
pertandingan lain sesudahnya juga berlangsung tidak kalah serunya, setelah kurang lebih tiga jam disuguhi adegan pertarungan, pertandingan dijeda selama sekitar satu jam untuk beristirahat. Tari - tarian kembali dikeluarkan untuk menghibur para penonton termasuk diantaranya kaisar, para jenderal dan juga pilar petir.
"Sudah cukup berlatihnya, kembalilah dan perhatikan pertarungan para pendekar.." Bisik Luo Yun Xi di dekat telinga muridnya.
Sekejap saja Wu Yi Feng telah kembali ke dunia nyata, bocah laki - laki itu tertawa karena tidak mengira jika gurunya mengetahui aksinya.
"Hehehe.. Sejak kapan guru mengetahui jika aku berlatih di dunia lain??" Tanya Wu Yi Feng yang penasaran.
"Sejak di penginapan, cincin yang kau pakai terlihat sangat familiar bagiku.. Kau beruntung karena memilikinya..." Ucap Luo Yun Xi tanpa memandang muridnya.
"Guru benar, cincin ini diberikan seorang pendekar misterius..." Wu Yi Feng memperhatikan cincin yang beberapa waktu belakangan selalu terpasang di jari manisnya.
"Katakan, sudah berapa jurus yang kau bisa kuasai??"
"Baru sekitar lima jurus guru, itu juga masih dalam tahap dasar.." Jawab Wu Yi Feng jujur.
"Ingat, jangan sampai orang lain mengetahui tentang hal ini, atau hidupmu mungkin tidak akan tenang." Tegas Luo Yun Xi.
"Baik guru, murid mengerti.." Wu Yi Feng membelai cincinnya dengan lembut, seolah olah itu adalah hartanya yang paling berharga.
Tepat sebelum pertandingan dimulai kembali, salah seorang pendekar bertampang beringas dengan jenggot yang tebal berwarna hitam melompat naik keatas arena dan menghadap kaisar.
"Yang mulia kaisar dan juga pilar petir, jika berkenan, ijinkan hamba mencoba kemampuan dari murid sang pilar." Pinta pendekar tersebut.
Wu Yi Feng tentu saja kaget karena ini pertama kalinya ia mendapat tantangan, lagipula pendekar yang menantangnya berada di tingkatan pendekar ahli menengah.
"Guru..??" Wu Yi Feng menoleh ke gurunya, seolah meminta pendapat.
Luo Yun Xi hanya mengangguk pelan, karena mendapat restu dari gurunya, Wu Yi Feng pun segera berdiri dan melompat turun ke arena.
Suasana yang tadi riuh, mendadak sunyi seketika hingga hembusan angin bisa terdengar. Kini semua mata memandang ke arah Wu Yi Feng, membuat bocah itu sedikit gemetar.
Wu Yi Feng mencoba mengatur napasnya dan menstabilkan detak jantungnya, pandangannya mendadak fokus, dengan perlahan bocah laki - laki itu mempersiapkan kuda - kuda nya.
"Mulai...!!!"
Pendekar yang menantang Wu Yi Feng berlari mendekat dengan cepat, kedua tangannya membentuk cakar. Wu Yi Feng bisa merasakan ada tenaga dalam yang cukup besar terkumpul disana.
Dengan sigap Wu Yi Feng mengelak dari setiap serangan yang dilancarkan oleh lawannya. Gerakan lawannya yang makin lama makin cepat membuat Wu Yi Feng harus lebih berkonsentrasi dan berhati - hati.
"Hei bocah, jangan hanya menghindar melompat kesana kemari seperti seekor monyet... Apakah cuma segini saja kualitas dari murid seorang pilar???" Cemooh si pendekar.
Mendengar hal tersebut membuat Wu Yi Feng naik pitam, ia tidak terima jika ada seseorang yang menghina gurunya.
Tanpa banyak basa basi lagi Wu Yi Feng segera mengeluarkan kemampuannya, ia mulai bergerak dengan sangat cepat menggunakan jurus Langkah Petir.
WUSSSHHHHH....
Wu Yi Fan bergerak dengan cepat dan memunggungi lawannya, bocah laki - laki tersebut menempelkan telapak tangannya ke punggung lawannya.
"Teknik Naga, Telunjuk Petir..."
"Arrrgggghhhhh..."
Seketika lawannya merasa seperti tersengat ribuan Volt listrik, pendekar yang barusan bermulut besar itu jatuh tersungkur dengan punggung yang gosong dan berasap.
Namun rupanya pendekar tersebut masih belum mau menyerah, dengan segenap kekuatan yang tersisa ia bangkit dan menerjang Wu Yi Feng.
"Menyerahlah, kau sudah kalah..!!" Bisik Wu Yi Feng.
"Jangan harap..!! Aku masih punya kekuatan untuk mengalahkanmu.." Penantang tersebut menyerang secara membabi buta, tanpa memperhatikan tenaga dalamnya.
Wu Yi Feng yang ingin mengakhiri semuanya mulai maju dan dengan cepat menangkis cakaran lawannya lalu memberikan serangan penghabisan.
