga lolos tanpa menderita luka yang cukup serius, Bai Lang bahkan sempat bercerita tentang pengalamannya di dalam labirin.
"Awalnya aku sangat kaget karena melihat ibuku muncul dihadapanku, setelah berpikir bahwa itu sangat tidak mungkin, aku sadar jika semua ini hanya ilusi dan aku segera melangkah maju."
"Kau beruntung hanya melihat ibumu, sedangkan aku melihat laba - laba raksasa..!!! Aku hampir terkencing dicelana karena nya, sampai akhirnya aku sadar kalau semua hanya ilusi." Potong Wan Ming, dengan gayanya yang sok.
Cerita Bai Lang dan Wan Ming cukup membuat keempatnya tertawa bersama, hingga salah satu guru disana menegur mereka.
Matahari hampir tenggelam ketika tes kedua akhirnya selesai, dari ratusan peserta yang lolos di tes pertama, hanya tersisa sekitar 50-an orang yang lolos. Tes penentuan akan diadakan tiga hari lagi, bukan dihalaman sekte, melainkan di sebuah gunung yang berada di dekat perbatasan kota.
"Para peserta yang lolos diharapkan datang ke sekte untuk kemudian bersama - sama naik kereta kuda menuju ke kaki gunung." Seru salah seorang panitia.
Setelah mendengarkan pengumuman, Wu Yi Feng bersama ketiga temannya memilih langsung pulang ke penginapan untuk beristirahat.
Sesampainya di penginapan, Wu Yi Feng segera mengeluarkan permata siluman yang ia dapat dari pertempurannya tempo hari. Dengan petunjuk dari kitab naga langit, Wu Yi Feng mulai menyerap intisari dari permata siluman.
Wu Yi Feng butuh waktu 2 hari penuh untuk menyerap seutuhnya intisari dari permata siluman yang ia punya, pemuda itu menghembuskan napasnya saat menyudahi meditasinya. Permata siluman yang sebelumnya bercahaya, kini terbelah menjadi dua dan hancur setelah inti sarinya terhisap.
"Jadi begini rasanya jurus Baju Bintang??" Wu Yi Feng merasa seluruh tubuhnya terlindungi oleh sebuah sekat tipis, kuat dan tak kasat mata.
Karena tubuh spesialnya, Wu Yi Feng bukan hanya menyerap Qi saat menyerap intisari permata siluman melainkan juga jurus terkuat yang dimiliki oleh siluman tersebut.
Dengan perlindungan jurus baju bintang, tubuh Wu Yi Feng akan terlindungi dari serangan pendekar suci sekalipun, selama ia mampu mengalirkan Qi sebagai gantinya.
Tiga hari berlalu dengan cepat, hari tes penentuan pun dimulai. Keempat pemuda itu berjalan santai sambil menenteng senjata masing - masing menuju sekte pedang langit.
Ketiga temannya bisa merasakan aura yang berbeda merembes keluar dari tubuh Wu Yi Feng, mereka geleng - geleng kepala karena hanya dalam jangka waktu 3 hari saja, Wu Yi Feng sudah berkembang se-pesat itu.
"Semua peserta yang hendak melakukan tes penentuan, silahkan berkumpul..!!" Seorang pendekar paruh baya berseru lantang kepada sekitar 50-an orang yang berhasil melewati rintangan labirin.
Wu Yi Feng bisa merasakan diantara mereka ada beberapa yang memiliki tenaga dalam lumayan tinggi untuk seusianya, kemungkinan mereka adalah seorang jenius dari keluarga kaya yang tidak kekurangan sumber daya.
"Bisa geser sedikit??" Seorang gadis memecahkan lamunan Wu Yi Feng, gadis itu meminta Wu Yi Feng untuk berbagi tempat duduk di kereta kuda yang akan mengantar mereka menuju kaki gunung tempat ujian penentuan berlangsung.
Seluruh pemuda yang ada disana menatap cemburu, karena gadis yang duduk di sebelah Wu Yi Feng merupakan anak seorang pejabat di kekaisaran Song yang terkenal akan kecantikannya, bernama Wang Fei Lin.
