The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Ujian Kenaikan Tingkat IV



Wu Yi Feng bersiap memasuki arena, karena memang sekarang gilirannya. Pemuda tanggung itu akan melawan seorang murid yang memiliki fisik kurus, bukan karena kurang asupan gizi, karena makanan di sekte pedang langit sudah ditakar vitaminnya dan sangat menyehatkan. Murid ini terlihat kurus karena gen dari kedua orang tua nya dan juga sebagai sarana pengembangan ilmu turun temurun yang diwariskan oleh keluarganya.


Wu Yi Feng tidak mengeluarkan pedangnya karena melihat lawannya juga tidak bersenjata, dengan tubuh kurus berbalut perban dan mata yang cukup besar, membuat tampilan lawan dari Wu Yi Feng terlihat cukup mengintimidasi dan mengerikan.


"Seni Phoenix, Phoenix Terbang Menuju Nirwana..."


Wu Yi Feng membuka pertarungan dengan langsung menyerang menggunakan jurus pertama dari kitab Phoenix Nirwana. lawannya yang merasa terdesak memilih untuk melakukan sikap bertahan.


BAAAAMMMMMM..


BAAAMMMMMMMM....


Dua serangan dari Wu Yi Feng masuk secara telak, tapi ia justru merasa tubuh lawannya seperti gel yang lembek. Dengan seringai menakutkan lawannya mulai menyerang dengan kecepatan yang luar biasa cepat.


Tangan lawannya berhasil membelit leher dan melakukan kuncian yang cukup menakutkan, jurus dari lawannya membuat Wu Yi Feng terpaksa menggunakan Qi miliknya. Wu Yi Feng membakar dirinya sendiri hingga ratusan derajat, membuat pemuda kurus membuka kuncian lehernya dan mundur.


Tak menunggu lama, lawannya mulai menyerang kembali, Wu Yi Feng pun mencoba menghindari semampunya, meskipun terkadang ada beberapa pukulan lawannya yang menyerempet hingga membuat bajunya robek.


"Celaka, ini pukulan dengan perubahan jenis angin.." Batin Wu Yi Feng yang mulai merasa perih di setiap tempat yang terkena pukulan dari lawannya.


"Hehehe.. Bagaimana serangan tombak anginku???" Seru sang lawan.


"Lumayan, aku sempat lengah hingga terluka seperti ini..." Jawab Wu Yi Feng sambil melihat luka di sekujur tubuhnya yang mulai pulih secara cepat.


"Ohh.. Rupanya kau adalah pemilik tubuh spesial ya??"


"Sayangnya iya.." Wu Yi Feng tersenyum tipis sebelum mulai menyerang lawannya kembali menggunakan jurus kedua dari kitab tarian phoenix nirwana.


"Seni Phoenix, Phoenix Memecah Karang..."


Jurus kedua ini adalah sebuah pukulan beruntun, Wu Yi Feng menghujani setiap inchi tubuh lawannya dengan pukulan yang begitu bertenaga sehingga pertahanan yang dilakukan lawannya akhirnya tertembus juga.


"Uhuuukkk.."


"Apakah kau benar - benar murid tingkat tiga??" Pemuda bertampang aneh itu melihat Wu Yi Feng dengan tatapan yang menakutkan.


Bukannya menjawab, Wu Yi Feng malah makin mendesak lawannya, kini dengan essensi dari jurus baju bintang yang melapisi tubuhnya, efek dari jurus pukulan angin lawannya tak lagi terasa.


BLAAAAMMMMM...


Wu Yi Feng yang menyudutkan lawannya hingga kepojok arena akhirnya menyudahi pertandingan tersebut ketika tubuh lawannya terjatuh setelah menerima pukulan bertubi tubi secara telak.


Tepuk tangan mulai bergemuruh menyambut kemenangan Wu Yi Feng, pemuda itu turun dari arena dengan wajah datar, tak tampak sekalipun kebahagiaan karena telah berhasil mengalahkan lawannya.


"Saudara Feng, bagaimana bisa kau mengalahkan lawanmu tanpa menggunakan tenaga dalam sama sekali??" Ujar Chau Li ketika Wu Yi Feng baru sampai.


"Aku hanya beruntung saja saudara Li.." Wu Yi Feng tersenyum tipis sebelum duduk disebelah sahabatnya yang kini menggaruk kepalanya karena bingung karena belum menyadari sesuatu.


"Feng gege, kamu sungguh hebat.." Ucap Wang Fei Lin dengan mata berbinar binar.


"Sebentar lagi giliranmu, persiapkan dirimu.." Jawab Wu Yi Feng.


"Ia pasti.. Aku tidak akan mengecewakan Feng gege.." Seru Wang Fei Lin dengan mantab.


Lawan yang harus dihadapi oleh Wang Fei Lin adalah Shen Liang, seorang pemuda bermata buta dan bersenjatakan pedang ganda yang dibentuk sedemikian rupa sehingga bisa menjadi tongkat ketika tidak digunakan.


Sosoknya yang sangat misterius mengingatkan Wang Fei Lin pada Wu Yi Feng, hanya saja Shen Liang bisa jadi jauh lebih misterius daripada Wu Yi Feng, hal itu karena Shen Liang tak pernah terlihat berinteraksi dengan siapapun selama ini.


Dengan berjalan pelan pemuda buta tersebut memasuki arena, disusul kemudian Wang Fei Lin disisi berlawanan. Keduanya saling memberikan hormat sebelum akhirnya Wang Fei Lin mencabut pedangnya, sedangkan lawannya Shen Liang masih belum bereaksi apapun.