"Teknik Naga, Telunjuk Petir..."
Semua penonton yang hadir disana hanya bisa membelalakkan matanya, mereka tak percaya bahwa bocah itu bisa mengalahkan lawannya hanya dalam waktu yang sangat singkat.
Plokk... Plokk... Plokkk..
Tepuk tangan membahana seketika, sorak sorai para penonton mengiringi kemenangan Wu Yi Feng, tak ada lagi yang meremehkan kekuatan sang pilar setelah pertunjukkan yang dilakukan oleh muridnya.
"Tidak buruk.." Ucap Luo Yun Xi.
"Terima kasih guru.." Wu Yi Feng tersipu, ada rasa bangga karena gurunya memuji dirinya.
Para perawat segera membawa tubuh pendekar yang kehilangan kesadaran tersebut turun dari arena, sedangkan pembawa acara mulai meneruskan kembali pertandingan yang sempat tertunda.
Wu Yi Feng melihat semua gerakan dan juga taktik yang digunakan oleh para pendekar yang bertanding di arena, yang anehnya terlihat lambat di matanya. Tapi itu tidak membuatnya risau, "Mungkin itu karena kini aku juga berlatih beladiri.." Batinnya dalam hati.
Wu Yi Feng masih terus memperhatikan dan mempelajari kelemahan serta kekuatan dari setiap jurus yang ia lihat. Dasar jenius, sekali lihat saja ia sudah mengerti.
Pertandingan hari itu ditunda karena hari telah beranjak senja, menurut rencana memang acara pertandingan akbar ini akan berlangsung hingga satu pekan.
"Jangan terlalu memforsir dirimu untuk latihan terus menerus..!! Istirahat juga sangat penting bagi seorang pendekar." Ucap Luo Yun Xi kepada muridnya.
"Baik guru, murid mengerti.." Wu Yi Feng mencerna kata - kata gurunya dan memang ia merasa sangat lelah hari ini.
Seusai makan malam, Wu Yi Feng telah berada di kamarnya. Kamar tersebut sangat luas dan indah, Wu Yi Feng duduk di sebuah bangku dan membaca buku sambil memakan buah yang disediakan.
Buku ditangannya merupakan rangkuman kisah dari sang Legenda Pendekar Elang Emas, Wu Yi Feng menyimak semua tulisan yang ada di dalamnya, dimana setengah jam kemudian matanya telah menjadi sangat berat.
Ia taruh kembali buku tersebut di tempatnya dan mulai naik ke ranjang empuk miliknya, tak perlu menunggu lama, bocah laki laki itu pun sudah terbang ke alam mimpi.
Keesokan harinya, Wu Yi Feng terbangun dengan tubuh yang segar bugar. Bocah itu membersihkan dirinya terlebih dahulu sebelum keluar untuk menghirup udara pagi yang segar.
Tempat menginap Wu Yi Feng dan juga Luo Yun Xi merupakan bangunan utama yang menjadi satu dengan tempat tinggal sang Kaisar. Kompleks bangunan tersebut dijaga ketat oleh para penjaga yang berilmu tinggi, hingga tak sembarang orang bisa keluar masuk dengan mudah.
Wu Yi Feng keluar dari kamarnya, tak lupa ia memakai topeng miliknya. Bocah itu merenggangkan seluruh sendi miliknya dan mulai berlari lari ringan mengelilingi kompleks istana.
Setiap prajurit yang berpapasan dengannya memberikan hormat, kehebatan Wu Yi Feng menyebar dengan cepatnya di lingkungan istana.
BUGGHHHH..
Wu Yi Feng bertabrakan dengan bocah seusia dirinya, "Hei, memangnya kau taruh mana matamu??" Umpatnya keras.
"Maaf.." Timpal Wu Yi Fan dengan cueknya.
"Apa begitu caramu meminta maaf?? Mana sopan santunmu??" Hardik bocah perempuan tersebut yang ternyata merupakan anak pertama dari pangeran Hei Wan dan cucu dari kaisar Han, gadis itu bernama Hei Fen yang berarti perempuan yang harum.
"Lalu aku harus bagaimana??" Seru Wu Yi Feng yang mulai terganggu oleh sikap sombong Hei Fen.
"Tuan putri.. Tuan putri.. Apa yang terjadi??" Beberapa orang penjaga segera mendekati keduanya.
"Tidak ada apa - apa.." Ucap Hei Fen dan Wu Yi Feng secara bersamaan.
Wu Yi Feng tidak jadi meneruskan olahraganya, bocah laki - laki itu kembali kearah kamarnya, sedangkan Hei Fen masih cemberut di tempatnya.
"Siapa dia?? Kenapa sombong sekali??" Tanya Hei Fen kepada para penjaga yang ada di dekatnya.
"Dia adalah murid dari sang pilar petir tuan putri.." Jawab penjaga di sampingnya dengan wajah ketakutan.
"Cih.. Baru jadi murid pilar saja sudah begitu sombongnya.." Hei Fen pun berlalu dari sana dengan mood yang berantakan.