Wu Yi Feng hanya melihatnya sekilas sebelum mengalihkan pandangannya kearah lain. Meskipun duduk di samping gadis cantik, tapi ia tak merasakan perasaan apapun.
Beberapa jam kemudian, lima kereta kuda yang membawa para peserta, sampai di kaki gunung yang akan menjadi tempat ujian terakhir. Gunung ini terkenal karena banyak hewan buas, siluman serta perampok gunung. Entah apa maksud dan tujuan sekte pedang langit mengadakan ujian disana.
"Ujian terakhir adalah ujian bertahan hidup, kalian harus mencapai pos yang ada di puncak gunung. Bukan hanya itu saja, kalian harus mengumpulkan medali sebanyak banyaknya. Para peserta yang kehilangan medali, dianggap gugur dan 20 orang pertama yang mencapai pos dengan membawa dua medali atau lebih, akan menjadi murid dari sekte pedang langit..!!" Seru seorang lelaki tua dengan jenggot putih panjang yang bernama Guan Ping, beliau merupakan wakil ketua sekte pedang langit.
Para peserta mendapatkan waktu tiga hari untuk menuju ke puncak gunung, Ketua sekte pedang langit telah menyebar murid - murid serta guru pilihan untuk mengamankan para peserta dari hal - hal yang tidak diinginkan.
Meskipun tema ujian penentuan adalah bertahan hidup, tapi membunuh adalah sesuatu yang terlarang. Peserta bukan hanya akan didiskualifikasi, melainkan akan diadili jika kedapatan membunuh atau menganiaya peserta lain.
Kelima puluh peserta segera mencari posisi yang strategis menurut mereka, dengan senjata yang sudah disiapkan dan aba - aba dari panitia. Ujian terakhir akhirnya dimulai, Wu Yi Feng beserta ketiga temannya berpencar. Mereka memilih jalan masing - masing, dan kebetulan sekali Wu Yi Feng berada tak jauh dibelakang Wang Fei Lin karena mereka menempuh jalur yang sama, meskipun itu semua tanpa ia sadari.
Wu Yi Fan melompat dari satu pohon ke pohon lain untuk menghemat stamina, sampai saat ini belum ada sesuatu yang menegangkan, semuanya masih aman, sampai ketika ia mendengar sebuah jeritan dari arah depan.
"Kyyyyaaaaaaa.."
Suara jeritan perempuan membuat Wu Yi Feng mempercepat larinya, jika pendengarannya tidak salah maka suara tersebut berasal dari sekitar 500 hingga 1 Kilometer didepannya.
***
Tak jauh dari tempat Wu Yi Feng, terlihat Wang Fei Lin yang sedang berhadapan dengan dua harimau belang besar. Gadis itu tadi berteriak karena terkejut menghadapi terkaman harimau.
Dua hewan buas tersebut meraung, air liur nampak menetes dari sela - sela taringnya karena melihat daging segar terpampang dihadapannya.
Tanpa menunggu lama, kedua harimau belang itu melompat maju sambil mencakar Wang Fei Lin. Gadis itu berhasil menghindari serangan salah satu harimau, namun serangan kedua sukses membuat lengan kirinya tercabik.
Lengan kiri Wang Fei Lin berdarah, luka sobek menganga lebar. Gadis tersebut mencoba menutup lukanya menggunakan tenaga dalam, namun kedua harimau belang tidak memberikannya waktu untuk memulihkan kondisi.
Wang Fei Lin terus terdesak hingga ia tak bisa mundur lagi karena terhalang pohon, sedangkan salah satu harimau menunggunya di balik pohon.
dengan tangan kanan memegang pedang, Wang Fei Lin mencoba menghalau serangan salah satu harimau, terlihat bekas cakaran di batang pohon. Wang Fei Lin tidak mau berteriak menyerah, gadis itu masih ingin berusaha meskipun kini pandangannya mulai kabur karena kehabisan darah dan badannya bergetar hebat.