"Cabut pedangmu, aku tidak terbiasa melawan seseorang yang tidak bersenjata.." Seru Wang Fei Lin.


"Tidak perlu.." Kata - kata itu terlontar bersamaan dengan tubuh Shen Liang yang bergerak maju dengan cepatnya layaknya angin kearah Wang Fei Lin.


Satu pukulan telak tepat kearah perut membuat kesadaran Wang Fei Lin menghilang, Shen Liang segera menahan tubuh gadis itu sebelum menyentuh tanah.


Wu Yi Feng mencegah Chau Li yang hendak maju ke atas arena untuk menolong, "Fei Lin tidak apa - apa, tenanglah.." Ucapnya.


"Nampaknya dia akan merepotkan.." Ucap Bai Lang, ia memang patut waspada karena bisa jadi akan melawannya di pertandingan selanjutnya.


Tubuh Wang Fei Lin segera di ambil alih oleh tabib sekte dan langsung dirawat, sedangkan Shen Liang menghilang dari kerumunan secara misterius. Sementara itu Chau Li, Bai Lang dan juga Wan Ming segera mengikuti tabib ke ruang pengobatan.


****


Disuatu halaman yang cukup luas, dimana dipojok halaman tersebut berdiri sebuah pohon yang cukup rindang, daun pohon yang berguguran membuat suasana di halaman tersebut begitu syahdu, seorang anak gadis yang kira - kira berumur dua belas tahun sedang termenung sendirian.


"Huang Rong..."


"Huang Rong.."


Para pelayan berteriak mencari gadis kecil tersebut, gadis itu bukannya menyahut, tapi malah diam membisu.


Gadis berkulit putih dan berwajah cukup cantik tersebut adalah anak dari Huang Zitao, gadis kecil itu terlihat sedang bersedih.


"Rupanya disini anak ayah.." Seru Huang Zitao yang menghampiri dan duduk di depan anak gadisnya lalu membelai rambut anaknya sambil tersenyum.


"Ayah, apa benar ayah itu orang jahat??" Tanya gadis tersebut dengan polosnya.


"Jahat?? Siapa yang bilang??" Jawab Huang Zitao dengan santai.


"Teman - teman hampir semua bilang begitu, mereka semua menjauhiku karena takut ayah akan berbuat jahat kepada mereka."


"Lalu menurutmu, apakah ayah adalah orang yang jahat??"


Huang Rong dengan cepat menggelengkan kepalanya, senyuman mulai tersungging di bibir Huang Zitao sebelum akhirnya ia membuka mulutnya, "Bagi ayah itu sudah lebih dari cukup..."


Huang Zitao memeluk dan menggendong puterinya tersebut lalu membawanya kembali kekamarnya, dengan telaten pria paruh baya itu menidurkan anak gadis satu - satunya.


Huang Rong belum pernah bertemu ibunya, karena sang ibu meninggal saat melahirkannya, saat ini hanya ayahnya lah orang yang paling dekat dengannya. Karena itulah ia merasa sangat sedih ketika teman - temannya mengolok olok ayahnya.


"Tuan, ketua memanggil anda di ruang pribadinya.." Ucap seorang utusan yang menghampiri Huang Zitao sesaat setelah ia keluar dari kamar anaknya.


"Baiklah, mari kita kesana.." Huang Zitao segera mengikuti utusan tersebut ke sebuah ruangan pribadi yang tidak terlalu besar.


"Tokk...Tokkk.."


"Masuklah.." Terdengar sebuah suara menggema ketika Huang Zitao selesai mengetuk pintu.


Utusan yang datang bersama Huang Zitao tidak berani masuk dan memilih segera pergi dari sana karena merasakan tekanan energi yang sangat kuat yang berasal dari dalam ruangan.


"Hormat ketua, ada perlu apa hingga menyuruh seseorang menjemput.." Ucap Huang Zitao mencoba membuka obrolan. Pria paruh baya itu merasa agak sesak napas karena tekanan energi yang dilepaskan oleh Huo Tu, sang tombak malaikat yang merupakan ketua dari sekte tombak ganda.


"Duduklah.." Huo Tu membuka matanya dan menghilanglah tekanan energi yang sedari tadi memenuhi ruangan, membuat Huang Zitao bisa bernapas dengan lega kembali.


"Aku telah bertapa selama bertahun tahun, namun kemajuan yang kuperoleh dalam ilmu beladiri sangat sedikit, bahkan sampai saat ini aku belum berhasil membuka gerbang suci keenam.." Ucap Huo Tu sambil berdiri dan membelakangi Huang Zitao.


"Tidak perlu terburu - buru, dengan kekuatan ketua saat ini saja, anda termasuk salah satu dari sepuluh pendekar terhebat di seluruh wilayah kekaisaran Han dan Song." Jawab Huang Zitao mencoba menenangkan hati dari Huo Tu.


"Sepuluh besar saja tidak cukup..!!! Aku harus bertambah kuat jika ingin melaksanakan rencana besar kita." Tegas Huo Tu.


Huang Zitao yang mengerti arah pembicaraan ketuanya hanya bisa mengangguk anggukan kepala sambil memainkan janggut pendeknya yang sebagian sudah mulai berwarna putih.


Keduanya kemudian mulai terlibat dalam sebuah diskusi panjang dan serius tentang rencana besar mereka yang ingin menaklukkan seluruh dataran bumi tengah.