The Legend Of Immortal Phoenix

The Legend Of Immortal Phoenix
Salah Memilih Lawan



Keadaan desa tersebut nyatanya jauh dari bayangan, mungkin lebih layak disebut puing - puing daripada sebuah kampung. Itu karena didesa tersebut hanya tinggal beberapa orang saja yang masih bertahan.


Kepulan asap dari bekas rumah yang terbakar serta bau amis darah tercium bahkan dari jarak puluhan meter, melihat semua itu membuat Wu Yi Feng tersulut amarah.


"Paman, percayalah padaku.. Siapapun yang melakukan ini, akan aku habisi..!!!" Tangan pemuda itu terkepal, Wan Ming yang paham situasinya segera memeluk sahabatnya tersebut untuk meredakan emosinya.


"Tenanglah saudara Feng, kita harus melihat situasinya terlebih dahulu, jangan gegabah..!!"


"Benar kata saudara Ming, kita harus tetap berkepala dingin.." Pungkas Shen Liang.


"Maafkan aku, hanya saja melihat keadaan desa ini, mengingatkan aku pada kenangan yang sudah lama ingin kulupakan.." Wu Yi Feng menutup mata, langsung saja ingatan tentang hancurnya sekte serigala bayangan dan juga tumpukan mayat yang sudah gosong mulai berputar putar di kepalanya.


Mereka berenam memutuskan untuk bermalam di sebuah rumah yang telah ditinggalkan oleh pemiliknya, setelah beristirahat sejenak dan menyantap hidangan makan malam, Chau Li ditemani Bai Lang berkeliling desa sementara itu Wu Yi Feng bermeditasi bersama Shen Liang, sedangkan Dal Po dan juga Wan Ming memberikan makan kepada kuda - kuda mereka.


"Kalian semua beristirahatlah terlebih dahulu, aku yang akan berjaga jaga malam ini.." Ucap Wu Yi Feng ketika semuanya berkumpul di ruang tengah.


"Jangan konyol, aku akan menemanimu, lagipula aku sedang tidak merasa kantuk." Seru Chau Li.


"Baiklah kalau begitu, yang lain silahkan beristirahat.." Wu Yi Feng meninggalkan ruangan ditemani oleh Chau Li, sedangkan yang lainnya bersiap siap untuk beristirahat.


"Minumlah ini, untuk menghangatkan badanmu.." Chau Li mengeluarkan seguci kecil arak dari cincin ruangnya dan menyerahkannya kepada Wu Yi Feng.


"Terima kasih.." Wu Yi Feng yang belum pernah sekalipun meminum arak, langsung meneguk isi dari guci tersebut hingga membuatnya tersedak.


"Hahahaha.. Kau harus meminumnya secara perlahan." Ledek Chau Li.


"Rasanya aneh.." Ucap Wu Yi Feng sambil mengelap mulutnya.


"Kau pasti akan terbiasa dan ketagihan dengan rasa yang aneh ini.. Hehehe.." Chau Li pun meneguk kembali arak yang ada di cangkirnya.


Karena penasaran, Wu Yi Feng mengisi lagi cangkirnya, namun kali ini ia mensesapnya perlahan.


Kandungan alkohol yang ada di dalam arak memberikan sensasi yang belum pernah ia rasakan, meskipun masih belum bisa beradaptasi dengan rasa arak yang aneh, namun pemuda itu kembali mengisi cangkirnya setelah kosong.


Sekitar tengah malam, samar - samar Wu Yi Feng merasakan tekanan energi. Hawa Yin yang cukup pekat muncul dari arah utara desa, tanpa pikir panjang ia segera melesat pergi untuk mengeceknya.


Sendirian menerobos dinginnya malam, ditengah kegelapan mata Wu Yi Fenh menyala. Pemuda itu berlari dengan sangat cepat menuju sumber energi Yin.


Setelah berlari kurang lebih lima menitan, Wu Yi Fenh melihat tiga sosok siluman berjalan santai menuju ke gerbang desa. Ketiga siluman tersebut masih berwujud setengah manusia, pertanda kalau pertapaannya belumlah sempurna.


Ketiga siluman buaya itu membawa kapak sebagai senjatanya, mempunyai tinggi diatas dua meter dan kulit yang keras serta badan yang kekar, membuat tampilan mereka begitu menakutkan.


Tapi dimata Wu Yi Feng, ketiganya tak lain hanyalah siluman yang harus dibasmi. Tak ada rasa takut sama sekali yang muncul dibenaknya.


Dengan tenang pemuda itu melompat turun dan berjalan maju mendekati ketiga siluman, dengan pedang penari malam yang tergenggam ditangannya, Wu Yi Feng menghadang ketiga siluman yang hendak menuju gerbang desa.


"Hahahaha, Ada anak kemarin sore mau setor nyawa..." Seru salah satu siluman dengan pongahnya.


"Wkwkwkwk.. Lumayan juga sebagai hidangan pembuka, sudah lama aku tidak makan daging muda..." Ujar yang lain.


Mendapat perlakuan seperti itu tak membuat sedikitpun Wu Yi Feng gentar, pemuda itu tersenyum sinis sebelum menghunus pedangnya dan secepat kilat menembus tubuh salah satu siluman buaya.


Jerit kesakitan memecah malam, pedang penari malam berkilat karena bercampur dengan darah siluman buaya yang berwarna biru kehitaman.


"Ap.. Apa yang terjadi?? Bagaimana bisa saudara kedua terluka seperti itu???" Ucap saudara pertama sambil memapah tubuh saudara kedua yang roboh karena kehabisan darah.


"Kurang ajar, apa yang kau lakukan pada saudara kami, akan kami balas ratusan kali lipat..!!!"


"Terimalah kematianmu..!!" Salah satu siluman buaya menerjang Wu Yi Feng sambil mengayun ayunkan kapaknya yang besar.


Karena tubuh dan juga senjatanya yang sangat besar, kecepatan siluman buaya menjadi lamban. Mengetahui hal tersebut tanpa pikir panjang Wu Yi Feng segera maju dan menunduk tepat dihadapan siluman buaya, dengan gerakan yang sangat cepat ia mencabut pedang penari malam dan memotong lengan siluman buaya.


SLAAAAASSSSSHHHHHH...


"Tidakkkkkkk... Lengankuu..."


Lengan kanan yang memegang kapak itu pun jatuh ketanah dengan bunyi berdebam keras, dan diiringi darah yang mengucur dengan deras.


Seolah tak ingin menunggu, Wu Yi Feng segera menebas leher siluman buaya dalam sekali serang.


"Kalian salah memilih lawan, beritahu aku siapa pimpinan kalian dan aku akan biarkan kalian pergi dari sini hidup - hidup.." Ucap Wu Yi Feng dengan nada dingin dan tatapan tajam seorang pembunuh.


"Aaa... Ampun.. Kami adalah suruhan dari ratu siluman ular hitam.."


"Siluman ular hitam?? Dimana dia berada sekarang??"


"Aku tak bisa mengatakannya, jika ia tahu maka aku akan dibunuhnya.."


"Jika kau tak memberitahuku, maka aku yang akan membunuhmu..!!!" Seru Wu Yi Feng sambil mengerahkan aura naga langit miliknya untuk menekan, dampaknya aura raja naga langit miliknya membuat siluman buaya yang tersisa menjadi kesulitan bicara.


"Aa.. Aa.. Aaampunn..."


"Ak.. Aku akan bicara, tap.. Tapi tolong lepaskan sihirmmmm... Mu... Ini.."


Wu Yi Feng akhirnya menghembuskan napas yang membuat aura raja naga langit miliknya menghilang.


"Istana siluman ular hitam ada di tengah hutan, tapi istana itu hanya bisa dilihat oleh mereka yang mempunyai mata khusus.."


"Lalu bagaimana kau bisa melihatnya??"


"Itu.. Itu karena aku tahu mantera untuk membuka mata batin.."


"Aku tak butuh mata batin, terima kasih karena sudah membrtitahuku.."


SLAAASSSSHHHHHH...


Wu Yi Feng memenggal kepala siluman buaya yang tersisa, ia lalu pergi meninggalkan tiga tubuh siluman yang telah tak bernyawa menuju ke tengah hutan, tepatnya ke istana siluman ular hitam berada.


"Maaf, tapi aku tidak terbiasa menepati janjiku.. Apalagi kepada siluman seperti kalian..!!!" Ucapnya lirih sebelum beranjak pergi.